
Salju yang jatuh ke telapak tangan Clarissa perlahan mulai bertambah, saat hujan salju turun dengan sangat bersahabat kepadanya. Clarissa duduk sembari meraih salju di bawah pijakan nya. Sensasi dingin dan juga sejuk ini berhasil menghiburnya setelah beberapa hari lalu, ia terperangkap di ruangan nya.
Clarissa menghirup sebanyak mungkin kebebasan ini, rasanya ia seperti hidup kembali. Meski tidak begitu banyak hal yang bisa ia lihat, tapi tumpukan salju serta beberapa pepohonan cemara di sekitar halaman istana sudah cukup memuatnya tersenyum riang.
Beberapa kali ia berlari mencoba menantang debaran angin musim dingin yang menyapanya, gaun tipis berwarna gading dengan mantel hangat senada dengan gaun muaranya, begitu sangat kontras dengan sosok lemah lembutnya, sangking lembutnya ia terlihat seperti akan segera hilang---menyatu dengan salju.
Clarissa menghela nafas dengan sangat bahagia, sudah berapa kali ia melangkah dengan penuh semangat sembari menunjukkan tatapan kagum terhadap sang bintang musim dingin. Tidak perduli bagaimana hidung dan pipinya sudah terlihat memerah akibat suhu yang cukup tinggi di Immortal, hal itu tidak akan bisa menghentikan nya.
"Apa kau sudah puas?" Clarissa menoleh melihat Aldera yang ikut bersamanya sejak tadi, tapi sangking senangnya dia sampai mengabaikan sosoknya dan malah menikmatinya sendiri.
"Kemari lah," Aldera menuntun Clarissa untuk duduk di sebuah batu.
Ia meraih salah satu kaki Clarissa yang kini sudah sangat merah karena melepas alas kakinya begitu saja setelah sampai di taman. Aldera terlihat membersihkan sisa salju yang menempel---meniup perlahan, memberikan rasa hangat dari deru nafasnya sebelum memasangkan sepatu untuk Clarissa.
"Jika kau masih ingin bermain di luar, tolong jalangan lepas sepatumu lagi. Meski Werewolf itu kebal terhadap musim dingin, tapi kau tumbuh di dunia manusia, apalagi saat ini kondisi tubuh mu sangatlah lemah. Jadi perhatikan hal kecil seperti ini untuk kedepannya."
"Maaf, aku terlalu bersemangat."
"Apa kau sangat menyukai salju?"
"Iyaa..,"
"Kenapa?"
"Hm---mungkin salju terkesan dingin dan juga berbahaya, tapi di balik itu mereka adalah kristal yang jauh lebih indah dari permata. Coba kau lihat serpihan salju ini," Clarissa menunjukkan salju yang jatuh ke telapak tangannya.
"Kita punya mata yang lebih tajam dari manusia, jika di lihat secara teliti, bentuk mereka bukanlah abstrak melainkan sebuah ukiran harapan---persis seperti bintang yang jatuh dari langit, Indah bukan?"
Aldera memang tidak memperhatikan hal seperti itu tapi setelah Clarissa menunjukan nya, entah mengapa ia menjadi sadar bahwa bentuk salju jauh lebih indah daripada permata yang baru saja di temukan di sebuah tambang.
"Kalau di ingat, kau juga bisa mengendalikan salju. Apa elemen sihir mu adalah sebuah es?"
"Sebenarnya lebih tepat ke arah sihir air. Ibuku seorang Witch, penyihir wanita dengan kekuatan undine dan cahaya. Mungkin karena dulu dia adalah seorang pendeta wanita di kuil suci---secara harfiah, kekuatan nya pasti akan menurun sedikit kepadaku yang merupakan keturunan nya. Jadi aku bisa mengendalikan salju karena memiliki hubungan dengan air walau tidak seberapa besar."
"Ibu mu seorang wanita kuil?"
"Aku tidak begitu tahu mengenai nya, karena setahuku, ibu memutuskan tinggal di Gladea Pack bersama Ayah setelah menjadi mate nya."
"Rissa, bukankah wanita kuil wilayah Witch atau wizard tidak akan pernah bisa memiliki Mate?"
"Maksud mu?"
"Hem, mungkin karena dirimu berasal dari luar Immortal. Tapi secara hukum alam di wilayah tersebut---siapa pun bangsa witch yang menjadi pendeta kuil tidak akan bisa punya mate karena mereka milik sang Dewi Arabella."
"Apa benar?" Clarissa terlihat diam, kalau di pikir ibunya hanya mengatakan itu kepadanya saja dan tidak boleh mengatakannya kepada siapa pun. Apa ada rahasianya?
"Clarissa, boleh aku tanya beberapa hal mengenai keluarga mu yang lain?"
"Hm?"
"Begini, sejak aku membaca laporan mengenai mu, ada beberapa hal yang membuatku penasaran. Ini berhubungan dengan nama keluarga mu------"
"ANAK KU!!" Suara tinggi yang begitu melengking membuat Aldera harus mengeluh dengan kesal lalu melirik---mencari pemilik suara yang mencoba mengganggu waktunya.
Tapi ternyata di sana sudah terdapat Bobby dengan seekor kucing siberian berwarna putih berpaduan abu-abu pada sebagian tubuhnya. Bobby terlihat berdiri dengan sangat riang setelah berhasil memasuki istana utama milik predator gila, apalagi ia beruntung bisa langsung berjumpa dengan Clarissa.
Bobby berlari lalu menerjang Clarissa dengan semangat, mendengkur kan kerinduannya sembari mengusel-nguselkan kepalanya di leher Clarissa.
__ADS_1
"Oh anak ku, betapa khawatirnya diriku. Tidak kah kau rindu Daddy?"
"Bobby...," Clarissa baru ingat, kalau raja kucing ini kan sempat di tangkap Aldera. Syukurlah dia baik-baik saja sekarang.
"Bagaimana caranya kau kabur dari kurungan kayu mahoni?"
Bobby yang mendengar Aldera terlihat sangat marah, dan dengan sangat kesal ia turun dari pelukan Clarissa lalu menunjukkan tatapan garang dengan kepalan tangannya seakan ingin meninju Mahluk besar di hadapan nya.
"Hei monster! Lepaskan putri ku. Beraninya kau mengusiknya, bukankah aku sudah bilang bahwa kau dan seluruh rakyatmu jangan mengganggu tamu ku!"
"Aku memang tidak perduli dengan tamu mu. Tapi akan beda cerita jika dia adalah Mate ku."
"Apa?!" Bobby melihat Clarissa dengan tatapan sedih bercampur kecewa. "Putri ku, apa benar yang di katakan nya? Kau tidak mungkin---itu tidak benarkan, sayang?"
Clarissa melirik cemas dan sedikit berat hati untuk mengakuinya, entah mengapa melihat reaksi kucing gembul ini sedih membuat hatinya tidak nyaman. "Hm, itu---em, sayangnya itu benar Bobby."
"Tidak! Oh putri ku tidak mungkin memiliki mate seperti dia, aku tidak merestuinya!" Aldera berdecak kesal mendengar tangisan Bobby yang meraung keras. "Nala, lihatlah anak ku..." Rengek Bobby kepada kucing putih keabuan yang sudah cukup lelah meladeni sikap kekanakan Bobby.
"Berhenti menangis, Bobby. Kau terlihat sangat buruk." Kemudian melihat Aldera, "Salam agung untuk mu, Alpha." Lanjutnya yang ditanggapi dengan anggukkan kecil dari Aldera.
Clarissa menatap Nala sang kucing ras peri bulan, ia terlihat bingung dengan kehadiran sosok baru yang sepertinya sudah sangat akrab dengan Bobby serta Aldera. Nala yang menyadari pandangan Clarissa yang menyimpan banyak pertanyaan, perlahan berjalan mendekat.
"Halo sayang, kau bisa memanggilku Nala dengan nyaman."
"Oh, senang bertemu dengan mu. Aku Clarissa Wintermoon."
"Nala adalah partner ku. Dia yang bertugas memimpin peri bulan yang ada di sekitaran hutan Nehela bagian Immortal."
"Clarissa....," Bobby yang masih merajuk kembali merengek dan memeluk kaki Clarissa, "Ayo Rissa sebaiknya kita kembali, tempat ini tidak aman untuk mu."
"Tapi Bobby, aku memutuskan untuk tetap tinggal di Darkmoon Pack."
"Kau tidak boleh berada disini. Apa kau lupa janji mu kepada Ayah mu?"
Clarissa meraih dan kembali menggendong Bobby. "Kalau begitu, apa aku boleh tahu alasan nya?"
Bobby terlihat membuang pandangannya dengan cemas. "Hm, bukankah aku sudah bilang bahwa ini demi kebaikan mu."
"Aku paham, tapi maksudku alasan yang lebih jelas Bobby." Bobby enggan memberitahukannya dia terus diam sembari menghindari tatapan Clarissa yang sudah meminta jawaban. "Bobby?"
"---Aku tidak bisa memberitahu mu." Gumam nya.
"Baiklah, selama kau tidak mengatakan nya, Clarissa akan tinggal di Darkmoon Pack bersama ku---ah, kau katakan atau tidak, dia tetap akan berada di sisiku." Kecam Aldera sembari mengambil Bobby dari Clarissa dengan mencengkeram bagian tengkuk kucing tersebut.
"Hei turunkan aku! Dengar aku masih belum berdamai dengan mu!"
"Nala, bisakah kau singkirkan mahluk ini?"
"Aku adalah seorang raja! Tidak ada yang bisa mengatur ku."
"Dan aku adalah Alpha nya---sekarang pergilah." Aldera melempar begitu saja Bobby, hingga ia tertimbun tumpukan salju.
"Kau tidak perlu khawatir, tempat ini adalah yang paling aman untuk mu. Selama kau bersama dengan Alpha." Clarissa melihat tatapan Nala yang terlihat memahami sesuatu.
"Tidak! Kenapa kau bilang seperti itu, Nala?"
__ADS_1
"Ayo lah Bobby mereka bersama pun karena kehendak Moon Goddess, pasti semua akan baik-baik saja."
"Aku tidak suka anak ku bersama dengan hewan gila seperti dia---Tunggu kau tidak bisa memisahkan ku, Nala. Hei---ANAK KU TOLONG DADDY!!" Nala menggelengkan kepalanya lalu mengibaskan ekornya dan seketika mereka berdua menghilang dari pandangan Aldera serta Clarissa.
Melihat reaksi Bobby yang begitu bersikeras membuat Clarissa menjadi sangat penasaran mengenai alasan dari semua ini. Sebaiknya dia juga mencari tahu alasan dari pantangan itu semua. Apa mungkin Paman nya akan tahu? Tapi mendengar dari respon Aldera mengenai paman nya---membuatnya sadar, bahwa sepertinya Paman nya tidak pernah berhubungan dengan Darkmoon Pack yang terkesan sebagai Pack terbesar di Immortal. Lantas, kenapa ia di larang untuk berada di sini? Hm, pasti ada kaitan nya dengan keluarganya.
"Clarissa, kau baik-baik saja?"
"Iyaa, aku hanya terlalu senang berjumpa dengan Bobby."
"Kenapa kau harus begitu akrab dengan nya sih."
"Meski dia sedikit berisik, tolong jangan terlalu keras kepadanya."
Aldera menghela nafas, "Akan ku pertimbangkan, tergantung dari sikapnya kepadaku."
"Oya, aku ingin memperkenalkan dirimu dengan seseorang," Aldera menoleh ke belakang melihat seorang Omega wanita yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisi tepi taman. Memperhatikan tanpa berani mendekat jika bukan Aldera sendiri yang memanggilnya.
"Kau, kemari lah." Panggilnya---memerintah Omega tersebut untuk mendekat.
Melihat pelayan wanita yang mulai berjalan mendekat, tidak menjadi hal asing karena Clarissa sudah mengenalnya. Kalau tidak salah dia adalah pelayan wanita yang melayaninya sewaktu pertama kali terbangun di istana sebelumnya.
"Saya Enisha Shallman, menghadap Alpha dan Luna Kekaisaran Darkmoon Pack." Ujarnya sembari memberi salam penghormatan.
"Kau pasti mengenalnya, meski aku berniat menghabisi nya di malam itu---tapi akan lebih baik dia di pertahan kan untuk menjadi pelayan mu sementara waktu ini. Sikapnya juga sangat baik, bagaimana menurut mu?"
"Pelayan ku?" Clarissa memperhatikan Enisha, yah dia cukup nyaman sih saat berbicara dengan dulu. Clarissa rasa tidak masalah, lagipula dia juga bisa memahami situasinya di berbagai keadaan tertentu---jadi namanya Enisha?
"Rissa?"
"Baiklah, aku juga sangat menyukainya."
"Syukurlah," Aldera mendekati Enisha.
"Pastikan kau melayaninya dengan segenap nyawa mu. Jika kejadian dulu terulang, kau akan menyusul rekan mu yang lain." Bisik Aldera kepada Enisha.
"Ba--baik, Alpha."
"Selama kau tidak keluar dari area yang telah ku batasi, kau bisa pergi keluar kamar sesuka mu tapi harus tetap di dampingi oleh nya."
"Baiklah, aku mengerti. Terimakasih atas perhatian mu Aldera."
"Sekarang kembali lah ke kamar mu, pipi mu sudah sangat dingin."
"Aku masih baik-baik saja. Kau berkata seperti itu, karena tangan mu yang terlalu hangat."
"Baiklah, anggap saja seperti itu. Tapi aku serius, jangan terlalu lama. Aku akan pergi ke perbatasan Bourgogne Pack di dekat hilir sungai karena sebentar lagi perkumpulan bulan purnama akan tiba jadi aku sedikit sibuk, tapi akan ku usahakan untuk tetap menemui mu malam ini."
"Sebaiknya tidak usah, kau juga perlu istirahat."
"..................." Terdiam menatap bingung kearah Clarissa.
"Ada apa?"
Aldera tertawa kecil lalu berbisik kepada Clarissa. "Bukankah kau adalah tempat terbaik untuk ku beristirahat? Jadi jangan tidur dulu...," Ujarnya, kemudian berjalan pergi membiarkan Clarissa mematung menahan malu atas ucapan Aldera.
"Dia itu sebenarnya Serigala atau Rubah sih? kenapa licik sekali." Gumam Clarissa sembari menutup wajahnya.
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...
__ADS_1