
"Tuan, apa yang sedang anda lakukan. Kenapa mereka semua tidak memakai pakaian di bawa sana?"
Semua prajurit di jemur di bawah sinar matahari, padahal biasanya sinar matahari tidak seterang ini walaupun di siang hari.
"Kamu membuka penutup mata yang aku berikan?"
"Aku sudah tidak papa, aku sudah sembuh. Aku bisa melihat mereka semua tanpa harus mendengarkan ledakan itu lagi."
"Keputusan akhir dari saya sebagai tuan adalah mengesekusi Bacchi dan Isama karena tidak menjalankan perintah."
"Tunggu tuan, bisa kah kita berbicara berduaan dulu. Aku akan menjelaskan sesuatu yang penting."
Untung lah saat itu tuan mau mendengarkan perkataan ku. Meski prajurit yang lain tetap di biarkan berjemur tanpa busana.
Kami masuk kembali ke kastil dan mulai mengobrol di ruang kerja tuan.
"Tuan, bisakah anda menjelaskan situasi saat ini?"
Tapi tuan tidak menjawab pertanyaanku, yang tuan lakukan malah memeluk ku sangat erat. Aku sebenarnya ingin melepaskan pelukan itu tapi aku tidak kuat. Pelukan tuan sangat kuat sehingga membuatku susah bernafas.
"Tuan, tuan. Saya tidak bisa bernafas jika anda memeluk saya seperti itu!" Ucap ku sambil berusaha melepaskan pelukannya.
"Maaf!" Ucap tuan sambil melepas dengan canggung pelukan itu.
"Mungkin terdengar lancang karena saya seperti sedang menentang perintah tuan tapi saya sebagai nyonya di kastil ini seharusnya bisa di beri tahu apa alasan mereka di eksekusi. Meraka berdua di bawah tanggung jawab saya, mereka tidak ikut bersama tuan."
"Kesalahan mereka sangat jelas yaitu mengurangi nyonya mereka sendiri."
"Pasti ada alasan di balik semua itu!"
"Tidak ada alasan yang masuk akal, mereka hanya bertindak bodoh dengan sengaja mengurung kamu hingga tidak di beri makan. Bagaimana jika kamu tidak bisa bertahan saat itu, bagaimana jika kamu meninggalkan ku lebih dulu. Padahal aku belum dapat apapun dari mu."
__ADS_1
"Bisakah anda katakan alasan apa yang mereka katakan pada anda, jika tuan tidak mau mengatakannya biar saya saja yang bertanya langsung pada mereka."
Karena aku kesal, aku merasa keputusanku tidak penting di kastil ini. Padahal tuan sendiri yang mengatakan bahwa aku nyonya di sini kuasa ku ada di bawah tuan tapi... Sudahlah aku tidak bisa lagi menjelaskan kenapa aku marah saat ini.
Aku hanya tidak menyangka mereka berdua bisa memenjarakan ku seperti ini tanpa memberi penjelasan. Padahal sebenarnya mereka baik sekali terhadap ku.
Aku pun turun ke lapangan, pergi ketempat mereka semua yang sedang di jemur sebagai hukuman.
"Bacchi, Isama dimana kalian?" Teriak ku sambil berjalan mencari mereka.
Aku melihat mereka sedang di jerat menggunakan besi-besi yang tebal. Besi-besi itu menjerat tangan, kaki hingga leher mereka.
Mereka tidak bisa bergerak karena ada pemberat dari besi yang juga di sangkutan pada tubuh mereka. Aku pun menghampiri mereka berdua.
Saat aku melihat melihat dan menatap mereka berdua, aku merasakan dengan sangat jelas bahwa ada kebencian di mata mereka saat melihatku.
Sebenarnya aku kasihan tapi setelah melihat tatapan mereka seperti itu rasa kasihan ku menghilang seketika.
Namun, saat aku bertanya mereka memalingkan wajah mereka.
"Jawab!" Teriak tuan dari jauh.
Padahal aku tidak ingin tuan ikut campur tapi sepertinya memang tidak bisa jika aku sendiri yang menanganinya.
"Karena kamu adalah seorang penyihir yang sudah menyihir tuan agar mau mematuhi perintah mu." Ucap Bacchi.
Saat mendengar itu entah kenapa hatiku sakit sekali. Tidak pernah terpikir bahwa orang yang selama ini selalu berada dekat dengan ku sejak pertama kali aku datang ke sini, bisa sangat tega berpikir seperti itu tentang ku.
"Apakah ada yang ingin kamu sampaikan lagi wahai istriku." Ucap tuan.
"Aku tidak ingin mereka di eksekusi, aku ingin mereka merasakan apa yang sudah mereka lakukan terhadap ku. Aku ingin mereka berdua di penjara selama 4 bulan."
__ADS_1
Lalu aku pun pergi ke kamarku tanpa menoleh kebelakang sekali pun. Aku tau sepertinya aku tidak sopan pada tuan, tapi aku pikir jika aku terlihat terlalu lembut di hadapan para prajurit itu akan membuat mereka semena-mena padaku nantinya.
Tidak lama setelah aku masuk kamar ada yang mengetuk pintu kamar ku dengan kasar.
"Tok... Tok... Tok... Tok... Tok..."
Sudah lebih dari tiga kali dia mengetuk bukankah itu tidak sopan.
Aku pun membuka pintu dengan memasang wajah marah. Wajahnya asing, aku Memang tidak tau semua wajah orang yang menghuni kastil ini.
"Pagi nyonya." Dia tersenyum ceria, dia juga tidak terlihat takut padaku.
"Tapi ini sudah siang."
"Benarkan, kalau begitu selamat siang nyonya." Lalu dia tertawa terbahak-bahak.
Ada apa dengan orang yang sedang berdiri di depan ku ini. Tapi rasanya menyenangkan jika masih ada orang yang tidak bicara dengan bahasa kaku padaku. Dia juga terlihat baik. Namun, tubuhnya terlihat sangat kuat.
"Maafkan saya nyonya, ini pertama kalinya saya bertemu dan berbicara langsung dengan nyonya. Rasanya lucu mengetahui secara langsung bahwa tuan benar-benar sudah memiliki istri. Saya tidak pernah menyangka bahwa orang seperti tuan mampu mempunyai istri. Apalagi istrinya seperti anda. Anda terlihat sangat lemah dan mudah terluka."
Dia bicara secara terang-terangan tanpa takut sedikit pun. Lalu ada lagi yang datang menghampiri kami. Dia menjinjit telinga orang yang sedang berbicara dengan ku.
"Sakit... Kenapa kamu harus kasar padaku."
"Maaf atas kelancangannya nyonya. Saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu nama saya Ezekiel, saya adalah tangan kanan tuan. Saya bertugas mengurus semua urusan kastil dan semua urusan tuan. Dan orang yang sedang saya jinjit ini adalah Qesharak, dia adalah tangan kiri tuan. Dia bertugas untuk selalu berada di samping tuan. Awalnya dia di perintahkan untuk mengawasi nyonya namun, sepertinya dia terlalu bersemangat hingga mengganggu anda. Sekali lagi saya mohon maaf dengan sangat tulus ( sambil membungkukkan badan )."
Marahku hilang, mereka berdua terlihat sangat akrab dan mereka menggemaskan.
"Tidak papa. Kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian."
"Terimakasih atas kemurahan hati nyonya. Kami undur diri sekarang."
__ADS_1
Kuharap aku bisa dekat dengan mereka berdua. Sepertinya itu akan menyenangkan.