Mistake

Mistake
Ch.31


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Aku berdiri di hadapan cermin dengan seragam kerja ku. Bangga, tentu saja. Ini adalah pekerjaan pertamaku.


Rambut pendekku ku kuncir sebisanya. Tak lupa makeup tipis ku aplikasikan di wajahku.


Aku menghela napas panjang.


"Semoga hari ini semuanya lancar.." gumam ku.


Ku raih tas ransel kecilku di kursi, lalu bergegas keluar. Aku tidak sabar untuk mengerjakan tugas pertamaku.


Saat menutup kembali pintu kamarku, di sebelah sana seseorang juga sedang melakukan hal yang sama.


"Dara~" panggilku.


Orang yang ku panggil namanya itu menoleh dan tersenyum tipis, kemudian berjalan ke arah ku.


Aku mengerutkan keningku setelah melihat penampilan rapi Dara. Seragamnya pun sama denganku.


"Kamu juga bekerja di Rumah Sakit itu?" lirihku.


Dara mengangguk, sambil tersenyum.


"Ah, takdir macam apa ini.. senang banget satu tempat kerja sama kamu," ucapku.


brak!


Dan suara gebrakan pintu yang lumayan keras itu membuatku dan Dara terlonjak, lalu menoleh ke sumber suara.


"Maaf, aku menutupnya terlalu keras," ujar Kirana.


Aku sempat tercengang beberapa saat. Kemudian mengangguk pelan untuk menanggapi Kirana. Sepertinya ada yang tidak beres dengannya. Raut wajahnya tidak terlihat seperti biasanya.

__ADS_1


Saat berbalik aku tidak sengaja melihat Dara yang sedang menatap Kirana. Aku tidak tahu seperti apa untuk menjelaskannya. Aku tidak bisa mendeskripsikan tatapannya.


Dalam hati aku hanya berharap, semoga dua orang itu tidak ada masalah pribadi yang mereka pendam.


...****************...


Sampainya di Rumah Sakit kami langsung menuju tempat kerja kami masing-masing. Beruntungnya lagi, aku dan Dara berada di bagian yang sama, juru masak. Penempatan kami juga sama, di dapur kantin.


Karena sudah sering melakukannya waktu masih tinggal di rumah Om, rasanya tidak kaget lagi saat dikejar oleh waktu.


Masakan yang ku buat selesai tepat waktu. Beberapa menit kemudian kantin dipenuhi oleh para pegawai Rumah Sakit.


"Kamu terlihat cukup hebat dengan pekerjaan pertamamu," bisik Dara.


"Sebelumnya kamu bekerja dimana?" lanjut tanyanya.


"Ini pekerjaan pertamaku setelah lulus kuliah 2 tahun yang lalu," jawabku sedikit berbisik.


Dara terlihat kaget.


"Wah, hebat sekali. Kamu sangat cekatan, jadi ku kira kamu sudah mempunyai banyak pengalaman sebelumnya,"


Aku tersipu malu mendengar pujian Dara. Aku tersenyum tipis sambil menyentuh kedua pipi ku.


"Tumis dagingnya sangat enak hari ini, saya mau menambah lagi. Tolong tambahkan sedikit lebih banyak.."


Sontak aku menoleh pada seseorang yang secara tidak langsung memuji masakan ku itu.


"Ini masakan juri masak baru kita," jawab Bibi Jum, orang yang melayani makanan.


"Benarkah? ini benar-benar sangat enak,"

__ADS_1


Mendengar suaranya saja sudah dapat ditebak kalau orang itu sangatlah ramah. Mendengar keramahannya membuatku mengingat seseorang.


"Wah, siapa ini?"


"Itu orangnya, koki baru kami. Namanya Luna," ujar Bibi Jum.


deg~


Seketika tubuhku membeku. Mataku juga terpaku pada sosok yang berdiri di hadapanku. Mulutku pun ikut membisu.


"Luna, ya.."


"Apa kabar, Luna?"


"Luna!"


Suara itu membuatku kembali tersadar. Kirana datang menghampiri ku.


"Giman~"


"Oh, Dokter Chris?"


Kirana langsung teralihkan oleh sosok Chris.


"Saya belum sempat berterima kasih kemarin.." ucap Kirana sok kenal.


Chris tampak bingung dan mengerutkan keningnya.


"Kemarin?" Chris bertanya balik.


"Yang jatuh kemarin,"

__ADS_1


Syukurlah, kehadiran Kirana membuat Chris teralihkan. Aku pun mulai mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri.


Jangan sampai Kirana tahu kalau sebenarnya aku mengenal Chris. Aku mempunyai firasat buruk kalau seandainya dia tahu akan hal itu.


__ADS_2