MINE! The Alpha'S Lover

MINE! The Alpha'S Lover
Rembulan Dalam Sangkar


__ADS_3

"---Kau, akan melihat semua yang pernah membantu mu kabur---baik raja kucing itu maupun Werewolf yang melayani mu di sini atau bahkan orang-orang terdekatmu yang ada di bumi. Akan ku pastikan, kau akan melihat mereka semua mati di hadapan mu!"


"Aldera!"


"Kau Mate ku, kau Luna Darkmoon Pack. Anggaplah, jika kau kabur dari ku lagi, maka seluruh Pack ini akan habis di tangan ku, tugas mu sebagai Luna adalah melindungi mereka!"


"Aldera kau sungguh keterlaluan! Apa menurutmu tindakan itu pantas bagi seorang Alpha yang menjadi pemimpin di suatu Pack?!"


"Sayang nya seperti inilah diriku. Pelajari baik-baik dan cobalah untuk menerima, bahwa Mate mu bukan lah sosok serigala lemah---seperti Ayah mu."


Aldera mengusap bibirnya setelah mencium kasar kekasihnya, lalu merenggangkan genggamannya pada kedua tangan Clarissa. Ia turun dari ranjang lalu menyalakan api pada ondola dengan sihir.


"Renungkan tindakan mu hari ini, dan ingatlah kau menggenggam banyak nyawa, Clarissa." Ujar Aldera kemudian berjalan ke luar.


"----Albram Fanderwhick." Gumam Clarissa tanpa merubah posisi nya dan membuat langkah Aldera berhenti berjalan.


"Dia adalah Alpha yang selalu mengejar ku selama 15 tahun ini. Menemukan ku dengan berbagai cara untuk bisa di bunuh---" Clarissa bangkit.


"---buktikan, jika kau memang bisa ku percayai. Buktikan jika memang ada tempat yang bisa menjadi atap untuk ku tinggal, mate yang tidak akan pernah berpaling meski kau harus di tuntut untuk menerima banyak kekurangan ku---bahwa kau adalah tujuan terakhir ku untuk pulang."


Aldera tercekat melihat Clarissa menatapnya dengan kedua mata yang di penuhi banyak rasa emosi m. Air matanya yang terkesan jauh lebih tajam daripada pedang, menusuk sukma nya bahwa hidup kekasih nya selama ini selalu berada di ujung jurang kematian.


Apa yang sebanarnya telah di lalui Mate nya hingga terkadang kedua matanya memancarkan kekosongan dan juga rasa lelah---mungkin jika dia di beri izin untuk mati, maka Clarissa akan memilih bunuh diri dengan sukarelawan.


Albram Fanderwhick, siapa pun kau, aku pasti akan membalaskan semua penderitaan yang Mate ku alami!


"Clarissa----"


"Aku akan merenungkan diriku. Mungkin perlu waktu bagiku untuk bisa membiasakan diri di sini, tapi---bisakah kau tidak melukai mereka?"


"Selama kau patuh dan tetap berada di sisiku, aku tidak akan menyentuh mereka."


Clarissa menghela nafas, menunjukkan senyum lega. Kemudian memilih kembali tidur berbaring sembari membelakangi Aldera, tanpa berniat melanjutkan percakapan. Karena Sungguh, ia juga lelah dengan perdebatan ini.


Aldera yang melihat reaksi Clarissa membuatnya menjadi canggung, perlahan perasaan bersalah datang dan bersinggah di hatinya. Tapi, memang seperti ini dirinya, kekerasan selalu menjadi cara untuknya dalam menginginkan sesuatu dan bila dia terus memaksa berlama disini, ia juga takut---dirinya akan melewati batas yang mungkin bisa saja membuat Mate nya semakin menjauhi darinya.


"Aldera, suruh Demian mencari tahu sosok Albram itu. Aku sudah geram dan sangat terluka saat melihatnya menatap dengan pandangan kecewa---seakan mati pun tidak masalah daripada hidup seperti ini."


Aldera bersikeras akan mencari tahu semua yang terjadi pada Clarissa. Kini satu-satunya alasan untuknya bisa hidup dengan bangga telah ia temukan---Mate nya adalah segala nya untuknya. Maka ia akan melindungi nya dan akan mewujudkan tempat yang bisa ia sebut rumah.


Aldera menatap Clarissa dengan lara. Semua karena tindakan nya hari ini sudah banyak membuatnya terluka, sebaiknya ia membiarkan nya beristirahat dan memiliki waktu sendiri.


Tanpa sepatah kata pun, Aldera meninggalkan kamar tersebut setelah menarik sebuah selimut ke tubuh Clarissa, dan pintu yang menjadi satu-satunya akses keluar menghilang---menyatu dengan dinding seakan kamar itu memang di sediakan sebagai sangkar untuk Clarissa.


Clarissa membuka kedua matanya yang sudah memupuk banyak air mata, sesaat ia menatap rembulan yang berada di langit. Mungkin itu alasan nya kenapa ruangan ini di buat dengan atap berlapis kaca---meski tidak semua, karena dari tempat yang paling tinggi kau terasa bisa menjangkau sang Dewi.

__ADS_1


"Sungguh, aku lelah dengan kehendak mu Dewi. Kau tidak mengizinkan ku hidup di ketahui mahluk Immortal, tapi kau jadikan Mate ku sebagai penguasa yang cukup berpengaruh di Immortal ini. Tidak cukup kah bagimu dengan mengambil kedua orangtuaku? Sehingga kau juga menargetkan takdir ku?!"


Bodoh jika Clarissa tidak mengakui perasaan nya karena ia sendiri pun tidak akan bisa menolak sosok Mate yang telah ditakdirkan langit untuknya nya. Mau seperti apa dirinya bersikap atau berkata dengan banyaknya ancaman---Clarissa mengakuinya, bahwa ia telah jatuh lebih dalam untuk mencintai sosoknya sejak pertama kali bertemu.


Karena dia tahu Aldera terus mencoba menahan diri untuk tidak bersikap kasar kepadanya. Matanya yang setulus tatapan Ayahnya begitu bisa ia kenali dari banyaknya seseorang yang ia temui. Hanya saja, situasinya sungguh tidak berpihak kepadanya. Clarissa takut, kenyamanan ini hanya akan sesaat dan bagaimana jika kejadian paling menakutkan dalam hidupnya harus di alami Mate dan seluruh Pack seperti peristiwa hari itu?


Clarissa kembali terguncang dan tubuhnya pun merespon perasaan trauma tersebut. Ia turun dari ranjang dan berlutut di bawah sinar temaramnya yang agung.


"Dewi jika dia sungguh karunia terbaik darimu---aku mohon, jangan biarkan aku melihatnya dan seluruh Pack ini berakhir seperti mimpi buruk itu. Karena, aku tidak akan sanggup lagi melihat kematian dari orang-orang di sekitar ku."


"Tolong dengarlah aku sekali ini saja..., aku hanya ingin punya rumah yang bisa merangkul ku dengan kenyamanan, Dewi."


...--༺🌛🌟🌜༻--...


Terik surya bercahaya dengan sangat gagah di langit Immortal, salju yang masih merajai teritorial Werewolf, terlihat menambah wilayah jarahannya dengan hujan salju yang tak begitu lebat.


Clarissa yang telah membenahi diri tanpa bantuan Omega, meletakan sisir setelah menyisir rambutnya. Gaun putih selutut yang telah tersedia di meja terlihat serasi dengan bentuk tubuh Clarissa, sehingga kecantikan nya menambah aura jelitanya dengan penuh ciri khas.


Mungkin ini di sediakan oleh Aldera saat ia masih tertidur, karena juga kan hanya Aldera yang bisa memasuki ruangan ini. Awalnya Clarissa juga mengira ini hanya sebuah kamar, tapi ternyata tempat ini jauh lebih luas dan memiliki ruangan lain yang terhubung, sehingga ia menelusurinya.


Di sebelah rak buku terdapat ruangan santai, beberapa kursi memanjang di sekitaran jendela kaca dan furnitur pendukung lain nya, bahkan perpustakaan mini juga tersedia di sini. Apa mungkin ini ruangan rahasia Aldera.


Clarissa cukup menyukai tempat ini, ia sendiripun mengakui---bagi seorang yang introvert, ruang baca adalah healing terbaik dalam menenangkan diri. Mungkin harus nya ia merasa sesak karena ini tidak jauh berbeda dengan kurungan .


Yah.., setidaknya ini sedikit lebih baik daripada ia harus di jaga ketat oleh pengawal ataupun di awasi oleh Pelayan seperti kemarin. Clarissa melihat keluar jendela----menatap pemukiman Darkmoon Pack yang begitu luas bahkan kerajaan ini jauh lebih besar daripada Gladea Pack.



Clarissa duduk di lantai sembari menyandarkan diri ke jendela kaca. Merenungkan banyak hal kenangan indah yang sangat di rindukan nya sebelum peristiwa keji itu terjadi. Jika bisa, Clarissa juga ingin menjaga penduduk Gladea Pack dari Paman nya, dan memimpin wilayah tersebut sehebat Ayah nya.


Ia memeluk kedua lututnya. Meski ia di larang kembali bukan berarti ia buta dengan semua kejadian pada Gladea Pack. Clarissa selalu mencari tahu bagaimana keadaan di sana, dan seperti dugaan nya kerajaan makmur dan indah itu kini hanyalah sebuah cerita dahulu kala--karena bagi penduduk Werewolf yang memilih pergi dari Gladea Pack, tempat itu seperti neraka!


Bahkan gilanya Albram hanya mengeruk pajak tanpa mementingkan rakyat dan selalu di katakan, dia memiliki bisnis aneh yang melibatkan beberapa manusia. Ia sendiri masih belum tahu bisnis apa yang mengharuskan Manusia adalah transaksi terbaiknya, tapi yang pasti itu hal yang tidak baik.


Clarissa menutup matanya ia mencoba melupakan hal itu sebelum rasa penasaran nya menguasai pikiran nya dan mendorongnya untuk kembali ke Gladea Pack. Maka sebagai gantinya ia akan selalu bersenandung---bernyanyi sembari menenangkan dirinya sendiri.


Di lain sisi ...,


Aldera memasuki ruangan kekasihnya---yang sebenarnya ini adalah ruang pribadi saat ia ingin menyendiri. Karena selama hidupnya ia hanya memiliki urusan dengan teritorial dan peperangan jadi ia lebih sering menggunakan ruangan ini daripada kamarnya di istana utama.


Ia sengaja membuat khusus kamar yang di gabung dengan ruang kerjanya dan memang di desain sangat rumit serta rahasia, agar mengindari penyusup yang mencoba membunuhnya di tengah malam. Yah..., walau hal itu tidak mungkin terjadi tapi etidaknya kamar itu adalah tempat terbaik untuknya menenangkan diri.


Aldera terlihat cukup khawatir saat tak mendapati kekasihnya ada di sana, tapi rasa khawatir itu reda ketika melodi merdu dari senandung indah mengalun di telinganya. Lantas Aldera meletakan sajian makanan yang ia bawa ke sebuah meja kemudian berjalan ke sisi lain dari ruangan tersebut.


Ia berdiri terpana dengan posisi mate nya yang terlihat sangat rupawan, apalagi ketika Kamelia itu menutup kedua matanya. Meski harus ia akui perasaan sedihnya selalu berhasil menggoyahkan nya. Aldera terlihat mencari sebuah selendang hangat di sekitar ranjang lalu kembali mendekati Mate nya.

__ADS_1


"---Maaf jika aku mengganggu mu." Senandung itu berhenti ketika Aldera menyelimuti tubuh mungil Clarissa dengan selendang.


Clarissa menatap Aldera, ia tidak berniat menanggapi ucapannya, namun tak juga membenci kehadiran nya. Clarissa selalu suka memandang wajah pria tersebut. Mata merahnya, alis tebal dan bulu mata panjang yang terkadang menambah aura dingin setiap matanya melirik. Rambut hitam panjang sepundak dengan beberpaa hiasan ornamen lambang bulan dari perak dan juga tatapan nya yang sdlalu menatap penuh kasih meski ia terlihat menyeramkan dibeberapa kondisi.


Aldera duduk berlutut di hadapan kekasihnya, menggenggam tangannya dengan wajah bersalah. "Maaf jika ini membuat mu sesak. Aku tidak bermaksud menyiksa mu, tapi aku----"


"Aku mengerti, kau tidak perlu meminta maaf. Aku hanya tidak tahu harus bereaksi seperti apa, maksudku, jujur bagiku sendiri tempat ini sangat nyaman dan begitu indah. Tapi dilain sisi, aku masih belum tenang."


"Clarissa..., percayalah kau akan sangat aman berada disini. Aku pasti akan melindungi mu, dari Paman mu. Bersandar lah kepadaku, Kau bisa menangis semau mu, kau bisa berteriak berucap serapah atau mengingkari sebuah janji---kau bebas melalukan apapun yang kau mau, ada aku yang akan mendukungmu. Kau tidak perlu cemas dan hidup dalam ketakutan. Lampiaskan semua kekesalan mu yang terbungkam selama ini."


"Tapi---aku tidak punya keberanian yang besar untuk menghadapinya, Aldera."


"Aku tahu, aku hanyalah pendatang baru dalam hidup mu, aku juga tidak bisa terlalu membantu banyak untuk mu dalam bertahan hidup selama 15 tahun ini. Meski begitu, aku bisa menjadi bahumu untuk bersandar. Aku bisa menjadi pendengar yang baik untuk mu bercerita, Rissa---kau perempuan terhebat dan paling tangguh dari banyaknya wanita yang pernah kutemui."


"Clarissa, kau sudah cukup banyak bekerja keras selama ini. Sekarang, waktunya bagi dirimu untuk beristirahat sejenak. Habiskan sisa hidupmu hanya bersama ku, di Darkmoon Pack---Rumah mu yang baru dan akan selalu menjadi tempat mu untuk pulang."


Clarissa tertegun dengan semua ucapan nya---pandangan tulus yang tak pernah menunjukkan rasa iba dengan kisah hidupnya, begitu sangat Clarissa butuhkan. Disaat semua orang hanya menatap empatik, tidak ada sedikitpun rasa menyedihkan dalam pandangan Aldera mengenainya.


Bukankah ini yang paling Clarissa cari? kata-kata itulah yang paling ingin dia dengar daripada kalimat simpatik 'Semua akan baik-baik saja.'


Bukankah akan sangat melegakan saat ada seseorang yang bisa memahami perasaan mu di kondisi terburuk mu? Seakan harapan nya di jawab dengan kehadiran sosok yang paling dia butuhkan.


Clarissa membalas genggaman Aldera---berusaha mencengkram kuat telapak tangan besarnya. Ia menundukkan kepalanya mencoba menutupi air matanya dan semua perasaan malu nya, bahwa sebegitu menyedihkan kah keberadaan nya? Hingga ia lera diasingkan dari Pack kelahirannya.


Aldera menangkup wajahnya, melihat Clarissa menangis sejadi-jadinya. Isak tangisnya yang meluap dengan sangat menggebu menggores sosok tangguhnya sebagai seorang Alpha terkuat.


"Aku hanya ingin hidup dengan tenang..., hiks. Memiliki banyak waktu untuk bisa bersama Ayah dan Ibu, berjalan dan menelusuri Gladea Pack lebih jauh---hiks!" Clarissa kalah ia tidak bisa lagi menutupi semua perasaan kekecewaan nya.


"Kenapa harus aku, kenapa Dewi tidak seadil ini hanya kepadaku! Bukankah beliau akan mencintai anak-anak serigalanya, ketika kita hidup dengan banyak kebajikan? Lalu kenapa dia menghukum keluarga ku dan mengutuk hidup ku! Apa salah ku? Apa salah orangtuaku sehingga mereka harus mati dengan sangat menyedihkan----hiks! Bahkan, mereka saja tidak bisa memiliki tempat peristirahatan yang baik dan kematian mereka hanya di jadikan cemooh oleh mereka!"


"Clarissa...," Aldera mencoba menenangkan kekasihnya yang menangis di pelukannya seakan ia mengadu banyak hal mengenai peristiwa tak adil yang ia alami.


"Ayah dan ibu tidak pernah mengabaikannya, bahkan memperlakukan Paman dengan baik. Tapi kenapa, kenapa Paman membalas mereka dengan keji? Apa sepenting itu kursi Alpha? Sungguh, aku tidak seserakah itu untuk menginginkan posisi pemimpin. Jika dia mau, aku bisa memberikannya tanpa harus merenggut mereka ataupun menghancurkan masa depan Gladea Pack!"


"Aku lelah, aku sungguh sangat lelah hidup dalam buruan nya! Aku meninggalkan tanah kelahiran ku, aku lari dan selalu bersembunyi sebisaku---selayaknya parasit! tapi kenapa itu belum juga cukup untuknya?! Apa yang membuatnya sebegitu terancam dengan keberadaan ku, Aldera---hiks,"


"Clarissa----sayang, lihat aku dan tenangkan dirimu." Aldera terus menghapus air mata Clarissa, ia benar benar sangat tercekat dengan semua pernyataan Clarissa. Sebajing*n itukah sosok Albram kep*rat itu, sampai dia berani membuat Mate nya seperti ini!


"Haruskah aku mati seperti keinginannya, baru aku bisa mendapat ketenangan? Terkadang, aku benar-benar sangat ingin membunuh diriku sendiri!"


"Tidak, tidak----jangan bicara hal seperti itu. Bukan kau yang harus mati, aku akan bersumpah atas nama Dewi bulan! Bahwa aku pasti akan menghabisi Paman mu dan membalaskan semua dendam mu!" Aldera memeluk erat tubuh Kamelia yang begitu rapuh, seakan kelopaknya bisa saja layu berjatuhan jika sedikit saja tersentuh.


"Ingatlah kau masih punya diriku, kau tidak sendiri lagi Clarissa. Jika kau sampai berpikir untuk membunuh diri mu lagi, maka aku juga akan menyusul mu mati saat itu juga. Jangan pergi sendiri, jangan tinggalkan aku---mulai sekarang kau menggenggam jiwaku, raga dan nyawaku adalah milikmu. Tetaplah bersama ku, Clarissa...."


...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...

__ADS_1



__ADS_2