
Saat ini Yuna sedang berteleponan dengan Lutfi di taman belakang rumah membahas misi yang mereka akan lakukan nanti.
"Terus gimana dong Fi kita kerjain misinya," ucap Yuna yang bingung sekali saat ini.
"Kamu udah tau malem ini perginya kemana?"
"Katanya ke acara penyambutan gitu sih."
"Acara penyambutan? Tunggu deh, kamu tau ngga acaranya di mana? Soalnya kita juga dapet misi di acara penyambutan gitu,"
"Apa jangan-jangan ini tempatnya yang sama?"
"Hm...Kalo emang iya di tempat yang sama susah juga sih apa lagi Pak direktur kan ngga mau pisah sama kamu pasti,"
"Terus gimana ya?"
Mereka berdua terdiam sejenak memikirkan bagaimana caranya agar bisa menjalankan misi kali ini.
"Gimana kalo alesan ke toilet?"
"Kayanya jangan deh, nanti kalo kelamaan bisa curiga Darren."
"Hm iya juga sih ya, terus mau gimana?" tanya Lutfi yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Gimana nanti kamu telepon aku dan pura-pura nangis?" ucap Yuna membuat Lutfi yang di sana kebingungan.
"Biar apa tuh?"
"Biar aku bisa alesan, terserah kamu mau nangisnya gara-gara apa tapi intinya kamu nangis."
"Emang Pak direktur ngga curiga?"
"Sebenernya ngga tau sih cuman kita coba aja gimana?"
"Boleh deh boleh,"
"Oke kal-"
"Sayang," panggil Darren yang tiba-tiba saja datang dan memeluk Yuna dari belakang membuatnya kaget.
"Ngagetin deh!" ucap Yuna sambil memutuskan panggilan dengan Lutfi.
"Kamu abis teleponan sama siapa?" tanya Darren.
"Sama Lutfi." jawab Yuna sambil melepas pelukan Darren namun Darren malah langsung mempererat.
"Lepas Ren udah mulai gelap kita harus masuk ke dalem," ucap Yuna yang masih berusaha melepas pelukan Darren.
"Panggil sayang dulu." ucap Darren.
"Ngga usah aneh-aneh, udah lepas ini ih." ucap Yuna yang sedikit salah tingkah.
"Ini ngga aneh sayang, cepet panggil aku sayang dulu baru aku lepas." ucap Darren yang semakin mempererat pelukannya itu membuat Yuna akhirnya pasrah dan mengalah saja.
"Sa-sayang lepas!" ucap Yuna dengan sedikit gugup dan wajahnya juga sudah merona.
"Oke sayang," bisik Darren sambil mengecup pipi Yuna.
Yuna pun langsung buru-buru masuk ke dalam rumah dengan jantung yang berdetak kencang juga muka yang sudah merah padam akibat blushing. Yuna benar-benar sudah tidak sanggup lagi jika harus berlama-lama dengan Darren di sana.
__ADS_1
...~~~...
Malam pun tiba.
Saat ini Yuna dan Darren sudah siap untuk ke acara udangan yang Darren bilang itu, hanya mereka berdua tidak membawa anak-anaknya karena Darren takut acaranya hingga larut malam.
"Pa Flisca sama Kakak ikut ya, masa di runah aja sih ngga seru ah!" ucap Frisca yang sedari tadi merengek ingin ikut.
"Frisca denger Papa ya, Papa bukannya ngga mau ajak kamu sama Kakak tapi Papa takut acaranya sampe larut malam dan itu ngga baik buat kalian berdua paham?" ucap Darren.
"Pasti di sana banyak makanan, Flisca sama Kakak ikut aja ya Papa Mama," ucap Frisca yang masih merengek untuk ikut.
"Di rumah juga banyak makanan sayang, di rumah aja ya sama Kakak." ucap Yuna saling mengelus rambut Frisca.
"NGGA MAU MAMA HUAAA! FLISCA MAU IKUT MAMA SAMA PAPA HUAAA!" teriak Frisca sambil menangis.
Yuna yang melihat Frisca sudah menangis seperti itu tidak tega, dirinya melirik ke Darren.
"Gimana?" tanya Yuna.
"Tetep aja ngga bisa sayang." jawab Darren yang masih kekeuh tidak ingin mengajak Frisca.
"Adik, Adik di rumah aja ya sama Kakak nanti kasih unjuk sesuatu yang menarik buat Adik." ucap Fano sambil memegang lengan Frisca.
"NGGA MAU!" ucap Frisca sambil menghentakan tangan Fano.
"Mama sama Papa pergi aja sekarang biar urusan Adik Fano yang urus." ucap Fano yang memeluk Frisca dari samping membuat Frisca terus meronta-ronta.
"Papa percayain sama kamu ya Fano." ucap Darren dan Fano pun langsung mengangguk.
Darren pun langsung menggandeng Yuna berjalan keluar dari rumah, Frisca yang melihat itu semakin kencang menangisnya membuat Yuna tidak tega.
"Sayang ngga bisa, ini bukan masalah takut pulang malem tapi aku takut ada musuh dan targetin ke anak-anak." ucap Darren sambil mengelus punggung Yuna agar tidak terlalu mengkhatirkan Frisca yang seperti itu.
"Tapi kasian Darren," ucap Yuna.
"Udah sekarang masuk ke mobil takut kemalem ke sananya," ucap Darren sambil membukakan pintu mobil.
Mobil pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah, sedangkan Frisca sudah mengejar hingga depan rumah sambil menangis.
"Adik udah dong jangan nangis lagi, Mama sama Papa cuman mau pergi sebentar nanti juga balik lagi." ucap Fano sambil memeluk Frisca dan mengelus-elus punggung Frisca agar tenang.
"Tapi Flisca mau ikut Kakak huaaa!" ucap Frisca yang masih tetap menangis.
"Berenti ya nangis, Kakak mau kasih sesuatu rahasia ke Adik," ucap Fano yang masih menenangkan Frisca.
"lahasia apa Kak?" tanya Frisca yang sudah sedikit tenang.
"Kita masuk dulu ya," ucap Fano sambil membantu Frisca bangun.
"Gendong Kak," ucap Frisca merentangkan tangannya.
"Manja banget sih Adik Kakak yang satu ini," ucap Fano sambil mencubit pipi Frisca lalu Fano langsung menghadap belakang.
Fano pun membawa Frisca masuk ke dalam dengan Frisca yang di gendong di belakang sambil mengelap ingusnya di baju Fano tanpa ada rasa bersalah.
Setelah tiba di dalam rumah Hans langsung menghampiri Fano dan Frisca dengan wajah panik.
"Tuan muda, Nona muda kalian abis dari mana saya panik karena kalian tidak ada di dalam kamar." ucap Hans.
__ADS_1
"Kita abis keluar Paman Hans heheh, kalo gitu kita berdua masuk ke kamar dulu ya Paman." ucap Fano.
"Huft syukurlah kalo Tuan muda dan Nona muda tidak apa-apa," ucap Hans merasa lega.
Fano membawa Frisca masuk ke dalam kamar dan menurunkan Frisca di sofa empuk yang ada di dalam kamar mereka berdua.
Fano pun mengambil laptop yang biasa dirinya pakai sedari dulu dan duduk di sebalah Frisca.
"Kakak mau ngapain?" tanya Frisca yang bingung.
"Kamu liat aja nanti." jawab Fano sambil menyalakan laptopnya.
Setelah laptop menyala, Fano langsung mengetik sesuatu hingga di layar laptop hanya terlihat banyak tulisan yang hanya Fano saja yang paham.
"Wah Kakak hackel?" tanya Frisca dengan mata berbinar.
"Kamu tau hacker?" ucap Fano yang bingung kenapa Frisca tahu tentang hackers.
"Kakak jangan bilang-bilang ya ke Mama sama Papa apa lagi ke Papa ya." ucap Frisca dan Fano pun langsung mengangguk.
"Sebenelnya Flisca seling hackel data-data pelusahaan Papa," bisik Frisca.
Fano yang mendengarkan itu otomatis kaget karena fakta yang sangat mengejutkannya ini.
"Adik bisa hacker?" tanya Fano yang masih tidak percaya.
Frisca pun mengangguk sambil tersenyum tanpa dosa.
"Kamu ngapain ngeretas data-data punya Papa?"
"Abisnya Flisca kesel sama Papa kalena Papa ngga pelnah di lumah telus kan Flisca jadi kesepian," ucap Frisca sambil cemberut.
"Lain kali jangan gitu lagi ya kasian Papa, tapi kalo udah kelewatan nanti Kakak bantu hehehe," ucap Fano sambil terkekeh.
Di lain tempat, yaitu di acara yang Darren dan Yuna datangi malam ini. Mereka baru saja tiba di sana dan di sana sudah banyak sekali orang-orang dan wartawan juga.
"Bener ternyata tempat yang sama buat aku jalanin misi." batin Yuna.
Mereka berdua pun keluar dari mobil dan langsung banyak yang memfoto mereka berdua.
"Wow selamat datang Tuan Darren, terima kasih karena sudah mau datang ke acara saya ini." ucap Tuan Tara si pemilik acara itu dengan di sampingnya istrinya.
"Terima kasih atas sambutannya Tuan Tara." ucap Darren.
"Apa di samping Tuan Darren ini istri Tuan?" tanya Tuan Tara.
Darren yang baru ingin menjawab langsung di serobot oleh Yuna.
"Saya cuman partner nya saja Tuan." ucap Yuna sambil tersenyum manis.
"Oh seperti itu, yasudah silakan menikmati acaranya." ucap Tuan Tara lalu langsung pergi meninggalkan Darren dan Yuna bersama istrinya.
Darren menatap tajam Yuna karena ucapan Yuna tadi.
"Maksud kamu apa itu?" tanya Darren sambil menatap tajam Yuna.
"Aku masih mau hidup aman, secara kamu itu terkenal banget dan pasti kalo denger kamu udah punya istri aku bakalan di kejar wartawan terus belum juga di amuk sama fans fanatik kamu." ucap Yuna yang membayangkan itu saja sudah merinding.
"Siapa yang berani celakain kamu? Kalo sampe ada orang itu bakalan mati di tangan aku." ucap Darren dengan nada dingin.
__ADS_1
"Udah-udah aku ngga mau debat sama kamu di sini, mending kita ke sana aja." ucap Yuna sambil menarik Darren ke tempat yang dirinya tunjuk.