
Aku memapah Kirana sampai ke luar gedung, aku membawanya ke taman. Lalu mendudukkannya di sebuah bangku taman.
Tubuhnya masih bergemetar, wajahnya tampak pucat. Dengan sifat Kirana, dia pasti sangat ketakutan.
Aku mengambil tempat di sampingnya, lalu mengusap pelan pundaknya. Dia masih menunduk tak bergeming.
"Ra?" lirih ku.
Kirana mengangkat kepalanya, bukan dengan wajah menangis, tapi dengan wajah bahagia. Dia tersenyum seperti orang kasmaran.
Aku mengerutkan keningku merasa heran. Apa kepalanya tidak sengaja terbentur?
"Kenapa kau menolongku?" tanya Kirana.
Aku tercengang dengan pertanyaannya itu. Apa mungkin dia marah karena aku tidak menolongnya sejak awal? Apa dia kecewa?
"Maaf, aku tid~"
"Kalau kamu tidak menolongku, aku bisa berlama-lama di dekapannya.." ujar Kirana memotong ucapan ku.
Di dekapannya? Apa mungkin yang dia maksud adalah Chris? Aku menatapnya yang masih tersenyum kasmaran itu. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba mendatangi ku. Aku tidak tahu perasaan apa itu.
"Dia ganteng banget, Na~" dia mulai heboh.
Aku pun hanya bisa menanggapi nya dengan senyuman canggung.
Aku bangkit dari duduk ku dan berjalan menuju wastafel. Dari sini aku menatap Kirana yang masih heboh dengan pikirannya sendiri itu.
Aku menghela napas panjang.
__ADS_1
"Kenapa?"
Sosok yang tiba-tiba berdiri di sampingku itu membuatku terpenjirat. Tanpa rasa bersalah pria itu tertawa puas.
"Dedd!" seru ku.
"Sudah ku bilang, panggil aku kakak!" ujar Deddy sambil mencubit hidung ku.
"Gak mau!" seru ku lalu pergi meninggalkannya.
Aku kembali pada Kirana dan duduk disampingnya. Namun pria itu masih mengikuti, lalu berjongkok di depanku.
Dengan senyum manisnya itu dia bertanya, "Apa kamu baik-baik saja?"
"Hei, Dedd bodoh! yang jatuh itu aku, bukan Luna.." protes Kirana.
"Kalo kamu bisa senyum-senyum sendiri kayak orang gila, berarti kamu baik-baik saja," ujar Deddy.
"Dokter yang tadi itu siapa?" tanya Kirana dengan mata berbinar.
Aku menatap Deddy kemudian, penasaran dengan jawaban yang akan diberikannya.
"Dia Dokter jantung terbaik di Rumah Sakit ini," jawab Deddy.
Sebisa mungkin aku menyembunyikan rasa terkejut ku. Waktu itu ku kira dia hanya pegawai kantoran biasa.
"Namanya?" tanya Kirana lagi.
"Chris,"
__ADS_1
"Chris,"
Astaga. Bodoh sekali diriku ini. Aku memalingkan wajahku dan mendongak menatap ke atas pohon. Dari sudut mataku dapat ku lihat Kirana dan Deddy yang sedang menatap ku penuh curiga.
Aku menjawabnya secara bersamaan dengan Deddy. Tentu saja mereka merasa curiga. Bagaimana bisa aku mengenalnya.
"Kamu kenal dia, Na?" tanya Kirana.
Aku tidak tahu harus membuat alasan seperti apa. Aku menatapnya, lalu berganti menatap Deddy.
"Hmm?"
"Kenal siapa?" tanyaku pura-pura bodoh sambil mengulur waktu untuk mencari alasan.
"Dokter yang tadi. Kamu kok bisa tau namanya?" tanyanya semakin curiga. Deddy juga menatapku penuh curiga.
"Emm..itu.."
Pikirkan sebuah alasan, Luna! Aku berperang dengan pikiran ku sendiri.
"Iya, tanda pengenal nya, hehe.." jawabku seperti orang bodoh.
Tapi untung saja aku segera menemukan alasan itu setelah melihat tanda pengenal yang tergantung di snelli Deddy.
"Oh," Kirana hanya menanggapi singkat.
Syukurlah dia percaya. Tapi tinggal Deddy, aku tidak yakin kalau dia akan percaya begitu saja. Tapi bukankah alasanku sudah cukup masuk akal?
"Ya udah, kalian pulang terus istirahat," ujar Deddy seraya bangkit dari jongkoknya.
__ADS_1
"Nih, cari makan yang enak sama Luna.." lanjutnya sambil menyodorkan beberapa rupiah pada Kirana.