MINE! The Alpha'S Lover

MINE! The Alpha'S Lover
Camelia Di Tengah Salju ; Jangan Pergi


__ADS_3


..." Clarissa Mour Wintermoon "...


.......


.......


.......


...--༺🌛🌟🌜༻--...


"Tangkap Luna!"


Tidak bisa! Ia tidak punya waktu jika terus berhadapan dengan mereka. Membujuk pun percuma, maka Clarissa harus menggunakan kekuatannya untuk menghempas jauh para kumpulan serigala tersebut lalu menahan kaki-kaki mereka dengan sihir es---membekukan nya saat mereka lengah lalu kembali berlari menyusuri hutan lebat tersebut.


Sepertinya ia tidak bisa menggunakan kekuatan nya lagi, jika tidak ia akan kehilangan kesadaran dan malah tertangkap Aldera dengan mudah. "Kumohon, hanya sampai aku keluar dari dunia ini----Moon Goddess."


.......


.......


.......


Di sisi lain Aldera berdiri dengan gagah di atas pagar balkon kamar Clarissa, melihat kekacauan dan semua hal yang di lakukan Mate nya untuk pergi dari sini dengan cara tak terduga.


Para Omega dan penjaga yang di tugaskan untuk menjaga Mate nya justru menjadi sekelompok tak berguna dalam benaknya---karena mereka pun tak bisa menghentikan nya dan hanya dapat berteriak histeris menuju kearahnya. Bukankah seharusnya sebagian kelompok mengejar dan satu memberi kabar, tapi ini? Mereka malah mendatanginya tanpa berniat mengejar.


Parahnya lagi penjaga di gerbang belakang telah di kalahkan dengan mudah oleh mate nya hanya dengan sihir manipulatif---bodoh! Aldera harus mengganti semua Warrior yang berjaga Castle maupun perbatasan, inilah akibatnya jika hanya mengandalkan pasukan dari para Tetua yang sombong itu.


"Saya telah mengumpulkan pasukan Red Moon untuk mengejar Luna."


"Tidak perlu, biar aku sendiri yang menangkapnya." Aldera menunjukkan senyum ketertarikannya, sayang sekali dia tidak melihat aksi Mate nya menghancurkan jendela kaca Castle yang memiliki jarak cukup rendah dan jauh dari posisi kamar ini.


"Kau urus saja mereka semua." Aldera melirik dingin kearah Omega dan penjaga yang berlutut menahan ketakutan di belakangnya.


Demian mengangguk paham lalu memberi intruksi kepada Jay untuk membawa mereka ke penjara. "Saya akan membersihkan kekacauan di sini." Kemudian berjalan pergi meninggalkan Alpha nya.


Aldera memejamkan matanya mencoba menghirup aroma candu yang masih tertinggal dari Mate nya. "Bukankah aku sudah bilang, aroma mu selalu memikat predator manapun! Larilah, Clarissa..., sejauh yang kau bisa."


Aldera membuka kedua matanya, mata merahnya berkilat penuh nafsu dengan sekuntum Camelia di tengah salju. "----Karena aku akan menangkap mu kembali."


Aldera terjun begitu saja---menjatuhkan dirinya dari lantai kamar yang begitu tinggi tanpa ada rasa takut seakan ia menantang kematian itu sendiri. Dan yang terjadi kebulan asap dari dentuman kasar di bawah sana mengebul di tengah badai salju. Kemudian secara cepat seekor serigala besar berwarna hitam legam berlari kencang menuju hutan, mengejar Kelinci putih yang masih mencoba melepaskan diri dari wilayah hewan buas.


"Insting berburu mu memang gila---Aldera!"


Gumam Clarissa saat ia sendiri dapat merasakan betapa liar dan intimidasinya aura Alpha yang begitu mendominasi, hampir terasa di seluruh wilayah tersebut. Bahkan dapat membuatnya merinding meski berada di jarak sejauh ini.


Tanpa ragu Clarissa terus berlari di tengah kejaran sang Raja, sesekali ia menoleh kebelakang memastikan jarak aman diantara mereka tapi tidak menuntut kemungkinan bahwa Clarissa sendiri pun takut menghadapi dirinya apalagi ia telah melanggar larangan nya.


Tapi di satu sisi juga, ini tidak mudah, selama 15 tahun bertahan lalu dalam sekejap ia merelakan pertahanan nya. Maka ia tidak mau membunuh dirinya sendiri dengan menantang paman nya. Ia perlu waktu untuk bisa percaya dengan Aldera, jika di sini tidak aman kemana lagi ia harus pergi?


__ADS_1


Sesampainya di ujung perbatasan wilayah, Clarissa berhenti berlari saat ia menyadari rintangan lain adalah---harus melewati danau beku yang memiliki ukuran besar, mengelilingi hampir ke seluruh teritorial Darkmoon Pack sebelum terhubung ke hutan Nehela di sebrang sana. Apalagi, cahaya Aurora mulai menghilang di langit malam. Jika tidak cepat, Clarissa tidak tahu bagian hutan terdalam mana, lokasi perbatasan antara dimensi.


DEGH!


Clarissa menoleh kebelakang, melihat dari jarak 800 M saat ini Serigala hitam datang seperti badai kearahnya. Kedua mata predator yang telah menargetkan buruan begitu mengerikan bahkan hampir membuat Clarissa sempat tak berkutik, tapi jika dia hanya diam ini juga tidak baik.


Maka Clarissa pun mengangkat gaun merahnya dan berlari di atas permukaan danau yang membeku. Ia seperti seorag gadis berjubah merah dengan serigala yang terobsesi, persis seperti cerita semasa kecilnya yang pernah Ibu asuh nya bacakan untuknya hanya saja bukan apel yang menjadi transaksinya---melainkan dirinya sendiri!


Aaauuu.....


Sekali lagi! Aldera melolong membuat langkah Clarissa semakin berat ketika jarak antara pesisiran danau dan Clarissa semakin dekat. Clarissa tersenyum dan berbalik mencoba memastikan serigala di belakangnya masih dalam jarak aman di belakangnya---tapi sayang, Aldera melompat dengan sangat jauh kerahnya sehingga Clarissa terkejut dan pijakan pada permukaan es di danau menggoyahkan nya.


Hasilnya, Clarissa terjatuh kebelakang dengan Aldera berhasil menerkamnya---mencegah buruan mungilnya melarikan diri dari kukungan nya. Ia terbaring sembari mengatur nafas yang cukup membuatnya tersengal sesak, lalu membalas menatap serigala di atas tubuhnya.


"Apa kau sudah puas dengan simulasi ini, Clarissa?"


Ini buka suara Aldera, jika dia dalam wujud serigalanya ada kemungkinan sosok jiwa wolf nya mengambil alih tubuhnya, pikir Clarissa.


Benar, Zack terlihat geram dan sangat kesal melihat Mate nya sendiri lari seakan ia adalah monster dan dirinya enggan untuk bersanding dengan nya.


"Apa kau sebegitu nya tidak menyukai kami?"


"Aldera---Bukan, boleh aku tahu nama mu."


"Nama ku Zack, Rissa. Saat ini Aldera sedang tidak terkendali, akan lebih baik bagimu menurut. Karena Aldera tidak bisa selembut itu untuk bisa kau ajak bicara secara kepala dingin."


"Tapi aku harus pergi, Zack. Tidak bisakah kau membantuku----"


Clarissa bisa merasakan perbedaan diantara mereka. Meski aura Zack sama kuatnya dengan Aldera tapi setidaknya ia cukup lembut daripada dirinya. Clarissa memandang dalam manik emas yang menjadi ciri khas dari sosok Zack, ia secara hangat meraih sosok serigala tersebut.


"---Jika aku tetap disini, mereka akan menargetkan kalian juga."


"Aku tidak perduli."


Clarissa menutup kedua matanya, mencoba sebisa mungkin menghapus semua pikiran mengerikan bila hal itu terjadi. Bahkan sampai detik ini, teriakan dan kehancuran Gladea Pack terus berkesan dalam ingatan nya---seakan ia telah di kutuk untuk sepanjang hidupnya.


"Ini tidak mudah bagiku."


"Maka kau hanya perlu bergantung kepada ku, Clarissa."


Sebuah tangan hangat menyentuh wajah Clarissa, tidak perlu bertanya suara ciri khas yang penuh pesona ini telah menjadi sebagian kecanduan dalam benak Clarissa.


Clarissa membuka kembali matanya menatap lurus manik merah dengan sosok serigala yang telah kembali ke wujud manusia nya. Aldera melirik luka pada lehernya, goresan kaca akibat aksi nekat nya saat melompat menghantam jendela kaca.


Ia mengecup luka itu dengan membersihkan darah di sana tanpa memperdulikan rintihan sakit dari Clarissa. Bahkan luka di beberapa jemari Clarissa turut menjadi incaran cumbuan nya, mengartikan secara garis keras kepada kekasihnya bahwa ia di larang terluka---dan secara ajaib terselip sihir hangat dari cumbuan nya menyelimuti dan mengobati luka Clarissa.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mu percaya, bahwa bersama ku semua akan baik-baik saja."


"Tapi tidak akan menjamin, jika seluruh Pack yang kau lindungi akan di hancurkan dan semua Werewolf di wilayah ini akan terseret dalam peperangan nya, dan....dan mereka semua mati."


"Memang apa salahnya? Darkmoon Pack berdiri untuk menantang hal seperti itu, Rissa. Tanpa kehadiran mu dengan musuh mu di hari ini pun, aku akan selalu menciptakan peperangan lagi dan lagi! Mereka yang memutuskan untuk berlindung di bawah teritorial ku---harus menerima konsekuensi nya bila hal itu terjadi. Kedamaian hanyalah bonus dalam kehidupan mahluk hidup, kau ataupun aku bahkan semesta tidak akan pernah lepas dari konflik Clarissa."


"Maka sebelum kehancuran itu tiba--lepaskan aku."

__ADS_1


"Tidak akan pernah! Apa kau masih belum paham juga?" Aldera mencapai batasnya, ia bangun sembari menarik Clarissa lalu membawanya kembali ke Castle nya dengan penuh emosi. "Aku tidak suka di tentang, Clarissa!"


Sesampainya di istana kebanggaan nya, Aldera meneriaki seluruh Omega dan penjaga di sana untuk keluar dari kediaman nya, bahkan Demian hanya mampu diam kalut---lalu mengamankan istana utama sebagai kediaman Alpha dari luar istana agar tidak ada yang masuk beserta bawahan nya.


Clarissa tidak akan di bawa lagi ke ruang kamar sebelumnya---lebih tepatnya, Aldera akan membawa Clarissa ke ruangan khusus yang berada di ruang kerja sebagai pemimpin Pack. Dari sisi kiri dekat meja kerjanya, Aldera menarik patung naga dan sesaat kemudian dinding di belakang nya terbuka menunjukkan barisan tangga menuju puncak istana.


Clarissa mencoba memberontak ketika merasakan hal buruk akan terjadi jika dia sampai masuk ke ruangan itu. Tapi perbedaan kekuatan diantara nya tidak akan mampu Clarissa lawan, hasilnya ia berhasil di tarik paksa memasuki ruangan pribadi yang dimana hanya Aldera sendiri yang bisa memasukinya.


Sebuah ruangan luas berada di puncak tertinggi---Castle. Kamar tertutup tanpa ada satupun jendela yang bisa di buka ataupun di pecahkan karena terlalu banyak sihir pengekangan di setiap sudut.


Pada langit-langit kamar hanya di lapisi bundaran kaca berbentuk bundar, memperlihatkan langsung---langit serta rembulan dari luar. Selebihnya hanyalah dinding marble dari bebatuan alam.


Tidak banyak furnitur, selain ranjang besar dengan di kelilingi tirai hitam di setiap sisi ranjang. Sepasang kursi di depan perapian Ondola dan beberapa rak buku yang sudah cukup kusam termakan alam, karena perpustakaan mini itu terbuat dari kayu sihir sehingga di tumbuhi jamur spirit yang dapat bercahaya sebagai penerangannya.


Sepertinya kamar ini akan menjadi sel penjaranya selama tinggal disini. Apalagi akan sulit baginya untuk bisa kabur karena kamar ini terhubung langsung dengan ruangan pribadi Aldera.


"Aku tanya sekali lagi. Kau, tidak akan pergi lagi dariku, bukan?"


"Aldera, aku mohon mengertilah----"


"Cukup!"


Aldera tidak habis pikir, ia menarik serta membanting kasar Clarissa keatas ranjang. Ia menyibak tirai yang menggantung pada ornamen kasur tersebut, lalu menaiki---memposisikan dirinya kembali di atas Clarissa dengan menahan tangan mungilnya dalam satu genggaman tangan.


"Aku terluka, Rissa. Aku hampir gila hanya dengan melihat Mate ku mencoba pergi dariku! Tidak bisakah kau pura-pura mencintaiku, jika memang aku seburuk itu untuk bisa kau terima."


"Aldera, kumohon tenangkan diri---Ah!"


Aldera mencengkram semakin kuat pergelangan tangan Clarissa. "Tidak kah kau sadar, bahwa pergi dari sisiku juga bisa membuat mu terluka karena kehendak Moon Goddess tidak bisa di tentang!"


Clarissa diam di bawah kukungan predator buas, mencoba sebisa mungkin menahan isak tangisnya---dia juga tidak sepolos itu untuk tidak mengetahui maksud ucapnya.


Ketentuan dasar yang mana, semua Werewolf pun tahu---ketika mereka telah beranjak dalam usia dewasa dan menemukan Mate. Tidak mungkin bagimu untuk bisa menolak kehendak Dewi bulan. Semakin kau mengabaikan nya maka semakin lemah juga dirimu untuk bisa hidup. Karena Mate mu akan menjadi separuh nyawa untuk mu!


"Aku..., bukannya ingin menjadi naif dan bodoh untuk menolak semua perasaan ini. Tapi sepertinya, aku tidak akan pernah bisa menjadi milik---mmm!"


Aldera benci kalimat itu, sebelum ia mendengarnya, ia meraup bibir manis itu untuk membungkam nya agar tidak mengatakan sesuatu hal yang paling ia benci saat ini!


"Setiap inci dari tubuh mu, baik mata permata ataupun bibir mungil ini---Semua yang ada padamu adalah milik ku. Jadi, jangan pernah mencoba lari dari ku, Sayang." Clarissa tetap mencoba melawan dari kungkungan serigala hitam yang terus Mendominasi nya di bawah tubuh sang Alpha. Seberusaha mungkin menghindari ciuman kasar dari Aldera.


Tapi ia tidak akan tinggal diam, menerima penolakan dari Clarissa---Sebagai gantinya, gigitan manis dari taringnya menggelitik di seluruh jenjang tengkuknya, mencium dengan serakah sosok cantik dari wanita yang terlihat lebih mirip kelinci putih daripada seorang serigala.


"Jika mencintaimu bisa membunuh mu, maka biarkan aku yang menjadi tempat peristirahatan terakhirmu! Dengan kata lain, kau hanya akan mati di tangan ku dan hidup bila bersama ku, mereka yang mencoba merebut mu----akan berhadapan dengan ku!" bisik nya dengan penuh tekanan bahwa sosok Alpha tersebut telah menjadikan dirinya obsesi yang tak tergantikan----tidak perduli sejarah mengisahkan namanya sebagai Alpha yang tergila-gila oleh sosok rupawan Clarissa.


"Kau tidak punya pilihan lain, mulai sekarang tanamkan di dalam kepala mungil mu. Bahwa Aldera adalah Alpha mu yang tidak akan pernah bisa kau lawan---takut lah hanya kepada ku, bukan kepada mereka. Musuh mu sekarang akan menjadi musuh ku juga! Sekali lagi aku mendapatimu melarikan diri, aku tidak akan berbelas kasih lagi, Clarissa."


Aldera meraih surai rambut indahnya, menghirup candu aroma Kamelia yang benar-benar sudah menguasai akal sehatnya.


"---Kau, akan melihat semua yang pernah membantu mu kabur---baik raja kucing itu maupun Werewolf yang melayani mu di sini atau bahkan orang-orang terdekatmu yang ada di bumi. Akan ku pastikan, kau akan melihat mereka semua mati di hadapan mu!"


...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...


__ADS_1


__ADS_2