My Another Life

My Another Life
mulai kembali


__ADS_3

Tabungan ku saat ini hanya bisa bertahan selama satu Minggu. Jika aku memutuskan untuk pergi berlibur, itu hanya akan bertahan selama 3 hari.


Aku memutuskan untuk pergi berlibur. Meski hanya akan bertahan selama tiga hari tapi itu akan lebih menyenangkan. Mari buka dulu barang yang di berikan oleh paman Ream.


Isinya hanya ada baju-baju peninggalan paman, kalung identitas dan. Saat aku mengeluarkan semua barang yang ada di kotak ada dua buah kota kecil lagi di dalamnya.


Apakah paman ingin memberikan ini pada kekasihnya. Kenapa aku berkata seperti itu karena itu terlihat seperti kotak hadiah dengan tanda hati di tengahnya.


"Aku akan berusaha untuk mengantarkan pada orang yang seharusnya mendapatkan ini."


Nanti akan aku cari sampai ketemu kekasih paman atau orang yang paman cinta.


Kotak satunya agak kusam. Aku pun membukanya.


'Hai the Fanny girls, aku sangat tidak berharap kamu akan membaca surat ini. Tapi jika memang tiba waktunya aku harap kamu akan menerima dengan lapang dada lalu melanjutkan kehidupan dengan penuh semangat. Kamu tau aku paling tidak suka saat ada orang yang menatap mu dengan penuh rasa kasihan. Memangnya siapa mereka yang berani mengasihani wanita keren seperti dirimu. Kasihani saja hidup mereka yang sangat menyedihkan itu, tidak perlu membagi tatapan mereka kepada mu.


Wanita keren di dalam hidupku hanya kamu. Bahkan teman-teman ku sering mengatak aku gila karena sangat membangga banggakan dirimu. Mereka mengatakan bahwa aku sudah di butakan oleh mu. Tapi bagiku mata mereka lah yang buta tidak bisa melihat berapa kerennya dirimu. Ingat jangan menyusul ku, atau menyusul orang tua mu. Jika kau bertemu dengan mu di sini dalam waktu yang cepat maka aku akan langsung memukuli mu. Ingat tidak perlu menyusul kami, kami juga tidak perduli kapan kamu akan menemui kami lagi. Hiduplah dengan keren seperti biasanya. Hamburkan lah uang yang kamu terima itu. Aku sangat menyayangimu Fanny girls.'


"Dasar paman tidak berguna, siapa yang kau sebut wanita keren. DASAR BODOH..."


Aku sungguh tak bisa menahan air mataku ada sekitar seratus surat di dalam kotak itu dengan isi yang sama. Apakah dia hanya ingin menulis surat terakhirnya untuk ku mana untuk kekasihnya. Dia akan menyusahkan ku mengantarkan hadiah ini.


Karena tidak ada petunjuk sama sekali aku harus mengantarkan kotak hadiah ini kemana jadi, aku mencoba untuk membukanya dulu. Aku hanya berharap ada petunjuk yang paman berikan.


Aku membuka dengan sangat hati-hati, aku tidak ingin merusak kotak ini. Saat aku membuka isinya, aku melihat sebuah kapal dari kayu yang sangat indah. Aku tidak sengaja meneteskan air mata.


Aku sangat menyukai kapal sejak kecil. Aku suka membeli sesuatu yang berbentuk kapal. Aku ingin membuat kerajinan sendiri berbentuk kapal dan saat itu paman berjanji akan mengajari ku membuat kapal setelah aku lulus kuliah tapi paman malah mengingkari janjinya.


"Apakah ini untuk ku?"


Aku mencari surat di dalam kotak hadiah itu namun, tidak ada. Meski aku sangat ingin memilikinya tapi jika ini bukan untukku maka aku tidak akan menyimpannya.


Saat aku mengambil kapal itu mencoba mencari surat di dalamnya, aku menemukan ukiran yang bertulisan 'wanita keren'


Paman bilang dalam suratnya bahwa satu-satunya wanita keren yang dia temui hanyalah aku.


"Berarti kapal ini untuk ku."


Kenapa paman tidak memberikan saat paman masih bersamaku. Kenapa aku harus menerima hadiah ini dari orang lain, bukan paman yang memberikannya langsung padaku.


Malam itu aku memutuskan untuk mengunjungi makan paman yang berada tepat di samping ayah dan ibu bahkan kakek, nenek ku.


Tidak ada perasan takut sedikitpun saat aku pergi kesana.


"PAMAN... " teriak ku di makam paman.


"Ayah, paman jahat sekali. Paman tidak menepati janjinya kepadaku." Ucap sambil memeluk makam ayah.


"Ibu, aku tidak berani memakai uang yang ibu tabung." Ucapku sambil menatap makam ibu.


"Nenek, apakah nenek sangat merindukan paman?" Ucapku sambil menatap makam nenek.


"Sepertinya hanya kakek yang mengerti aku, kakek meski aku tidak pernah bertemu dengan kakek tapi aku yakin bahwa kakek pasti akan membelaku saat ini." Ucapku sambil menatap makam kakek.

__ADS_1


"Paman, apakah aku benar-benar tidak boleh menemui kalian sekarang?" Ucapku sambil memeluk makan paman.


"Paman tau, aku sangat ingin memeluk paman saat wisuda. Aku sengaja tidak datang ke sini setelah wisuda, aku tidak ingin cemburu dengan teman yang lain. Mereka yang di sambut hangat oleh seluruh anggota keluarganya, mereka yang bisa berfoto bersama keluarga mereka. Aku tidak ingin cemburu pada mereka semua. Paman, aku memeluk mu. Kenapa saat paman masih bersamaku paman sangat cuek kepada ku. Aku ingin mendengar langsung paman memanggil aku dengan sebutan wanita keren. Paman tidak pernah memeluk sama sekali, tapi kenapa semua surat terakhir yang paman tulis hanya untuk ku. Aku pikir selama ini paman merawat ku hanya karena nenek yang menyuruh. Karena sikap cuek paman padaku aku juga bersikap cuek pada paman. Sampai tiba-tiba saat pertemuan paman dan aku, paman berjanji lalu mengatakannya dengan penuh senyuman dengan penuh ketulusan. Saat itu aku sangat bahagia karena merasa di perhatikan oleh paman tapi ternyata paman malah melanggar janji yang paman buat."


Ucap sambil memeluk makan paman.


"Kakek, apa yang harus aku lakukan pada paman yang sudah melanggar janjinya sendiri?" Ucapku sambil menatap makam kakek.


Padahal aku sudah berjanji untuk tidak pernah menangis di makam kalian.


"Ibu, maaf. Aku tidak sekuat dirimu saat menghadapi masalah."


"Ayah, maaf. Aku tidak bisa terus bersemangat seperti dirimu saat menghadapi masalah."


"Nenek, maaf. Aku tidak setenang dirimu saat menghadapi masalah."


"Kakek, maaf. Aku terlihat sangat payah saat menghadapi masalah."


"Paman, maaf. Aku tidak terlihat seperti wanita keren lagi saat menghadapi masalah."


Bagaimana caranya agar aku bisa terus maju sendirian. Aku tidak punya siapa pun saat ini. Untuk siapa semua kesuksesan ku nanti. Aku juga ingin berfoto keluarga seperti yang lain.


"Paman, aku menyesal tidak pernah berfoto berdua denganmu. Bagaimana caranya agar aku bisa melihat senyuman pama lagi. Aku tidak suka foto yang terpasang di sini, paman terlihat sangat menyeramkan. Aku ingin melihat senyuman paman lagi saat membuat janji padaku. Padahal paman tampan kenapa tidak ada yang menyukai paman. Tidak seperti ayah yang sangat banyak mendapatkan hadiah dari berbagai wanita."


"Ayah, paman sangat payah ternyata."


"Jika saat itu paman mau menikah, mungkin aku akan mendapatkan adik yang sangat lucu."


"Ayah, ibu, nenek, kakek dan paman sepertinya sudah saatnya aku pulang. Terima kasih sudah mau menjadi keluarga ku. Aku memang tidak seperti anak yang lain yang bisa berfoto dengan keluarga mereka namun, aku tetap beruntung memiliki keluarga seperti kalian."


"Kalian semua jangan merindukan aku yah, biar aku saja yang merindukan kalian."


Aku pun pulang kembali ke rumah. Rumah yang pernah mereka tinggal juga bersama ku. Rumah penuh kenangan yang tidak akan pernah aku tinggalkan.


Dari jauh aku melihat banyak orang berkumpul di area rumah, aku melihat bahwa rumah tetanggaku sudah habis terbakar. Aku berlari kencang, aku hanya ingin berharap agar rumahku baik-baik saja.


Namun saat aku tiba di depan rumahku.


"Yang sabar yah, Aileen."


Rumahku sudah terbakar habis. Aku mendengar dari tetangga ku bahwa sumber apinya adalah dari tiang listrik yang korslet. Ada 5 buah rumah yang terbakar habis. Karena jalan yang sempit menyulitkan pada pemadam untuk sampai ke lokasi kebakaran.


Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya duduk terdiam sambil menatap rumah yang sudah terbakar habis. Tidak ada satu barang pun yang tersisa. Yang tersisa hanyalah baju dan handphone yang ada padaku.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga peninggalan terakhir dari kalian."


Air mataku sudah kering saat itu. Aku sudah tidak bisa menangis lagi. Aku hanya diam dan mendengar berbagai macam orang yang sedang mengasihani ku.


Aku ingin kembali pulau hooka. Aku masih punya tuan jika di sana, aku juga punya Bacchi yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Aku juga punya Isama yang selalu membuatkan aku makanan. Dan ada para prajurit yang selalu mau mencari ku saat aku hilang.


Aku tidak bisa mengandalkan siapapun di sini. Para tetangga yang mengasihani ku mulai pergi. Sekarang hanya ada aku sendirian, aku duduk tepat di depan rumah yang sudah hilang.


"Ahhh. Aku sangat lelah, aku mengantuk."

__ADS_1


Padahal saat itu aku tidur di depan rumah yang beralaskan tanah. Aku tidur seperti bayi yang menekukkan tubuh. Aku tidur tanpa bantal dan selimut namun anehnya, aku tidur sengat nyenyak malam itu.


Saat aku bangun, aku tetap berada di sana. Yah memang tidak akan ada orang yang membangunkan ku apa lagi memindahkan ku. Aku tau hal itu tapi aku masih berharap.


Aku bangun dengan sangat tenang. Tidak ada penyesalan sama sekali, tidak kesedihan juga. Aku memutuskan untuk membeli beberapa kayu dan peralatan lainnya untuk membuat sebuah rumah kecil yang bisa aku tinggali.


Semua uangku habis, berarti besok aku harus mencari pekerjaan paruh waktu lagi. Tidak papa, aku sudah cukup beristirahat. Mengeluarkan semua air mata membuat hatiku lega.


Aku membuat sebuah rumah kecil dari beberapa kayu dan triplek. Aku membuat rumah berukuran 5 × 4 meter. Untuk kamar mandi aku membayar orang untuk membuatkannya.


Semua uang ku sudah habis. Aku tidur dengan rasa lapar, tapi karena saat di Pulau hooka aku pernah tidak makan 5 hari jadi aku sudah terbiasa.


Uang ku tidak cukup untuk membeli perabotan yang lain. Aku hanya bisa membeli sebuah tikar yang melindungi tubuhku dari kayu.


Para tetangga sebenarnya mengumpulkan donasi untuk ku namun, aku menolak. Aku tidak ingin di kasihani, aku masih bisa hidup tanpa uang mereka. Aku menolak mereka dengan lembut, aku berkata bahwa aku masih bisa bekerja sendiri masih banyak tetangga korban lain yang lebih memerlukan sumbangan itu.


Aku tidur dengan tenang dan nyenyak di dalam rumah berukuran 5 × 4 meter itu. Meski tak sama lagi rumah ini tetap sama bagiku.


Pagi telah tiba lagi. Padahal kemarin aku masih mengharapkan kembali ke pulau hooka. Bodoh memang sudah tau bahwa mimpi itu tidak bisa di perkirakan.


Aku kembali mencari pekerjaan. Aku memaki baju yang baru saja aku beli saat di pelelangan kemarin.


"Untunglah aku membeli baju ini."


Aku jadi teringat kembali, aku saat di Pulau hooka juga hanya memiliki dua baju saja. Sungguh kebetulan yang aneh.


Saat sore aku baru mendapatkan pekerjaan paruh waktu di supermarket untuk menjaga di malam hari. Aku pun menerima pekerjaan itu, meski resikonya lebih tinggi dari bekerja di siang hari namun, jika aku menolak maka aku akan kembali tidak makan besok.


Semua situasi aman terkendali hingga pukul 3 dini hari. Saat itu ada seorang bapak-bapak yang mabuk memasuki supermarket. Aku memperhatikannya dari jauh hingga saat ingin membayar belanjaan bapak in sengaja menyentuh tangan ku. Aku di lecehkan saat itu.


"Kalau bapak macam-macam saya tidak akan tinggal diam."


Aku menegaskan hal itu kepada bapak-bapak yang sedang mabuk. Namun, dia malah menaiki kasir dan menarik tanganku. Aku yang panik tiba-tiba saja mengingat gerakan tuan saat sedang latihan aku pun menirukannya.


Lalu bapak-bapak ini kesakitan hingga tidak bisa bergerak. Aku pun segera mengikat dia menggunakan rompi yang aku pakai. Setelah itu aku melaporkan bapak-bapak itu kepolisian.


Saat pagi aku di suruh untuk memberi kesaksian pada polisi. Saat di sana ada keluarga bapak-bapak itu juga. Mereka meminta aku untuk mencabut tuntutan, aku tidak mau. Mereka mengatak bahwa itu hanyalah sebuah kesalahan yang biasanya terjadi saat orang mabuk.


Mereka meminta ku untuk menormalkan sebuah pelecehan seksual walau pun ringan itu tatap tidak benar bahkan jika yang melakukan sedang mabuk sekali pun.


Aku pulang ke rumah untuk mandi setelah menyelesaikan semua urusan di polisi. Lalu aku kembali mencari pekerjaan paruh waktu. saat aku sedang mencari pekerjaan aku bertemu dengan Aiyis. Aku memang tidak mengatakan kepadanya bahwa aku baru saja kehilangan rumah. Aku tidak ingin di kasihani olehnya.


"Aileen, mau kemana?"


"Cari kerjaan."


"Kamu mau gak kerja di perpustakaan?"


"boleh."


Setelah itu aku pergi ke perpustakaan yang Aiyis katakan. syukurlah di sana tidak perlu syarat yang sulit semua data yang penting aku simpan di dalam handphone. Jadi saat kebakaran semuanya masih aman tersimpan.


aku akan melakukan masa percobaan selama satu Minggu, jika aku sudah lolos maka aku resmi bekerja di perpustakaan itu. meski semua hal ini baru untuk ku tapi aku akan belajar dengan giat agar aku bisa resmi di terima.

__ADS_1


Seminggu pun berlalu, aku telah menjadi pegawai tetap di perpustakaan ini. sambil menunggu panggilan wawancara dari perusahaan. Aku menghabiskan sebagian waktu ku di perpustakaan. Bukan hanya untuk bekerja tapi aku juga mencoba untuk mencintai buku. Aku adalah orang yang mudah bosan ketika membaca. Setelah aku bekerja di perpustakaan aku mulai menikmati saat-saat membaca buku tanpa rasa bosan.


__ADS_2