
"Bacchi, masuk lah."
Aku tau biasanya Bacchi selalu datang di saat seperti ini. Jika cahaya matahari mulai terlihat.
"Bagaimana menurut mu?"
Aku memperlihatkan hasil pahatan ku yang berbentuk naga berkepala lima dengan kapal.
"Ini sangat indah nyonya. Saya benar-benar kagum dengan anda."
"Kalau begitu ini untuk Bacchi. Saya juga sudah mengukir namamu di sini."
"Bagaimana bisa saya menerima benda yang sangat berharga seperti ini!"
"Terimalah ini perintah. Aku akan ke pemandian nanti saja. Jadi kamu tidak perlu menyiapkan sekarang."
"Baik nyonya sesuai dengan keinginan anda."
Bacchi pergi meninggalkan kamar ku sambil membawa hasil pahatan itu. Saat jam makan siang Bacchi kembali mengetuk pintu kamar ku.
"Nyonya, saya sudah membawakan. Makan siang untuk anda."
"Letakkan di meja dan tolong panggilkan Isama ke sini!"
"Baik nyonya sesuai dengan keinginan anda."
Saat siang hari aku juga sudah menyelesaikan pahatan untuk Isama.
"Permisi nyonya, apakah anda memanggil saya?"
"Isama, masuklah!"
"Ada apa nyonya, saya siap melaksanakan semua perintah dari anda."
Aku memberikan hasil pahatan ku kepada Isama.
"Bagaimana, apakah ini mirip dengan yang kamu gambar."
Aku pikir dia akan terlihat tidak terlalu peduli tapi ternyata saat menerima hasil pahatan itu, dia terkagum membeku.
"Isama, Isama, Isama..." Aku sampai memanggil tiga kali.
"Iya." Dia terlihat sangat terkejut saat mendengar suaraku.
Aku pikir dia benar-benar terpukau.
"Apakah kamu menyukainya."
"Saya tidak pantas nyonya."
Mulai lagi, memang agak menyulitkan jika mereka sudah merendahkan diri mereka mengingat kasta.
__ADS_1
"Terimalah, ini perintah. Di sana juga sudah ada namamu. Jadi tidak akan tertukar dengan milik Bacchi."
"Baik nyonya sesuai dengan keinginan anda."
Padahal aku ingin berbicara santai dengan mereka tapi sepertinya memang tidak bisa.
Aku menyantap sarapan yang di bawa oleh Bacchi. Jika matahari mulai terbenam aku akan pergi ke kolam pemandian. Setelah itu aku akan melanjutkan pahatan yang aku buat.
Saking bersemangatnya aku tidak tidur selama satu Minggu. Di katakan tidak tidur juga tidak sih, hanya tidur sebentar saja. Jika ada jam mungkin hanya 1 sampai 2 jam saja dalam sehari.
Setelah seminggu aku berhasil menyelesaikan 25 pahatan berbentuk naga berkepala lima. Aku meminta mereka membawakan kayu yang ada di bawah tanah ke dalam kamar ku. Mereka juga membersihkan sisa-sisa kayu yang berserakan di kamar ku sebelum memasukkan kayu yang baru.
Aku berhasil menyelesaikan 50 pahatan dalam 15 hari. Bacchi yang tau kalau aku sudah menyelesaikan semuanya, dia meminta izin untuk membersihkan seluruh kamar ku. Aku juga sempat meminta nama-nama penghuni lain pada Isama. Semua pahatan itu sudah memiliki pemiliknya masing-masing.
Saat makan malam di ruang makan.
"Bacchi Kapan tuan akan kembali?"
"Saya tidak tau nyonya."
"Bacchi, Besok kamu jangan mengetuk pintu kamar ku. Kecuali dalam keadaan yang sangat darurat."
"Baik nyonya sesuai dengan keinginan anda."
Aku meminta Bacchi untuk tidak menggangu ku Karena aku ingin tidur sepuasnya. Aku tidak ingin terbangun karena suara ketukan pintu.
Dan keesokan harinya aku benar-benar tidak bagun hingga matahari terbenam.
"Bacchi, apakah kamu di luar?"
"Saya meminta tolong untuk siapkan air di kolam pemandian. Saya ingin mandi."
"Baik nyonya sesuai dengan keinginan anda."
Aku berendam untuk waktu yang cukup lama. Aku benar-benar ingin di pijat saat ini tapi jika aku meminta Bacchi yang memijat kan aku pikir itu akan membuat aku malu.
Setelah selesai berendam di kolam pemandian. Aku pergi bersama Bacchi ke ruang makan. Semua hidangan sudah siap di meja makan, semua di hidangkan oleh Isama.
Aku teringat akan ratu peri dan para peri lainnya. Aku ingin kesana tapi dengan waktu yang cepat. Tapi tuan tidak mengizinkan aku untuk berlatih bersama Bacchi ataupun Isama.
Kalau begitu aku akan belajar sendiri. Dulu saat aku baru tersadar dari mimpi aku sempat mencari cara bagaimana cara menunggangi kuda dengan baik dan benar.
Aku memutuskan akan belajar sendiri mulai dari besok. Pagi pun tiba, seperti biasa Bacchi mengetuk pintu untuk mengantarkan sarapan. Setelah sarapan aku pergi ke kolam pemandian.
Saat aku sudah selesai berendam dan kembali ke kamar. Aku melihat ada sebuah kertas. Mungkin itu di siapkan untuk aku menulis surat tapi aku akan menggunakan untuk hal yang lain.
Aku mulai mengingat-ingat bagaimana cara menunggangi kuda dengan benar. Aku menulis menggunakan tinta yang sudah di sediakan. Memang agak sulit karena aku tidak terbiasa namun, tidak terlalu buruk untuk seorang pemula.
mulailah dengan cara yang sederhana seperti belajar naik ke atas kuda.
mulailah naik kuda dari sisi kiri kuda. Pasalnya, kekuatan pijakan kebanyakan orang ada di kaki sebelah kanan supaya mampu menghentak untuk naik ke atas pelana.
__ADS_1
kaki kanan harus menghentakkan tenaga, agar tubuh bisa langsung naik ke atas kuda dan duduk nyaman di atas pelana. Tapi, jangan terlalu kuat karena posisi bisa saja merosot dan melewati bagian sisi kanan kuda.
Lalu belajar mengarahkan kuda untuk jalan biasa. Namun, tetap kendalikan kestabilan tubuh di atas pelana juga. Caranya, hentakkan kedua kaki sedikit ke perut kuda dan kuda pun otomatis akan bergerak maju. Sekali lagi, pastikan posisi duduk sudah kokoh, nyaman, dan seimbang di pelana.
Keseimbangan ini bisa terjaga dengan baik kalau mengatur pinggang diri sendiri. Biar posisi tubuh lebih seimbang dan gerak kuda yang lebih terkendali pastikan juga pijakan kaki ada pada posisi yang seharusnya.
Lalu belajar membuat kuda berlari, saat ingin membuat kuda berlari harus merapatkan kedua kaki ke tubuh kuda dan kuda pun pasti akan mulai berlari dengan kecepatan normal.
Tangan yang memegang tali kendali agak pendek bisa mengikuti irama kepala kuda sambil berlari. Tapi tetap hati-hati, karena terkadang seorang joki merasa kurang bisa mengendalikan saat posisi duduk sudah mulai loncat mengikuti suara sepatu kuda.
Kemudian Tetaplah berkonsentrasi dan fokus, karena kalau nggak, irama loncat duduknya menjadi kurang teratur dan bisa mengganggu kenyamanan berkuda. Kalau hilang konsentrasi, maka posisi bokong bisa saja melenceng ke kiri dan kanan saat kuda melaju.
Kemudian berjalan berlari cepat saat menunggangi kuda. Sama seperti lari biasa, kedua kaki harus dirapatkan dengan kencang pada tubuh kuda pada tahap ini.
Pastikan juga kedua paha sudah merapat ketat tepat di bawah pelana. Tujuannya, yaitu biar bokong lo bisa terangkat melayang ketika kuda berlari cepat. Pegang lah tali kendali sekuat mungkin agar bisa menyesuaikan irama ketukan kaki dan kepala kuda yang maju-mundur.
cobalah tips ini pada lintasan lurus terlebih dahulu.
Kalau mau yang sedikit lebih menantang, cobalah dengan sedikit berbelok, namun harus tetap menjaga keseimbangan dan kelurusan tubuh.
Amannya, kuda berbelok dengan cepat 60-90 derajat dalam kecepatan sekitar 20 km/jam. Kalau kecepatan kuda masih sekitar 30 km/jam, maka joki bisa saja “berpisah” dengan kuda-nya saat berbelok.
Memang aku sangat kesulitan pada awalnya. Tapi setelah itu aku mulai menikmati semua proses walaupun aku sering sekali terjatuh dari atas kuda. Aku juga sebelum mulai menunggangi kuda, aku mencoba mendekati kuda itu dulu agar dia juga tidak takut kepada ku.
Bacchi awalnya menentang keinginan ku ini. Tapi karena aku memerintahkannya untuk tidak usah ikut campur, jadi dia hanya mengawasi dari jauh dengan ekspresi penuh dengan ke khawatiran.
Butuh 3 bulan sampai aku benar-benar bisa mengendalikan kuda sepenuhnya. Saat sudah bisa mengendalikan kuda Bacchi sangat terheran-heran.
"Nyonya, bolehkah saya mengatakan sesuatu?"
Lagi-lagi untuk mengatakan sesuatu saya dia harus meminta izin padaku.
"Katakanlah!"
"Nyonya benar-benar hebat. Kuda yang nyonya pilih adalah kuda yang sangat sulit di atur. Tuan mendapatkan kuda itu dari seseorang sebagai imbalan namun, tidak ada yang bisa mengendalikannya. Karena itu kada ini di tinggal, tidak pernah di bawa saat misi."
Wah, aku juga Tercengang.
"Mungkin kuda itu memang sudah di takdirkan hanya untuk saya."
"Pasti nyonya, awal saya sangat takut nyonya kenapa-napa. Tapi untung lah nyonya hanya lecet sedikit. Saya akan menerima hukumannya nanti saat tuan sudah kembali."
"Hukuman?"
"Iyah, saya masih berhutang 10 hukum dan sekarang saya juga melakukan kesalahan lagi."
"Apa kesalahan kamu kali ini?"
"Kesalahan saya adalah kerena tidak bisa mencegah agar nyonya tidak lecet sama sekali."
Aku kehabisan kata-kata saat Bacchi berkata seperti itu.
__ADS_1
"Saya akan menanyakan hukuman mu nanti pada tuan saat tuan kembali."
"Baik nyonya sesuai dengan keinginan anda."