
"Bacchi, apakah kamu juga melihat pintu itu?"
"Iya nyonya, saya melihatnya dengan jelas."
"Apakah ini pertanda bahwa saya boleh masuk ke dalam sana?"
"Saya pikir begitu nyonya."
"Baiklah, terimakasih sudah mengantarkan saya."
"Sudah kewajiban saya nyonya."
Aku pun pergi memasuki pohon itu. Saat aku masuk dan menuruni anak tangga yang melingkar. Langkah demi langkah, saat semakin dalam masuk bukannya semakin kehabisan udara namun, semakin sejuk.
Saat aku sudah menghabiskan semua anak tangga itu, tepat di depan mataku ada pria yang sedang memegang dua pedang. Pria itu tidak memakai baju, yang sedang menutupi tubuhnya hanyalah celana pendek di atas lutut.
"Maaf tuan, saya sudah kencang mengganggu waktu latihan anda."
Ah... Aku benar-benar tidak bisa melihatnya, tubuh sangat indah. Aku takut akan kehilangan kendali, sambil menutup mata pelan aku pun menelan ludah.
"Apakah ingin mati?"
Mata ku terbuka kembali secara tiba-tiba, aku sangat terkejut dengan kalimat pertama yang tuan katakan kepadaku. Tanpa pikir panjang aku keluar dari sana dan langsung kabur.
Bagaimana bisa aku berpikir sejenak bahwa dia adalah pria yang lembut setidaknya jika tidak lembut aku pikir dia pria yang baik.
Tanpa aku sadari, aku sudah jauh berjalan meninggalkan kastil. Berjalan tanpa arah adalah yang sedang aku lakukan saat ini.
__ADS_1
Tidak ada lagi pikir bagaimana jika aku tertangkap, bagaimana jika aku di hukum, bagaimana jika aku di siksa. Aku tidak perduli apa yang akan terjadi nanti, aku hanya tidak ingin menyesal karena tidak pernah mencoba kabur dari kastil itu.
Di sepanjang jalan yang aku lewati hanya ada pohon besar tanpa buah, aku berjalan hingga lupa waktu tapi saat malam hutan ini benar-benar menyeramkan. Pada saat itu aku perkata pada diriku sendiri
"Aku akan terus berjalan, jika aku belum pingsan."
Butuh sekitar 3 hari tiga malam untuk benar-benar keluar dari pulau itu. Saat aku sudah melihat laut aku pun berlari untuk minum. Air laut itu sangat segar namun, aku sudah sangat lelah berjalan, jika aku paksakan untuk menyebrang maka aku akan mati tenggelam. Jadi aku memutuskan untuk tidur sebentar. Aku juga pernah denger dari Bacchi bahwa pulau ini tidak ada binatang di dalamnya, semua sudah di basmi oleh tuan.
Aku tidur dengan nyenyak malam itu, walau tidak ada selimut atau kasur aku tetap bisa tidur nyenyak di sana. Aku hanya di beri dua baju dari kastil yang pertama adalah baju tidur yang selalu aku pakai saat malam dan jika pagi aku akan memakai baju indah ini lagi.
Aku terbangun karena mendengar keributan di dekatku. Sebelum membuka mata dan berdiri aku ingin memastikan siapa yang sedang membuat keributan ini.
Aku mendengarkan semua perkataan dengan sangat teliti. Tapi anehnya suara mereka seperti bukan suara manusia. Lalu ada tangan yang sangat kecil menyentuh bulu mataku yang membuatku terkejut lalu membuka mata.
"Siapa kalian?"
Saat ini aku sedang melihat sekelompok peri bersayap memakai gaun kecil berwarna biru.
Lalu aku mendengar ada suara dari dalam air perlahan keluar. Saat sosoknya sudah berada di atas permukaan air. Aku mengamati dengan sangat hati-hati. Dia seperti peri yang baru saja aku lihat namun, peri yang sedang berdiri di atas air ini ukurannya sama dengan aku. Apakah dia ratu dari para peri tadi?
"Maafkan rakyat saya yang mengganggu tidur nyenyak anda tuan putri."
Benar perkiraan aku dia memang ratunya, tapi kenapa dia memanggilku dengan sebutan tuan putri. Apakah sebenarnya identitas yang sedang aku pinjam ini adalah seorang tuan putri.
Namun, di saat yang bersamaan 25 pasukan, atau bisa di katakan seluruh penghuni kastil datang mengepungku.
Lalu tiba-tiba ada pagar air yang menghalangi mereka, membuat mereka semua tidak bisa melihat aku.
__ADS_1
Tapi tidak lama setelah itu pagarnya hancur, tuan sedang mengarahkan pedangnya kepada ratu peri itu. Lalu tuan berkata
"Jika masih ingin selamat, jangan ikut campur."
Aku sangat terkejut akan apa yang di katakan oleh tuan, bisa-bisanya dia membahayakan nyawa orang lain juga. Aku tidak ingin ratu peri yang tidak tahu apapun jadi terlibat.
"Tidak usah di perduli kan peri itu, bukannya anda ke sini ingin membawa saya. Jangan libatkan orang lain." Aku mengatakan itu dengan penuh kekesalan. Lalu berjalan melewati tuan.
Saat itu aku terus saya teringat pada ledakan yang terjadi pada ayahku. Setiap langkah ku yang sedang di kelilingi oleh mereka terdengar jelas suara ledakan itu. Aku sudah tidak menahannya lagi, aku berjongkok sambil menutup kedua telinga. Tangan ku terus bergetar, nafasku mulai terengah-engah. Aku tidak pernah merasa ini sebelumnya.
"MENJAUH!" Teriakku kencang. Seketika semua prajurit menjauh dari ku.
Bahkan saat itu tuan juga ikut menjauh dari ku. Butuh 5 menit untuk bisa berdiri kembali.
Setelah bisa berdiri aku memanggil Bacchi.
"Bacchi."
"Iya nyonya."
Mataku masih tertutup saat itu. Aku tidak berani membuka mataku, jika aku membuat mata maka ledakan itu akan terdengar kembali.
"Bacchi, kemari lah!"
"Baik nyonya sesuai permintaan anda."
"Tuntun aku hingga kastil, aku akan menutup mataku sepanjang perjalanan."
__ADS_1
"Baik nyonya sesuai permintaan anda."
Aku hanya berjalan sambil memegang lengan baju Bacchi, tanpa membuka mata sedikit pun.