
"Tapi jika kalian terluka karena perbuatan ku yang terlalu berlebihan---Aku, sebagai Aldera Herrostica Mahenziv meminta maaf telah merenggut banyak kebahagiaan kalian di masa lalu."
Aldera menurunkan ego nya dan membungkuk memberikan penghormatan atas rasa bersalahnya kepada korban dampak perang yang ia sulut. Melihat seorang Alpha dengan harga diri yang begitu tinggi membungkuk seperti itu membuat mereka semua menatap tidak percaya, sosok kejinya bisa sehangat itu jika kita memahami sosoknya yang sebenarnya.
"Tetapi, satu hal yang perlu kalian ingat. Kedepannya, mungkin akan tetap ada peperangan yang ku sulut untuk memberikan agrasi kepada musuh-musuh ku yang mencoba mengusik kedamaian di Pack ku. Karena seperti itulah aku memimpin di kerajaan ini, ku harap kalian bisa memahami perbedaan hal ini dengan Pack kalian yang dulu."
Pandangan kebencian yang menatap sosok seorang Aldera perlahan berbanding terbalik dan membuat mereka menjadi tenang. Seorang Pria dan beberapa wanita memberanikan diri melangkah maju, dengan pandangan menunduk kepada Aldera.
"Kami meminta maaf atas perlakukan kasar kami sebelumnya, jika Alpha masih berkenan tolong bantu anak-anak kami yang telah terjangkit penyakit Alpha."
"Kalian tidak sepenuhnya salah, dan juga alasan ku berada disini memang untuk menolong anak-anak. Jika ada yang mengetahui lebih dulu mengenai penyakit serta penawar obat nya, kalian bisa mengatakan kepada Beta atupun Gemma ku."
"Terimakasih banyak Alpha."
Clarissa dan Aldera saling melirik kemudian memberi santunan senyuman bahwa mereka punya pemikiran yang sama. Aldera pernah di nasehati dengan kalimat "Jika kau ingin di dengarkan dan di hormati, kau harus merendahkan dirimu dan mengikis rasa ego mu---agar kau bisa di hargai orang lain."
Kini Aldera menuai dari nasehat seseorang yang pernah ia jumpai 20 tahun lalu, dan menolongnya ketika dia terluka akibat pertarungan dengan Dark Elf bahkan sempat di rawat olehnya dikediaman Villa milik pria tersebut untuk beberapa hari, sebelum ia kembali ke Pack nya.
"Willy, berhentilah menangis. Pria kuat tidak akan mudah menangis, bukan?"
Willy mencoba memberhentikan tangisannya dan kembali ke pelukan sang Nenek. Untunglah mereka dapat memahaminya, dan perdebatan ini dapat di akhiri dengan hasil yang memuaskan untuk kedua belah pihak.
Pengobatan kembali di lakukan, para Alchemist istana bergerak meninjau anak-anak yang terjangkit penyakit. Willy memperkenalkan Bibi Shua sebagai tabib di desa itu untuk membahas masalah penawar obat kepada Aldera.
Aldera mendengarkan dengan baik dan langsung meminta Demian menyediakan bahan-bahan yang di perlukan termasuk mengirim bunga Kamelia di taman istana menuju desa penampungan untuk di olah oleh Bibi Shua dan para Alchemist istana.
Semua menjadi sibuk dan keadaan sudah menjadi netral. Kini hanya tinggal Aldera dan Clarissa yang saling berpandangan.
Clarissa mendekati Aldera, "Aku tidak menyangka kau akan bersikap merendah untuk masalah ini."
"Apa kau mengira aku terlalu berpikiran sempit dan terlalu malu untuk mengakui kesalahan?"
"Bukan nya begitu?"
Aldera terlihat bad mood mendengar ucapan Clarissa yang tidak ada salahnya juga sih. Tapi yang membuatnya bad mood sekarang adalah Clarissa sendiri. "Sekarang hanya tinggal masalah kita saja."
"Apa?"
"Bukankah kau seharusnya tidak keluar dari perbatasan yang ku buat? Kenapa sekarang kau ada di sini, atau Enisha tidak melakukan tugasnya dengan baik?"
"Jangan salahkan Enisha! Selama di taman dan di hutan tidak ada pita merah. Jadi bukan kesalahan kami kan?"
"Kau ini baru di tinggal sehari, sudah sangat lincah ya."
"Tapi, jika tidak ada aku, kau pasti akan memulai kejadian berdarah lagi bukan? Aku khawatir, jika kau bersikap arogan kau tidak akan pernah bisa merangkul mereka. Dengarkan ini baik-baik...," Clarissa mengikis jarak 50 cm diantara mereka menjadi 30cm.
"Seorang Alpha memang tidak boleh membungkuk untuk musuh kecuali kepada rakyatnya sendiri, ketika seorang pemimpin melakukan kesalahan kau harus dengan rendah hati meminta maaf kepada mereka---maka kau akan di hargai dan di dengar dengan baik oleh rakyat mu sendiri."
"Kata-kata mu persis seperti seseorang yang ku kenal."
"Benarkah, siapa dia? Apa dia seorang Alpha juga?"
"Entah lah, aku baru pertama kali bertemu dengan nya dan tidak pernah berjumpa lagi dengan nya sejak 20 tahun lalu."
"Sayang sekali, beliau pasti orang yang bijak."
"Daripada itu....," Kini giliran Aldera yang menyapu jarak tipis di antara mereka.
Ia memberikan jubah berbulu beruang miliknya kepada Clarissa lalu mendekapnya dengan rasa haru, seakan ada perasaan euphoria yang meletup ria di hatinya ketika melihat Mate nya datang seperti musim semi dan meredam badai.
"Terimakasih sudah membelaku dan membantu ku untuk meyakinkan mereka. Kau sangat cantik saat terlihat serius seperti tadi."
Clarissa memalingkan wajahnya. "Em, kalau begitu, apa boleh aku mengambil alih kasus ini? Maksud ku, aku ingin membantu mu meninjau perkembangan anak-anak yang terjangkit penyakit."
"Lakukan apapun yang kau mau, sepertinya kau juga sudah sangat akrab dengan anak tadi."
"Willy anak yang baik, aku ingin menjaga mereka semua. Setidaknya, aku bisa berandai---membayangkan jika mereka adalah rakyat Gladea Pack."
"Bukan berandai, mereka dan semua yang ada di Darkmoon Pack adalah rakyat mu, Rissa. Karena kau adalah Luna ku jadi sudah sepantasnya kau percaya diri menjaga mereka."
Clarissa tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi sikap Aldera yang suka membuatnya semakin nyaman berada di sisinya. Maka, Clarissa membalas pelukan Aldera mendekapnya dengan sangat bangga bahwa Mate nya begitu pengertian.
__ADS_1
"Terimakasih, Aldera."
"Aku harap kalian tidak melupakan ku."
Pandangan Aldera dan Clarissa tertuju pada Nala yang duduk di atas gerobak labu yang ada di dekat sana. Benar, sejak tadi baik Enisha ataupun Nala sudah ada di sana memperhatikan segalanya dengan diam.
"Kalian begitu harmonis ya, tapi tolong untuk kedepannya perhatikan tempat saat ingin bermesraan. Ada banyak saksi mata di sini."
Mendengar itu seketika Clarissa harus mendorong Aldera saat menyadari banyak penduduk yang memperhatikan mereka dan sepertinya kabar mengenai nya akan tersebar dengan berbagai macam rumor.
"Bukankah itu tidak masalah, lagipula kita adalah pasangan Mate." Ujar Aldera mencoba menggoda Clarissa dengan mencium helaian rambut indah milik Clarissa.
Clarissa yang tidak tahan dengan perasaan memalukan ini buru-buru berjalan pergi untuk kembali ke istana nya sebelum pandangan rasa ingin tahu dari warga desa penampungan semakin liar.
Aldera menyusul Clarissa---berjalan memasuki hutan seperti saat ia datang tadi. "Apa kau masih malu?"
"Tolong jangan bahas hal itu."
"Baiklah aku akan diam, jangan terlalu di pikirkan. Tidak akan ada yang membicarakan mu dengan buruk di sini. Jika ada aku aka--mmm" Clarissa langsung menutup mulut Aldera dengan tangan nya.
"Jangan gunakan kekerasan."
Aldera tersenyum lalu mencumbu jemari Clarissa. "Baiklah."
"Aa! Yang seperti ini juga tidak boleh, tolong jangan sering menjahili ku."
Aldera tertawa dan kembali mengimbangi langkah Clarissa yang sudah berjalan cukup cepat. Di tengah perjalanan yang cukup sunyi, ada perasaan gelisah yang begitu sangat terpancar dari raut wajah serta tatapan Clarissa yang selalu tertuju kepada Aldera.
"Kau bisa mengatakannya darai pada terlihat aneh seperti itu."
"Em, Aldera, maaf jika terkesan menyinggung. Apa harus ada perang untuk kedepannya?"
"Bukankah sudah ku bilang bahwa perang akan tetap ada selama musuh ku mencari perkara dengan ku."
"Tapi, itu bisa dibicarakan dengan baik-baik bukan?"
"Clarissa, aku tahu kekhawatiran mu. Tapi aku tumbuh di era yang begitu buruk dan Immortal berbeda dengan Bumi, ketika kekuatan di butuhkan untuk menjadi pedoman hukum, tidak akan ada yang bisa membantahnya."
Aldera berhenti berjalan, ia kembali menghadap Clarissa---membersihkan beberapa salju di kepalanya karena sejak tadi hujan salju turun dengan ringan.
"Clarissa, yang aku tahu di Immortal, tidak ada yang namanya phlawa dalam medan perang. Tidak prduli sebudi apa kau memulai perang demi kepentingan bangsa Pack mu, tapi kau tetap seorang pembunuh bagi musuh dan para korban peperangan."
Hari ini Clarissa banyak belajar hal baru, ada banyak kesalah pahaman dalam sudut pandang seseorang. Ada banyak konflik yang tidak bisa di benarkan dalam satu sisi cerita saja, seakan hukum alam menafsirkan bahwa kau berdiri sebagai pengamat bagi kehidupan orang lain dan tidak bisa ikut campur tanpa memutuskan siapa yang salah dan benar hanya dalam sekali mendengar dari salah satunya.
"Kau tidak perlu memikirkan nya, sekarang kau hanya perlu fokus dengan pandangan yang bisa kau percayai. Aku bisa menerima jika kau kecewa karena memang aku seburuk itu dan sudah jadi pilihan ku untuk menjalani kehidupan seperti itu. Wajar jika mereka membenciku, aku tidak akan menutut mereka untuk mengerti dengan paksa. Biar waktu yang menjelaskan nya."
"Maaf, aku terlalu cepat menilai. Itu karena, tidak banyak hal yang aku tahu mengenai mu."
"Kau bisa mengalku pelan-pelan. Bukankah, aku juga begitu dengan mu? Kita bisa sama sama belajar." Clarissa mengangguk, perasaan yang sempat menggundah perlahan menjadi lebih baik, ia percaya Aldera tidak akan seperti paman nya.
"Clarissa, bisa kau berbalik sejenak?"
"Berbalik? Tentu...," Clarissa menuruti kata kata Aldera dan membiarkan Aldera memasangkan sesuatu pada lehernya.
"Sudah selesai."
"Kalung?" Clarissa menyentuh kalung sederhana dengan liontin bunga Kamelia dan permata Shapire tersebut. "Tunggu, bukannya ini---"
"Permata liontin milik ibu mu. Aku berniat menyempurnakan nya tapi sepertinya hanya bisa sedikit dari yang bisa di gunakan, karena liontin mu telah hancur. Maaf, waktu itu aku begitu emosi dan langsung membantingnya."
Aldera menangkup wajah Clarissa "Setelah aku tahu itu milik peninggalan Ibu mu, aku sangat menyesalinya. Dan, maaf jika aku mengabilnya di laci mu tanpa mengatakannya."
"Dengan kau memperbaiki dan memberikan nya lagi kepadaku itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih."
Clarissa mengulurkan tangannya dan seketika Aldera meraih nya. Mereka kembali berjala bersama menuju taman Kamelia di istana. Membahas banya hal termasuk acara perjamuan bulan sabit besok malam.
...--༺🌛🌟🌜༻--...
Malam perjamuan telah tiba, gerbong-gerbong kereta kuda yang membawa tamu undangan memenuhi sepanjang jalan menuju gerbang istana utama. Perjamuan malam yang di adakan setiap setahun sekali, di persiapkan sebaik mungkin. Para tamu undangan akan tinggal dan menginap selama 15 hari hingga hari Festival bulan purnama tiba.
__ADS_1
Para Alpha dan Luna serta tamu undangan dari berbagai kalangan kaum bangsawan terkemuka berkumpul di istana utama, mereka membaur dengan sangat tenang menikmati malam perjamuan.
Acara yang selalu menjadi pujian setiap diselenggarakan tidak pernah menuai kontra bahkan semakin minggalkan kesan baik, apalagi terlihat beberapa bunga mekar di taman istana yang selalu terkesan lugas dan hampa---berubah dalam satu waktu.
Kabar simpang siur bahwa Alpha telah menemukan Mate nya pun tidak kalah heboh untuk diperbincangkan di acara tersebut hingga membuat siapapun penasaran dengan sosok jelitanya, yang mampu merubah predator buas seperti seorang Aldera.
Tetapi, saat menanti yang sudah di nanti, mereka semua harus di buat diam dalam kebingungan. Pasalnya Aldera memasuki aula perjamuan seorang diri. Berjalan dengan sangat gagah selayaknya kaisar seperti biasanya menuju kursi kekuasaan. Bahkan sangking berharapnya seluruh tamu undangan sampai menoleh kebelakang pintu masuk kembali, menunggu sosok calon Luna yang di rumorkan---tapi sayangnya hasilnya nihil.
Di sana hanya ada Demian dan juga matenya yang masuk paling terakhir setelah Aldera, menandakan perjamuan akan segera di mulai.
"Apa yang kalian lihat?" Ujar Aldera menatap seluruh pengikutnya yang masih saja menatap pintu masuk meski sudah tertutup.
Mendengar hal itu seluruh tamu yang berada di sana seketika kembali melihat kearah Aldera dengan perasaan canggung, apa mungkin itu hanya rumor bohong dari para Werewolf Darkmoon Pack karena terlalu lama menanti sosok Luna di Pack ini?
"Kami hanya mendengar kabar burung, bahwa sepertinya cahaya rembulan telah melengkapi Pack agung anda, Lord Alpha." Ujar Alpha Brench dari Bluemoon Pack.
"Maksud mu mate ku?" Ketika di tanya kembali dengan nada rendah mereka semua malah menjadi resah, pasalnya siapa yang tidak tahu jika Alpha besar yang satu ini sangat sensitif jika membahas masalah Mate.
"Untuk malam ini aku masih belum bisa memperkenalkan Mate ku kepada kalian, tapi untuk perjamuan selanjutnya akan aku perkenalkan Luna ku kepada kalian."
Mendengar pernyataan luar biasa dari mulut Lord Alpha, begitu membuat keramian di tengah para tamu undangan. Bagaimana tidak, bukankah itu artinya rumor itu bukanlah sebuah kebohongan? Mereka semakin tidak sabar melihat sosoknya.
"Kami semua menjadi tidak sabar bertemu dengan beliau, semoga kejayaan rembulan menyertai kalian berdua Alpha dan Luna Darkmoon Pack."
Di balik kabar gembira itu ada juga perhatian kecewa dari beberapa Shewolf yang sudah sangat berharap dapat menjadi Unmate Aldera, karena sudah terlalu percaya bahwa kursi Luna akan menjadi milik salah satu dari mereka mengingat sudah 50 tahun telah kosong. Sosok sempurna nya sebagai Alpha sudah melegenda hingga menjadikan nya pujaan para kaum Lady bangsawan.
Aldera melirik Demian untuk memulai perjamuan, dan pesta perayaan di buka secara resmi.
Aldera sudah terlihat sangat bosan, rasanya ia ingin segera menyusul Clarissa saat ini. kemarin dan juga tadi mesih berdebat. Sebelumnya Clarissa menanyakan apakah dia bisa ikut perjamuan atau tidak, dan Aldera langsung menolaknya. Tapi Ia tidak bisa mengurung nya terus-terusan karena Clarissa bukanlah merak dalam sangkar kaca.
Ia menolak karena Aldera masih enggan menunjukkan sosok Mate nya---malah jika bisa ia ingin menyembunyikannya untuk selamanya, tapi ia juga perlu menunjukkan kepada seluruh pengikutnya bahwa Clarissa adalah Luna nya. Jadi ia putuskan untuk tidak membawa Clarissa pada perjamuan hari pertama dan akan menentukan hari ketika menurutnya waktunya pas di perjamuan berikutnya.
Lagipula mereka akan di tinggal di Darkmoon Pack selama 15 hari. Tapi karena ucapan Aldera, Clarissa menuruti kemauan Aldera dengan syarat malam ini ia pergi ke Desa Penampungan untuk melihat perkembangan kondisi anak-anak disana. Dia tidak sendiri ada Bobby, Nala, Enisha dan beberapa Assasin nya yang melindungi Clarissa secara diam-diam.
Hanya saja Clarissa terlalu antusias dengan penduduk desa penampungan, padahal dia yang mengizinkan nya. Tapi rasanya Aldera tidak suka jika perhatian Clarissa berpindah dan tidak lagi memerhatikan dirinya.
Jadi karena Clarissa terlalu perhatian dengan yang lain membuat Aldera bad mood dan secara sepihak meminta Clarissa untuk tidak datang ke desa dan hanya menunggu di kamar sampai ia kembali nanti. Tapi hasilnya malah perdebatan yang ia tuai, jadinya mau tidak mau ia kembali mengizinkan Clarissa untuk pergi ke Desa.
"Sepertinya Alpha sudah sangat bosan, padahal baru 15 menit acara di mulai." Karina, Mate Demian memperhatikan perubahan sikap Alpha yang sudah sangat jelas bagi mereka.
Demian sampai tertawa canggung mendengarnya, habis meaki Aldera menunjukkan senyum persahabat kepada para Alpha dan Luna yang memberi salam hormat kepadanya. Tapi bagi mereka yang mengenal sosok baik Aldera, itu adalah wajah bosan. Karena Aldera paling benci tersenyum---pkecuali kepada calon Luna mereka.
"Sepertinya kau sudah harus mengambil alih perjamuan ini, sebelum kesabaran Alpha habis Demian."
"Yang benar saja? Ini masih terlalu cepat untuk bosan, aku jadi kerepotan menangani pertanyaan tamu undangan dan Alpha yang lain mengenai sosok Luna nanti. Bagaimana jika kita berganti Shift?"
"Tidak mau, itukan tugas mu sebagai Beta Alpha."
"Wah aku di khianati oleh wolf ku sendiri. Pantas saja Hera tidak mau berbicara dengan mu."
"Apa?! Hera jauh lebih cerewet daripada Karina, dia saja wolf yang------"
Demian langsung menutup komunikasi nya dengan jiwa wolfnya, lebih baik dia menanggapi para tamu daripada harus mendengar curhatan jiwa wolf nya mengenai Hera sebagai jiwa wolf dari Karina.
"Aku sangat penasaran dengan Luna Clarissa, kau pasti sering bertemu dengan nya."
"Tidak juga, Alpha sangat posesif terhadap Luna."
"Ah..., aku bisa mengerti hal itu."
"Jangan khawatir, kau masih bisa bertemu saat perjamuan makan atau pada saat Festival Bulan Purnama. Karena Luna Clarissa akan di angkat secara resmi sebagai pendamping Alpha di Darkmoon Pack."
"Benarkah? Aku jadi tidak sabar, kira-kira apa Alpha akan menyetujuinya jika aku mengajukan diri sebagai Shenna nya?" Ujar Karina begitu antusias, karena Shenna adalah posisi yang hampir setara seperti Beta---sosok pendamping pribadi untuk melayani seorang Luna.
"Nanti akan ku coba sampaikan dengan Alpha."
"Terimakasih, sayang. Tapi sebelum itu, kau sebaiknya segera mengambil alih perjamuan, sebelum Alpha benar-benar akan meremukan kursi singgasana nya karena sudah terlalu bosan."
Karina dan Demian saling menghela nafas, mereka adalah orang pertama yang akan gelisah setiap melihat mood Alpha menjadi berubah, karena bisa saja Aldera akan menjadi sensitif terhadap topik yang aneh-aneh dari tamu undangan dan malah menjadi mengamuk.
__ADS_1