Mistake

Mistake
20. Maaf sayang


__ADS_3

"kamu bilang apa barusan?" ucap Darren dengan suara dinginnya dan menatap tajam Yuna.


"Aku bilang kalo kamu kaya gini terus aku mau cerai! Kenapa ngga suka?" ucap Yuna yang sudah benar-benar emosi.


Darren menarik lengan Yuna dengan kasar membuat tubuh Yuna tersentak maju ke depan.


"Sekali lagi kamu ucapin kata cerai, kamu ngga akan hidup nyaman lagi setelah itu." ucap Darren sambil mempererat cekalan tangannya di lengan Yuna membuat Yuna meringis kesakitan tanpa sadar air mata Yuna menetep.


"stttt...Sakit Darren," rintih Yuna.


Darren yang baru tersadar akan hal yang dirinya lakukan pun langsung melepas cekalan itu, terlihat jelas lengan Yuna yang sangat merah membuat Darren yang melihat itu merasa menyesal.


"Sayang maaf," ucap Darren sambil menarik Yuna ke dalam pelukannya.


Tangisan Yuna pun akhirnya pecah saat dirinya di peluk oleh Darren.


"Kamu jahat Darren aku benci kamu!" ucap Yuna sambil terus memukul-mukuli dada bidang Darren.


"Maaf sayang aku ngga bisa kontrol emosi aku tadi," ucap Darren yang benar-benar merasa bersalah sekali.


"Aku benci kamu Darren!"


"Maaf sayang maaf, jangan pernah benci aku atau bilang kita harus cerai karena aku ngga suka itu," ucap Darren sambil mempererat pelukannya itu.


Lama mereka berdua berpelukan dan Yuna menangis, akhirnya mereka berdua pun sudah sama baik-baik saja dan sekarang mereka sedang berjalan menuju pulang ke rumah dengan Yuna yang sudah tertidur akibat Yuna yang menangis terlalu lama.


Setibanya di rumah Darren langsung menggendong Yuna dan membawanya ke kamar dengan hati-hati karena takut membangunkan Yuna yang sedang tertidur pulas.


"Tuan, Nyonya kenapa?" tanya Hans yang khawatir karena Nyonya nya tiba-tiba di gendong dan juga lengannya merah.


"Cuman kelelahan aja." jawab Denny.


"Huft syukurlah," ucap Hans merasa lega karena Nyonya nya tidak kenapa-napa.


"Hans tolong kasih tau Deny bawa anak-anak pulang sekarang."


"Baik Tuan." ucap Hans.


Darren pun masuk kembali ke dalam kamar dan melihat Yuna yang sedang tertidur pulas di atas ranjang, Darren pun menghampiri Yuna dan mengelus lengan Yuna yang merah akibatnya tadi itu dengan lembut.


"Sayang maaf gara-gara aku kamu jadi kaya gini," ucap Darren sambil terus mengelus membuat Yuna menggeliat dan sedikit demi sedikit matanya terbuka.


"Darren?" panggil Yuna yang suaranya sedikit serak.


"Kamu tidur lagi aja ya, aku mau obatin tangan kamu itu." ucap Darren sambil mengecup kening Yuna dan Yuna pun hanya mengangguk lalu kembali tidur.


...~~~...

__ADS_1


Sore pun tiba, dan Yuna baru saja bangun dari tidurnya. Yuna langsung melihat lengan kanannya di perban padahal seingatnya lukanya tidak terlalu parah hanya merah saja.


Yuna pun bangkit dari tidurannya dan berjalan keluar dari kamar.


"Fina yang lain pada kemana ya?" tanya Yuna ke salah satu pelayan di situ yang sedang mengelap-elap.


"Sedang di dapur Nyonya," ucap Fina dengan sopannya.


"Dapur? Oke makasih ya Fin," ucap Yuna lalu langsung pergi berjalan ke arah dapur.


Setibanya di dapur, Yuna langsung terdiam sesaat di karenakan dapur yang sangat berantakan alat-alat dapur juga berserakan di mana-mana begitu pula dengan tepung yang menghiasi wajah Darren dan anak-anaknya itu.


"KENAPA BERANTAKAN KAYA GINI!" teriak Yuna menghampiri mereka yang tadinya sedang asik bercanda menjadi terdiam.


"Kalian tau ngga si dapur itu harus bersih biar higienis? Ini kenapa malah berantakan banget!" ucap Yuna marah.


"Sayang kamu udah bangun?" tanya Darren sambil menghampiri Yuna.


Yuna langsung menatap tajam Darren yang wajahnya itu sudah cemong karena tepungnya.


"Kamu tuh ngapain sih sama anak-anak berantakin dapur," ucap Yuna sambil mengelap wajah cemong Darren menggunakan jarinya.


"Heheheh aku niatnya mau bikin surprise buat kamu sayang tapi ternyata kamunya udah bangun," ucap Darren sambil tersenyum manis ke Yuna.


"Surprise buat aku?" tanya Yuna dan Darren pun mengangguk.


"Papa mau bikin surprise buat Mama dalam rangka mau minta maaf karena Papa udah jahat sama Mama tadi." ucap Fano.


"Maaf ya sayang masalah tadi," ucap Darren dengan penuh penyesalan.


Yuna yang mendengarkan itu langsung tersenyum dan mengelus pipi Darren.


"Aku juga minta maaf karena keras kepala dan ngebantah kamu," ucap Yuna yang juga menyesal. Darren pun menarik Yuna ke dalam pelukan hangatnya itu.


"Papa kita belum selesai loh bikin kue buat Mama," ucap Fano ketika melihat kedua orang tuanya ini malah bermesraan.


"Gimana kalo Mama bantuin?" ucap Yuna sambil melepas pelukannya.


"Boleh Ma boleh, biar keliatan kalo kelualga kita itu harmonis tanpa pecah-pecahan." ucap Frisca dengan semangatnya.


Akhirnya mereka pun langsung melanjutkan membuat kue dengan rusuhnya membuat dapur yang sudah berantakan menjadi makin berantakan.


...~~~...


Hari pun terus berganti dan sekarang Yuna dengan kedua anaknya tanpa ada Darren sedang berjalan-jalan di mall karena Frisca yang memaksa ingin bermain timezone.


"Udah mainnya?" tanya Yuna ketika melihat anaknya yang menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Udah Ma," jawab Fano dan Frisca bersamaan.


"Sekarang kita makan ya udah waktunya buat kalian makan siang," ucap Yuna sambil menggandeng Fano dan Frisca.


Mereka bertiga berjalan ke sebuah salah satu restoran yang ada di mall itu. Ketika ingin masuk tiba-tiba ada yang menabraknya membuat si penabrak terjatuh.


"Aduh kalo jalan tuh pake mata dong!" marah si penabrak itu.


"Maaf Mba saya ngga sengaja." ucap Yuna sambil mengulurkan tangannya namun langsung di tepis oleh orang itu.


"Yuna?" ucap orang itu yang kaget ketika melihat siapa orang yang telah menabraknya.


"Diana?" ucap Yuna yang kaget karena di depannya ini adalah saudara tirinya yang sudah menjebak 6 tahun yang lalu.


"Berani juga ya kamu nampakin wajah di kota ini lagi," ucap Diana sambil memandang remeh Yuna.


"Kenapa harus takut? Aku ngga ngelanggar apa-apa tuh di kota ini." jawab Yuna.


Diana langsung berdecih mendengar ucapan Yuna, mata Diana langsung tertuju ke Frisca dan menatap bingung.


"Bukannya anak perempuan Yuna udah aku buang? Kenapa dia ada di sini?" batin Diana yang bingung.


"Oh kamu punya 2 anak haram? Yang satu sama siapa lagi tuh," ucap Diana yang masih memandang Yuna remeh.


Yuna yang mendengarkan anaknya di maki seperti itu langsung menampar Diana.


Plak.


Bunyi tamparan yang kencang membuat pengunjung mall yang melihat itu langsung berhenti.


"Kamu boleh ngatain aku apa pun yang kamu mau, tapi jangan pernah sekali pun kamu ngatain anak-anak aku!" ucap Yuna yang sudah kesal dan marah.


"Dasar wanita rendahan, aku bakalan kasih tau Ayah soal ini!" ucap Diana lalu pergi meninggalkan Yuna sambil memegang pipinya yang sehabis di tampar itu.


Yuna yang melihat Diana sudah pergi pun langsung bernafas lega, lalu langsung mensejajarkan dirinya dengan kedua anaknya.


"Sayang maaf ya Mama tadi udah emosi," ucap Yuna sambil mengelus kepala Fano dan Frisca.


"Nggapapa Ma, Mama kelen halusnya jambak juga Ma bial tuh tante badut tau lasa." ucap Frisca membuat Yuna terkekeh.


"Ngga boleh sayang, walaupun kaya gitu dia saudara Mama."


"Yaudah yuk sekarang kita masuk aja kalian pasti udah laper banget." ucap Yuna sambil menggandeng Fano dan Frisca masuk ke dalam restoran.


Di lain tempat yaitu di perusahaan WM GRUP.


"Pak direktur saya ingin memberitahu jika Nyonya di ganggu oleh orang lain saat di mall tadi." ucap Deny melapor.

__ADS_1


Darren yang mendengar itu rahangnya langsung mengeras dan emosinya juga sudah bangkit.


"Cari informasi bedebah." ucap Darren dingin dan Deny pun mengangguk.


__ADS_2