Mistake

Mistake
23. Takut


__ADS_3

Setelah pingsan di karenakan di suntik bius, mata Yuna perlahan terbuka dan dirinya kaget karena sudah di ikat dengan mulut yang di lakban juga.


"Sial!" batin Yuna.


"Bos dia udah bangun," ucap seorang preman sambil menelepon seseorang dan menghampiri Yuna.


Yuna menatap tajam preman itu ketika tangan preman itu berani-beraninya menyentuh pipi Yuna.


"Jangan galak-galak dong cantik," ucap preman itu sambil tersenyum mesum.


"DARREN TOLONG AKU!" batin Yuna berteriak.


Yuna terus meronta-ronta untuk minta di lepasi ikatan dan lakbannya itu.


Ceklek.


Pintu gudang itu terbuka dan nampaklah Daffa dan Diana. Yuna yang melihat keduanya langsung menatap tajam sambil memaki di dalam hatinya.


"Sialan! Dasar keluarga tidak tahu diri, berani-beraninya bermain kotor kaya gini." batin Yuna kesal.


"Ternyata gampang juga ya culik kamu," ucap Diana sambil tersenyum licik.


Diana pun menghampiri Yuna dan membuka lakban yang menutupi mulut Yuna.


"Ngapain kamu kembali ke kota ini?" tanya Daffa dingin.


"Kenapa ngga boleh? Saya ingat kan lagi ya Tuan Daffa, saya lahir di kota ini jadi wajar jika saya kembali ke kampung halaman saya." ucap Yuna dengan dingin juga.


"Kamu itu sudah mencemari nama baik keluarga, dan tidak tahu dirinya kamu malah baik lagi ke kota ini." ucap Daffa marah.


"Kalau anda mencari faktanya mungkin anda akan menyesal!" ucap Yuna dengan sedikit membentak.


Plak.


"Ngga usah ngebentak Ayah aku!" ucap Diana sambil menampar Yuna.


Yuna yang di tampar hanya tersenyum smirk.


"Cih dasar wanita kotor! Kamu ngga pantas bersanding sama Tuan Darren, yang pantas itu aku." ucap Diana.


"Kalau aku wanita kotor, lantas kamu apa? Jangan berfikir aku ngga tau kamu orang seperti apa." ucap Yuna tersenyum licik ke arah Diana.


Diana yang mendengarkan itu langsung marah dan menampar Yuna lagi dengan kencang.


"Ngga usah banyak bicara kamu!" ucap Diana kesal.


Diana pun memanggil preman itu lagi lalu langsung membisikan sesuatu, bisa di lihat preman itu tersenyum senang.

__ADS_1


"Udah yuk Yah kita tinggalin aja wanita rendahan ini," ucap Diana menggadeng Daffa untuk keluar.


Daffa dan Dian pun langsung keluar dari gudang itu menyisakan Yuna dengan ke 4 preman yang tadi menculiknya.


"Bos bilang kita boleh ngapa-ngapain kamu Nona," ucap Preman itu sambil tersenyum mesum.


4 preman itu menghampiri Yuna dan mengelus pipi, tangan, dan kaki Yuna. Yuna bingung harus berbuat apa, dirinya tiba bisa apa-apa dan hanya bisa berteriak meminta tolong karena sedang di lecehkan.


"Diam Nona ngga akan ada yang bisa nolongin Nona sekarang, lebih baik Nona menikmatinya saja." ucap salah satu preman itu yang wajah sudah mendekati Yuna.


"Darren aku mohon kamu dateng!" batin Yuna yang terus berharap Darren datang dan menolongnya.


Brak.


Pintu di dobrak membuat 4 preman itu kaget dan Yuna pun juga kaget. Nampaklah Darren dengan beberapa bodyguard nya masuk.


"Siapa kalian?" tanya salah satu preman.


Darren tidak menjawab melainkan langsung meninju preman itu hingga pingsan.


"Bereskan." ucap Darren menyuruh ke semua bodyguardnya untuk menghajar preman-preman itu.


Darren menghampiri Yuna yang sudah menangis dengan tangan dan kakinya di ikat. Setelah melepas semua ikatannya Yuna langsung memeluk Darren dengan kencang dan sambil menangis.


"Aku takut..." ucap Yuna yang terus saja menangis.


Yuna pun langsung di gendong oleh Darren dan berjalan keluar gudang. Sesampainya di mobil Yuna masih saja menangis karena kejadian tadi, bukan karena tamparan Diana namun karena dirinya di lecehkan oleh orang yang tidak di kenal.


"Sayang udah ya jangan nangis lagi," ucap Darren menenangkan Yuna namun Yuna masih saja tetap menangis.


"Mereka...Mereka udah sentuh aku Darren, mereka jahat..." ucap Yuna.


Darren yang mendengarkan Yuna yang terus menangis benar-benar tidak tegas dan sangat marah.


Setibanya di rumah, Darren langsung membawa Yuna ke dalam kamar menghiraukan anak-anaknya yang terus saja bertanya.


Brak.


Pintu di tutup dengan kencang oleh Darren dan menguncinya, Fano dan Frisca yang di kunci dari luar nambah panik.


"Kak Mama kenapa?" tanya Frisca ke Fano yang benar-benar panik.


"Kakak juga ngga tau Adik, kita berdoa aja ya semoga Mama ngga kenapa-napa." ucap Fano sambil memeluk Frisca agar tetap tenang.


Di dalam kamar, Darren langsung menurunkan Yuna namun masih tetap tidak ingin melepas Darren sama sekali dan tetap menangis.


"Sayang udah dong jangan nangis terus ya, nanti kamu cape terus mata kamu bisa bengkak." ucap Darren sambil menangkup wajah Yuna.

__ADS_1


Bisa di lihat mata dan hidung Yuna sudah memerah akibat terlalu lama menangis.


"Aku takut Ren...Mereka...Mereka udah sentuh-sentuh aku..." ucap Yuna.


Darren takut jika Yuna sudah begini, dirinya benar-benar sangat takut jika Yuna akan trauma soal masalah ini.


"Yang mana yang mereka sentuh?" tanya Darren dan Yuna pun langsung menunjuk bagian yang di sentuh oleh preman itu.


Darren yang melihat Yuna menunjukan bagian-bagian yang di sentuh benar-benar sangat marah.


"Sial beraninya mereka menyentuh tubuh Yuna!" batin Darren.


Darren pun langsung mengecup bagian-bagian yang Yuna tunjuk, Yuna hanya diam saja tanpa kata.


"Udah aku ilangin, sekarang kamu tenang dan jangan takut lagi ya ada aku di sini." ucap Darren sambil mengecup kening Yuna dengan lembut.


"Makasih ya," ucap Yuna sambil memeluk erat Darren.


"Ini udah kewajiban aku sebagai suami kamu sayang," ucap Darren dan Yuna pun semakin memeluk erat Yuna.


"Sekarang kamu tidur istirahat ya." ucap Darren sambil melonggarkan pelukannya dan Yuna pun mengangguk.


Setelah di rasa Yuna tertidur pulas, Darren langsung keluar dan menghampiri anak-anaknya karena dirinya mencuekinya


"Papa, Mama kenapa?" tanya Fano yang langsung menghampiri Darren ketika Darren sudah keluar dari kamarnya.


"Mama cuman kecapean aja, sekarang Mama lagi istirahat." jawab Darren sambil mensejajarkan dirinya dengan Fano dan Frisca.


"Tapi tadi Flisca liat Mama kok nangis?" ucap Frisca.


"Papa tadi jailin Mama sampe nangis gitu," ucap Darren sambil terkekeh membuat Fano dan Frisca marah.


"Papa jangan jailin Mama lagi ya! Kalo sampe jailin Mama lagi, terus Mama nangis lagi Fano bakalan pukul Papa." ucap Fano dengan wajah serius, Darren yang mendengarkan itu langsung terkekeh dan mengacak-acak rambut Fano.


"Anak Papa yang satu ini pemberani juga ya," ucap Darren.


"Harus Pa." ucap Fano dengan bangganya.


"Yaudah sekarang kita turun ya jangan ganggu Mama yang lagi istirahat," ucap Darren sambil menggendong Fano dan Frisca.


Di sisi lain yaitu di rumah besar milik daffa.


Brak.


"ARGHHH KENAPA DARREN BISA TAU KALO YUNA LAGI DI CULIK!" teriak Diana sambil melempar barang-barangnya.


Kamar Diana sangat kacau saat ini, setelah dirinya di infokan jika Yuna lolos Diana langsung kesal dan marah.

__ADS_1


"Liat aja Yuna aku bakalan singkirin kamu." ucap Diana dengan penuh emosinya.


__ADS_2