My Another Life

My Another Life
pahatan


__ADS_3

Setelah Bacchi memotong pohon itu. Aku mulai berpikir berarti di sini juga tidak ada pisau khusus memahat. Bagaimana cara agar aku bisa membuat tanpa pisau pahat.


"Bacchi, apakah kita hanya mempunyai pedang di kastil ini?"


"Iya nyonya."


Jika tidak ada pisau pahat bagaimana caranya agar aku bisa memahat pohon besar ini. Sebenarnya aku bisa saja mencetak pisau pahat sendiri tapi harus ada besi dan cetakannya.


"Bacchi, apakah kita mempunyai besi yang tidak terpakai?"


"Besi yang ada di sini hanya ada di pedang."


"Bacchi, apakah tuan ada menitipkan pedang untuk ku?"


"Ada nyonya, saya akan mengambilnya."


Aku berencana untuk melelehkan pedang besi itu. Mungkin akan aku kikis saja, aku akan membuat jeruji di pedang itu. Lalu besi yang terbuang akan aku jadikan pisau pahatan.


Saat Bacchi sudah kembali, aku melihat pedang yang di bawanya sangat besar.


"Ini nyonya."


Pertama kali aku memegang pedang ini. Lebih ringan dari pedang yang di gunakan Bacchi.


Aku membuka penutup pendang itu, hanya ada pedang polos yang sangat mengkilap. Aku pun memegang halus untuk memastikan seberapa tebal pedang ini. Ternyata lebih tipis dari yang aku kira.


"Bacchi, apakah kalian punya alat mengasah pedang?"


"Ada nyonya, di ruang bawah tanah."


"Ruang bawah tanah yang di dalam pohon lagi?"


"Bukan nyonya, ini benar-benar ruang bawah tanah yang ada di bawah kastil."


"Antarkan aku kesana!"


Aku pun mengikuti Bacchi menuju ruang bawah tanah. Di sana penuh dengan bau besi. Sangat banyak pedang yang bergantung dan tergeletak di ruang itu.


"Ini nyonya alamat pengasahnya."


Bentuk pengasah itu seperti batu, sesuai perkiraan ku.


"Bacchi, kenapa pedang ini bergeletakan?"


"Pedang ini sudah tidak layak pakai lagi nyonya."


Baiklah, aku akan mengasah seluruh pedang yang tergeletak ini dan membuat ujung batu asah ini menjadi lancip. Jika sudah lancip akan lebih mudah bagiku untuk mengukir di pedang ku. Setelah itu aku akan mendapatkan sisa besi yang sudah terukir.


"Bacchi, sepertinya saya akan lama berada di sini. Jika kamu mau istirahat pergilah."


"Tidak nyonya, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak membiarkan nyonya sendirian lagi di mana pun itu."

__ADS_1


Sepertinya Bacchi menjadi lebih protektif dari sebelumnya. Aku juga tidak masalah jika Bacchi berada di sini.


"Bacchi ingat, kamu hanya boleh melihat."


"Baik nyonya sesuai dengan keinginan anda."


Ada sekitar 30 pedang yang tergeletak. Aku mengasah semua pedang itu hingga menjadi bagus lagi lalu aku mulai mengukir mereka satu persatu. Termasuk dengan pedang ku. Semua besi yang terkikis aku jadikan satu. Dan itu menghasilkan cukup banyak besi.


Sempat beberapa kali tangan ku tersayat pedang. Mungkin karena perintah dari ku Bacchi benar-benar hanya diam tanpa melakukan apapun. Sungguh bawahan yang patuh.


"Bacchi, bantu aku mengobati luka di tangan ku ini."


"Baik nyonya, saya akan segera kembali."


Padahal wajahnya sangat panik saat tangan ku tersayat tapi dia masih bersikap seolah tidak peduli.


"Lucunya..." Gumang ku.


Bacchi datang membawakan beberapa ramuan atau bisa di bilang itu adalah racikan. Bacchi menempelkan racikan itu ke luka-luka di tangan ku. Lalu membalutnya dengan kain.


"Bacchi, di mana kita bisa menemukan alat pemanas di sini?"


"Ada di dapur nyonya."


Aku dan Bacchi pergi ke dapur untuk menggabungkan besi ini menjadi satu kembali.


Saat kami datang sepertinya Isama baru saja selesai membuat makan malam. Ternyata aku menghabiskan waktu seharian di ruang bawah tanah.


"Isama, saya ingin meminjam tempat pembakaran ini."


Isama hanya mempersilahkan lalu menjauh dari tempat pembakaran.


Aku memperhatikan alat-alat yang mungkin bisa di gunakan untuk menjadi wadah bagi besi ini.


Aku melihat panci tua, yang sepertinya sudah tidak terpakai.


"Isama!"


"Iya nyonya."


"Panci untuk apa ini?"


"Anda bisa menggunakannya sesuka hati anda."


"Tidak, pertanyaan saya bukan itu."


"Maafkan saya nyonya, itu adalah panci yang saya pakai untuk memasak sayuran."


Untuk memasak sayuran. Kenapa tidak di gunakan lagi yah. Oh iya aku baru ingat, mereka di sini hanya memakan daging.


Aku tidak ingin merusak panci itu. Aku memerintahkan Bacchi untuk mencari batu yang datar. Dan Bacchi menemukannya dalam waktu yang singkat.

__ADS_1


Bacchi memang sangat bisa di andalkan.


Aku menaruh kumpulan besi di atas batu. Aku pun mulai memanaskannya hingga besi itu leleh dan menjadi satu.


"Bacchi, apakah kita mempunyai sebuah kain yang sangat tebal?"


"Saya akan segera kembali nyonya."


Isama sepertinya sangat penasaran dengan apa yang sedang aku lakukan. Dia diam-diam memperhatikan ku dari kejauhan. Setelah semua besi leleh. Aku mulai mengeluarkan batu itu dari panci.


Di waktu yang bersamaan Bacchi sudah datang membawa kain yang bertumpuk yang di satukan.


"Bacchi, ini kain apa?"


"Kain sisa saat saya membuat baju."


Aku terkejut Bacchi bisa membuat baju sendiri. Berarti baju ini juga di buatkan olehnya. Dua baju yang selalu aku pakai ini adalah buatan Bacchi.


Aku menggunakan baju itu untuk menahan batu yang panas agar bisa tetap diam. Aku menggunakan batu yang lebih kecil untuk membuat bentuk pisau pahat yang aku mau. Dari semua besi yang aku kumpulkan, aku hanya bisa membuat 2 jenis pisau pahat. Tapi aku sudah sangat puas akan hal itu.


"Akhirnya selesai."


Aku sangat senang. Berarti dengan ini aku bisa memahat pohon besar itu.


"Bacchi, Isama, bisakah kalian membantu saya untuk memotong pohon besar itu menjadi bagian-bagian yang kecil."


"Tentu nyonya sesuai dengan keinginan anda."


"Tentu nyonya sesuai dengan keinginan anda."


Mungkin karena mereka berdua berada di tingkat SS jadi sangat cepat dalam memotong pohon besar itu. Sebelum matahari terbenam mereka sudah menyelesaikan semuanya. Total bagian pohon yang terpotong ada 50 bagian.


"Bisakah kalian memasukkan separuh kayu ini ke dalam kamar saya. Sisanya bisa kalian masukkan ke dalam ruang bawah tanah yang kosong."


Setelah semua perintah ku di laksanakan oleh mereka, aku pun. Meminta mereka untuk makan bersama ku. Karena menganggap ini adalah perintah jadi Isama mau ikut bergabung.


Setelah itu aku menanyakan apa lambang yang sangat melekatkan pada kalian semua.


Awalnya mereka kebingungan. Aku kembali bertanya apakah mereka mendapatkan panggilan atau julukan dari orang di luar pulau. Tapi mereka hanya sering mendengar panggilan prajurit hooka.


Jika aku memahat membentuk pulang hooka itu akan sulit. Lalu aku mulai terdiam dan memikirkannya sendiri.


"Apa hewan yang paling sulit untuk kalian kalahkan?"


"Naga berkepala lima."


"Di antara kalian ada yang bisa menggambarkan bagaimana bentuk naga itu?"


"Saya nyonya, dengan senang hati saya akan menggambarkannya untuk nyonya."


Ternyata Isama bisa menggambar. Isama juga mulai membuka dirinya kepadaku sudah tidak sekaku dulu lagi. Bacchi pun mengambil beberapa tinta di kamarku. Sebenarnya aku juga tidak tau kalau ada tinta di kamarku.

__ADS_1


Isama mulai menggambar dengan sangat rapi. Setelah selesai aku kembali ke kamar dan memerintahkan mereka berdua untuk istirahat saja. Malam itu aku sangat bersemangat untuk membuat pahatan berbentuk naga berkepala lima seperti yang sudah Isam gambar.


Malam itu aku tidak tidur sama sekali. Saat pagi aku baru menyelesaikan dua pahatan.


__ADS_2