
"Jadi, kau sudah pernah menikah?" ulang Dara untuk memastikan ucapan ku.
Suasana kembali hening. Aku menceritakan tentang diriku yang sudah menikah, hingga akhirnya cerai mati.
Aku tidak bisa selamanya menyembunyikan hal itu, kan? Karena aku yakin, suatu hari nanti kebenaran pasti akan terungkap. Entah bagaimana caranya.
Melihat reaksi Dara saat ini membuatku berdegup tak karuan. Dia kembali terdiam setelah memastikan ucapan ku.
Mungkinkah dia juga merasa jijik seperti orang-orang? Aku menundukkan kepalaku, dan merasakan betapa buruknya diriku.
"Kau beruntung sekali karena setidaknya kau sudah pernah menikah.."
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Dara, aku langsung mengangkat kepala dengan kagetnya.
"Tahun lalu, aku ditipu oleh calon suami ku, dan pernikahan yang tinggal 5 hari lagi itu gagal," lanjutnya.
"Kau lebih beruntung dariku, jadi jangan merasa bahwa kau yang terburuk.."
"Mereka yang memaki mu seperti itu lah yang rendahan. Jadi jangan dengarkan mereka," lanjutnya.
Tenggorokan ku serasa seperti disumpal. Hidung ku juga mulai terasa perih. Dan, jika sekali saja aku mengedipkan mata, mungkin air mata yang sudah terasa berat di kantung mata ku ini akan jatuh.
Dia memang bukan orang pertama yang mengatakan hal itu. Tapi aku cukup lega, karena ada satu orang lagi yang mempercayai ku.
__ADS_1
Ah, tiba-tiba aku teringat Chris. Mengapa pria asing itu tiba-tiba muncul di pikiran ku? Aku menggerutu dalam hati.
"Terima kasih.." lirihku.
"Jadi kamu tidak perlu merasa buruk akan dirimu sendiri,"
"Benar~"
Ha? Sepertinya kami hanya duduk berdua saja. Tapi darimana munculnya suara itu. Terlebih itu suara pria.
Aku memberanikan diri untuk menoleh. Namun belum sempat aku menoleh, pria di belakang itu sudah berteriak kesakitan.
"Lepasin, ini Saya!"
"Wah, kamu wanita yang lumayan kasar ternyata,"
"Maaf, Dok, Saya kira Anda orang mesum yang ingin mengganggu kami," ucap Dara dengan jujur.
"Apa?!"
Aku menyembunyikan wajahku setelah mengetahui siapa pria itu. Ku rapatkan kupluk hoodie ku, agar wajahku tertutup sempurna. Namun pria itu masih menelisik nya.
"Lun, apa sekarang kau sedang pura-pura tak mengenalku?"
__ADS_1
"Tapi setidaknya kau harus mengembalikan kemejaku, kan?"
Pasti saat ini Dara sedang berpikir yang macam-macam. Aku menyerah dan akhirnya membuka kupluk ku. Dapat kulihat Dara sedang menahan tawanya.
Sungguh, dia benar-benar perempuan yang tak terduga. Ku kira reaksinya akan seperti Kirana waktu itu. Ternyata tidak.
"Anda bisa duduk, Saya akan membeli minuman," ujar Dara yang langsung melesat pergi.
"Dara, kamu mau kemana? tidak tamu tak diundang, tidak perlu repot-repot!" teriakku, namun sudah terlambat karena dia sudah pergi jauh. Dia memiliki fisik yang luar biasa.
"Bagaimana? apa kau sudah mengingat ku?" tanya Chris yang entah sejak kapan sudah duduk di samping ku.
Aku hanya diam tak menjawab. Aku memalingkan wajah menghindari tatapannya. Rasanya cukup canggung untukku yang pernah makan bersama dengannya. Satu hari yang rasanya seperti mimpi.
"Ternyata kau masih memikirkan pandangan orang terhadap mu.." gumamnya.
"Hm?" aku menoleh untuk memastikan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Ku kira kau memberanikan diri pergi kesini karena kau sudah percaya diri, ternyata tidak.."
Mata kami bertemu. Kami saling menatap untuk waktu yang lumayan lama. Hingga sebuah deheman membuatku memutus kontak mataku.
"Sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat.." bisik Dara.
__ADS_1