Mistake

Mistake
Ch.32


__ADS_3

Aku berhasil kabur dari Chris. Aku dan Dara berada di ruang istirahat saat ini. Aku menanyakan tentang Rumah Sakit ini padanya karena dia sudah bekerja kurang lebih 3 tahun disini.


Dokter Clarisa, dia Dokter bedah senior disini. Dia wanita yang mendorong Kirana hingga jatuh kemarin. Dara bilang dia adalah orang yang berbahaya.


Tidak hanya membahas itu, kami juga membicarakan banyak hal. Tentang diri masing-masing. Tapi aku belum bisa mempercayai orang baru. Aku tidak bis mengatakan bahwa diriku adalah seorang janda.


Aku takut. Aku takut mereka meninggalkan ku setelah mengetahui kebenarannya.


"Ternyata kamu gadis yang cukup konyol ya, Luna.." ujar Dara setelah aku menceritakan masa sekolahku.


Dalam ruangan yang hanya ada kami berdua itu, kami bercanda tertawa. Ku kira Dara adalah orang yang kaku, ternyata tidak.


brak!


Aku memejamkan mata karena kaget. Aku juga sudah menyiapkan diri untuk dimarahi. Gebrakan yang keras itu cukup menandakan kalau orang yang membukanya sedang marah. Mungkin aku sudah membuat kesalahan di hari pertamaku kerja.


"Luna! jadi kamu kenal sama Dokter Chris?"


Jika seperti ini lebih baik aku dimarahi seniorku.

__ADS_1


Aku membuka mataku dan mendapati Kirana sedang berdiri didepan pintu dengan penuh emosi. Aku sudah lama mengenalnya meskipun kami sempat berpisah selama beberapa tahun.


Selama aku mengenalnya, aku tidak pernah melihat dirinya seperti itu. Kirana gadis yang baik, saat marah dia akan menangis, bukan berteriak seperti saat ini. Dia bahkan menggebrak pintu ruangan ini, tidak peduli ada orang lain atau tidak di dalam sini.


Ini hal yang sepele, tapi entah mengapa rasanya sakit sekali di dalam sana.


"Dia menyukai daging tumis buatan Luna, jadi Bibi Jum memperkenalkan Luna padanya.." Dara angkat bicara untukku.


Tatapan itu lagi. Aku tidak bisa menebak arti tatapan Dara pada Kirana. Ini sudah yang kedua kalinya dia menatap Kirana seperti itu.


"Yang dikatakan Dara benar.." lirihku.


Seperti membalik halaman buku. Secepat itu dia merubah ekspresi wajah dan nada bicaranya. Dia tersenyum cerah seolah tak terjadi apa-apa. Dia juga tidak meminta maaf karena telah menggebrak pintunya.


"Syukurlah kalau begitu.." ucapnya lalu berbalik pergi.


"Kirana!" panggil Dara dengan datar namun membuat bulu kuduk berdiri.


Kirana berbalik.

__ADS_1


"Tidakkah kau merasa bersalah? jika tidak ingin meminta maaf karena telah menuduhnya, setidaknya minta maaflah karena telah bersikap tidak sopan dengan menggebrak pintu!" tutur Dara.


"Haruskah aku? apakah itu perlu?"


"Ayolah, bukankah kita teman?"


"Sudahlah, aku akan kembali bekerja.."


Kirana langsung pergi begitu saja tanpa meminta maaf. Dara tampak mulai geram dengan jawaban yang diberikan Kirana.


Aku sendiri juga heran. Sejak kapan dia berubah menjadi seperti itu? Aku tahu dia bukan gadis seperti itu. Apa yang membuatnya berubah? Apa yang terjadi selama kami tidak berhubungan beberapa tahu terakhir ini.


"Kau harus berhati-hati dengannya,"


Aku hanya diam dan menatap Dara dengan tatapan bingung. Seperti orang yang dapat membaca pikiranku, dia bangkit dari duduknya lalu mengusap pelan kepalaku.


"Jangan banyak berpikir. Aku hanya ingin mengatakannya saja, kamu tidak perlu khawatir,"


"Aku tau kamu gadis yang baik, aku hanya tidak ingin kamu terluka karena kebaikanmu.."

__ADS_1


Kalimat terakhirnya itu, aku tidak mengerti apa maksudnya. Namun aku tetap mengangguk dan tersenyum seolah paham apa yang dia katakan.


__ADS_2