
*Desa Penampungan
Clarissa mengunjungi kediaman Willy yang berada di distrik desa penampungan. Laporan yang sampai kepadanya begitu sangat memuaskan, perkembangan hasil riset dari penawar dilakukan dengan sangat baik oleh Shua dan Alchemist istana sehingga anak-anak dapat beraktivitas lagi.
Meski belum terlalu membaik tapi setidaknya mereka sudah dapat makan dan bangun dari tempat tidur. Clarissa juga tidak luput mencari penyebab awal penyakit pada anak-anak bisa terjadi Seperti ini. Bahkan Ia sudah menyelidiki dan meneliti berbagai sumber yang menjadi faktor keterdugaanya.
Shua juga, selama penyakit itu mulai berkembang, ia telah lebih dulu mencari sumber awal gejala tersebut. Hanya saja sampai saat ini belum ada titik terangnya, karena ini adalah musim dingin bahan makan yang di produksi sendiri oleh desa hanyalah labu, kentang dan juga memanfaatkan ikan dari danau setempat.
Akan susah untuk menanam beberapa sayuran hijau karena mereka selalu gagal memanennya saat musim dingin, itu sebabnya kenapa ada banyak gerbong kereta yang mengangkut bahan perkebunan serupa untuk di konsumsi penduduk.
Seperti yang sudah di cek. Tidak ada yang salah dengan kentang, labu serta ikan di danau. Menurut hasil pengamatan nya anak-anak akan mengalami batuk ringan hingga terparahnya batuk berdarah setelah mengonsumsi makanan dan dua hari setelahnya penyakit tersebut akan membuat perut mereka keram. Tapi Clarissa sudah mengecek hingga mencicipi makanan di desa itu dan hasilnya ia baik-baik saja.
"Luna, ini teh hangat anda. maaf kami hanya mampu menyajikan makanan sederhana." Nenek Yua, menyajikan teh sederhana kepada Clarissa yang masih terus duduk terdiam--merenungkan semua masalah ini.
Sejak kejadian hari itu mereka di beri tahu bahwa Clarissa adalah Mate Alpha, ia juga dengan berani meminta Alpha untuk menangani masalah penyakit di desa tersebut. Semua warga sangat canggung awalnya dengan Clarissa, tapi setelah mengetahui sosok mulia nya mereka yakin, beliau adalah Luna yang pantas untuk Alpha Darkmoon Pack.
"Terimakasih, kau tidak perlu khawatir. Aku lebih menikmatinya daripada sajian di istana." Clarissa mengambil secangkir teh dan menyeruputnya.
"Anda terlalu memuji kami." Nenek Yua terlihat sangat senang berbicara dengan Clarissa. Perbincangan mereka juga jauh lebih ringan.
Saat ini dia berada di bangku taman yang ada di halaman depan rumah Willy, ada Shua dan juga Nala serta Bobby tapi mereka memilih bermain dengan anak-anak. Karena malam ini ada perjamuan istana dan sebentar lagi akan ada hari malam purnama, mereka mulai memasang dekorasi Festival di sepanjang jalan distrik desa untuk menyambut malam berkat Dewi bulan 15 hari lagi.
Jadi berada di sini ternyata jauh lebih nyaman daripada harus berada di kerumunan tamu undangan istana. Clarissa yakin, rumornya sudah sampai ke telinga pergaulan kalangan bangsawan. Karena Clarissa tidak begitu suka menjadi pusat perhatian, baginya ini sangat nyaman saat melihat keramaian jalan dan kegiatan mereka, belum lagi nuansa di tengah masyarakat sangat bersahabat karena beberapa anak-anak telah kembali membaik walau belum seutuhnya.
"Maaf harus membuat anda sampai meninggalkan Alpha di perjamuan malam ini karena membantu perkembangan desa." Shua wanita yang ternyata hanya lebih tua 5 tahun dari Clarissa, datang membawa sup labu dengan campuran potongan roti kering untuk Clarissa.
"Aku yang memintanya untuk bisa melihat perkembangan anak-anak. lagipula aku datang dari luar Pack Immortal. Jadi, rasanya masih belum terlalu terbiasa membaur di perjamuan penting tersebut. masih banyak budaya santun yang perlu ku pelajari untuk bisa menyapa mereka."
"Anda terlalu rendah hati, padahal Luna adalah sosok yang berbudi dan punya sikap santun yang baik untuk menjadi pendamping Alpha. Luna hanya perlu bersikap percaya diri, karena Alpha Aldera adalah Lord bagi para Alpha di Immortal."
"Terimakasih atas sarannya, aku akan selalu mengingatnya."
"Nenek!"
Willy dan Arisha telah kembali sembari membawa beberapa lampion putih dengan terdapat gantungan bulan sabit dari tali kerajinan tangan berwarna biru, untuk di gantung di depan pintu rumah sebagai adat Festival menyambut purnama.
"Duduk lah, akan Nenek ambilkan sup untuk kalian."
Sembari menunggu Enisha dan Nenek Yua membawakan tambahan sup labu dari dalam rumah. Mereka terlihat menceritakan banyak kehebohan kepada Clarissa mengenai keramaian dan keseruannya bermain dengan teman-temannya. Mendengar ada banyak anak-anak yang semakin membaik membuat kekhawatiran Clarissa mengenai desa mulai meringan. Setelah semua ini selesai dia akan meminta Aldera untuk memberikan hak pantas kepada penduduk desa ini sebagai hadiah untuk semua.
Tapi karena Aldera masih ada di istana sebaiknya di bicarakan besok saja. Malam ini tidak mungkin Aldera akan mampir ke kediamannya bukan? Yah walau kamarnya berada di satu ruangan dengan Aldera tapi dia pasti cukup lelah mengurusi tamu hari ini.
Dari tepian pagar rumah, terlihat kerumunan anak-anak menatap terpesona kepada Clarissa. Sudah tidak asing lagi bagi Clarissa di tatap seperti itu selama ia mulai menunjukkan diri kepada Omega istana ataupun saat mendatangi desa.
Karena mau bagaimana pun Werewolf punya ciri khas kulit coklat eksotik sedangkan dirinya berkulit putih secerah rembulan, jika Clarissa tidak mengatakan bahwa dia juga bangsa Werewolf mungkin semua penduduk disini menganggap Clarissa adalah satu ras dengan bangsa Elf yang memiliki kecantikan seperti bunga Lily.
Clarissa menyapa ramah mereka dengan senyuman dan di tanggapi dengan sapaan ceria dari anak-anak serigala lucu tersebut. Melihat itu, Clarissa semakin bersemangat untuk menyelesaikan masalah di desa ini.
Ia kembali berbincang dengan mereka, entah mengapa ia bersyukur masih bisa merasakan rasa nyaman seperti ini bahkan ia sempat melupakan ketakutan saat di kejar Paman nya dulu, ini adalah kehidupan yang ia impikan.
"Aku senang, kau jadi begitu bersemangat sekarang, Rissa."
"Semua berkat dirimu juga, Selena----"
PRANG! Willy menjatuhkan semangkuk sup labu yang ia ambil dari tangan Nenek nya, tapi bukan itu yang membuat semua terkejut melainkan terhadap satu sosok di belakang Clarissa yang datang secara tiba-tiba. Bahkan Enisha dan Nenek Yua juga di buat terpaku takut melihatnya.
Clarissa pun tergerak untuk menoleh, "Aldera?!"
Aldera melihat Clarissa lalu dengan tarikan nafas panjang ia berjalan mendekati Clarissa mengabaikan tatapan mereka yang masih terbungkam bahkan beberapa penduduk yang ada di sekitaran jalan pun sampai berhenti beraktifitas.
Aldera duduk di sebelah Clarissa dan menumpahkan semua kelelahannya dengan cara memeluk Clarissa dengan sangat erat.
__ADS_1
"Tunggu sebentar---Kenapa kau bisa ada disini? Aku yakin acara perjamuan belum selesai." Clarissa mendorong Aldera kembali.
"Perjamuan nya membosankan." Jawab Aldera singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Clarissa.
"Tapi kau tidak bisa asal pergi begitu saja. Kalau tidak salah ada banyak Alpha di perjamuan----"
"Aku hanya merindukanmu," Aldera kembali memeluk Clarissa tapi Clarissa menolaknya. Ia memberikan isyarat mata bahwa ada banyak orang di sini.
Aldera berdecak kemudian melirik dingin. Entah karena mereka adalah Werewolf atau hanya sebuah insting bertahan hidup, secara serempak mereka semua menundukkan kepala dan para penduduk lain langsung kembali beraktifitas dengan mengambil jarak aman dari sana, karena bagi mereka, berhadapan dengannya masih terlalu canggung jika ada Alpha di sekitaran mereka.
"Aldera apa tidak masalah jika kau tidak ikut jamuan makan malam nya setelah pembukaan resmi?"
"Aku tidak perduli, ada Demian dan Mate nya yang akan menggantikan ku. Lagipula untuk apa aku berlama-lama di sana jika kau ada disini?"
"Kau ini...," Clarissa memukul ringan Aldera dan hal itu membuat Willy, Shua serta Nenek Yua terkejut---takut jika Alpha itu marah karena diperlakukan tidak sopan.
Tapi sepertinya itu hanya kekhawatiran sia-sia, karena justru yang mereka lihat adalah---Alpha keji itu malah lebih menikmati saat Clarissa terus memarahinya dengan banyak omelan kepada Aldera hingga sulit di percaya.
"Pokoknya jangan terlalu menyepelekan situasi dan tolong bedakan mana yang penting dan pribadi."
"Bagiku, kau yang paling terpenting. Jika mereka keberatan, mereka bisa pergi aku tidak akan melarangnya. Tapi jangan salahkan aku jika aku pun tidak akan bersikap respek lagi terhadap wilayah mereka."
"Aldera...," Clarissa kembali memukul lengan Aldera.
Padahal sebelumnya mereka sudah membahas mengenai hal ini. Tapi Aldera terlihat lebih suka menjahili Clarissa dan bersikap tidak tahu. "Sudahlah, aku menyerah mengatakannya...," Daripada berdebat lebih baik dia kembali menyantap sajiannya.
"Apa yang kau makan?"
"Ini sup labu. Em.., apa kau mau juga?"
"Tu--tunggu Luna, makanan kami tidak selayak istana untuk di sajikan kepada seorang Alpha. Ini hanyalah sebuah labu dan roti kentang----"
"Lalu? Apa seorang Alpha juga tidak pantas memakannya, padahal Luna ku bisa memakannya. Mungkinkah kalian tidak memandangnya dengan hormat?"
Clarissa menendang kecil kaki Aldera, memintanya untuk tidak terlalu mengintimidasi mereka. Bahkan sangking besarnya aura gelap dari Aldera, membuat Nenek Yua sampai kesusahan menjelaskan niat baiknya.
Aldera menghela nafas, "Sudahlah. Aku memahami maksudmu."
Aldera bergerak meraih sesuatu di sebrang meja dari posisinya yang berlawanan. Tapi, tiap pergerakan kecil dari Aldera membuat Nenek Yua, Shua, dan Willy sepontan langsung berdiri lalu berjalan mundur tiga langkah menjauhi meja taman. Sontak hal itu membuat Aldera dan Clarissa terheran.
Dan saat mereka tahu bahwa Aldera hanya mengambil sendok bukannya pisau makan yang memang di letakan bersebelahan, menjadi kelegaan yang terlihat jelas bahwa mereka kira Aldera akan membunuh mereka menggunakan pisau tersebut.
"Aku hanya ingin makan dengan nyama bersama Mate ku. Jadi, jangan terlalu mewaspadai ku seperti itu." Aldera meraih sup Clarissa dan memakannya.
"Bagaimana?" Tanya Clarissa, melihat Aldera hanya makan dan terus mengambil suapan dengan lahap. "Ini tidak terlalu buruk, bahkan jauh lebih enak daripada sajian di istana."
"Kau juga berpikir seperti itu, Aldera." Clarissa melihat Nenek Yua. "Lihat, aku tidak berbohong bukan?"
Nenek Yua menatp terpukau dengan perbincangan mereka yang terlihat sangat harmonis dengan topik ringan seperti rasa dari sup sederhana itu. Clarissa juga merekomendasikan menambahkan sup itu dengan rebusan kentang yang juga di bawa Enisha tadi, dan hasilnya Aldera menikmati nya.
"Kalau begitu, mulai besok kau akan bekerja di istana sebagai koki pribadi kami." Perintah Aldera sembari meletakan sendok makan fi atas meja---menatap Nenek Yua.
"Iya? itu saya, sepertinya----"
"Segera kemasi barang-barang mu, malam ini kau akan pindah ke istana."
"Tunggu, Aldera. Kau tidak bisa langsung merekrutnya tanpa melihat dari sudut kenyamanannya."
"Kenyamanan? Maksud mu, hal yang bisa membuatnya bisa mengambil pekerjaan ini dengan kemauan nya?"
"Tentu saja."
Aldera terlihat kebingungan lalu kembali melihat Nenek Yua yang sedang gelisah, menahan takut setiap Aldera bertanya dan menatapnya. "Ah, jadi itu yang kau gelisah kan."
__ADS_1
"Tentu saja, dia pasti tidak nyaman---"
"Bawa juga cucu-cucu mu untuk menemanimu memasak. Akan ku sediakan dapur khusus untuk kau pakai, bagaimana jika 30.000 koin eman Lurd perbulan nya untuk upah kerja mu."
"30.000 KOIN EMAS LURD?!!" Willy berteriak kencang saat mendengar upah yang akan Nenek nya terima jika menerimanya. Willy meletakan cangkir teh nya, sembari menatap tidak percaya. Bukankah itu setara dengan biaya hidup 5 tahun dengan kemewahan.
"Apa masih kurang? Bagaimana jika di tambah dengan 10 batu ruby?"
"Uwah, permata ruby? Arisha mau memilikinya juga!" Kini giliran adik Willy yang terlihat tertarik dengan tawaran Aldera, dan saat jiwa anak-anak melonjak di imajinasi Willy serta Arisha, ada Nenek Yua yang terlihat keberatan dengan tawaran tersebut.
"Bagaimana?"
"Dengan segala rasa hormat saya kepada anda, mohon maaf jika saya menolaknya Alpha."
"Bagus jika kau menolak---tunggu, apa?"
"Alpha, anda tidak perlu sampai seperti itu. Ini bukan makanan rahasia keluarga tetapi hampir seluruh penduduk memakannya karena mudah di buat. Akan lebih baik jika saya memberikan cara memasaknya kepada koki istana."
"Nenek kenapa tidak di terima saja, kita bisa----UHUK! UHUK!" Semua menjadi tercekat saat melihat Willy batuk dengan keras apalagi sampai memuntahkan darah kental dari mulutnya.
"Willy!" Shua menghampiri Willy yang masih terbatuk-batuk tanpa berhenti dan seketika tubuhnya menjadi demam tinggi begitu saja.
Saat diperiksa Shua menyadari adanya gejala penyakit yang sedang mewabah seperti anak-anak yang lain. Shua dan Nenek Yua yang sedang panik segera membawa Willy ke kamarnya dan menanganinya agar tidak parah.
"Saya akan mengambil penawar obatnya di rumah dulu. Jadi, saya mohon undur diri Luna, Alpha."
"Pergilah." Tanggap Aldera.
Clarissa keluar rumah dan mendatangi makanan yang tersaji, ia mencicipinya dan rasanya tidak ada yang aneh. Lagipula sup itu di buat persis seperti punya Clarissa. Tunggu, bukan sup. Tadi mangkuk Willy terjatuh dan belum sempat memakannya karena ada Aldera.
"Ada apa Rissa?" Aldera menyusul Clarissa.
"Sejak tadi Willy belum makan apapun, sup nya juga baik-baik saja. Kau kan sempat memakannya juga." Aldera menggangguk menanggapinya.
"Kau benar."
"Sebentar---em, kami hanya berbincang sambil meminum teh, apa mungkin?"
Clarissa mengecek teh, tapi tidak mungkin juga bukankah tadi juga dia meminum teh yang sama? Rasa ingin tahu Clarissa menggebu, ia kembali meneliti dan berpikir apa ada yang terlewat. Dengan kecurigaan sesuatu, Clarissa beranjak menuju dapur melihat; mungkin saja ada yang salah dengan seduhan tehnya.
Clarissa mencium aroma teh yang terbuat dari daun pohon mark yang di keringkan dan tidak ada yang mencurigakan. Ia kembali memperhatikan ruangan, menemukan sesuatu menarik perhatiannya pada sebuah kendi persediaan air di dekat ondola perapian.
"Darimana air ini di ambil?" Clarissa melihat Aldera dan juga Enisha.
"Danau. Karena satu-satunya sumber mata air di desa ini adalah danau, jadi penduduk sering mengambil air untuk kebutuhan minum dari danau, Luna."
Clarissa mencicipi air tersebut dan rasanya ada sesuatu yang ia kenali. Kalau di pikir, Clarissa hanya meneliti bahan makanan seperti labu, kentang dan ikan tidak dengan air mineral mereka.
"Apa kau menemukan sesuatu Clarissa?"
"Sepertinya permasalahannya ada di air---Aldera, bisa kita pergi ke danau yang ada di desa ini?" Pinta Clarissa.
"Ikuti aku." Mereka berjalan keluar rumah.
"Yang Mulia anda ingin kemana?" Tanya Shua saat sudah kembali membawa penawar obatnya.
"Aku akan mengecek danau, sepertinya ada masalah dengan air di desa ini."
"Kalau begitu saya akan ikut dengan anda, Enisha tolong bantu aku memberikan ini kepada Willy."
"Baik, Nona Shua."
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...
__ADS_1