
Aku kembali ke kamar ku setelah mereka berdua pergi. Tidak lama setelah itu kamar ku kembali di ketuk oleh seseorang. Aku membukakan pintu itu kembali.
"Perkenalkan nama saya Diana, mulai hari ini hingga seterusnya saya akan menjadi pelayan nyonya."
Dia gemetar ketakutan, tubuhnya juga terlihat sangat gelisah. Pandangannya hanya ke bawah, dia takut padaku.
"Berdiri yang benar, angkat kepalamu saat berbicara dengan ku. Tarik nafas mu sepanjang yang kamu bisa lalu hembuskan perlahan!"
Dia menuruti semua perintah ku dengan sangat patuh.
"Jelaskan padaku apa saja tugas yang tuan berikan padamu?"
"Saya di perintahkan untuk selalu di samping nyonya meski nyonya tidur, selalu menyiapkan seluruh keperluan nyonya dengan tepat waktu. Tidak boleh membantah apapun perintah dari nyonya, lakukan apapun yang nyonya minta meski mustahil."
"Kapan kamu akan tidur atau istirahat?"
"Saat nyonya tidur dan istirahat."
"Lalu bagaimana jika aku sudah selesai istirahat dan kamu tidak mengetahui hal itu?"
"Saya di beri tuan alat yang bisa melihat apapun yang nyonya lakukan lalu di alat itu juga bisa memberi tahu saya jika nyonya memanggil saya."
"Perlihatkan alat yang tuan berikan padamu!"
Dia memperlihatkan alat itu bentuknya seperti bola kaca namun...
"Simpan kembali!"
Tidak seperti yang lain jika aku memberikan perintah dia tidak mengatakan apapun dan langsung melakukannya.
"Jika aku memberikan perintah maka jawablah dengan kata baiklah, agar aku tau kalau kamu mengerti dengan apa yang aku perintahkan."
__ADS_1
Dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Jawab!"
"Baiklah."
Dia sangat kaku, sepertinya aku akan banyak menguras tenaga untuk mengajarinya agar lebih santai. Aku juga bersikap tegas padanya, aku tidak ingin di remehkan lagi sebagai nyonya di kastil ini.
"Antar aku ke kamar tuan!"
"Baiklah."
Apakah dia tau di mana kamar tuan, sebenarnya aku tau di mana kamar tuan tapi aku ingin mengujinya. Setelah beberapa kali ragu akhirnya kami sampai di depan kamar tuan. Sepertinya dia sudah di jelaskan tentang semua ruangan di kastil namun, dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengingat seluruhnya.
Aku mengetuk pelan pintu kamar tuan.
"Tok... Tok..."
Lalu tuan membuka pintu kamarnya.
"Saya ingin berbicara dengan tuan, hanya berdua saja dengan tuan."
"Masuklah!"
Aku masuk ke kamar tuan sedangkan Diana berdiri dengan tegangan di depan pintu kamar tuan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku?"
"Kapan saya boleh keluar pulau hooka?"
"Jika kamu sudah mengalahkan seluruh pasukan ku."
"Saya harus belajar dari siapa jika tuan tidak mengizinkan saya berlatih dengan siapapun. Jika harus menunggu tuan dari misi itu akan sangat memakan waktu."
__ADS_1
Aku mulai memberanikan diri untuk berbicara apa adanya dengan tuan, aku ingin mengakhiri kecanggungan aku dengan tuan.
"Aku tidak akan ke mana-mana hingga kamu bisa mengalahkan seluruh pasukan ku."
"Sungguh, tapi bagaimana tuan mendapatkan uang jika tidak menjalankan misi?"
"Tidak perlu membahas uang dengan ku, jika kamu membutuhkannya maka katakanlah sebanyak apapun yang kamu inginkan."
"Kenapa tuan sangat baik pada saya?"
"Karena kamu adalah istri ku."
"Saya penasaran apa saja yang harus saya lakukan sebagai istri tuan selain menjadi nyonya di kastil ini?"
"Turuti semua perintah ku."
"Hanya itu?"
"Iya."
"Baiklah, saya akan menuruti semua perintah dari tuan."
Selama pembicaraan aku hanya berdiri di dekat pintu kamar sedangkan tuan duduk di kasur.
"Tuan saya akan pamit, maaf mengganggu waktu tuan yang sangat berharga. Kalau begitu saya undur diri."
"Peluk aku dulu sebelum keluar!"
Aku terkejut saat mendengar tuan mengatakan itu.
"Apakah itu perintah?"
"Iya."
__ADS_1
Meski aneh dan canggung aku tetap melakukannya karena itu adalah perintah yang harus aku lakukan.
Aku berjalan mendekati tuan dan memeluknya sebentar mungkin hanya satu detik saja lalu aku langsung keluar dari kamar tuan.