
Setelah kejadian di mana Daffa dan Diana di paksa untuk pergi dari perusahaan WM GRUP, Daffa pun langsung kembali ke perusahaan bersama dengan Diana.
"Yah kita harus cepet-cepet singkiran Yuna!" ucap Diana yang masih kesal karena dirinya tadi di usir dan di permalukan di mall.
"Udah lah sayang biarinin aja, yang terpenting dia ngga bawa-bawa nama keluarga kita lagi." ucap Daffa.
"Ngga bisa Yah! Ayah ngga inget? Waktu pas tau dia tidur sama Om-om di hotel, semua perusahaan yang kerja sama sama kita batalin kontrak dan juga masuk berita Yah." ucap Diana yang semakin memanas-manasi Daffa.
Daffa yang mendengarkan itu langsung terdiam dan berfikir.
"Kamu benar juga Diana, dia sudah membuat malu keluarga kita dan membuat hampir bangkrut keluarga kita." ucap Daffa yang sudah terpancing oleh Diana.
Diana yang mendengarkan itu langsung tersenyum licik, akhirnya Daffa bisa terpancing oleh omongannya.
"Jadi sekarang kita harus singkirin dia secepatnya Yah, dan juga Tuan Darren itu milik aku bukan milik si wanita rendahan itu ngga pantes dia sama Tuan Darren." ucap Diana.
"Oke Ayah bakalan pikirin caranya, kamu boleh pulang Ayah mau kerjain pekerjaan yang tertunda tadi." ucap Daffa dan Diana pun langsung mengangguk lalu pergi dari ruangan Daffa.
"Liat aja kamu Yuna, sebentar lagi kamu bakalan hancur lagi seperti 6 tahun yang lalu." batin Diana.
...~~~...
Saat ini Yuna sedang berada di dalam ruangan Darren berdua dengan Darren, kedua anak mereka sedang tidur ruang istirahat milik Darren yang berada di dalam ruangannya.
"Jadi kamu salah satu anak dari Tuan Daffa?" tanya Darren basa-basi, padahal dirinya sudah tau semua tentang Yuna.
"Iya, cuman semenjak kejadian itu aku jadi di kucilkan dan di buang sama mereka." ucap Yuna sambil menghela napasnya.
"Mereka semua bodoh terlebih Ayah, waktu sebelum Mama meninggal Ayah selalu perhatian dan selalu lembut sama aku, tapi semenjak Mama meninggal Ayah jadi kasar dan malah menikah lagi." ucap Yuna lagi menceritakan tentang keluarga yang tidak tahu diri.
"Jadi, kamu sama Diana bukan saudara kandung?" tanya Darren dan Yuna pun mengangguk.
"Semenjak Diana dan Ibu nya masuk ke dalam rumah aku selalu di abaikan sama Ayah dan aku selalu mengalah sama Diana padahal Diana yang lebih tua dari aku, dan puncaknya waktu 6 tahun yang lalu sebuah kesalahan yang aku perbuat aku jadi tambah di benci sama Ayah dan di usir sama Ayah dari rumah," ucap Yuna yang hatinya sedikit nyeri karena mengingat itu, mungkin ini perasaan Yuna yang asli jadi benar-benar rasanya sesak di dada.
Darren yang mendengarkan cerita Yuna langsung memeluknya, dirinya tahu betapa sensaranya Yuna saat waktu sebelum bertemu dengan. Namun Darren agak sedikit familiar dengan cerita Yuna itu, tapi entah Darren tidak ingat apa-apa.
"Apa kamu ada rencana balas dendam?" tanya Darren.
"Ada, aku mau balas dendam soal kematian Mama yang ternyata kematian Mama ini di rencanain dan juga aku mau ambil semua aset milik Mama yang jatuh ke tangan Ayah." ucap Yuna.
"Butuh bantuan aku?"
"Aku bisa sendiri kok makasih ya, aku udah berjalan setengah tinggal sedikit lagi dan semuanya selesai mereka bakalan hancur melebihi kehancuran aku," ucap Yuna sambil tersenyum.
"Ngga salah emang aku pilih istri," ucap Darren sambil mengecup bibir Yuna singkat membuat Yuna langsung kaget.
"Kebiasaan banget ih!" ucap Yuna kesal.
"Nggapapa dong sayang kan udah biasa," ucap Darren dengan tidak tahu malunya.
"Oh iya aku kemarin dapet undangan dari Nyonya besar Smith buat hari ini dateng ngunjungin dia," ucap Yuna.
Darren yang mendengarkan itu langsung mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
"Nyonya besar Smith? Kamu kenal keluar Smith?" tanya Darren dan Yuna pun mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Hm...Sejak kapan ya aku lupa, seinget aku kayanya waktu kamu ngajak aku buat tanda tangan pernikahan kontrak kita." ucap Yuna dan Darren pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku anter ya," ucap Darren yang sudah bersiap ingin bangkit dari duduknya namun langsung di tahan oleh Yuna.
"Ngga usah, kamu kerjain aja pekerjaan kamu itu yang numpuk banget." ucap Yuna sambil melirik ke arah meja kerja Darren yang sangat penuh dengan berkas-berkas.
"Tapi aku mau anter kamu sayang, lagian soal pekerjaan mah gampang," ucap Darren.
"Kebiasaan deh, ngga usah ngeyel kalo di bilangin!" ucap Yuna sambil mencubit lengan Darren membuat Darren meringis kesakitan.
"Iya-iya aku ngga anterin," ucap Darren kalah.
"Yaudah aku pergi dulu jaga anak-anak ya," ucap Yuna sambil bangkit dari duduknya.
"Kamu ngga mau kasih kasih ini?" ucap Darren menahan Yuna yang ingin pergi sambil tangannya menunjuk ke arah bibirnya.
"Ngga usah ngaco, lepas!" ucap Yuna sambil menghentakan tangan Darren.
"Ini dulu baru boleh pergi," ucap Darren sambil menarik Yuna membuat Yuna langsung terjatuh di pangkuannya.
"Ngapain si Ren!" ucap Yuna kesal.
Darren tidak menjawab melainkan menunjuk ke arah bibirnya sambil tersenyum, Yuna yang melihat itu akhirnya pasrah dan langsung mengecup bibir Darren dengan singkat. namun saat Yuna menjauhkan wajahnya Darren langsung menahannya mengakibatkan bibir mereka menyatu kembali.
setelah beberapa menit akhirnya Darren langsung melepas Yuna, terlihat jelas lipstick di bibir Yuna berantakan dan bibir Darren juga ada bekas lipstick milik Yuna.
Darren yang melihat Yuna langsung pergi hanya tersenyum smirk sambil mengelap bekas lipstick milik Yuna.
Setibanya di luar ruangan Darren, di sana ada Naura dan Deny yang kaget karena Yuna seperti habis berlari dari dalam.
"Ada apa Nyonya?" tanya Deny yang kaget.
Yuna pun langsung berdehem sambil merapihkan dirinya.
"Tidak ada apa-apa." jawab Yuna dengan sedikit gugup.
"Hm Nyonya maaf ini," ucap Naura sambil memberikan tissuenya dan mengkode untuk mengelap lipstick yang sedikit berantakan.
Yuna yang di kode Naura pun langsung mengambil tissue itu dengan cepat dan langsung mengelap bekas lipstick yang berantakannya.
"Saya pergi dulu ya." ucap Yuna buru-buru karena dirinya sudah sangat malu sekali dengan sekretaris dan asisten Darren itu.
"Pak direktur ternyata ganas juga ya Pak Deny," ucap Naura sambil terkekeh.
"Awas kamu kalo kedengeran Pak direktur langsung habis kamu di omelin," ucap Deny.
"Tenang Pak direktur ngga akan denger kok,"
"Denger apa Naura?" tanya Darren yang tiba-tiba saja muncul membuat Naura dan Deny kaget.
__ADS_1
"I-itu Pak direktur denger Pak Deny buang angin Pak," ucap Naura yang langsung gugup dan kaku.
Deny yang di bawa-bawa namanya langsung menatap tajam Naura sedangkan Naura pura-pura tidak tahu saja.
Mata Naura langsung tertuju ke bibir Darren yang seperti ada lipstick seperti Yuna lagi.
"Wah bener-bener nih, jangan-jangan mereka abis? Waduh," batin Naura yang otaknya sudah sedikit tercemar.
"Naura tolong jadwalkan ulang meeting saya hari ini." ucap Darren lalu langsung masuk ke dalam ruangannya lagi.
"Tuh kan Pak Deny bener apa kata saya," ucap Naura.
"Udah-udah kamu mending kerjain tugas yang di perintah Pak direktur, sama bersihin tuh otak kamu yang udh tercemar." ucap Deny sambil menyentil kening Naura.
Di lain sisi, yaitu di dalam mobil taxi. Saat ini Yuna sedang menuju ke arah rumah Nyonya besar Smith atau bisa di bilang Oma angkatnya.
Saat di perjalanan tiba-tiba saja ada mobil yang menghadang mobil taxi Yuna membuat mobil taxi Yuna berhenti.
"KELUAR!" teriak orang yang seperti preman menyuruh Yuna keluar.
"Ck! Cari masalah aja sih." ucap Yuna kesal.
Yuna pun langsung keluar dengan tatapan tajamnya.
"Siapa kalian!" ucap Yuna.
"Ikut kita." ucap preman itu sambil mencekal tangan Yuna.
Yuna yang melihat itu langsung menendang preman itu hingga tersungkar. Di sana ada 4 preman yang menghadang Yuna.
"Mau apa kalian!" ucap Yuna yang sedikit emosi.
"Ngga usah banyak tanya." ucap salah satu preman itu.
Yuna pun langsung menghajar preman-preman itu dengan tangan kosong, semua preman itu kalah dan sudah tergeletak di aspal.
"Cih cuman segitu aja berani-beraninya mau hadang saya." ucap Yuna sambil tersenyum licik.
Tanpa di sadari dari arah belakang ada seseorang yang sedang mengendap-endap menghampiri Yuna dengan di tangannya ada suntikan. Tanpa aba-aba tiba-tiba tubuh Yuna langsung lemas karena lengannya di suntik bius.
Yuna pun langsung di bawa masuk ke dalam mobil preman itu, sedangkan supir taxi yang melihat itu langsung gemetar.
"Apa yang harus aku lakuin?" ucap supir itu yang sudah ketakutan.
Supir itu menengok ke belakang dan mendapatkan tas milik Yuna, supir itu pun mengambil tas milik Yuna lalu mengambil hpnya.
Supir itu langsung mencari kontak yang bisa di hubungi dan matanya tertuju ke kontak yang bernama "Darren husband" supir itu langsung menelepon Darren.
"Halo sayang kenapa?"
Tanya Darren dari sana.
"Maaf Tuan saya supir taxi, istri Tuan di culik sama seseorang tadi saat taxi saya berjalan tiba-tiba saja ada yang menghadang dan menyuruh istri Tuan turun."
__ADS_1
Darren yang mendengarkan itu langsung kaget dan memutuskan panggilannya secara sepihak.
"Semoga Nona itu ngga kenapa-kenapa ya tuhan," doa supir taxi itu.