
Bruk~
Aku menghempaskan tubuhku ke bangku taman yang ada di belakang Rumah Sakit ini. Diikuti oleh Kirana di samping ku.
Kami baru saja melakukan interview kerja. Uhm, bisakah aku menyebut ini sebagai keberuntungan? Ya, kami langsung di terima masuk kerja disini. Kami akan mulai bekerja besok.
"Syukurlah, semuanya berjalan lancar.." ujar Kirana.
Aku menoleh dan tersenyum tipis padanya. Kemudian aku mendongak menatap langit cerah di atas sana. Cuaca cerah seperti ini pasti sangat menyenangkan kalau pergi ke pantai. Tapi sayangnya Kota ini jauh dari pantai.
Ah, aku rindu pantai...
Aku mengetuk layar ponselku.
"Saatnya makan siang.." ujar Kirana yang ikut mengintip jam di ponselku.
Aku mengangguk, "Makan apa kita siang ini?" tanyaku.
"Gimana kalo makan di kantin Rumah Sakit aja?" tawar Kirana.
"Boleh juga.."
Kirana langsung bersemangat dan beranjak dari duduknya, lalu menarik tanganku agar aku ikut berdiri bersamanya.
Seperti seorang Ibu yang menuruti keinginan anaknya, aku pun mengekor di belakangnya dengan tanganku yang di tarik olehnya.
"Tunggu.." ujar ku sambil menghentikan langkah.
"Ini bukan kantin umum," lanjut ku.
"Emang. Ini kantin pegawai," ujar Kirana tanpa beban.
"Tapi~"
__ADS_1
"Dedd!"
Belum aku menyelesaikan ucapan ku, Kirana memotongnya dengan memanggil nama seseorang. Deddy.
Di depan sana Deddy melambaikan tangannya ke arah kami berdiri. Beberapa saat kemudian dia sudah berdiri tepat di hadapan kami.
"Kalian harus kenalan dulu sama calon tempat kerja kalian," ujar Deddy sambil menyodorkan nampan makanan kepada kami.
"Tapi kita masih belum resmi bekerja di sini," ucap ku dengan ragu-ragu.
"Aku sudah meminta izin.." jawab Deddy enteng.
Dengan ragu-ragu aku menerima nampan darinya, lalu mulai mengekor di belakang Kirana yang sudah mengambil makanan terlebih dahulu.
Dia benar-benar tidak merasa sungkan. Batinku.
Aku mengambil makanan secukupnya, lalu mengambil tempat di samping Deddy.
"Pfft~"
Dia tidak menertawakan ku. Tapi Kirana. Ya, Kirana masih sibuk memilih makanan. Aku pun ikut tertawa setelah menyadarinya. Bukan hanya menertawakan Kirana, tapi menertawakan diriku sendiri karena telah gede rasa.
"Kamu gak berubah ya.."
"Hmm?"
Aku merasa kaget saat mata kami bertemu. Dia menatapku sangat dalam, sampai aku tidak bisa berkutik dengan tatapannya. Alu terperangkap dalam tatapannya.
prang!
"Apa kau tidak punya mata!?"
Kegaduhan itu membuat kami melepas sambungan kontak mata kami dan menoleh.
__ADS_1
Entah apa yang telah terjadi selama kami saling fokus menatap tadi. Saat ini Kirana telah tersungkur di lantai dengan nampan makanannya yang berceceran kemana-mana.
Aku hendak berdiri untuk membantunya, tapi sosok yang tiba-tiba datang itu membuatku mengurungkan niat dan menunduk.
Chris. Kenapa pria itu ada disini.
"Keributan apa lagi yang kau buat, Dokter Lia?"
Chris, dia memapah Kirana untuk berdiri.
"Dia yang tidak punya mata!"
Aku tidak berani mengangkat wajahku. Entah mengapa aku menjadi seperti orang bodoh begini? Aku tidak punya masalah dengannya, tapi mengapa aku bersembunyi seperti orang bodoh?
Aku mengacak-acak rambutku, membuat nya agar menutupi wajahku. Semoga saja dia tidak mengenaliku.
Setelahnya aku bangkit dan menghampiri Kirana, mengambil alih dirinya dari papahan Chris.
"Dokter macam apa yang bicara begitu kasar!" ujar ku lalu membawa Kirana pergi dari sana.
"Kau!"
"Wanita rendahan dari mana lagi dia! kenapa penjaga membicarakan orang-orang rendahan seperti mereka masuk ke sini!?" teriaknya yang sama sekali tak ku hiraukan.
"Mereka adalah orangku!"
Aku menoleh. Deddy, ku pikir dia orang yang cukup berpengaruh. Dokter wanita itu langsung terdiam setelah Deddy berbicara untuk kami.
Aku tersenyum kecil melihat hal itu. Dia terlihat sedikit keren, batinku.
deg!
Astaga. Aku tidak salah lihat kan? Pria itu, dia. Chris, dia baru saja menatapku? Dia tidak mengenaliku kan?
__ADS_1
Aku kembali menghadap ke depan dan memapah Kirana dengan langkah yang lebih cepat.