
Aku tidak mendapatkan satupun pria di pesta itu. Bukannya aku tidak ada yang mau tapi akunya saja yang menghindar. Aku tidak suka pria model seperti tadi.
Setelah tertidur lelap. Aku mulai bisa mendengar suara berisik. Aku bertanya-tanya suara apa itu. Apakah ada orang yang sedang berkumpul di depan rumahku.
Tapi setelah itu. Aku mulai mendengar suara Bacchi yang sedang menangis.
"Tunggu, suara Bacchi menangis?"
Apakah aku sangat merindukan dia hingga bisa memimpin mereka kembali. Jika memang benar, aku sangat senang bisa bertemu dengan mereka lagi.
Karena aku masih mengantuk saat itu, jadi aku tidak membuka mata. Saat aku benar-benar sudah puas tidur, aku mau bangun untuk mandi dan sarapan. Hari ini aku libur bekerja jadi aku tidak perlu khawatir akan datang terlambat.
Saat aku membuka mata. Aku melihat sesuatu yang berbeda tapi tak asing di mata ku. Aku mencoba bangkit dari tidur ku dan ada yang berlari menghampiri ku.
"Nyonya... Akhirnya nyonya sadar."
Itu adalah Bacchi yang memelukku sambil menangis.
"Tunggu, Bacchi. Ini benar-benar Bacchi?"
Aku menatap Bacchi dan mencubitnya.
"Iya nyonya ini saya."
Aku kembali memimpikan pulau hooka.
Semuanya terasa sangat nyata saat di sentuh. Ini adalah mimpi yang sangat keren.
"Bacchi kenapa kamu menangis?"
__ADS_1
"Saya terharu, akhirnya nyonya sadar setelah 4 tahun tidak bangun. Sebentar lagi tuan akan datang, tuan pasti akan sangat senang."
Aku tidak sadar selama 4 tahun. Apakah kisah mimpi ini masih sambungan mimpi sebenarnya. Syukurlah jika memang seperti itu.
"Siapa saja yang sedang berada di kastil saat ini?"
"Hanya ada saya dan Isama."
Seperti dugaan ku.
"Bacchi, bisakah kamu menceritakan apa yang telah terjadi di kastil saat aku tak kunjung sadar!"
"Pagi itu saya ingin mengantarkan makanan seperti biasanya ke kamar nyonya. Saya terus mengetuk pintu seperti yang biasanya saya lakukan. Tapi aneh kali ini nyonya tidak kunjung membukakan pintu, akhirnya saya membuka pintu itu sendiri karena saya pikir nyonya sakit lagi. Setelah saya masuk, tidak ada tanda-tanda bahwa nyonya sakit. Saya mencoba membangun nyonya dengan lembut. Tapi nyonya tak kunjung bangun juga. Saya pikir saat itu nyonya memang sangat kelelahan seperti biasanya, nyonya bisa saja tidur lebih dari satu hari tanpa bangun. Saya pun membiarkan hal itu, tapi setelah seminggu nyonya tak kunjung bangun juga. Akhirnya saya melaporkan hal ini kepada tuan. Tuan juga awalnya mengira nyonya hanya tertidur lalu memutuskan untuk memanggil dokter terbaik di kerajaan. Setelah dokter itu memeriksa tubuh nyonya tidak ada sesuatu yang salah, dokter itu mengatakan bahwa nyonya hanya sedang tertidur. Tuan pun percaya dengan apa yang di katakan dokter tapi setelah itu nyonya juga tak kunjung bangun. Tuan berpikir sudah tidak benar jika seperti ini jadi tuan memutuskan untuk memanggil dokter lain. Tapi dokter itu mengatakan hal yang sama.
Tuan mulai cemas karena nyonya tak kunjung bangun selama 4 bulan, tuan mulai mencari dokter lain di kerajaan yang lain. Tapi dokter itu juga mengatakan hal yang sama. Karena kesal dengan jawaban dari dokter yang terus sama akhirnya tuan meminta seluruh dokter di benua ini datang untuk melihat kondisi nyonya tapi hasil dari mereka tetap sama. Akhirnya tuan memang dokter dari benua lain tapi tetap tidak ada yang menjawab dengan berbeda. Tuan menghabiskan seluruh kekayaannya untuk memanggil para dokter itu. Sekarang tuan menjadi kesatria paling miskin. Tuan juga sudah 4 tahun ini tidak mengambil misi apapun. Yang ada di otak tuan hanya bagaimana caranya agar nyonya bisa bangun."
Segitunya tuan terhadap ku. Memang sih jika aku berada di posisi tuan aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi kenapa di sini juga sudah 4 tahun berlalu, sama persis seperti di dunia nyata. Mungkin karena ini di dalam mimpi ku jadi aku juga menyesuaikan tahunnya.
Tuan, membuka pintu kamar ku. Tapi saking tidak percaya apa yang dia lihat. Tuan hanya bisa berdiri di depan pintu kamar.
"Kenapa tuan hanya berdiri di sana?"
Ini juga pertama kalinya aku melihat tuan masuk ke dalam kamar ku.
Tuan mulai melangkah perlahan dan menghampiri ku. Tuan terlihat sangat tenang, tidak ada ekspresi khusus seperti saat Bacchi mengetahui bahwa aku sadar.
Tuan duduk di kasurku. Tangan tuan mulai meraba wajah ku.
"Kamu sudah puas tidur?"
__ADS_1
Kalimat pertama yang aku dengar dari tuan. Aku benar-benar tidak bisa menebak isi pikirannya.
"Iya tuan. Apakah tuan juga sudah puas tidak bekerja, jika tuan terus tidak mencari bayaran bagaimana aku bisa membeli baju. Harus aku saja yang keluar sendiri untuk mencari bayaran di luar pulau hooka?"
"Tidak, aku akan berangkat hari ini. Aku akan kembali dengan uang yang banyak agar aku bisa membeli baju untuk mu."
"Tuan, saya mohon pilihlah warna yang lain. Saat tuan membelikan baju untuk ku."
"Akan aku pikirkan nanti."
Lalu tuan pergi bersama para prajurit yang lain. Aku tidak sempat juga melihat prajurit yang lain. Aku sekarang sudah tidak papa jika melihat mereka secara bersamaan di dalam satu tempat. Aku tidak sabar ingin menyapa mereka dengan benar.
Isama datang untuk yang pertama kalinya ke kamar ku. Dia mengantarkan sendiri sarapan yang sudah di buatnya. Tapi sepertinya dia tidak terlalu peduli, Isama hanya datang mengantarkan makanan lalu pergi tanpa menanyakan apapun.
Setelah selesai sarapan aku meminta Bacchi agar menyiapkan air untuk ku. Dan seperti yang di harapkan Bacchi sudah melakukannya. Biarkanlah aku selalu mengandalkan orang lain di dalam mimpi ini.
Bacchi mengantarkan ku ke kolam pemandian. Air di kolam sangat menenangkan seperti yang di harapkan Bacchi memang hebat dalam segala hal.
Bacchi pun membawakan baju yang sama seperti sebelumnya. Walaupun begitu aku tetap senang. Sudah lama aku tidak memakai baju ini.
Aku bingung harus melakukan apa. Aku tidak tahan jika hanya diam di kamar saja. Bacchi juga tidak memperbolehkan aku untuk menemui para peri.
"Bacchi, bisakah saya mendapatkan beberapa kayu yang ada di pulau ini?"
"Tentu saja nyonya."
"Kalau begitu saya akan memotongnya sendiri."
Awalnya aku memang berkata seperti itu. Ternyata di sini tidak ada alat pemotong khusus kayu, aku benar-benar melupakan hal itu. Jadi hanya ada pedang dan pisau besar yang di gunakan Isama saat di dapur.
__ADS_1
Aku mencoba memotong pohon besar itu menggunakan pedang tapi ternyata aku memang tidak berbakat. Akhirnya Bacchi yang memotongkan pohon besar itu untuk ku.