Musuh Seluruh Mahluk

Musuh Seluruh Mahluk
part 40


__ADS_3

~akhir dari pertarungan yang mengandung aib.~


*******


"Mustahil, dia mampu menghadapi raksasa inti sekaligus" ujar Vullando dengan mata yang terus melototi proyeksi, Goeon juga tak kalah melototnya dibandingkan Vullando, baru kali ini mereka melihat sosok yang mampu berhadapan secara imbang melawan para raksasa inti Guoltom.


***********


"Padahal kau harus menutupi semua kekuranganmu, jika kau terlalu fokus pada satu bidang saja maka tidak akan cukup melawan lawan yang lebih kuat"


"Lawan yang lebih kuat, ah 30 raksasa inti ya, aku mendambakannya sih, tapi aku yakin bisa mengalahkan sainganku dengan mengandalkan serangan dan kecepatan, dan mampu mehancurkan ketahanan tubuh mereka yang kuat hahahahahahaha”


"Terserah padamu, jangan sampai suatu saat nanti kau berhadapan dengan sosok yang membuatmu menyesal karena membuat segala latihanmu sia-sia"


"Tentu saja tidak akan terjadi, karena aku ini adalah sosok yang kuat, ingatlah, itu tidak akan terjadi,"


*******


"Benar, semua latihanku selama ini tidaklah sia-sia, apa-apaan ini. Padahal seharusnya aku mendambakan sosok seperti monyet itu, ketahananya begitu tangguh, serangannya begitu kuat dan brutal. Seharusnya aku senang, karena selama ini, sosok yang kuhadapi hanyalah itu-itu saja dan selalu berakhir dengan kekalahan, aku sudah bosan" ujar Jovanka menatap tajam Vesilestas.


Jovanka berlari menuju palunya, setelah mengambilnya, dia berputar dengan cepat lalu melemparkan palunya ke arah Vesilestas.


"Meniru serangan lawanmu, apa kau sosok amatiran yang sombong?" Ledek Vesilestas sambil menatap arah serangan lawannya.


Vesilestas menghindar dari palu tersebut, sambil melirik ke arah Jovanka, karena tidak berhasil, Jovanka terus mengulangi pola serangan yang sama seperti tadi.


Hingga dia mendapatkan waktu yang tepat, pada akhirnya tinjuan mendarat ke wajah Vesilestas. Tetapi palunya juga ikut mengenai Vesilestas dari arah lainnya juga, sehingga Jovanka tetap terus mengulangi serangan yang sama dan terus berhasil mengenai Vesilestas.

__ADS_1


Vesilestas pun mencoba menangkap lemparan palu yang baru di layanglan Jovanka, tetapi naas, dia malah tertarik oleh gagang palu yang enggan berhenti melayang sehingga Vesilestas terus berputar-putar.


Jovanka mengeluarkan serangan berubi-tubinya, kali ini dia menyerang Vesilestas dengan semua tenaga yang di keluarkannya. Vesilestas yang melepaskan gagang palu tadi turut mengenai hantaman ujung palu tersebut, hingga dirinya kehilangan keseimbangan.


Serangan pun di akhiri dengan Jovanka meraih palu dengan cepat dan menyerang Vesilestas hingga terlempar ke tanah dengan kuat.


"Mencoba merebut senjataku, asal kau tau, senjata ini hanya tunduk kepada kami, mereka tidak akan melukai kami, dan juga tidak akan mau di kendalikan oleh orang yang bukan pemiliknya sendiri" ujar Jovanka tersenyum puas.


”rasanya seperti sering melihatnya, itu juga sama metode yang dimiliki pasukan malaikat, tetapi masih memiliki perbedaan yang jauh" guman Vesilestas.


Vesilestas pun kembali menyerang, kali ini dia berhasil megagalkan pola serangan dari Jovanka.


Setelah 8 kali melayangkan serangan, lalu diakhiri dengan tendangan lutut ke perut dan berhasil mengenainya, Vesilestas pun mengakhiri dengan upper cut dan membuat Jovanka melayang dengan tingginya.


Jovanka pun harus kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa, dia tergeletak di tanah sembari tak berkutik. Niatnya ingin terus bertarung tetapi tubuhnya sudah tak mampu untuk bangkit, tak berselang lama dengan tekad luar biasanya untuk meraih kemenangan dari lawan terberatnya. Jovanka bangkit dengan susah payah, dia berteriak ke arah Vesilestas.


"Raaaghhhhhhh" Jovanka terus berteriak sembari menyerang dan bertahan dari serangan bertubi-tubi begitu pula dengan sebaliknya Vesilestas juga tidak menyerah.


Hingga akhirnya, Vesilestas berhasil mendorong Jovanka menuju medan perang dimana Sirius masih terus menggempur raksasa Guoltom barisan depan.


Berbagai rangkai serangan mengenai mereka.


Vesilestas pun menyerang Jovanka bertubi-tubi dan melemparnya ke arah serangan dari pasukan Sirius.


Jovanka pun tergeletak di tanah, tak berdaya, matanya melihat sinar cahaya siang sampai akhirnya melihat sosok hitam di depannya.


"Benar-benat sampah, kau mempermalukan kita oi, sudah ku bilang kau itu cocoknya tidak menjadi raksasa inti. Karena tubuhmu sangat lemah, kau itu lebih buruk dari pada sampah karena menghadapi sampah saja tidak bisa. Mati saja sana, jika kau terus hidup maka hanyanmenjadi aib bagi nama raksasa inti."

__ADS_1


Sebuah benda tajam pun tertancap di wajah Jovanka.


"Arghhhhjhgggggg" teriak Jovanka, seluruh tubuhnya merasakan gejolak yang sangat menyakitkan. Benar saja, tubuhnya membengkak lalu meledak hingga seluruh tubuhnya terbang ke sana kemari. Tangannya pun mendarat tepat di depan Vesilestas, tak berselang lama sebuah tebasan mendarat di tubuhnya Vesilestas.


"Ohhh tubuh yang bagus" ujar sosok tersebut, karena tebasannya tak mempan kepadan Vesilestas.


"Bagaimana jika begini saja" sambungnya lagi, sambil mengarahkan ujung pedangnya ke arah mata Vesilestas. Terlambat bagi Vesilestas, mata sebelah kananya tergores oleh tebasan pedang karena lambat menghindar, penglihatannya sedikit rusak, tetapi bukan itu masalah terbesarnya. Vesilestas merasakan sendiri, bagaimana sakitnya bagian kepapanya seolah meledak ledak dari dalam.


Vesilestas pun muntah darah, dia tau jika bagian kepalanya telah rusak akibat serangan barusan, nafasnya pun terengah-engah.


"Maaf saja aku tidak akan memperkenalkan diriku, karena aku lebih sempurna dibandingkanmu, sebagai sosok yang telah membuat kami tercengan maka beri tahukan namamu untuk ku tulis di catatan kemenanganku" ucapnya percaya diri.


**********


Rentetan pukulan terus di layangkan sang raksasa yang mengamuk bagaimana binatang buas tanpa arah tujuan.


"Kesulitan dalam melawan kami?" Ujar Udaviann berdiri dengan seimbang di atas batu yang tipis menjulang ke atas.


"Bukanya kau sendiri yang hampir mati karena seranganku" ujarnya tersenyum licik.


Sudah ratusan boneka hancur akibat serangan dari Pathada, terapj mereka tetap terus berdatangan, dan kali ini mereka semua menelilingi sekeliling Pathada.


Pathada pun menuju Udaviann, dari belakang nya, puluhan boneka menyerangnya dengan kemampuan masing-masing. lalu Pathada berhenti sejenak, dan melayangkan tendangan dahsyat yang sangat cepat, bahkan kumpulan prajurit boneka yang masih berdiri jauh di belakangmya juga terkena imbasnya, lalu dia melanjutkan lagi langkahnya.


Tapi sebuah tali raksasa pun menghalang kaki sebelahnya hingga Pathada pun terjatuh, Pathada pun menyadari ternyata tali tersebut terkekang dengan sangat kuat oleh sebuah pengkait yang tertancap ke tanah.


"Sial, mereka merendahkanku dengan cara seperti ini, tapi kenapa seolah mereka sangat kompak seolah telah terlatih untuk bekerja sama?" Guman Pathada sembari berdiri, dia melihat sosok Udaviann begitu tenang, dan juga dia menyadari sedari tadi boneka-boneka ini seolah-olah melindungi Udaviann.

__ADS_1


"Apa kau sudah menyadarinya, sosok yang penuh dengan kesombongan, merendahkan lawanmu, tetapi kau malah tertipu dengan trik rendahan yang bahkan tidak pernah di gunakan dalam pertarungan manapun, sebegitu rendahnya dirimu dan berusaha menutupi dengan kesombonganmu?" Ujar Udaviann.


__ADS_2