
Grindelwald, Swiss
Villa Clarissa
Pagi menyapa dengan sangat bersahabat pada negeri dongeng yang menyimpan satu juta misteri tanpa di ketahui manusia. Matahari yang terlihat seperti batu permata di atas angkasa memantulkan kilauan nya di berbagai salju yang bergemelap.
Untuk pertama kalinya Clarissa akhirnya bisa tidur dengan sangat nyenyak tanpa khawatir akan kedatangan Assasin dan perasaan takut. Dari kamarnya dapat terlihat jelas sebuah jendela kaca berukuran minim menampik kan pemandangan musim dingin, suasana yang terasa tenang dan juga udara yang sangat menyegarkan bagi Clarissa.
Clarissa berjalan menuju pintu mencoba merasakan kembali salju yang menumpuk di halaman rumah. Dengan sangat antusias Clarissa membuka pintu yang sudah berderit nyaring beriringan dengan perasaan yang menggebu.
Akan tetapi, di depan rumahnya sudah terdapat seekor kucing berjenis siberian yang sangat lucu tengah duduk dengan nyaman menatap dirinya. Apa dia kedatangan tamu, sepertinya hanya kucing biasa.
Clarissa mencoba mengabaikan nya tetapi kucing itu terus memperhatikan nya. Warna bulunya yang terlihat seperti paduan loreng army, coklat kehitaman dengan sedikit warna putih pada bagian lehernya----oh, jangan lupakan bulu lebatnya seakan merangkul tubuhnya yang terselimuti salju.
Clarissa tidak tahu ada apa dengan kucing itu, tapi, seakan manik hijau bagaikan permata emerald, meminta Clarissa untuk menyapa---ia pun mendekati kucing tersebut, lagipula ini pertama kalinya ia lihat jenis kucing manis seperti ini.
Clarissa duduk berjongkok mencoba menyentuh kepalanya, tapi seketika kucing itu melompat ke teras villa, karena teras villa yang berada lebih tinggi Clarissa terlihat menjadi mendongak dari posisi nya melihat kearah kucing tersebut.
"Oh, apa kau takut?" Clarissa tersenyum sejenak dan mencoba menghampirinya kembali. "Kemari lah, aku tidak akan membuat mu terluka."
"Jangan sentuh kepalaku. Aku adalah Mahluk mulia yang sangat disayangi Moon Goddess." Ujarnya dengan sangat angkuh, belum lagi dengan posenya yang tengah mengangkat kepalanya untuk bisa terlihat paling tinggi.
"Oh Clarissa, kucing liar itu bisa berbicara."
"Hei aku bisa mendengar mu. Sudah ku bilang, aku ini sangat terhormat." Kucing itu berjalan dengan memperlihatkan betapa montoknya---bokong lucunya yang tengah berlenggak dengan menunjukan etika jalan seorang bangsawan.
"Baiklah, Clarissa. Maksud tujuan ku mendatangi mu adalah memberitahukan bahwa mulai saat ini kau akan menjadi Putri angkat ku---jadi panggil aku Daddy." Ujarnya dengan bangga.
"...................."
Clarissa dan kucing itu saling bertatapan tanpa ada yang bergeming. Baik Clarissa ataupun Selena yang mendengar hal tak masuk akal tersebut, mulai berpikir dia kucing aneh!
"Clarissa apa dia sudah gila?"
"Sepertinya begitu." Ujar mereka masih saling berbagi pikiran.
"Sudah ku bilang aku bisa mendengar kalian. Kau harusnya bangga karena aku akan mengangkat mu sebagai putri ku dan menjaga mu selama disini. Karena aku-----"
"Baiklah dia memang sudah gila."
Seketika, secra sepihak Clarissa melangkah masuk sembari menutup pintu mengabaikan kucing gembul di luar sana terdiam sambil melongo dengan perlakuan Clarissa yang sangat tidak sopan.
Apa dia tidak tahu siapa kucing yang sedang berdiri di depan rumah nya---bahkan sosoknya saja begitu di incar banyak kaum Werewolf karena mereka peri yang berada di naungan Moon Goddess secara langsung!
Seakan tidak terima kucing itu mendelik panik serta kecewa, ia memukul jendela kaca di sebelah pintu rumah dengan sangat marah dan terus meneriaki nama Clarissa yang masih setia mengabaikan kehadiran nya.
"Hei bocah! Bisa-bisanya kau mengabaikan diriku. Apa kau tidak paham aku ini siapa? Clarissa kembali!! Aku akan menjelaskan secara detail nya----Clarissa Mour Wintermoon!" Ujarnya masih terus berteriak kencang di depan jendela.
Clarissa menggelengkan kepalanya, apa karena disini dekat dengan perbatasan jadinya ada banyak hewan aneh yang berkeliaran. Tunggu sepertinya semalam Fiera mengatakan sesuatu tentang kucing----tapi apa? Karena semalam sudah sangat lelah Clarissa jadi tidak begitu mengingat nya.
"Biarkan saja, mungkin dia spesies berbeda di Immortal yang tersesat dan butuh makan."
"Apa benar begitu?"
"Oh, jadi seperti itu kau menilai ku, Selena sayang."
Clarissa diam terpatung dengan raut wajah terkejut melihat kucing itu kini sudah berada di dalam rumahnya. Bahkan ia terlihat sedang duduk dengan santai pada sofa. Lihatlah bagaimana tatapan sombong yang menggemaskan di mata Clarissa, karena mau bagaiman pun dia mencoba menekan mental Clarissa dengan auranya--kucing itu masih tetap terlihat imut bukan nya menakutkan.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa masuk? Dan juga, apa kau sungguh bisa mendengar suara Selena?"
"Hem, putri ku perlu mengenalku dengan baik. Aku harus meminta Nala untuk mengajari mu bersikap sopan kepada ku nanti." Ucapnya masih tidak jelas dan tak dapat Clarissa cerna.
Clarissa berjalan mendekatinya ia duduk di sebelah kucing itu. "Kalau begitu bisa jelaskan maksud kedatangan mu?"
"Bukan kah sudah ku bilang, kau akan menjadi Putri ku selama tinggal di wilayah ini---dengar kau harus tahu siapa aku!" Kucing itu menyipitkan matanya kearah Clarissa.
"Aku adalah Raja bagi para peri bulan---Bobyluander Maxmallian Moon. Peri bulan yang ditugaskan Moon Goddess untuk menjaga perbatasan Immortal yang berada di bumi. Lebih tepatnya kami akan memandu manusia untuk kembali ke bumi jika ada dari mereka yang tersesat kedalam hutan Nehela sebelum benar-benar masuki portal---terlebih menjaga manusia dari buruan Vampir."
Ujar panjang lebar dan Clarissa hanya mengangguk biasa, daripada mendengar pengakuan heboh nya. Clarissa sendiri lebih tertarik dengan bulu lebatnya yang sudah sangat gemas ingin ia elus sejak tadi.
"Kau dengar aku?" Clarissa dengan acuh mengabaikan ucapannya, ia mengangkat raja peri itu lalu memindahkan nya kepangkuan nya sembari mengelus lembut kepala nya.
"Hei, sudah ku bilang bersikap sopan lah----"
"Diam lah sebentar, kita bicara seperti ini saja. Kau pasti menyukainya King." Awalnya Raja peri itu memberontak sampai akhirnya ia luluh karena Clarissa mengelus serta menggaruk bagian ternikmat bagi ras kucing---yaitu pada lehernya.
Clarissa tersenyum saat kucing itu mendengkur dan melupakan sejenak kemarahan nya. "Jadi, boleh aku bertanya kepada mu Raja---"
"Bobby. Aku memberi izin kepadamu untuk memanggil nama ku. Lebih bagus jika memanggilku dengan sebutan Daddy.."
"Kenapa kau begitu bersikeras?"
"Itu karena aku adalah teman baik Ayah mu. Dengar Clarissa, aku akan menjaga dan menjamin keselamatan mu selama di sini---tapi jangan mencoba melangkah masuk lebih dalam ke hutan Nehela karena aku akan sulit menjagamu jika sudah memasuki wilayah serigala buas itu. Kau tahu kan nasehat Ayah mu?"
"Emm---Bobby, apa aku boleh tanya kenapa kaum Immortal tidak boleh mengetahui keberadaan ku?"
Bobby bangkit dari tidur terlentang nya, ia kembali duduk dengan sangat berwibawa di meja. "Untuk saat ini aku belum bisa menjelaskan nya. Tapi akan lebih baik kau tidak mencari tahu nya. Semua untuk keselamatan mu, sayang."
"Yaa...., aku juga tidak mungkin berbaur dengan kaum Werewolf lagi. Mengingat kondisi ku saat ini."
"Bohong jika aku tidak menyesalinya. Kenapa ayah harus melakukannya? Aku hanya tidak ingin Selena terkurung di dalam diriku saja, tanpa bisa punya kesempatan keluar dan menjadi sosoknya sendiri."
Bobby mengibaskan ekornya membuat beberapa siluet sihir berupa manik kilauan bercahaya untuk menghapus air mata Clarissa dan itu tentu membuat Clarissa kembali memandang raja peri itu.
"Yang perlu kau ingat adalah---Moon Goddess tidak pernah meninggalkan mu. Jika waktunya tiba, kau pasti akan memiliki sosok sempurna mu."
Clarissa tertawa kecil, apa sekarang ia sedang di hibur oleh seekor kucing yang datang seperti sebuah keajaiban bagi Clarissa. "Terimakasih. Oya Bobby aku penasaran apa semua ras peri bulan adalah Kucing?"
"Benar ciri khas kami adalah seekor kucing. Tapi yang menjadi spesialnya adalah hanya aku yang bisa merubah wujud ku menjadi berbagai jenis kucing di dunai ini sesuka hati" Ucap Bobby sembari menunjukkan sosoknya dalam berbagai versi ras kucing dan itu semakin membuat Clarissa tertawa---oh, sepertinya ia tidak akan terlalu kesepian selama tinggal di sini.
"Lalu, apa itu juga berlaku dengan berbicara kepada selena?"
Bobby kembali mendekati Clarissa, ia duduk bersandar pada pangkuan Clarissa sembari menghirup aroma manis dan wangi bunga yang membuat Bobby sangat nyama berada di dekat Clarissa.
"Aku bisa berbicara dengan semua jiwa wolf yang tidak semua Werewolf bisa dengar, kecuali mereka adalah pasangan Mate. Dan untuk mu Clarissa, kau wanita yang pemberani bahkan mudah beradaptasi dengan kaum manapun dalam sekali bertemu. Tapi Clarissa, bisakah kau menjaga jarak serta mewaspadai kaum Vampir?"
"Kenapa? aku kan bukan Manusia."
"Meski begitu, ada juga beberapa bangsa Vampir yang suka menghabisi kaum Werewolf. Semua karena kedua ras itu tidak pernah akur, beberapa Vampir juga sering ke dunia manusia untuk memburu mereka. Tapi---" Bobby mengangkat kepalanya menatap dengan sangat dalam kepada mata abu-abu yang terlihat seperti cerminan rembulan kelabu.
"----Jangan pernah terlibat dengan mereka. Meski kau bisa saja melawan, sebisa mungkin hindari perkelahian dengan mereka."
Clarissa ingin tahu tapi keadaan terus meminta nya menutup mata dan telinga. Apa yang di rahasiakan Ayahnya, apa yang di incar Paman nya. Jika memang hanya karena ia terlahir dengan cinta rembulan, kenapa ia harus hidup bersembunyi sedangkan dia seorang Shewolf yang bisa saja menjadi seorang Alpha yang dapat melindungi rakyatnya.
Sebenarnya ia lelah dalam segala sudut pandang dan kondisi. Bukankah sekarang ia sudah berusia 24 tahun tapi kenapa kekangan perlindungan yang seakan memperlakukan nya sebagai putri kecil Gladea Pack masih saja membelenggunya.
Bobby yang bisa membaca pikiran Clarissa dari raut wajahnya, membuatnya kembali menghela nafa tak rela jika Clarissa yang sudah ia anggap seperti seorang anak, terluka. Padahal dia sudah sangat menti kedatangan Clarissa di sini sejak kelahirannya.
"Hei, tersenyumlah. Bukan kah kau ingin mengenal tempat ini? Oh atau kau mau pergi ke desa?" Bobby mencoba mengalihkan perhatian Clarissa.
__ADS_1
"Berhentilah bersedih Rissa. Bagaimana jika kita mencari beberapa kebutuhan makanan dan hal lainnya selama tinggal disini?"
"Kau benar, aku juga masih butuh beberapa mantel hangat. Tapi aku masih belum tahu jalanan dan beberapa toko di Grindelwald."
"Jangan khawatir aku bisa membantu mu."
Bobby kembali menggoyangkan ekornya dan tak lama datang seekor burung Walt berwarna abu-abu dengan sayap hitam---jenis burung salju yang selalu bertengger di pepohonan cemara itu memasuki rumah Clarissa sembari duduk di pundak Clarissa.
"Namanya adalah Diy. Dia hanya burung biasa tetapi sangat memahami struktur daerah sini. Berhubung kau menerima berkat dewi bulan, aku yakin, kau pasti telah menyadarinya bahwa kau pun bisa berbicara dengan hewan, bukan?"
Clarissa terdiam, oh Bobby juga mengetahui hal ini. Memang sejak kecil Clarissa memiliki kelebihan yang tidak semua atau bahkan mustahil untuk bisa di miliki ras Werewolf. Meski Gama pernah bilang itu sudah jadi hadiah untuknya.
Tapi jika beberapa Werewolf yang berjumpa dengan Clarissa di ibu kota jakarta, mengetahui itu---selalu melihatnya dengan tatapan aneh seakan Clarissa itu tidak normal. Padahal karena hal ini juga ia bisa kabur dari kejaran paman nya, dengan meminta bantuan hewan sekitar jika ia sudah kehabisan tenaga sihir.
"Apa Bobby tidak merasa aku aneh?"
"Apa? Siapa yang bilang seperti itu, sini biar aku cakar habis wajahnya. Anak ku itu spesial bukan nya aneh. Heum! Dasar mahluk menyebalkan!"
Seaka Bobby mewakili perasaan Clarissa untuk marah kepada mereka, kucing itu terlihat menunjukan cakar tajamnya yang tanpa sadar mencengkram Diy di dekatnya sehingga burung itu pun berkicau kesakitan.
"Jangan khawatir, katakan jika ada yang menghina mu. Sekarang kau bisa pergi tapi ingat jangan lama-lama karena aku tidak bisa menemanimu, jika kau pergi ke desa."
"Kenapa?"
"Itu karena Raja peri tidak bisa berada di sekitaran manusia, jika tidak---"
"Diy cepatlah antar Tuan Putri pergi. Aku merasa sebentar lagi akan turun salju yang lebat."
Bobby terburu-buru memotong ucapan burung itu, Clarissa merasa ada yang aneh di sini tapi dia tak berniat bertanya karena menurutnya mungkin itu hal yang privasi.
"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu, apa ada yang kau ingin kan?"
"Hoo..., jika di perbolehkan aku mau kau membelikan ku beberapa permen gulali di dekat toko bunga Nenek Ros."
"Gulali? Ku kira kau akan meminta ikan."
"Hei aku tidak makan ikan! Peri bulan biasa nya memakan permen dan beberapa kookies coklat." Ujarnya sembari memainkan sebuah tali yang terlihat menggantung di dekat meja.
Dengan cuek Clarissa mengangguk paham kemudian mengambil tas nya dan sebuah syal hangat yang akan ia gunakan untuk melilit di lehernya, "Ayo, Diy. Mohon bantuan nya untuk tour Desa kali ini." Clarissa membiarkan Diy terbang lebih dulu keluar rumah.
"Oya Clarissa tunggu, aku lupa bilang selain Vampir kau juga harus berhati-hati dengan Serigala hita----" Clarissa terlihat mendelik menoleh tapi ia keburu menutup pintu jadi ucapan Bobby terdengar samar di pendengarnya.
"Tadi Bobby bilang apa?" Tanya Clarissa pada Diy yang bertengger pada tanaman ranting kecil di teras rumah. Dengan tubuh buntalnya, Diy memiringkan kepalanya.
"---Sepertinya, Raja bulan bilang, kita harus berhati-hati dengan seekor anjing hitam." Kicaunya.
Membuat Clarissa berpikir aneh. "Anjing hitam? Em----entah lah."
Tanpa mengindahkan, Clarissa hanya mengangguk mencoba menarik kesimpulan---mungkin ada banyak anjing liar di sekitaran desa mengingat ini dekat dengan hutan pasti perburuan yang di lakukan manusia membuat beberapa anjing di latih dengan sangat galak.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang."
"Rissa, beli daging dan kentang dulu. Sepertinya akan enak jika kita membuat soup hangat kentang lada hitam."
"Okee!"
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...
__ADS_1