
Hari sudah mulai gelap dan toko Yuna pun juga sudah tutup.
"Kak kita berdua duluan ya," ucap syifa yang sudah menaiki motornya begitu juga Silla.
"Iya, hati-hati ya kalian berdua."
"Siap kak!"
Syifa dan Silla pun sudah pergi meninggalkan Yuna sendiri yang sedang menunggu taxi.
Tin.
Bunyi klakson membuat Yuna langsung menengok ke samping dan ternyata itu mobil Darren.
"Ayo pulang." ucap Darren yang sudah menghampiri Yuna dan Yuna pun langsung mengangguk.
Mereka berdua pun langsung masuk ke dalam mobil. keadaan mobil sangat hening tidak ada yang membuka suara sama sekali.
Beberapa menit pun akhirnya mobil sudah tiba di pekarangan rumah, Darren dan Yuna pun juga sudah masuk ke dalam rumah dan di sambut hangat oleh Fano dan Frisca.
"MAMA, PAPA!" teriak mereka berdua dengan semangatnya.
"Halo sayang udah kangen Mama ya," ucap Yuna sambil mengecup pucuk rambut Fano dan Frisca.
"Mama sama Papa lama sih pulangnya!" ucap Frisca sambil cemberut.
"Mama sama Papa kan kerja sayang cup cup cup jangan cemberut ya," ucap Yuna sambil menggendong Yuna.
"Papa," panggil Fano.
"Papa?" ucap Darren yang bingung tiba-tiba Fano memanggilnya Papa.
"Iya, Papa kan Papanya Fano jadi Fano harus panggil Papa ya kan?" ucap Fano dan Darren pun langsung tersenyum sambil menggendong Fano.
"Iya dong, Papa kan Papanya Fano jadi mulai sekarang ngga boleh panggil Om paham?"
"Paham Pa!" ucap Fano sambil hormat.
"Maaf Tuan mengganggu, tapi ada satu hal yang harus Tuan sama Nyonya tau." ucap Hans.
Fano dan Frisca yang tau apa yang Hans akan bicarakan pun langsung meronta-ronta untuk di turunkan dari gendongannya, Yuna dan Darren pun langsung menurunkan Fano dan Frisca setelah itu mereka berdua langsung kabur.
"Ada apa Hans?" tanya Yuna.
"Jadi gini Nyonya, Tuan tadi siang ada kejadian konsletnya listrik sama kebakarannya dapur." jawab Hans membuat Darren dan Yuna kaget.
"Siapa yang melakukan itu?" tanya Darren.
"Jika dapur Nona muda Tuan sedangkan konslet listrik itu kami baru mengetahui lewat cctv dan yang melakukan Tuan Muda."
Darren yang mendengarkan itu langsung menampilkan wajah dingin dan langsung berjalan cepat ke arah kamar Fano dan Frisca.
"Wah ngga bener nih pasti Darren mau ngomelin anak-anak," ucap Yuna yang melihat Darren yang seperti itu dan Yuna pun langsung menyusul Darren.
Brak.
Pintu kamar Fano dan Frisca langsung di buka dengan kasar oleh Darren membuat Fano dan Frisca yang berada di dalam selimut kaget.
"Keluar kalian!" ucap Darren dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kak aku takut," bisik Frisca ke Fano.
"Kakak juga," bisik Fano juga.
"Dalam hitungan ketiga kalian ngga keluar Papa akan hukum kalian!" ucap Darren lagi.
"Satu." Darren sudah mulai menghitung.
"Dua."
__ADS_1
"Kakak gimana?" bisik Frisca.
"Kamu di sini aja biar Kakak yang keluar," bisik Fano dan Frisca pun langsung mengangguk.
Fano pun langsung keluar dari selimut dan tampaklah Darren dengan wajah dinginnya itu.
"Anak Papa ada dua bukan cuman satu."
"Ini semua salah Fano Pa Adik ngga salah apa-apa," ucap Fano sambil menunduk.
"Papa bilang kalo Anak Papa ada dua bukan satu." ucap Darren menghiraukan ucapan Fano.
"Pa in-"
"Mulai jadi bandel iya?"
Frisca pun akhirnya langsung keluar dari selimutnya dan berjalan ke samping Fano sambil menunduk.
"Jelasin!"
"Ini salah Fano Pa Adik ngga tau apa-apa, jadi jangan marahin Adik ya Pa? Marahin Fano aja," ucap Fano sambil memegang tangan Frisca.
"Papa minta jalasin bukan tanya siapa yang salah." ucap Darren dengan nada dinginya.
Yuna pun juga sudah tiba di kamar, dirinya kasian melihat kedua anaknya yang ketakutan akibat Darren.
"Ren," panggil Yuna sambil menghampiri Darren.
"Pa, Ma maaf ini semua salah Fano Adik ngga salah apa-apa," ucap Fano sambil menatap Darren dan Yuna bergantian.
"Engga, ini salah Flisca halusnya Flisca ngga suluh Kakak buat konsletin listrik dan Flisca juga yang udah bakal dapul," ucap Frisca.
"Kamu yang urus." ucap Darren ke Yuna lalu langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.
Yuna pun menghela napasnya dan menghampiri anak-anaknya itu.
"Mama sama Papa malah ya?" tanya Frisca.
"Malah," ucap Frisca sambil menunduk.
"Tau ngga kenapa Papa sama Mama marah?" tanya Yuna dan mereka berdua pun langsung mengangguk kan kepalanya.
"Apa?"
"Kita nakal Ma," jawab Fano.
Yuna yang mendengarkan itu langsung mengelus pipi mereka berdua dengan lembut.
"Dengar, Papa sama Mama marah karena khawatir bukan karena kalian nakal, Papa sama Mama cuman ngga mau kalian kenapa-napa." ucap Yuna.
"Mama maaf huaaaa...." ucap Frisca sambil memeluk Yuna dengan air mata yang sudah jatuh.
"cup cup cup ngga usah nangis ya," ucap Yuna sambil mengelus-elus punggung Frisca.
"Nah sekarang kalian berdua minta maaf sama Papa ya." ucap Yuna sambil berdiri dengan menggendong Frisca.
"Tapi Ma Fano takut," ucap Fano dengan wajah melasnya.
"Papa ngga akan marah-marah kok kan ada Mama," ucap Yuna sambil menggadeng Fano dan mengajaknya untuk berjalan.
Mereka bertiga pun keluar dari kamar dan menuju ke kamar Darren dan Yuna untuk meminta maaf.
Tok...Tok...Tok...
Pintu di ketuk oleh Fano dan langsung di buka oleh Yuna. Di sana terlihat Darren yang sedang berbaring di ranjangnya dengan mata yang tertutup.
"Ma Papa tidul," ucap Frisca.
"Hm...Gimana kalo kalian berdua bikinin kue aja buat Papa? buat bujuk Papa buat maafin kalian," ucap Yuna.
__ADS_1
"Tapi Flisca ngga bisa bikin kue Mama," ucap Frisca sambil cemberut.
"Tenang Adik Kakak bisa kok bikin kue, yaudah yuk kita ke dapur sekarang," ucap Fano dan Frisca pun mengangguk.
Yuna pun langsung menurunkan Frisca dari gendongannya dan mereka berdua pun langsung berjalan keluar kamar.
Yuna menghampiri Darren yang masih setia dengan mata tertutupnya, Yuna tau jika Darren itu sebenarnya tidak benar-benar tidur.
"Ren," panggil Yuna namun Darren tidak menjawab.
"Darren aku tau kamu ngga tidur," ucap Yuna dan tidak ada jawaban lagi.
"Aku tau kamu marah sama anak-anak dan khawatir sama anak-anak, tapi inget kata-kata aku waktu itu Ren," ucap Yuna.
Darren tetap tidak menjawab melainkan malah memeluk pinggang Yuna membuat Yuna kaget.
"Da-Darren kamu ngapain sih!" ucap Yuna yang langsung gugup.
"Diem." ucap Darren yang terus mencari kenyamanan di pelukannya itu.
"Lepas Ren ih aku mau ke anak-anak awas!" ucap Yuna sambil terus melepas pelukan Darren itu dan saat sudah terlepas Yuna langsung berlari keluar dari kamar dengan wajah yang sudah merona akibat blushing.
"Darren kenapa sih semenjak pagi sampe sekarang aneh banget." ucap Yuna sambil memegang pipinya.
...~~~...
Setelah lama Fano dan Frisca membuat kue dengan di bantui Yuna akhirnya selesai juga.
"Pasti Papa suka deh sama kue bikinan Flisca," ucap Frisca dengan mulut yang sudah belepotan dengan cream.
"Kamu tuh cuman bantu makan doang tpi ngga mau bantuin bikin." ucap Fano sambil mengelap mulut Frisca menggunakan tissue.
"Eheheheh kan halus di cobain Kak," ucap Frisca sambil terkekeh.
"Udah-udah sekarang kita ke atas terus kasih kuenya ke Papa," ucap Yuna sambil mengambil kue di atas meja yang sudah di hias kuenya.
"Mama biar Fano sama Adik aja yang bawa," ucap Fano dan Yuna pun langsung memberikan kuenya.
"Hati-hati ya," ucap Yuna.
Mereka bertiga pun langsung berjalan ke atas untung menghampiri Darren yang berada di kamar.
Setibanya di kamar mereka pun masuk dan nampaklah Darren yang sepertinya sedang membaca buku.
"Papa," panggil Fano dan Frisca yang sudah berada di samping Darren namun Darren tidak menggubrisnya.
"Papa maafin Fano sama Adik ya, Fano sama Adik tau kalo ini salah jadi kita berdua minta maaf," ucap Fano.
"Kita juga udah bikinin kue buat Papa sebagai ucapan pelminta maafan kita beldua Pa," ucap Frisca.
Darren langsung menutup bukunya dan menarunya di nakas.
"Huft, kalian tau kan ngelakuin hal kaya gitu tuh bahaya?" ucap Darren dan mereka berdua pun mengangguk.
"Papa bakalan maafin kalian tapi kalian harus janji ngga akan ngelakuin kaya gini lagi paham?" ucap Darren.
"Paham Pa," jawab Fano dan Frisca bersamaan.
Darren pun mengecup pucuk rambut Fano dan Frisca bergantian lalu mengambil kue di tangan mereka berdua.
"Papa udah maafin," ucap Darren sambil tersenyum tipis dan itu pun membuat mereka kesenangan.
"Makasih Pa!" ucap Fano dan Frisca bersamaan sambil memeluk Darren.
"Nah karena Papa udah mau maafin kalian berarti waktunya kita makan kuenya," ucap Yuna dan Frisca yang mendengar itu langsung semangat.
"Sini Pa kuenya Flisca yang bawa," ucap Frisca sambil mengambil kuenya dari tangan Darren.
"Huh giliran soal makan aja cepet," ucap Fano.
__ADS_1
"Makanan adalah prioritas Kak." ucap Frisca sambil berjalan keluar dari kamar dengan membawa kuenya.