
Aku pergi ke tempat wisuda. Aku bersikap seperti biasanya, aku hanya tidak menyangka bahwa semua yang sudah aku lalu di pulau hooka hanyalah mimpi.
Aku juga berpikir apa yang Bacchi lakukan saat aku tidak ada.
Sekarang waktunya kembali ke kenyataan.
"Aiyis, kami udah dapat kerjaan?"
"Udah. Aku terima di perusahaan sorum mobil."
"Cepat juga yah. Kamu masih kerja sambilan gak di kafe?"
"Udah enggak."
"Ooh, sukses terus yah buat kamu. Aku juga mau mulai cari pekerjaan jalan tetap nih."
"Kau juga yah semangat."
Setelah semua rangkaian acara wisuda telah selesai aku pergi ke supermarket tempat aku bekerja. Melayani berbagai pelanggan, dengan berbagai sifat. Namun, aku sudah terbiasa.
Setelah bekerja hingga malam hari. Aku pun kembali ke rumah namun, saat di perjalanan aku bertemu dengan seseorang yang mencurigakan. Dia terus mengikuti, aku pun mencoba berjalan lebih cepat. Tapi orang itu terus mengikuti ku, aku memutuskan untuk berlari sekuat yang aku bisa. Dan orang itu ketinggalan jauh di belakang.
Kekuatan fisikku meningkat dari sebelumnya. Apakah karena aku sudah meminum ramuan yang tuan berikan. Tapi semua itu hanyalah mimpi. Atau karena aku sudah berlatih berjalan jauh tanpa henti selama 3 hari 3 malam. Tapi itu semua juga hanyalah mimpi.
Tapi syukurlah orang aneh itu tidak mengikuti aku lagi. Hari demi hari ku lewati seperti biasanya. Aku hanya sedang bekerja paruh waktu di supermarket dan menunggu di panggil wawancara oleh perusahaan yang sudah aku pilih.
Aku mulai melupakan pulau hooka, Bacchi dan tuan. Padahal aku sudah berjanji pada ratu peri ingin belajar elemen air. Aku hanya memikirkan sesuatu yang memang tidak pernah ada.
Sudah seminggu sejak wisudaku. Aku masih belum mendapatkan pekerjaan tetap. Teman yang biasa bermain dengan ku hanya Aiyis, tapi dia sudah ada pekerjaan tetap, jadi dia pasti lelah. Aku tidak ingin mengganggunya.
Saat aku ingin pulang dari supermarket setelah bekerja, aku melihat segerombolan anak remaja sedang berkelahi. Aku ingin memisahkan mereka atau melaporkan polisi tapi karena mereka semua adalah pria jadi bunyi bom itu kembali ke telinga ku.
Aku pingsan karena tidak kuat menahan suara bom yang terus aku dengar saat melihat para remaja itu berkelahi.
Aku juga tidak tau berapa hari aku sudah pingsan. Aku bangun masih di tempat yang sama, tempat saat aku pingsan.
Tidak ada tuan, yang memerintahkan para prajurit untuk membawaku ke kamar atau Bacchi yang selalu ada di depan kamar saat aku sedang pingsan. Padahal aku tidak suka bergantung pada orang lain, tapi setelah di perlakukan begitu oleh mereka aku jadi lupa diri.
Aku tidak seharusnya bergantung pada orang lain. Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri. Bukannya aku sudah terbiasa, kenapa kesannya hal ini sangat kejam bagiku.
Tanpa sadar aku meneteskan air mata
__ADS_1
"Ternyata aku memimpikan mereka semua para penghuni kastil di pulau hooka hanya karena aku ingin mengandalkan orang lain."
Gumang ku sambil menangis.
Saat aku ingin bekerja di supermarket setelah aku pingsan, ternyata aku sudah tidak masuk bekerja selama 3 hari. Apakah aku pingsan selama 3 hari.
Dan saat aku melihat tanggal, memang benar aku sudah pingsan selama 3 hari. Apakah tidak ada orang yang lewat jalan itu lalu membangunkan ku atau melaporkan pada polisi setempat.
Sungguh, aku tidak boleh lagi berpikir untuk mengandalkan orang lain. Hanya bisa mengandalkan diri sendiri sesudah apapun situasinya.
Aku mulai mencari pekerjaan paruh baya lainnya. Seperti mengantarkan susu ke berbagai rumah. Lalu jadi pengantar peket, menjadi penjaga tiket, menjadi penjual. Dan berbagai pekerjaan sementara lainnya.
Aku masih menunggu dari beberapa perusahaan. Kapan yah aku akan mendapatkan pekerjaan tetap bukan pekerjaan sementara seperti ini lagi.
Aku mengantarkan makanan ke asrama tentara yang dulunya adalah tempat paman bekerja. Ternyata yang memesan makan itu adalah teman paman. Dia pernah sesekali menjemput paman di rumah.
"Aileen, bagaimana kabar mu?"
"Baik, bagaimana dengan paman Ream?"
"Aku juga baik, kamu sudah lulus kan seharusnya."
"Iya paman aku sudah lulus."
"Aku selesai bekerja sekitar jam 9 malam."
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Nanti kita janjian di sini yah. Setelah kamu selesai bekerja."
Untuk apa paman Ream mengajakku pergi malam-malam dan kemana paman ingin membawa ku. Tapi jika itu paman Ream aku pikir tidak papa asal tidak lewat dari tengah malam
"Lewat tengah malam, seperti sinderela saja."
Gumang ku.
Hari ini bayaranku berkurang karena ada pelanggan yang protes. Peraturan saat aku mengantar makan semua kerugian pelanggan itu aku yang menanggung. Jadi jika ada pelanggan yang tidak puas maka bayar ku akan di potong.
Padahal aku bisa saja bersantai sambil menikmati uang 1M itu. Tapi aku memang orang yang gila kerja sepertinya. Terkadang aku berpikir kenapa tidak ku buat investasi saja uang 1M itu atau ku jadikan modal awalku untuk usaha. Tapi tangan ku sangat berat ketika ingin mengambil uang itu, aku juga tidak tau alasan pastinya apa. Jadi aku hanya akan melakukan semua dengan uangku sendiri.
Terkadang hidup tanpa keserakahan itu tidak mengasyikkan. Aku sudah sampai di tempat yang paman Ream katakan. Aku sudah menunggu 30 menit disini. Apakah paman Ream lupa.
"Aileen, kamu sudah datang ternyata ayo kita berangkat."
__ADS_1
Apakah paman tidak ingin menanyakan hal lain. Seperti apakah kamu sudah menunggu lama, maaf sudah membuatmu menunggu. Sesuai yang seperti itu pikirku. Tidak semua orang harus mengerti isi kepala ku tapi kenapa aku harus di tuntut untuk mengerti isi kepala orang lain.
"Paman kita akan pergi ke mana?"
"Nanti kamu juga akan tau."
"Bagaimana bisa aku tau kalau paman tidak memberi tahu ku!" Ucap ku dalam hati.
Mungkin karena beberapa hari ini aku kelelahan mencari kerja paruh waktu di berbagai bidang. Dan aku juga sudah menghadapi berbagai sifat manusia itu semua sangat menguras tenaga.
Biasanya aku masih bisa bersikap ceria raman dan Tersenyum saat lelah tapi akhir-akhir ini aku tidak bisa melakukannya.
Mari istirahat sebentar setelah ini lalu mencari pekerjaan kembali.
Ternyata paman membawaku ke rumahnya yang berada tidak jauh dari tempat pertemuan kami.
"Kita sudah sampai, ayo masuk."
Kenapa paman Ream mengajakku ke rumahnya di malam hari seperti ini. Sebenarnya aku tidak ingin berburuk sangka pada paman tapi aku sedang sensitif sekarang.
"Maaf paman aku menolak. Aku pikir ini sudah malam tidak baik seorang wanita masuk ke dalam rumah seorang pria. Jika paman ada yang ingin di katakan atau di tunjukkan kepadaku, aku akan menunggu di luar saja."
Jika memang akan terjadi hal yang tidak di inginkan di dalam sana akan sangat merugikan untuk ku. Paman Ream pasti sangat hebat dalam bertarung, aku akan langsung kalah melawannya.
"Baiklah, jika kamu berkata seperti itu. Aku akan mengambil sesuatu ke dalam. Mohon tunggu yah!"
Saat paman keluar paman membawa sebuah kotak besar.
"Ini adalah berang peninggalan dari paman mu, sebenarnya aku sudah lama ingin memberikan ini padamu tapi belum sempat. Bawalah, aku bersumpah tidak ada sesuatu yang membahayakan di dalamnya."
"Terima kasih paman Ream, kalau begitu saya pamit pulang."
"Mau aku antar?"
"Tidak perlu paman Ream. Terima kasih atas tawarannya. Aku bisa pulang sendiri."
"Hati-hati yah."
Aku ternyata memang berlebihan.
"Maafkan aku paman Ream memikirkan sesuatu yang buruk tentang paman."
__ADS_1
Aku benar-benar perlu istirahat untuk sementara waktu.