
Baju ini indah, aku ingin memakainya. Setelah ku kenakan
"Ini sangat cocok dengan ku."
Aku sangat menyukai baju ini, tapi jika aku ingin kembali baju tidarku juga berwarna hitam. Apakah semua baju di sini hitam, benar baju yang Bacchi kenakan juga berwarna hitam begitu pula Isama.
Di tengah kebingunganku yang sudah kesekian kali. "Tok... Tok.. nyonya tuan sudah kembali."
Hah, tuan sudah kembali. Apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar tidak tau apa-apa tentang sesuatu yang harus aku lakukan.
"Bacchi, apa yang harus saya lakukan?"
"Nyonya bisaa melakukan apapun yang nyonya inginkan."
Sungguh jawaban yang tidak membantu.
Mari tanyakan sesuatu yang tadi aku lupakan.
"Bacchi, bagaimana cara agar saya bisa memanggil kamu kapan saja tanpa berteriak?"
"Sebenarnya itu tidak perlu karena saya akan selalu siap di depan pintu kamar anda."
"Kamu akan menunggu seharian meski saya tidak memanggil kamu?"
"Iya nyonya."
Sudah lah mari pikirkan cara lain nanti, sekarang aku akan melihat sosok tuan pemilik kastil ini. Aku dan Bacchi sebagai turun kebawah di susul oleh Isama yang datang dari arah dapur. Kamu bertiga berdiri di depan gerbang kastil, Bacchi membukakan pagar kastil seperti yang dia lakukan saat aku pertama kali datang ke kastil.
Saat itu aku melihat sosok menyeramkan yang penuh dengan darah di bajunya, dia turun tepat di depan gerbang kastil. Dan saat ini dia tepat berdiri di hadapan ku.
Bau darah dan besi dari dia sangat kuat. Aku pusing saat mencium bau itu. Namun, aku ingin melihat sosoknya dengan jelas, tubuhnya tinggi, gagah, badan yang penuh dengan otot dan mata yang tertutup kain.
__ADS_1
Penutup mata itu dari kain berwarna hitam dengan ukiran benang emas yang menghiasi. Aku tidak tau bentuk apa yang tergambar oleh benang emas di kain hitam yang dia pakai. Tinggi Ku hanya sampai lehernya jadi jika aku ingin menatap wajahnya aku perlu melihat lebih tinggi.
Karena sudah tidak tahan dengan bau darah dan bau besi yang berasal darinya, aku pun pingsan. Yang aku ingat saat itu bukan dia yang menangkap ku saat pingsan namun, orang lain.
Saat aku sadar, aku sudah ada di dalam kamar. Aku ingin memanggil Bacchi, apakah dia ada di depan kamar ku saat ini. Mari coba saja memanggilnya.
"Bacchi!"
"Iya nyonya, saya siap menerima perintah."
"Masuklah!"
Aku menanyakannya semua hal yang terlintas di pikiran ku
"Duduklah di samping saya, aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada kamu."
"Baik nyonya sesuai keinginan anda."
"Sudah berapa lama saya pingsan?"
"Siapa yang membawa saya ke kamar?"
"Tuan tangan kiri nyonya."
"Siap tuan tangan kiri?"
"Tuan tang kiri adalah orang yang selalu ada di manapun tuan berada, bisa di katakan bahwa tuan tangan kiri adalah pengawal utama tuan. Tidak seperti tuan tangan kanan, tuan tangan kiri hanya bertugas untuk selalu di samping tuan."
Singkatnya tuan tangan kanan adalah orang yang mengurus segalanya untuk tuan dan tuan tangan kiri bertugas menjaga tuan secara langsung seperti bodyguard pribadi.
"Nyonya, ini sudah waktunya makan malam. Mari saya antar!"
__ADS_1
"Baiklah!"
Saat menuju ruang makan, tangan ku bergetar hebat
"Apakah aku akan di gilir? Apakah aku akan di siksa? Apak aku akan di jadikan tontonan pemuas nafsu mereka?" Ucap ku dalam hati.
Aku sempat berpikir untuk tidak perlu makan malam ini, tapi perut ku sangat lapar.
"Siap saja yang ada di ruang makan?"
"Karena ini waktu makan malam, jadi seluruh penghuni kastil berada di sana."
Seketika langkahku terhenti, aku semakin takut. Apa yang akan terjadi jika aku pergi ke sana, aku adalah satu-satunya wanita di kastil ini.
"Bacchi, apakah bisa aku tidak makan di tempat makan?"
"Ada apa nyonya, apakah anda masih merasa sakit."
"Iya, maaf yah aku akan kembali ke kamar ku."
"Anda tidak perlu meminta maaf saat anda tidak melakukan kesalahan."
"Baiklah, aku tarik lagi permintaan maafku. Aku akan pergi ke kamar sekarang dan tolong bawakan makanan untuk yah."
"Sesuai permintaan anda nyonya."
"Tidak perlu mengantar saya ke kamar, kamu bisa langsung ke ruang makan untuk mengambilkan saya makanan."
"Baik nyonya, sesuai keinginan anda."
Aku pun akhirnya kembali ke kamar, setelah itu aku benar-benar tidak berani untuk keluar dari kamar bahkan untuk mandi sekali pun. Aku takut saat melihat semua pria berotot itu berkumpul.
__ADS_1
Bahkan untuk pergi ke kolam pemandian pun aku tak berani, aku tau aku pengecut. Sejak dulu aku tidak pernah berkumpul dengan banyak pria. Aku memiliki trauma saat melihat video insiden yang merenggut nyawa ayahku. Saat itu semua rekan kerja ayah berkumpul di satu tempat dan tiba-tiba ada bom yang meledak.
Meski sepertinya tidak ada kaitannya sama sekali tapi jika aku melihat banyak pria berkumpul aku akan mengingat momen ledakan itu kembali.