
Aku pun memaksa tuan untuk mengakhiri latihan hari ini, lalu aku kembali ke kamar ku.
"Diana..." panggil ku.
"Iya nyonya."
"Ayo kita ke gudang senjata."
Aku pun membagikan semua pahatan yang ku buat pada 25 prajurit tuan. Reaksi mereka sama, mereka hanya menundukkan kepala memberi hormat dan tanda terima kasih. Entah apa yang mereka pikirkan saat aku memberi pahatan itu namun, aku tidak peduli.
Saat aku ingin memberi Ezekiel awalnya dia menolak.
"Saya tidak pantas mendapatkan hadiah dari nyonya, saya belum bekerja apapun untuk nyonya."
"Tidak, hadiah ini memang atas keinginan saya sendiri. Yang harus kamu lakukan hanyalah menerimanya."
Lalu Ezekiel pun menerimanya. Berbeda dengan Ezekiel, saat aku memberi kepada Qesharak dia sangat senang hingga kegirangan.
"Nyonya, nyonya, NYONYA.... Bagaimana bisa tuan menemukan nyonya sebaik anda. Bagaimana bisa tuan menemukan nyonya secerdas anda. Tuan memang hebat. Nyonya apakah ini bisa di mainkan?"
"Bisa."
Dia menggunakan kata menemukan, apakah aku di anggap barang. Tuan menemukan ku, apakah aku barang yang hilang?
Tapi sudahlah, dari semua reaksi orang yang mendapatkan pahatan ku hanya Qesharak yang paling memuaskan ku setelah memberikannya. Dia senang dan menerimanya dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Milik ku mana?"
Suara itu mengejutkan ku. Saat aku berbalik ke belakang ternya itu adalah tuan. Bagaimana bisa tuan muncul tiba-tiba di sini?
"Maksud tuan?"
"Kamu membagikan hadiah kepada seluruh penghuni kastil."
Astaga aku lupa, tadi aku sempat kebingungan kenapa lebih satu. Aku pikir, aku memang sengaja melebihkan satu pahatan dan semua sudah di beri nama kecuali yang satu itu lalu aku berikan pada Diana.
"Apakah tuan juga membutuhkan hadiah, bukannya tuan adalah penguasa di pulau ini. Jadi untuk hadiah kecil seperti ini saya pikir tidak perlu."
Aku hanya mencari alasan saja, tidak mungkinkan kalau aku mengatakan yang sejujurnya.
Haruskah aku membuatkan juga pahatan itu untuk tuan? Tapi kalau seperti itu bukannya akan sangat terlihat kalau aku lupa?
Sudahlah, mari terus hari ini dan lupakan rasa bersalah itu.
Aku pergi ke halaman belakang, aku ingin memanen buah pir yang aku tanam. Saat aku ke sana semua buah pir ku menghilang.
"Kemana semua Buha pir ku?" Gumang ku.
"Diana apakah kamu tau di mana semua buah pir ku?"
"Kemarin saat nyonya sedang latihan bersama tuan Ezekiel mengambil semua buah yang ada di pohon."
__ADS_1
"Ezekiel?"
"Iya, nyonya."
Tunggu, kenapa Ezekiel berani melakukan hal itu. Apa lagi dia tidak tahu buah apa yang dia ambil, aku curiga kalau tuan yang memerintahkan Ezekiel untuk mengambil semua buah pir ku.
Aku pergi ke ruang kerja tuan. Aku mengetuk pintu depan sopan.
"Tok... Tok..."
"Tuan, nyonya ingin masuk." Ucap Diana.
"Masuklah!" Sahut tuan dari dalam.
Diana pun membukakan pintu.
"Tuan, apakah tuan yang memerintahkan Ezekiel untuk mengambil buah di pohon halaman belakang?"
"Iya."
"Kenapa tuan melakukan hal itu, bukankah tuan tau kalau pohon itu milik ku?"
"Bukankah kamu juga tau kalau aku adalah penguasa di pulau ini. Semua yang ada dan yang terjadi di pulau ini atas izin ku."
Apa maksudnya tuan berkata seperti itu, apakah tuan mau balas dendam pada ku?
__ADS_1