
"Air... Tuan berikan saya air!"
Apa yang baru saja masuk ke dalam mulut ku.
"Tuan, apa yang sudah anda berikan kepada saya?"
"Tubuh sangat lemah."
"Apakah itu sejenis ramuan?"
"Hmmm."
Sudahlah, mari lupakan rasa pahit yang amat memuakkan itu. Mungkin tuan memberi ramuan itu kepadaku karena merasa tubuhku sangat lemah, seharusnya aku berterimakasih namun, jika terlalu mendadak seperti ini. Aku menjadi sedikit kesal.
"Mereka semua sudah pergi, buka saja penutup matamu. Itu pasti sangat tidak nyaman."
Aku pun membuka penutup mata yang sedang aku pakai. Saat melihat tuan tepat berada di depanku. Dia sangat tampan walau matanya tertutup. Apakah sebenarnya tuan adalah seorang pangeran.
"Tuan, apakah ada aturan yang berlaku pada para penghuni juga berlaku untuk saya?"
"Tidak."
"Apakah ada aturan khusus untuk saya?"
"Tidak."
"Jadi aku benar-benar boleh melakukan apapun yang aku mau?"
"Hmmm."
Aku tidak menyangka bahwa aku benar-benar boleh melakukan apapun di sini. Sebelumnya Bacchi juga sudah pernah mengatakan hal itu namun, saat itu aku masih ragu.
"Bacchi!"
"Iya nyonya."
Bacchi tidak meninggalkan tempat makan itu dia hanya sedang bersembunyi sambil menunggu aku memanggilnya. Saat aku membuka penutup mata hanya ada aku dan tuan.
"Temani aku besok untuk pergi ke perpustakaan."
"Jika kamu ingin pergi ke perpustakaan, kamu harus mengalahkan seluruh prajurit ku dulu!"
"Tuan, bukankah anda mengatakan bahwa saya boleh berbuat semua yang saya mau."
"Iya, tapi jika memang sesuatu yang kamu inginkan bisa membahayakan mu maka aku akan melakukan pelatihan dulu. Jika tidak mau tidak perlu pergi, semua di pulau ini memang atas kendali aku tapi tidak di luar pulau."
"Baiklah, saya terima syarat dari tuan."
Aku kembali ke kamar bersama Bacchi, aku bertanya kepada Bacchi ada berapa prajurit saat ini. Bacchi mengatakan bahwa ada 13 prajurit dengan standar bertarung di tingkat minimal A. Total prajurit tingkat S ada 7, 4 orang lainnya ada di tingkat SS 1 orang sisanya adalah tuan.
"Bagaimana cara mengukur tingkatannya?"
"Semua tingkat itu atas standar tuan, jadi semua akan bertarung 1 lawan 1. Sehingga tuan bisa menilai berada di tingkat berapa."
"Bacchi, berada di tingkat berapa kamu?"
"Saya berada di tingkat SS."
"Jika kamu berada di tingkat itu, bagaimana dengan tingkat tuan?"
"Saya tidak tau, setau saya yang dapat tingkat A adalah orang yang masih bisa bertahan dari serangan tuan, lalu tingkat S adalah orang yang bisa menyerang balik serangan dari tuan, sedangkan tingkat SS adalah orang yang bisa melukai tuan."
"Wow, berarti aku akan berlatih dengan mu saja."
"Tidak ada yang boleh mengajari nyonya selain tuan."
"Kenapa?"
"Karena itu adalah perintah langsung dari tuan, kami juga tidak tau alasannya apa."
__ADS_1
Apa yang tuan pikiran, bagaimana aku bisa berlatih dengan kekuatan monster seperti tuan itu. Dia bahkan. Bertarung tanpa m lihat lawannya.
"Terima kasih Bacchi untuk kerja keras mu hari ini, pergilah lalu beristirahat."
"Sudah kewajiban saya nyonya."
Setelah Bacchi pergi aku mulai memikirkan ratu peri itu lagi, kenapa dia memanggilku tuan putri. Besok aku akan menemui Rau peri itu.
Malam pun berlalu, aku sarapan pagi di kamar. Bacchi mengetuk pintu dengan lembut di saat fajar tiba, dia membawa sarapan lalu menunggu hingga aku selesai makan. Lalu mengantarkan aku ke kolam pemandian.
Saat berjalan menuju tempat pemandian tidak ada satu orang pun yang lewat. Aku pun bertanya pada Bacchi kemana semua penghuni kastil pergi. Bacchi mengatakan bahwa semua penghuni tidak boleh berkeliaran di sekitar aku. Aku pun bertanya kenapa tuan memerintahkan hal seperti itu, namun Bacchi juga tidak tau jawabannya.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang taun pikiran. Setelah aku berendam aku kembali memakai baju hitam itu, sebenarnya aku ingin bertanya apakah tidak ada baju lain. Tapi asal masih bisa di pakai tidak papa lah.
Aku juga sempat bertanya pada Bacchi kenapa semua penghuni memakai baju berwarna hitam, Bacchi mengatakan bahwa mereka hanya ingin mengikuti tuan. Benar-benar semua atas kendali tuan.
Setelah aku siap aku pergi keluar sendirian rencananya namun Bacchi menyusul di belakang ku.
"Kamu sedang apa?"
"Saya akan mengikuti nyonya kemanapun nyonya pergi."
"Apakah tuan yang memerintahkan kamu?"
"Ini memang tugas saya."
Aku memang boleh melakukan apapun yang aku mau namun, semua di bawah pengawasan dan kendali tuan.
Sudahlah, tujuan ku hanya ingin kembali ke dunia asalku. Dan sebisa mungkin menghindari permasalahan.
"Nyonya, saya akan mengambilkan kuda."
"Kuda?"
"Kita akan lebih cepat jika menggunakan kuda."
"Tapi aku tidak bisa naik kuda!"
Tapi kenapa mereka saat mencari ku tidak menggunakan kuda
"Bacchi kenapa saat mencari saya kalian tidak memakai kuda?"
"Karena tuan tidak memakai kuda."
Benar-benar semua yang mereka lakukan mengikuti tuan.
"Bacchi, bagaimana cara agar saya bisa sampai dengan cepat ke laut?"
"Nyonya bisa minta tuan untuk mengantarkan."
"Tuan, kenapa saya tidak naik kuda bersama mu saja?"
"Dengan segala hormat, saya tidak berani melakukan hal itu."
Apa yang telah tuan katakan kepadanya. Ini sama saja seperti saya harus selalu berada di sisi tuan. Tuan bahkan tidak membiarkan aku hanya pergi berdua dengan Bacchi.
"Bacchi apakah kamu tau di mana tuan saat ini?"
"Di ruang latihan nyonya."
"Kamu kembali lah ke kastil, ini perintah."
Aku menyuruh Bacchi untuk kembali ke kastil. Aku berjalan sendirian menuju tempat latihan tuan di dalam pohon bawah tanah itu.
Saat aku tiba pintu di pohon itu sudah terbuka, tuan tau bahwa aku akan menemuinya.
"Sungguh licik."
Aku kesal, dia bersikap seperti membebaskan ku. Padahal aku seperti di ikat olehnya. Tidak boleh pergi tanpa dia, benar-benar licik.
__ADS_1
"Tuan!"
Aku sudah tidak asing lagi dengan pemandangan yang sedang berada di depanku. Aku akui memang sangat bagus bentuk tubuh tuan.
"Hmmm."
Jawab apa itu, bukankah dia yang merencanakan semua ini.
"Saya ini pergi ke laut. Tapi saya harus pergi bersama tuan, jadi saya harap tuan cepat untuk bersiap."
"Di mana sopan santun mu."
"Maafkan saya tuan, saya sudah kehilangan sopan santun saya. Maafkan saya karena mengganggu waktu latihan tuan. Saya tidak akan merepotkan tuan. Saya berharap tuan melupakan perkataan saya tadi, saya mohon undur diri tuan."
Aku sangat kesal, baiklah kau akan pergi sendiri walau harus menempuh waktu 3 hari 3 malam. Anggap saja olahraga sambil diet.
Aku keluar dari kastil seorang diri.
Mari terus melangkah, jangan takut dan tidak boleh tidur sebelum sampai. Sebenarnya ini sama saja penyiksaan pada diri sendiri namun, aku sangat kesal pada tuan. Seolah-olah semua adalah salahku. Jika tau dia akan bersikap seperti itu aku tidak akan menemuinya di tempat latihan.
Aku sudah berjalan selama 3 hari 3 malam dan akhirnya sampai di tepi laut. Aku mencoba memanggil ratu peri namun, ratu peri tak kunjung menampakkan diri.
"Mari bersabar dan menunggu."
1 malam bahkan 2 malam sudah aku lewat di tepi sungai ini
"Kenapa ratu peri tak kunjung menampakkan diri. Apakah dia sudah tidak berada di laut ini lagi."
Karena aku sudah tidak bisa menahan lapar lagi, aku pun memutuskan untuk kembali ke kastil. Saat aku mulai melangkah menjauh ada suara yang terdengar di kepala ku
"Tuan putri maaf saya tidak bisa menemui tuan putri saat ini, kekuatan saya tidak sanggup menghadapi kekuatan orang itu."
Orang itu, sebentar
"Jika kamu masih mendengar yang aku katakan di pikiran ku maka jawab lah!"
"Iya tuan putri, saya mendengar anda."
"Siapa orang itu?"
"Orang yang sedang mengawasi anda tuan putri."
"Di mana orang itu berada?"
"10 meter dari barat."
Aku tidak tau siapa yang sedang mengawasi ku namun, jika memang dia alasan ratu peri tidak bisa keluar maka aku akan menghadapi. Aku berani menemui orang kuat itu karena ini adalah pulau yang tuan kendalikan jadi jika bahaya sedang menimpaku. Aku pikir tuan akan datang.
"Keluarlah, aku tau ada seseorang di sana!"
Dan ternyata itu adalah tuan. Ayolah jadi selama perjalan ini tuan terus di dekatku. Aku benar-benar seperti sedang di ikat di tubuhnya.
"Dengan segala hormat, bisakah tuan membiarkan saya bertemu dengan ratu peri."
"Hmmm."
Jawaban yang sangat membuat kesal. Kuharap sekarang ratu peri sudah bisa menemui ku.
Dan yah, ratu peri keluar dari dalam air bersama seluruh rakyatnya.
Mereka semua memberi hormat padaku sambil mengatakan
"Selamat datang kembali tuan putri."
"Angkat lah kepala kalian!"
Saat aku berkata seperti itu semua peri berhenti membungkuk hormat. Tapi aku bisa melihat bahwa mereka sedang ketakutan seperti terintimidasi oleh sesuatu.
Saat aku membalikkan badan ku, ada tuan yang sedang berdiri tegak.
__ADS_1
"Benar-benar mengintimidasi." Gumang ku.