My Another Life

My Another Life
nyonya yang sebenarnya


__ADS_3

"tuan!" Aku berdiri saat mengatakan lah itu.


"Saya bertanya kenapa seorang nyonya mudah sekali mengakan maaf kepada orang lain?"


Sebentar, apakah dia marah tapi kenapa dia harus marah. Apakah tuan benar-benar menganggap aku sebagai istrinya.


"Jika tuan bertanya seperti itu maka saya akan menjawabnya. Menurut saya meminta maaf bukan hanya dilakukan saat membuat suatu kesalahan tapi kita juga harus meminta maaf jika mengambil waktu orang lain yang bukan milik kita, kita juga harus meminta maaf saat membuat orang lain merasa tidak nyaman pada sesuatu yang sedang kita kerjakan atau sesuatu yang ada di diri kita."


"Dengar baik-baik, tidak ada yang salah tentang perkataan mu. Tapi sekarang posisimu adalah seorang nyonya. Kamu adalah penguasa kedua di pulau ini. Jika kamu selalu meminta maaf di saat seperti yang kamu katakan, mereka semua akan merasa di remehkan. Mereka semua yang ada di sini mengakui dirimu. Mereka semua memberikan jiwa, raga, waktu dan seluruh hidup mereka padamu. Jika kamu selalu meminta maaf saat mengambil waktu mereka, mereka akan merasa sumpah setia mereka itu tidak di percayai."


Saat mendengar hal itu dari tuan, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku lupa bahwa orang di dunia ini tidak sama pola pikirnya dengan orang yang berada di dunia aku. Aku harus banyak belajar agar menyesuaikan polo pikir penduduk di dunia yang ini.


"Tuan, maaf saya lancang. Dan saya juga menggunakan kata maaf karena menganggap anda lebih berkuasa dari saya. Apakah anda benar-benar ingin menjadikan saya istri anda?"


"Iya."


"Saya akan lancang sekali lagi, kenapa saya di jadikan istri, Bukankah saya adalah bayaran dari bibi saya?"


"Karena aku memilih mu."


"Jika memang begitu, kenapa saat saya datang ke tempat latihan anda. Anda ingin membunuh saya?"

__ADS_1


"Membunuh, sepertinya kamu salah paham. Saya hanya ingin bertanya apakah kamu ingin saya ajari bertarung agar bisa membunuh orang."


Ternyata aku salah paham, kenapa saat itu tuan mengatakannya terpotong-potong. Tapi salah aku juga karena tidak mendengarkan hingga akhir.


"Apakah tuan atau kalau saya tadi kabur bukan tersesat?"


"Siapa yang mengatakan kalau kamu tersesat?"


Benar juga tidak ada yang mengatakan aku tersesat, mereka semua hanya di perintahkan untuk mencari ku tanpa tahu sebabnya. Berarti tuan tau kalau aku kabur saat itu.


"Kenapa anda tidak menghukum saya, bukankah segala kesalahan dan semua bentuk pemberontakan akan di beri hukuman?"


"Saya akan menghukum kamu sekarang."


"Buka mulutmu!"


Membuka mulut di saat seperti ini, apa yang ingin tuan lakukan. Apakah tuan ingin aku menghisap benda yang berada di bawah perutnya itu. Apakah tuan benar-benar akan melakukan hal itu, di hadapan semua penghuni yang lain. Tolong, jangan bercanda.


"Apakah kamu mendengar apa yang aku katakan?"


Sebentar apakah aku bisa melakukan ini, aku takut, aku ingin kabur sekali lagi.

__ADS_1


"Cepat buka mulutmu, tangan sudah lelah menunggu!"


Tangan, apa yang akan tuan lakukan dengan tangannya.


"Kamu minta di beri hukuman tapi kamu tidak mau melakukannya."


"Tuan saya lebih baik di kurung di penjara seperti peraturan yang ada. Bahkan jika melakukan lebih dari hati yang di tentukan, saya akan menerimanya."


"Apa yang sedang kamu pikirkan, aku menyuruhmu untuk membuat mulut agar aku bisa menyuapkan makanan ke mulut mu. Apakah kamu tidak lapar?"


Sungguh, apa yang baru saja aku pikirkan. Padahal aku tidak pernah melakukan semua hal itu bagaimana bisa aku memikirkannya saat ini. Lalu aku pun membuka mulut ku dengan ragu-ragu, meski tuan mengatakan hal seperti itu tetap saja aku ragu.


Dan ternyata memang benar tuan menyuap makan ke dalam mulut ku. Padahal kan aku bisa makan sendiri, tapi jika harus melakukan itu sambil menutup mata akan menyulitkan. Tunggu bukankah tuan memakai penutup mata, bagaimana bisa dia menyuap makanan ke mulut ku dengan salah tepat seperti ini. Sungguh menakjubkan. Memang tuan yang pantas di hormati.


Aku membuka mulut ku saat makan di dalam mulutku sudah habis, aku seperti anak kecil yang sedang makan di suapi oleh ayahnya.


Tuan ternya punya sisi yang seperti ini, aku sepertinya perlu banyak-banyak meminta maaf padanya karena selalu berburuk sangka pada tuan.


"Apakah ada makan yang tidak bisa kamu makan atau minuman yang tidak bisa kamu minum?"


"Tidak ada, namun jika ada sesuatu bahan baru yang asing bagi tubuh saya. Saya tidak dapat menjaminnya, tapi selama hidup saya belum pernah merasakan hal itu. Semua makanan atau minuman bisa masuk ke dalam perut saya."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu tiba-tiba tuan memasukkan sesuatu di dalam mulut ku. Sesuatu seperti bola berukuran segenggam tangan anak kecil dan itu hancur di dalam mulut.


Saat itu aku merasa rasa pahit yang sangat tidak enak, aku ingin muntah namun, aku pikir tidak sopan seorang nyonya memperlihatkan hal seperti itu saat semua prajuritnya berkumpul. Aku pun menelan paksa sambil menahan agar tidak muntah.


__ADS_2