
Bulan pun terus berganti hingga tidak terasa Darren dan Yuna sudah berstatus suami istri selama 5 bulan. Keluarga kecil mereka sangat damai dan harmonis dengan Darren yang semakin lama semakin manja dengan Yuna dan Yuna yang terkadang masih malu dengan tingkah manja Darren itu.
Saat ini Darren dan Yuna sedang bersantai di kamarnya, dengan paha Yuna sebagai bantalan untuk kepala Darren dan Yuna terus mengelus rambut Darren dengan lembut.
Drt...Drt...Drt...
Bunyi telepon dari hp milik Yuna.
"Siapa?" tanya Darren.
"Lutfi," jawab Yuna lalu langsung mengangkat teleponnya.
"Ha-"
"YUNA, KOK KAMU NGGA BILANG KALO MAU PINDAH SIH! JANGAN MENTANG-MENTANG AKU SIBUK SYUTING KAMU JADI PINDAH YA!"
Teriak Lutfi di telepon itu hingga Yuna menjauhkan dari kupingnya takut jika kupingnya rusak karena mendengar teriakan Lutfi.
"Iya-iya maaf aku ngga bilang kamu, tapi bisa ngga sih ngga usah teriak sakit nih kuping aku,"
"Ya abisnya kamu tiba-tiba pindah gitu, pindah kemana sih?"
"Gimana kalo kita ketemuan di tempat biasa aja?"
"Hm boleh tuh, bawa Fano juga ya aku kangen banget sama ponakan terganteng aku itu,"
"Oke, nanti aku kasih tau jam berapanya."
"*Sip."
Tut*.
Panggilan pun mati, Yuna langsung mengetik jam berapa mereka bertemu dan Yuna langsung mendorong kepala Darren agar pindah ke bantal karena ingin bersiap-siap.
"Mau kemana?" tanya Darren yang sudah memposisikan dirinya duduk.
"Mau ketemuan sama Lutfi di tempat biasa," jawab Yuna sambil memilih baju yang ingin di pakai.
"Aku ikut ya," ucap Darren menghampiri Yuna dan memeluknya dari belakang.
"Jangan deh, nanti aja kalo aku udah cerita ke Lutfi baru kamu boleh ikut aku kalo mau ketemuan sama dia lagi." ucap Yuna.
"Yah masa gitu sih kan aku suami kamu," ucap Darren sambil cemberut.
"Inget ya kita itu nikah kontrak." ucap Yuna sambil berusaha melepas pelukan Darren itu.
Darren yang mendengarkan itu langsung membalikkan Yuna agar menghadapnya.
"Semuanya udah ngga berlaku." ucap Darren yang memandang mata Yuna.
"Kata siapa? Itu masih berlaku kok," ucap Yuna, Darren yang mendengarnya langsung merubah raut wajahnya menjadi dingin dan merjalan ke arah laci nakas.
Di laci itu ada berkas tentang pernikahan kontrak mereka berdua, Darren pun langsung mengambilnya dan menatap Yuna dengan wajah tengil yang jarang Darren perlihatnya.
dengan wajah tengilnya Darren langsung merobek berkas itu membuat Yuna kaget.
"Kamu?"
"Yah kerobek, berarti udah batal dong?" ucap Darren dengan pura-pura sengaja merobeknya padahal aslinya memang sengaja.
Darren pun menghampiri Yuna dan menariknya ke dalam pelukannya dan berbisik.
__ADS_1
"Suratnya udah robek artinya pernikahan kontrak kita batal dan pernikahan kita murni tanpa ada kontrak lagi," bisik Darren sambil menggit kuping Yuna membuat Yuna meringis kesakitan.
"Ka-kamu apaan sih ih!" ucap Yuna sambil mendorong Darren dengan kuat lalu langsung berlari ke arah kamar mandi.
Darren yang melihat tingkah Yuna langsung terkekeh.
...~~~...
Yuna dan kedua anaknya sudah berada di cafe tempat Yuna dan Lutfi jika ketemuan seperti biasanya.
"Ma Tante Lutfinya mana?" tanya Frisca yang menengok kanan kiri sedari masuk ke dalam cafe.
"Paling sebentar lagi sampe sayang sabar ya, mending kamu makan cakenya nih," ucap Yuna sambil menyuapi cake ke Frisca yang tadi dirinya pesan.
"Hai-hai orang cantik baru sampe," ucap Lutfi yang baru tiba dan langsung duduk di depan Yuna.
"Halo Tante," sapa Fano dan Frisca bersamaan.
"Kyaaa! Ini Frisca? ih lucu banget sih kamu," ucap Lutfi sambil mencubit pipi Frisca.
"Flisca emang lucu Tante dali lahil," ucap Frisca dengan percaya dirinya.
"Tante ngga kangen Fano?"
"Kangen dong masa keponakan Tante yang paling ganteng ini ngga di kangenin," ucap Lutfi sambil memeluk Fano.
"Tante Flisca juga mau di peluk kaya Kakak," ucap Frisca sambil merentangkan tangannya.
"uh sini-sini ponakan Tante juga yang paling cantik," ucap Lutfi dan alhasil mereka bertiga berpelukan menghiraukan Yuna yang sedari tadi menyimak.
"Kamu sampe ke sini kapan Fi?" tanya Yuna.
"Tadi malem sekitar jam 12 deh," jawab Lutfi.
"Nah jadi? Kamu kenapa tiba-tiba pindah tanpa ngabarin aku?" tanya Lutfi.
"Aku udah nikah heheh," jawab Yuna sambil terkekeh.
Lutfi yang sedang minum langsung menyemburkan airnya dari mulut karena kaget.
"WHAT?! KAMU SERIUS?" ucap Lutfi yang kaget dan Yuna pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Nikah sama siapa heh? Kok aku ngga di undang sih jahat banget," ucap Lutfi sambil cemberut.
"Cuman kecil-kecilan aja kok," jawab Yuna.
"Ya tapi kan kamu harusnya kasih tau aku Na." ucap Lutfi.
"Iya-iya maaf ya Lutfi,"
"Terus kenapa suami kamu ngga di bawa ke sini? Aku tuh kepo,"
"Aku suruh di rumah aja, tadi dia maksa buat ikut tapi aku larang." ucap Yuna sambil mengelap mulut Frisca yang belepotan.
"Yah kenapa? Kan aku penasaran, awas aja kalo kamu nikahnya sama Laki-laki jelek."
"Papa ngga jelek kok Tante tenang aja," ucap Frisca.
"Nah bagus, eh bentar jadi suami kamu Papa dari Frisca?" ucap Lutfi yang baru sadar dan Yuna pun mengangguk.
"Hai,"
__ADS_1
Tiba-tiba saja ada Laki-laki yang menghampiri meja mereka dan menyapa mereka.
"Siapa ya?" tanya Lutfi yang memandang Laki-laki itu dari atas sampai bawah.
"Kak Damar?" ucap Yuna dan Laki-laki itu pun hanya menampilkan senyumnya.
Yuna pun langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Laki-laki itu yang bernama Damar.
"Kak Damar kapan pulang ke sininya?" tanya Yuna.
"Kemaren siang baru sampe, terus hari ini niatnya mau makan di cafe eh ketemu kamu jadi aku sapa kamu deh." jawab Damar sambil mengacak-acak rambut Yuna.
"Oh iya Kak kenalin ini Lutfi sahabat aku," ucap Yuna sambil mengenalkan Lutfi ke Damar.
"Halo kak," sapa Lutfi dan Damar hanya merespon senyum ramahnya.
"Kalo ini Frisca anak kedua aku,"
"Anak kedua? bukannya anak kamu cuman Fano?" ucap Damar.
"Maaf ya Om, tapi Mama itu punya anaknya dua aku sama Kakak telus Om ngga usah deh deket-deket sama Mama soalnya Mama cuman punya Papa." ucap Frisca dengan wajah judesnya itu.
"Om udah anggep Mama kamu itu Adik Om jadi Om juga ngga akan ambil Mama dari Papa kamu yang cantik," ucap Damar sambil tersenyum ramah.
Yuna yang mendengar ucapan Frisca merasa tidak enak dengan Damar.
"Maaf ya Kak, ngga tau kenapa Frisca sama Fano nih kaya 11 12 kalo ngomong suka asal ceplos aja," ucap Yuna yang tidak enak.
"Iya nggapapa kok Na,"
"Oh iya kak sini aja gabung sama kita," ucap Yuna.
"Boleh deh, aku juga ngga terlalu suka sendirian kalo makan." ucap Damar sambil duduk di sebelah Lutfi.
"Kak ngga bisa di bialin nih, pasti Om itu mau deketin Mama terus ambil Mama dali Papa." bisik Frisca ke Fano sambil menatap sinis Damar.
"Kakak dari awal juga ngga terlalu suka sama Om Damar Dik, soalnya Om Damar selalu deketin Mama terus." bisik Fano.
"Belalti kita harus kasih Papa sekalang juga." ucap Frisca dan Fano pun langsung mengangguk.
Fano membuka tasnya dan mengambil hp lalu mengirim pesan ke Darren.
...Papa...
^^^Papa gawat Mama di deketin Om-om!^^^
^^^[15 30]^^^
Nice boy udah kasih tau Papa
[15 30]
Nanti bilang aja mau beli apa oke
[15.31]
^^^ASIK! MAKASIH PA^^^
^^^[15.31]^^^
"Gimana Kak?" tanya Frisca dan Fano langsung mengacungkan jempolnya membuat senyum Frisca langsing merekah.
__ADS_1