
Fiera memarkirkan mobilnya di depan halam rumahnya. Ketika mesin mobil mati, Clarissa berjalan turun dan menatap keindahan desa Grindelwald yang begitu cantik bersanding dengan tumpukan salju yang terlihat seperti miniatur di atas kue coklat di penuhi bubuk gula yang sangat manis.
Lokasi rumah Fiera berada lebih tinggi dari pemukiman penduduk manusia. Meski tidak begitu banyak penduduk yang tinggal tapi Fiera bilang desa ini selalu ramai di datangi turis jadi tidak akan terasa sepi.
"Nah sekarang aku antar kau ke Villa mu."
Fiera menggunakan tongkat sihir yang terbuat dari ranting pohon mahoni---untuk melayangkan barang barang Clarissa karena lokasi Villa itu berada dekat dengan hutan Nehela tentu cukup berada lebih tinggi dan jauh dari pusat desa.
"Ayo, Villa itu memang cukup jauh dari pemukiman tapi tempatnya sangat aman dan tidak akan semenyeramkan seperti yang kau pikirkan."
"Tidak, mau seperti apa tempat itu. Aku akan menyukai nya."
Karena, hanya tempat itu---yang bisa ku sebut rumah.
"Oh, kau sungguh sangat baik seperti Kiara. Tidak banyak pilih-pilih dan sangat sederhana seperti hatimu yang dermawan sayang."
"Terimakasih atas pandangan mu terhadap ku, Bibi Fiera."
"Oiyaa, sebenarnya kita bisa saja pergi dengan sihir teleportasi. Tapi jika kau berkenan, bagaimana kalau kita berjalan saja? Kebetulan pemandangan nya juga bagus selama perjalanan menuju Villa mu."
"Aku tidak masalah."
"Okee, kita berangkat!" Ujarnya dengan semangat dan memimpin jalan lebih dulu.
Mereka berjalan mendaki perbukitan dan hamparan hutan serta padang salju, dari atas saini ia bisa melihat rumah penduduk yang terlihat seperti rasi bintang. Mau sejauh apapun, Clarissa akan sangat rela berjalan setiap hari daripada menggunakan kekuatan nya untuk bergerak cepat.
Berjarak 700 meter dari lokasi desa dan 200 meter dari rumah Fiera. Clarissa sampai juga di Villa milik kedua orangtuanya. Sebuah rumah yang hanya berdiri sendiri di dekat hutan cemara dengan aliran sungai di depan Villa nya, apalagi di belakangnya tergambarkan pegunungan Eiger yang sangat besar menjulang ke angkasa-----Ini pemandangan yang sangat indah untuk menjadi tempat istirahat yang menenangkan bagi Clarissa.
Villa yang tidak begitu besar dan tidak juga terlalu kecil dengan memiliki 2 lantai lengkap dengan funitur rumah yang sangat bersih.
"Baiklah ini rumah baru mu, mungkin sangat sederhana daripada apartemen mu. Tapi aku jamin barang barang di dalam masih sangat layak untuk di gunakan, semoga kau menyukainya."
"Ini jauh dari kata sederhana, Villa ini benar benar sangat indah. Oh sekali lagi terimakasih banyak." Clarissa meraih kunci rumah dari Fiera dia dan Selena sangat tidak sabar ingin menjelajahi kediaman milik orangtuanya. Sungguh hanya ini lah peninggalan yang masih memiliki kenangan orangtuanya.
"Oya, aku akan lebih sering meninggalkan rumah ku untuk perjalanan ku menuju wilayah Shadowine---kerajaan Witch di Immortal. Bisa ku titip rumah ku pada mu? Karena para kucing bulan itu akan mengotori rumah ku setiap aku tidak ada."
"Kucing bulan?"
"Maksudku, Peri Bulan. Mereka mahluk mungil yang juga di lindungi Moon Goddess untuk menjaga wilayah perbatasan hutan Nehela di bumi. Mereka berwujud kucing---karena di negera ini mereka lebih banyak menampakan diri meski di hadapan manusia sebagai kucing liar dan bukan hal yang aneh juga jika beberapa peri bulan menjadi akrab dengan bangsa Werewolf, karena kalian satu ras saudara di bawah sinar rembulan. Kau pasti akan segera bertemu karena Boby ingin menjagamu selama tinggal disini."
Clarissa sedikit bingung tapi ia menghormati informasi Fiera yang sudah banyak menjelaskan hal baru kepadanya. "Baiklah, semoga aku bisa bertemu dengan mereka."
"Mereka bukan peri yang jahat, mereka sangat imut. Hanya saja Raja peri mereka itu---Em, mempunyai sikap yang terlalu narsis dan keras kepala."
"Raja peri itu seper----"
"Oh tidak, sudah jam segini! Aku harus pergi karena di Bumi aku bekerja di salah satu perusahan yang ada di ibu kota Swiss, jaga dirimu baik-baik dan juga aku sudah membuatkan makan malam mu, mungkin kau perlu menghangatkan nya di microwave sebentar."
Clarissa mengangguk "Aku mengerti, hati-hati di jalan, Bibi Fiera."
"Siapp---ah! Kau harus ingat karena ini satu satunya villa terdekat dengan hutan Nehela, pokoknya kau----"
__ADS_1
"Aku tidak akan memasuki hutan Nehela ataupun berniat menyebrangi perbatasan."
"Baguslah jika kau memahaminya. Selain karena keinginan Ayah mu----tapi menurut ku memang sebaiknya kau tidak menyeberanginya."
"Kenapa? Apa alam Immortal memang sangat menyeramkan?"
"Itu karena Alpha yang menguasai Pack sebagai penjaga perbatasan hutan Nehela di alam Immortal. Yah mereka memang bukan pack yang punya maksud jahat hanya saja Alpha yang memimpin wilayah itu sedikit agak----" Fiera mendekati telinga Clarissa.
"----dia sedikit tidak waras dan begitu brutal. Aku tahu kaum Werewolf memang tergolong kaum bar-bar hanya saja dia Agak menyeramkan saja."
"Baiklah, aku akan tinggal dengan tenang di sini. Sekali lagi terimakasih untuk informasi nya."
"Oky deh, sampai berjumpa lagi Risaa." Fiera menghilang menggunakan sihirnya menuju rumahnya untuk bersiap pergi ke kantor.
"Apa maksudnya Alpha tadi sedikit tidak waras? Apa dia pria tua yang sudah gila?"
"Entahlah, aku juga kurang paham. Sebaiknya kita tidak perlu ikut campur mengenainya---jadi, apa kau siap untuk melibat rumah baru kita?"
"Oh harus-harus!! Pastikan kau mengelilingi setiap sudut rumah Rissa. Siapa tahu ada foto ayah dan ibu."
"Kau benar, ayo!" Clarissa memasuki rumahnya dan menutup pintu.
Tanpa dia sadari nya dari sebrang sungai villa Clarissa. Terdapat dua ekor kucing berjenis siberian tengah mengamati kedatangan Clarissa. Kucing yang memiliki bulu lebat dengan corak loreng army berwarna hitam dan sedikit coklat gelap. Iris mata hijaunya yang sangat tajam tak pernah luput dari villa di depan nya.
"Sekarang temui Alpha gila itu dan sampaikan pesan ku." Ucap peri berwujud kucing itu kepada bawahan nya.
"Baik Raja."
...--༺🌛🌟🌜༻--...
Albram menghajar bawahan nya yang bertugas membawa Clarissa dengan sangat kasar. Ia berulang kali mencakar, memukul atau bahkan membiarkan sosok wolf nya menginjak-ijak para Assasin nya dengan sangat marah.
Ini sudah 15 tahun berlalu sejak invasi pemberontakan yang ia pimpin untuk menghabisi masa kejayaan Harrit Kakak tirinya, karena sebenarnya Albram bukan lah keturunan keluarga penguasa Gladea Pack---Wintermoon.
Albram selalu takut dengan keberadaan Clarissa, memang dia terlahir sebagai Shewolf dan sangat jarang seorang Shewolf menjadi Alpha hanya saja jika dia keturunan Wintermoon pasti ada kemungkinan Moon Goddess lebih mencintai nya karena secara turun temurun anak perempuan Wintermoon akan menjadi putri dewi bulan sebagi saintes yang akan membawa cahaya purnama kedamaian di Immortal.
Akan tetapi seakan itu hanya ramalan belaka dan cerita dongeng saja----Selama ratusan tahun ini tidak ada satupun anak perempuan yang lahir mewarisi kekuatan saintes bulan sebagai penegak hukum kedamaian bagi Immortal. Tapi Albram selalu gelisah setiap melihat pertumbuhan pada Clarissa---ada sesuatu yang aneh saat dulu ia menggenggam tangan keponakan nya.
Jika saja dulu ia bisa melihat dan mengecek lambang wolf nya, Albram pasti akan mengetahui, hanya saja Harrit selalu mencegahnya bahkan sejak kematian Harrit ia malah lebih tidak punya kesempatan karena pengikut Harrit yang masih hidup di bawah kepemimpinan Gama---mereka selalu menghalaunya!
"ARGH!! SASAR TIDAK BERGUNA!" Albram melempar belati yang terbuat dari tulang para Wolf yang ia kalahkan dari invasi terdahulu.
"Bagaimana mungkin, selama ini kalian tidak bisa menangkap bocah itu! Dan sekarang kalian justru telah kehilangan nya---kemana Clarissa pergi?!"
"Ampun Alpha, kami menemukan informasi Putri pergi ke negara Filipina dengan bantuan Gama."
"Gama, Gama, Gama---Kau kepr*ta GAMA!!"
Albram berjalan gelisah sembari terlihat sangat frustasi. Jika saja kalung milik Kiara tidak ada pada gadis itu, penangkapan nya akan jauh lebih mudah belum lagi peraturan bulan yang sangat membuatnya repot tak bisa terelakan, sialan kenapa dia harus menjadi bangsa werewolf tapi jika dia bekerjasama dengan Elf mereka pasti akan langsung melaporkan aksinya kepada seseorang di Immortal. Sedangkan Dark Elf membenci semua bangsa werewolf dan tak pernah berniat bersekutu kepada siapa pun.
"Hampir semua Pack yang ada bagian tenggara di bumi ini milik ku---kau! Segera kirim pesan kepada Pack yang ada di Filipina untuk mencari keberadaan Clarissa dan juga segera temukan persembunyian Pasukan Gama yang ada di wilayah papua! Dia harus di singkirkan lebih dulu."
"Baik Alpha!" Dan seluruh Assasin menghilang pergi.
"Alpha, apa menurutmu ada kemungkinan bagi Putri Clarissa untuk pergi ke perbatasan Immortal?"
__ADS_1
Albram terlihat berpikir, ya mungkin saja memang ada kemungkinan. Tapi sejak 1000 tahun yang lalu leluhur Wintermoon yang memimpin Gladea Pack selalu menurunkan wasiat bahwa keturunan Wintermoon di larang pergi ke Immortal---ada sejarah di sini yang menyatakan bahwa mereka mengasingkan diri dari seseorang yang memburu keluarga Wintermoon tanpa menyertakan alasan nya.
Bahkan Harrit saja tidak pernah pergi ke Immortal, jika pun ia pergi dan membangun sekutu dia pasti akan mengetahui nya. Sialan ini membuat kepalanya sakit, terlalu banyak rahasia yang tak bisa di selesaikan hanya dengan menjadi Alpha di Pack ini.
"Hei, rileks kan lah wajah mu Albram." Suara sinis yang begitu menusuk telinga membuat Albram dan Ben Beta Albram merinding dan segera berlutut kepada seorang pria berjubah yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi Alpha.
"Anda datang, Tuan ku."
"Apa kau masih mengkhawatirkan keponakan mu?" Sosok itu melirik Albram sembari memainkan dua dadu berukuran sedang di tangan nya.
"Itu.., itu benar."
"Oh ayolah, dia hanya bocah. Dia tidak akan bisa mengancam posisi mu atau berniat untuk membalas dendam, kau terlalu berlebihan---sebaiknya kau beri waktu untuknya beristirahat dari pengejaran mu selama 15 tahun ini."
"Tapi Tuan, bagaimana dengan ramalan bulan----"
"Ahahaha! Kau sangat lucu Albram. Selama 1000 tahun apa ramalan itu datang? Tidak bukan, meski kaum ku habis di tangan leluhur saintes tersebut----tapi aku abadi dan tak terkalahkan. Dia hanyalah anak lemah yang selalu hidup dalam ketakutan. Dia bukan ancaman untuk ku." Sosok itu melempar dadu yang terbuat dari permata berwarna delima kelantai dan menunjukan angka genap dua belas.
Itu artinya keberuntungan akan selalu datang pada nya di kehidupan ini. "Pergilah, aku yang akan mengurusnya jika dia memang datang ke Immortal. Akan kupastikan dia tidak akan hidup jika berani mengincar posisi mu di Gladea Pack ini."
"Baiklah, saya akan mempercayai anda Tuan."
"Satu hal lagi, jangan kirimkan anak-anak manusia yangbkalian culik ke kerajaan Vampir."
"Ada apa Tuan?"
"Biarkan Edward yang menangkap buruan nya sendiri."
"Tapi jika kami bersinggungan dengan Putra Mahkota bangsa Vampir tersebut, ia akan mengancam Pack ku!"
"Itu tidak akan terjadi, aku kedatangan tamu dan membayar ku dengan sangat mahal untuk membuatnya mati di tangan seseorang."
Albram dan Ben saling melirik dengan gelisah, jika ada tamu yang bisa bernegosiasi dengan Tuan nya itu berarti posisinya terancam? Karena, pria itu begitu licik untuk memanfaatkan sesuatu.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan membuang mu, Albram." ujarnya seakan dapat membaca pikiran nya.
"Saya akan mengikuti perintah anda, Tuan."
"Pergilah."
Albram dan Ben melangkah pergi dari ruangan itu, sedangkan sosok berjubah itu membuka tudungnya---terlihat beberapa perban masih melilit tubuhnya. Sosok itu terbatuk-batuk sepertinya tubuh barunya ini masih sulit untuk di kendalikan oleh nya, apa dia harus tidur lagi agar penyatuan pada jiwa dan tubuh ini akan sempurna.
"Tuan, apa perlu saya mencari keberadaan Putri Harrit di Imortal?"
"Hem..., tidak perlu wanita itu bukan ancaman untuk ku. Lagipula dia juga tidak bisa berubah menjadi wolf karena Harrit sendiri membuat putrinya cacat itu berarti rembulan tidak akan memilihnya, terlebih itu sudah sangat lama terjadi, aku sudah tidak perduli dengan ancaman Moon Goddess. Tapi yang harusnya kalian waspadai adalah----" Sosok itu menatap benci terhadap seseorang di benaknya.
"----Aldera Mahenziv Herrostica! Alpha gila itu semakin berkuasa dan mengancam keberadaan ku jika waktunya aku harus kembali! Terkadang aku berpikir, apa ramalan bulan itu harusnya adalah keluarga Herrostica bukan nya Wintermoon?"
"Kalau begitu saya akan selalu mengawasi wilayah mereka."
"Jangan terlalu serius mengamatinya, Rough. Karena Aldera itu sangat peka. Cobalah kau buat beberapa orangnya menjadi bawahan kita lalu gali semua informasi yanga ada di Darkmoon Pack."
"Akan saya laksanakan, Tuan Aldous."
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...
__ADS_1