
Selama pelayanan yang di lakukan para Omega Shewolf. Clarissa hanya terdiam pasrah tanpa menunjukkan ketertarikan atau sekedar berbincang menyapa kepada pelayan istana. Beberapa kali ia mengabaikan pandangan terpesona mereka mengenai sosok Clarissa.
Kalau dipikir Clarissa memang memiliki fisik yang berbeda dengan Shewolf lainnya. Umunya mereka memiliki kulit berwarna coklat sawo matang atau coklat manila terang. Sedangkan Clarissa memiliki warna kulit putih walau tak sepucat bangsa Vampir, secantik ras Elf dan rambut hitam legam bergelombang nya---berkilau indah menyerupai warna bulu gagak.
Siapa yang tidak akan iri dengan sosoknya. Ia keturunan bangsa Werewolf, tapi memiliki kecantikan selayaknya para dewi. Meski mereka menatap kagum dengan banyak tuturan puji---tapi bagi Clarissa sendiri, ini sangatlah mengganggu. Bukankah, jika di pandang seperti itu ia terlihat seperti spesies ras albino di tengah kerumunan bangsanya?
Yah, mungkin karena ibunya adalah bangsa Witch yang dulu katanya adalah seorang wanita kuil yang mendapatkan berkat arrabella dari Dewi bintang---Dewi pelindung wilayah penyihir.
Jadi kecantikan ibunya pun menurun kepadanya. Hanya saja, berkat itu semakin lama terasa membebaninya karena ia semakin terlihat berbeda dari mereka.
"Kami telah selesai, Luna." Ujar salah satu pelayan dan yang lainnya langsung berjalan mundur sembari menunduk.
Clarissa memandangi gaun panjang berwarna merah. Beberapa perhiasan permata menggantung dari pundak hingga punggung---guna menutupi bagian kulit Clarissa yang jauh lebih terekspos dengan polos. Rambut legamnya di ikat setengah dan di hias pita merah berukuran sedang dengan mutiara yang tersebar secara acak di rambut kelam nya.
"Anda bisa menggunakan mantel ini untuk menghangatkan diri anda, Luna. Sebentar lagi Alpha akan datang menjemput anda."
Clarissa melihat mantel berwarna putih dengan terdapat bulu rubah di sebagian pundak atasnya. Ia menerimanya sembari tersenyum, "Terimakasih."
"Apa anda masih membutuhkan yang lain, Luna?"
Clarissa menggelengkan kepalanya, "Tidak...," Melihat respon Clarissa, para Omega turut menunduk hormat menyatakan diri untuk meminta izin pergi dan berjaga di luar kamar.
"Tunggu." Clarissa menghentikan satu Omega. "Aku---butuh bantuan mu."
"Iyaa, anda bisa mengatakan nya." Clarissa melirik, memastikan Omega yang lain telah keluar dari kamar dan menyisihkan satu Omega tersebut.
"Em, bisa kau kurangi beberapa perhiasan di pundak ku? Rasanya kurang nyaman."
"Baiklah, saya permisi sebentar." Omega tersebut membantu mengurangi beberapa aksesoris sembari fokus memilih perhiasan yang jauh lebih sederhana tapi terkesan menawan.
"Boleh aku tanya, apa di sini juga sering muncul aurora?" Ujar Clarissa sedikit berhati-hati, mencoba menarik perhatian pelayan tersebut yang ikut menoleh keluar jendela.
"Benar, Luna. Walau tidak sering tapi Aurora yang muncul berasal dari dunia Manusia melalui hutan Nehela, biasanya 1 bulan menjelang Full Moon pintu dimensi di perbatasan akan tertutup secara perlahan, dan selama 5 tahun ke depan gerbang tidak akan bisa di lewati oleh bangsa manapun, kecuali Alpha dan beberapa ras yang punya kekuatan cukup besar untuk membukanya. Di fase ini, akan sangat aman bagi manusia karena jarang ada bangsa Vampir yang melewati perbatasan."
"Full moon? bukan kah itu tinggal 15 hari lagi?"
"Iyaa Luna, dan selama rembulan memasuki masa sabit, para Alpha akan berkumpul di Darkmoon Pack sebagai acara jamuan kesetiaan sebelum Festival Full Moon tiba."
"Perkumpulan Alpha?"
"Benar, apa anda belum mengetahuinya?"
"Apa ada kemungkinan Pack di dunia Manusia turut hadir."
Omega tersebut mengangguk, "Benar, Para Alpha dan Luna dari berbagai Pack termasuk di Bumi akan datang."
__ADS_1
Kalau begitu, apakah mungkin pamannya akan datang juga? Tapi, Gladea Pack tidak pernah memiliki hubungan dengan bangsa di Imorrtal. Tunggu, sejak kepemimpinan Paman nya sebagai Alpha---bisa saja peraturan berubah. Atau memang sudah ada hubungan jika mengingat Ayah nya sampai punya Villa di perbatasan. Ouh! Ini sungguh memusingkan.
"---Jangan biarkan keberadaan mu di ketahui kaum Immortal ataupun Werewolf lain."
"Luna?" Clarissa kembali melihat Omega yang sudah hampir selesai memasang perhiasan yang jauh lebih sederhana dan tidak begitu banyak pada pundaknya. "Bagaimana menurut anda?"
"Ini sudah cukup kau bisa pergi."
"Kalau begitu, saya akan berjaga diluar. Anda bisa memanggil saya, jika perlu sesuatu Luna."
"Baiklah, terimakasih." Omega tersebut berjalan pergi.
Sedangkan Clarissa kembali berdebat dengan akal sehatnya yang sudah sangat kacau. Dia terlihat memikirkan cara untuk segera keluar, sebelum perbatasan tertutup selama 5 tahun.
"Selena, Selena----apa kau bisa mendengar ku?" Sayangnya ia masih belum bisa berkomunikasi dengan wolf nya.
Clarissa mengigit kecil kuku pada ibu jarinya, perasaan gelisah yang terus memaksa otak dan hatinya berdebat antara Mate atau janji Ayah nya, membuatnya depresi. Clarissa kembali menarik nafas dalam-dalam meyakini pilihan terbaik dari semua ini-----masih belum terlambat, ia masih bisa memutuskannya sebelum perasaan di antara mereka berkembang lebih liar.
Melihat pada balkon dan menelusuri serta menyusun banyak strategi untuk bisa turun dari Castle tersebut menuju hutan Nehela---Secara kesimpulan, jika ia mengikuti arah cahaya aurora maka itu akan menuntunnya menuju hutan perbatasan. Tapi masalahnya seberapa jauh tempat itu?
"Aku hanya punya satu kali kesempatan dan satu persen untuk bisa lolos dari nya." Clarissa menggenggam erat pembatas balkon---sebuah batu yang terasa dingin akibat suhu musim dingin.
"Maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang pasif ini. Ayo Clarissa, kau pasti bisa. Meski ini mungkin akan gagal tapi, lebih baik mencobanya daripada diam dengan pasrah----Ayo pergi dari sini!"
Clarissa membulatkan tekadnya, ia menoleh pintu kamarnya lagi, menurut perkiraan nya, Aldera pasti akan datang sekitar 15 menit lagi jika melihat jam makan malam akan segera tiba, itupun jika para Omega di luar sana tidak menyadari nya. Jika berhasil, sebisa mungkin ia harus sudah keluar dari sini---setidaknya keluar dari Castle ini.
"Baik, aku bisa mengurus para penjaga dengan sihir manipulatif. Itu tidak akan menggunakan banyak tenaga, meski ini juga beresiko tapi cara ini jauh lebih baik." Setelah menentukan rencananya Ia mulai aksi melarikan dirinya.
Clarissa mengambil pedang yang kebetulan terdapat pada interior dinding, kedua pedang yang tidak begitu sempurna untuk bertarung tapi cukup kuat bila menahan beban tertentu. dan ini juga sudah cukup untuk ia gunakan sebagai acuan bagi Clarissa turun dari kamar ini menuju Castle lain di sebrang sana.
Sebuah Castle yang berbeda dengan istana utama Alpha dan untungnya Castle itu cukup dekat dengan hutan belakang istana. Hanya saja, Castle itu sedikit lebih rendah daripada posisi kamarnya.
Salju mulai turun seakan langit membantu menutupi aksinya. Sedangkan Clarissa sudah berdiri pada pagar balkon, kemudian melompat setelah mengambil banyak tekad dan resiko jika ia melompat kearah kain panjang yang tergantung pada dinding Castle dengan lambang ciri khas Darkmoon Pack disana.
Clarissa berhasil meraih kain tebal dan kuat tersebut, memutar tangannya untuk menggantungkan diri agar tidak jatuh dari tempat tinggi tersebut. Untunglah, meski ia tidak begitu handal tapi Clarissa selalu di latih pertahanan dasar dari Gama agar ia bisa mengatasi situasi saat melarikan diri dari seperti ini.
Clarissa mencoba bertahan sembari memposisikan dengan benar pada pijakan nya, belum lagi salju yang turun sedikit menghambatnya. Tapi itu tak bertahan lama, sesaat setelah ia berhasil mendapat posisi yang sudah pas, Clarissa melempar dengan bidikan pas kearah jendela kaca pada Castle di seberangnya, sehingga pedang di tangan kanan nya tadi berhasil menancap dengan sempurna di jendela kaca tersebut.
"Bagus----"
"Segera laporkan kepada Alpha, Luna menghilang!"
Clarissa menoleh mendengar teriakan Omega tadi telah menyadari kepergiannya, sebelum berita kepergian nya sampai ke telinga Aldera. Clarissa segera mengambil pedang lain di tangan kirinya lalu berlari mengandalkan pijakan alas dari salju yang ia buat dengan kekuatan sihirnya.
Kemudian mengambil lompatan rendah menuju jendela kaca di bawah sana sempabari melepas genggamannya pada kain tadi, dan dengan posisi yang pas Clarissa menginjak---mendorong pedang yang tadi menancap untuk lebih menekan permukaan jendela dan hasilnya jendela kaca pun hancur berkeping-keping menyebarkan pecahan beling berserakan di lantai.
__ADS_1
"Ah!" Rintih Clarissa saat ia mendarat cukup kasar, tapi tidak ada banyak waktu untuk meratapi luka di lehernya yang terdapat goresan kaca. Untunglah hanya luka kecil yang ia dapat walau itu juga cukup membuatnya merasakan perih.
Dengan cemas Clarissa bangkit dan berlari menuju lantai dasar---Mengandalkan segala cara untuk menghindari para Omega dan sesekali harus berhadapan dengan para Penjaga di Castle tersebut, tapi seakan Moon Goddess mempermudahnya, semua berjalan lancar bahkan Warrior yang berjaga pada gerbang belakang istana tidak begitu banyak dan hasilnya Clarissa berhasil keluar---berlari memasuki hutan lebat.
Clarissa berlari sembari mengangkat gaun panjangnya, apalagi tebalnya salju yang menumpuk pada permukaan tanah terus menghambatnya, tapi tidak dengan tekadnya untuk bisa lepas dari sini.
Clarissa juga harus memotong banyak ilalang serta ranting liar yang berada di hadapannya menggunakan pedang di tangan nya. Ia tidak perduli telapak kakinya sudah memar merah akibat menerjang salju dengan kaki yang polos. Tapi pelarian nya juga masih belum. mudah karena ia harus berhadapan dengan delapan ekor serigala yang menjaga hutan tersebut.
"Tangkap penyusup itu!"
"Jika dia membawa pedang apa mungkin dia mata-mata Vampir yang mencoba menggoda Alpha."
"Sebentar, aku bisa mencium aroma Alpha dari tubuh wanita itu."
"Berhenti berdebat dan menyingkir sekarang juga!"
Kedelapan serigala itu terdiam----dia bisa mendengar mereka berbicara? Mereka hanya seekor hewan bukan Werewolf tapi dia bisa memahami bahasa hewan?
Oh tidak! Clarissa lupa, Werewolf tidak bisa berbicara dengan hewan! Karena ia menerima berkat, Clarissa tentu juga dapat mengerti percakapan hewan serigala tersebut.
"Siapa kau?"
Clarissa terlihat gelisah, takut bila Aldera mulai mengejar dan juga takut bila serigala ini menangkapnya lalu menyeretnya kepada Aldera. "Aku----aku adalah Mate Aldera."
"Alpha memiliki Mate?" Serigala berbulu coklat kehitaman mendekati Clarissa dengan sedikit agresif menandakan bahwa ia masih belum percaya. "Tapi Alpha selalu membunuh Shewolf yang mencoba mendekatinya. Kami tidak pernah tahu bahwa Tuan kami telah memiliki mate, apalagi, beberapa hari yang lalu kami baru saja memakan salah satu Tetua yang membahas Luna di hadapan Alpha."
Serigala ini dapat memakan Werewolf juga? Apa Aldera sungguh membesarkan peliharaan nya menjadi sekeji ini? Tapi mereka memang mencerminkan sifatnya. "Kalau begitu, apa kau mau ikut diriku ketempat nya? Kami berjanji untuk bertemu di perbatasan."
Serigala itu menggeram dengan menatap tajam kearah Clarissa, namun tak lama ia menarik diri menjauhi Clarissa. "Baiklah, aku akan percaya karena aroma Alpha begitu pekat di tubuh mu. Lagipula aku pernah lihat Alpha membawa seorang wanita dari perbatasan, mungkin wanita di malam itu adalah dirimu. Maaf atas ketidak sopanan ini Luna"
"Tidak masalah."
"Apa kami perlu mengawal anda, Luna?"
"Tidak perlu! Akan lebih baik kalian pergi."
"Baiklah," Sekelompok serigala pemburu itu memberi jalan kepada Clarissa.
Aaauuuu...... !!
Clarissa tersentak dengan suara lolongan yang cukup memekik telinga---membawa arus angin kencang daria arah Castle seakan keberadaannya telah terpantau oleh predator, Aldera telah mendengar kabar hilangnya dia.
Dan sial nya, lolongan itu menjadi penanda atau perintah Aldera kepada seluruh peliharaan serigalanya yang tersebar di hutan----bahwa mereka harus menahan Mate nya melarikan diri! Hasilnya serigala tersebut kembali mengintimidasinya.
"Hentikan dan tangkap Luna!"
__ADS_1
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...