
Hari ini berakhir dengan rasa canggung. Ku kira tadi kita akan makan bersama di cafe. Ternyata tidak. Deddy membungkus makanannya.
Seharusnya tadi aku tidak menangis histeris seperti itu. Aku mengutuk diriku sendiri dengan memukul kepalaku pelan.
Saat ini aku berdiri di depan pintu kamar apartemen Kirana. Sudah lumayan lama. Tanganku ragu untuk menekan bel nya.
Akhirnya aku mengurungkan niatku dan memilih untuk duduk di lantai seperti orang bodoh.
"Apa aku mengambil keputusan yang benar dengan datang kemari?" gumam ku.
Aku menekuk lutut ku dan memeluknya.
"Bagaimana jika ternyata aku mengambil keputusan yang salah?"
Aku menghela napas panjang. Seharusnya aku berpikir panjang dulu. Bukankah begitu? Lagi-lagi aku menghela napas panjang.
"Astaga~" sontak aku bangun dari dudukku karena kaget.
"Apa anda baik-baik saja?"
Ya, tadi wanita itu tiba-tiba berjongkok di depanku dan mendekatkan wajahnya.
"I-iya, saya baik-baik saja.." jawabku terbata.
"Anda penghuni baru di sini? salam kenal, saya Dara," ucap wanita itu seraya menyodorkan tangannya.
"Luna," aku menjabat tangannya sambil tersenyum canggung.
Ku perhatikan wanita itu celingak-celinguk, entah apa yang ingin diketahuinya.
__ADS_1
"Apa pintu anda bermasalah?" tanyanya sambil menatap pintu kamar Kirana.
"Ah tidak apa-apa, saya tadi mau menemui teman saya. Tapi saya rasa dia sudah tidur.." jelas ku.
"Jadi, yang mana kamar anda? saya akan mampir lain waktu, anda juga bisa berkunjung ke kamar saya," ujarnya sambil menunjuk pintu kamar di ujung sana.
"Yang ini," jawabku sambil menunjuk pintu kamarku.
Dara tersenyum ramah. Ku rasa dia lebih muda dariku karena wajahnya yang tampak lebih muda.
"Baiklah, saya akan mampir lain waktu. Selamat istirahat.." ujarnya.
"Selamat istirahat juga,"
Sudah lama aku tidak berinteraksi dengan orang sebayaku. Rasanya sedikit canggung dan mendebarkan.
Ku lirik jam tanganku yang masih menunjukkan pukul 9 malam. Aku masih belum mengantuk. Memaksakan untuk tidur pun pasti percuma.
...****************...
"Apakah hanya aku yang tidak punya pasangan di tempat ini?" gumam ku.
Ada sebuah taman di dekat apartemen. Tempatnya lumayan ramai, banyak penjual jajanan juga. Tapi yang menjadi masalahnya, tempat itu dominan untuk orang nge-date.
Aku terus berjalan mencari tempat yang sepi. Ingin ku duduk di tepi air mancur, tapi di sana sangat ramai.
"Apakah anak-anak ini tidak pergi tidur?" gerutu ku sepanjang jalan.
Aku memicingkan mataku. Di sebelah sana, tepat di samping lampu taman ada bangku yang kosong dan sepi. Itu lumayan jauh dari kerumunan orang-orang disini.
__ADS_1
Aku menghampirinya.
Tapi tunggu sebentar. Aku hampir sampai di sana. Dan ternyata aku gagal untuk sendiri. Tepat di sebelah bangku itu ada bangku yang lain, dan ada yang menghuninya.
"Kenapa dia ada disini?" gumam ku.
Segera aku membalikkan badan dan memasang kupluk hoodie ku. Semoga dia tidak melihat wajahku, karena dia tadi sempat mendongak.
Ya, dia Chris.
Astaga, aku hampir melupakan bajunya. Beruntung aku membawanya sampai ke sini. Tapi bagaimana caraku untuk memberikan padanya?
"Sial sekali.." aku mempercepat langkahku.
Namun..
"Mbak~"
Suara yang tidak asing lagi di telingaku itu terdengar. Apa dia memanggilku? Apa dia tahu kalau ini aku?
Aku merapatkan tali hoodie ku dan hanya memperlihatkan mataku. Beruntung aku tadi memakai masker.
Aku berbalik. Aku sempat kaget karena dia sudah berdiri tepat di belakangku.
"Anda memanggil saya?" tanyaku.
"Iya, dompet anda terjatuh," ujarnya.
Aku berdehem pelan, lalu meraih dompet ku dari tangannya. "Terima kasih," ujar ku kemudian melesat pergi.
__ADS_1
Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana bisa dompetku jatuh.