Mistake

Mistake
Ch.33


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak aku mulai bekerja di rumah sakit itu. Hari-hari itu ku lewati bukan dengan Kirana, tapi dengan Dara.


Ku rasa Kirana mulai berubah. Dia yang biasanya memakai riasan tipis, sejak hari itu dia memakai riasan yang cukup kentara.


Dia juga tidak menungguku. Dia berangkat sendiri meskipun aku telah menunggunya di depan pintu kamarnya. Dia tidak memberi alasan yang jelas setiap kali aku bertanya.


Dan, pria itu. Aku berhasil menghindari bertemu dengannya selama seminggu itu. Tapi, apakah itu bisa bertahan lama?


"Lun, jangan ngelamun, nanti kesandung!" tutur Dara.


Aku hanya menoleh dan menjawabnya dengan anggukan dan senyuman tipis. Dara benar-benar wanita yang baik. Setiap bersamanya aku merasa diperlakukan seperti seorang adik. Dia sangat menjagaku.


Melihat Kirana yang semakin hari semakin berubah itu, sebuah pikiran buruk tiba-tiba saja menghampiriku.


'Jika suatu hari dia pergi dari sisiku, mungkin aku tidak akan menyesal.'


Ada 2 alasan mengapa Tuhan memisahkan kita dengan seseorang yang ada disisi kita. Pertama, karena Tuhan ingin menyadarkan kita betapa berharganya orang tersebut. Kedua, karena Tuhan ingin menunjukkan kalau orang tersebut tidak baik untuk kita.


Aku menatap Dara yang berjalan di sampingku. Aku tidak mudah percaya pada orang lain, tapi kurasa aku bisa mempercayainya.


...****************...

__ADS_1


Sudah hampir jam 9 malam, dan sudah hampir 1 jam pula Kirana tak membalas pesanku. Apa aku ada berbuat salah dengannya?


^^^'Kak, mau keluar cari camilan malam?'^^^


Aku mengirim pesan pada Dara. Rasanya tidak adil kalau aku tidak memberitahunya tentang diriku yang sebenarnya.


5 menit, hingga 10 menit berlalu, namun tidak ada balasan. Dia juga tidak membuka pesanku. Mungkinkah dia sudah tidur?


ting tong~


Segera aku menghampiri pintu yang ada di sebelah sana dan melihat siapa yang datang. Aku membukanya setelah wajah tak asing itu terlihat.


"Kakak?"


Dara tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan.


"Ayo.." ujarnya.


Aku memiringkan kepala ku bingung. Dia menjawabnya secara langsung, sungguh konyol. Aku tertawa kecil kemudian berlari dan meraih jaket ku yang tergeletak di ruang tamu.


"Ayo," ujar ku.

__ADS_1


Seperti biasa kami berjalan kaki sambil menikmati udara malam hari yang menyenangkan otak dan melepaskan penat.


Saat berjalan bersama Dara, aku merasa seperti adiknya. Tidak hanya karena tingginya yang melebihi ku, tapi juga karena tingkahku yang terkadang seperti bocah.


Sudah lama sejak aku bisa mengekspresikan diriku dengan bebas. Tapi, meski begitu aku masih saja merasakan kesedihan yang tak tahu jelas penyebabnya.


Beberapa hari yang lalu, aku masih berpikir kalau Kirana satu-satunya orang yang akan ada di sampingku, dan tidak akan pernah meninggalkan ku.


Namun, siapa yang sangka, secepat itu posisinya tergantikan. Secepat itu juga dia berpaling. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berubah.


Apa karena Chris? Tapi apa hubungannya dengan itu?


"Kau sedang memikirkan Kirana?" tanya Dara yang kebetulan tepat sasaran.


Apa sejelas itukah aku? Atau dia bisa membaca pikiranku? Tidak. Kurasa dia memang tipe orang yang peka.


"Hmm~" aku mengangguk.


"Dia orang yang sulit untuk di tebak.." gumamnya.


Aku menatapnya sekilas, lalu berpaling dan kembali menatap keramaian di depan sana.

__ADS_1


Dulu, aku selalu bisa membaca apa yang dipikirkan Kirana hanya dengan menatap matanya. Tapi sekarang, semuanya telah berubah.


Mungkin karena aku terlalu lama terpisah dari nya. Atau mungkin karena alasan yang lain. Aku tidak tahu itu.


__ADS_2