
Bulan pun cepat berganti, dan hari ini adalah hari pertama Fano dan Frisca masuk ke taman kanak-kanak atau TK.
Fano dan Frisca sangat semangat sekali apa lagi saat membeli alat-alat tulis, mereka terus membeli peralatan yang padahal itu tidak terlalu penting sekali untuk di gunakan.
"Inget pesan Mama, harus nurut sama Ibu guru dan harus ramah sama semua temen-temen paham?" nasihat Yuna, Fano dan Frisca pun langsung mengangguk sambil hormat.
"Dan untuk Fano, jagain Adik kamu ya." ucap Yuna.
"Siap Ma!"
"Oke kalian boleh masuk," ucap Yuna.
Fano dan Frisca pun langsung mengecup pipi Yuna dan Darren bergantian.
"Dadah Mama, Papa!" ucap Fano dan Frisca dengan semangatnya sambil masuk ke dalam ke sekolahan.
Yuna yang melihat kedua anaknya seperti ingin menangis, apa lagi melihat Fano yang sudah mulai menjalankan harinya untuk bersekolah.
"Ngga nyangka aku ternyata anak-anak udah cepet besar ya," ucap Yuna sambil menatap Darren yang ada di sampingnya.
"Karena mereka juga sedikit demi sedikit mulai berkembang, dan inget kamu juga jangan terlalu manjain mereka." ucap Darren menasehati Yuna.
"Ya sesekali nggapapa dong Darren,"
"Kamu tuh ngga sesekali sayang, malah setiap hari kamu manjain anak-anak," ucap Darren.
"masa sih?" ucap Yuna sambil terkekeh.
"Emang iya," ucap Darren sambil menyentil kening Yuna.
"Karena anak-anak juga udah masuk, kamu anterin aku ke toko ya kaya biasanya," ucap Yuna.
"Kamu ngga perlu lah ke toko kan udah ada 2 pegawai kamu itu," ucap Darren.
"Ngga bisa dong Darrenku, kasian mereka tuh juga pasti cape karena sambil kuliah."
"Yaudah cari yang lain," ucap Darren enteng dan langsung mendapatkan pukulan di lengannya.
"Kalo ngomong sembarangan banget sih! Udah ah ayo anter aku," ucap Yuna sambil menarik Darren masuk ke dalam mobil.
Mobil pun berjalan meninggalkan taman kanak-kanak. Tanpa di sadari sebenarnya sedari tadi sudah ada yang mengintai mereka.
"Bos mereka sudah pergi." ucap seseorang misterius itu.
"Bagus, pantau terus anak-anak mereka dan culik salah satunya."
__ADS_1
"Baik bos."
...~~~...
Hari ini Toko Yuna sangat sepi tidak seperti biasanya, hanya 1 atau 2 pelanggan saja yang datang ke tokonya.
"Hm...Kok ini sepi banget ya kak," ucap Silla lesu.
"Mungkin nanti siang rame," jawab Yuna.
Tring.
Bunyi lonceng dari pintu, mereka bertiga yang sedang duduk langsung bangkit dan menyambutnya. Namun saat Yuna melihat siapa yang datang, senyumnya langsung luntur.
"Oh jadi ini toko kamu," ucap orang itu sambil membuka kacamata hitamnya dan ternyata orang itu adalah Diana.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Yuna dingin.
"Cih, jadi ini perlakuan seorang penjual ke konsumennya? Ngga ramah banger sih," ucap Diana memandang Yuna sinis.
"Maaf ya Nona atas sikap saya, silakan Nona bisa pilih ingin membeli kue yang mana." ucap Yuna dengan tersenyum paksa.
Silla dan Syifa hanya bisa diam saja melihat bosnya dan pembeli ini seperti sedang ingin adu cekcok.
"Fa kita kita harus gimana?" bisik Silla ke Syifa.
"Semoga ngga ada tragedi jambak menjambak ya," ucap Silla yang sudah membayangkan jika itu terjadi.
"Seru nih kalo sampe kaya La,"
"Bapak kau seru!" ucap Silla sambil mencubit lengan Syifa membuat Syifa meringis kesakitan.
"Kalo Nona tidak ada yang mau di pesan di persilakkan untuk pergi dari sini, karena kamu sedang sibuk Nona." ucap Yuna dengan senyum yang masih tercetak jelas di wajahnya.
Diana yang mendengarkan itu menatap sinis Yuna, lalu tersenyum smirk sambil membisikan sesuatu.
"Jaga anak-anak kamu ya, siapa tau sewaktu-waktu anak kamu ada yang ilang satu." bisik Diana lalu selepas itu langsung pergi keluar.
Yuna yang mendengarkan bisikan Diana langsung mengepalkan tangannya dan menatap tajam Diana yang sudah keluar dari toko.
"Beraninya dia mau nyentuh anak aku." batin Yuna emosi.
"Silla, Syifa kalian jaga toko ya." ucap Yuna lalu langsung bergegas keluar dari toko.
Setibanya di luar Yuna langsung memberhentikan taxi dan langsung buru-buru masuk ke dalam.
__ADS_1
Sedangkan di tempat yang tidak terjauh Diana yang melihat itu langsung tersenyum licik karena rencananya berjalan dengan lancar.
Tidak membutuhkan waktu lama Yuna sudah tiba di taman kanak-kanak bertepatan dengan jam pulang mereka.
"MAMA!" teriak Fano dan Frisca dengan semangatnya sambil berlari ke arah Yuna.
Yuna yang melihat kedua anaknya tidak kenapa-napa tersenyum lega.
"Gimana hari pertama sekolahnya?" tanya Yuna sambil mengelus-elus rambut Fano dan Frisca lembut.
"Selu Ma banyak temen-temen!" ucap Frisca dengan semangat membuat Yuna tersenyum gemas.
"Biasa aja." ucap Fano seadanya, Yuna yang mendengarkan itu bingung.
"Anak Mama yang satu ini kenapa hm?" tanya Yuna yang melihat Fano seperti tidak semangat seperti tadi pagi.
"Fano sebel!" ucap Fano yang semakin membuat Yuna kebingungan.
"Oke-oke ceritanya nanti aja, sekarang mau pulang dulu ya." ucap Yuna menggandeng Fano dana Frisca.
"Ma ke kantor Papa dulu ya," ucap Fano ketika sudah masuk ke dalam taxi.
"Kalian emang ngga cape habis sekolah? Langsung pulang aja ya,"
"Ngga Ma, Fano mau ngomong sama Papa ini soal Laki-laki Mama sama Adik ngga boleh tau." ucap Fano dengan serius.
"Oke-oke Mama ngga akan tanya kenapa," ucap Yuna sambil terkekeh.
Perjalanan ke perusahaan Darren sedikit lama di karenakan agak macet hari ini, dan ada perbaikan jalan juga di depan.
Setibanya di perusahaan Darren, Fano langsung buru-buru masuk dan berlari meninggalkan Yuna dan Frisca.
Saat Yuna dan Frisca masuk ke dalam perusahaan, banyak yang menyapa mereka berdua dengan sopan Yuna pun membalas dengan tak kalah ramahnya. Mereka berdua pun sudah sampai di dekat ruangan Darren namun Yuna bingung mendengar Fano yang sedang berteriak seperti sedang marah-marah, di sana juga ada Naura dan deny di depan pintu.
Yuna pun langsung berlari dan buru-buru membuka pintu dan saat sudah membuka Yuna paham kenapa Fano sangat marah. Di sana ada Diana yang tampilannya sudah acak-acakan seperti habis melakukan hal yang senonor bersama Darren. Darren yang melihat Yuna datang langsung panik dan menghampiri Yuna.
"Sayang tolong dengerin penjelasan aku dulu ya,", ucap Darren sambil memegang lengan Yuna dan wajahnya benar-benar sangat panik.
Yuna hanya memandang Darren dingin lalu menatap sinis Diana, sedangkan Diana langsung tersenyum smirk.
"Fano ayo kita pulang." ucap Yuna sambil menggandeng lengan Fano dan Yuna keluar.
Darren yang ingin menyusul langsung di tahan oleh Diana.
"Kamu mau kemana? Kita ngga mau lanjutin yang tadi?" ucap Diana dengan nada menggoda.
__ADS_1
Darren langsung mendorong Diana kasar hingga jatuh ke lantai dan pergi meninggalkan Diana sendirian di sana.
"Akhirnya rencana aku berhasil juga," ucap Diana dengan senyum liciknya.