Mistake

Mistake
Ch.26


__ADS_3

Satu-satunya cara untuk keluar dari mimpi buruk adalah bangun. Tapi jika aku tidak bisa bangun, maka mimpi buruknya akan terus berlanjut.


Sayangnya saat aku membuka mata, segalanya menjadi lebih buruk. Kenapa? Karena aku tidak sedang tidur ataupun bermimpi. Itu bukan mimpi buruk, melainkan sebuah kenyataan.


Aku memejamkan kembali mataku, tidak berani membukanya. Karena saat aku membuka mataku dan melihat tempat kejadian itu, bayangan kecelakaan tahun itu menjadi tampak lebih jelas di ingatanku.


Dalam dekapan Kirana, ku cengkeram erat bajunya. Dapat ku rasakan mobil ini kembali bergerak. Aku tidak tahu kemana mereka akan membawaku. Tapi itu tidak masalah selagi bukan di tempat ini.


"Tidak apa, semuanya baik-baik saja," ujar Kirana menenangkan ku seraya membelai kepalaku.


Pasti dia masih mengira aku sedang bermimpi buruk. Apa aku harus menceritakan yang sebenarnya kepada Kirana?


"Semua baik-baik saja," dia masih membisikkan kata itu.


Aku merasa sedikit tenang. Ucapannya seperti sebuah mantra yang menyihir pikiranku. Air mata ku telah berhenti. Tapi sesenggukan ini masih tertinggal, membuat dadaku terasa sakit.


Aku bergumam.


"Aku tidak ingin kembali ke tempat itu lagi.."


"Jangan pernah membawaku kembali ke sana lagi,"


"Iya, tidak. Kita sudah pergi dari sana. Tenangkan dirimu.." tutur Kirana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mobil berhenti. Tapi aku masih tak berani membuka mataku. Aku juga masih belum melepaskan cengkeraman ku pada baju Kirana.


"Sudah tidak apa-apa, kamu bisa membuka matamu.." ujar Kirana.


Perlahan aku membuka mataku. Mungkin karena aku menangis dengan mata terpejam. Saat membukanya, rasanya seperti ada kabut yang menutup mataku.


Buram.


Aku mengucek mata ku untuk memperjelas pengelihatan ku. Ya, kami berada di tempat yang lain. Sebuah cafe outdoor.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Deddy dari tempat duduknya di depan sana.


Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.


"Kirana, tenangkan dia.."


Deddy keluar dari mobil meninggalkan kami berdua.


Aku masih terdiam. Tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Kirana juga diam. Tapi ku yakin dalam hati dia sedang bertanya-tanya. Dia menatapku dengan penuh kekhawatiran.


"Sebenarnya tadi kamu mimpi apa?" Kirana mulai membuka mulut.


Aku hanya menatapnya. Mulutku masih tak mampu untuk menjawab.

__ADS_1


"Tak apa jika kamu tidak ingin cerita, tidak semua hal bisa di ceritakan.." tuturnya.


"Tempat itu~"


Aku menggantung ucapan ku, kemudian memalingkan wajah dan menatap keluar jendela. Ku lihat orang-orang yang berlalu lalang di luar sana. Tempat ini lumayan ramai.


Aku menghela napas panjang.


"Surya meninggal di tempat itu," lanjut ku yang kemudian kembali menatapnya.


Kirana tampak sangat terkejut. Dapat ku lihat matanya mulai berkaca-kaca. Mungkin dia merasakan apa yang sedang ku rasakan.


Melihatnya seperti itu membuatku ingin kembali menangis.


"Kejadian di tahun itu kembali melintasi pikiranku. Semuanya berjalan seperti film," lanjut ku.


"Maaf, aku gak tau, Na. Aku bahkan gak tau kalo kamu pernah tinggal di Kota ini,"


Kirana memelukku.


"Sebenarnya ada apa denganku, Ra?" aku kembali menangis dalam pelukannya.


"Bukankah seharusnya aku senang karena dia telah tiada? Bukankah seharusnya aku bahagia saat orang yang ku benci pergi?"

__ADS_1


Kirana tidak menjawab, dia hanya mengusap punggung ku, menenangkan ku. Jika tidak ada yang memberitahu ku, aku tidak akan tahu jawabannya. Karena diriku sendiri tidak bisa memberi jawaban.


__ADS_2