
Seharian aku hanya mendengar tuan menjelaskan semua itu, bahkan aku tertidur saat tuan menjelaskan. Aku benar-benar tidak tahan dan akhirnya tuan mengakhiri penjelasannya yang sangat panjang itu.
Aku hendak berdiri dari kursi
"Bukannya baju kamu sudah banyak ya?" Tanya tuan heran sambil melihat perutku yang terbuka sedikit.
Aku merasa tidak nyaman jadi aku menutupi perut yang kelihatan sedikit itu dengan kedua tangan ku.
"Iya, tapi hanya baju ini yang cocok untuk berlatih."
"Kamu tau apa yang aku pikirkan sekarang?"
Tanya tuan sambil menatap mataku.
Tentu saja aku tidak tau, tuan pikir aku peramal. Hendak sekali aku menjawab seperti itu tapi nanti aku di eksekusi.
"Tidak tuan." Jawab singkat dengan ekspresi yang sudah sangat lelah karena mendengar penjelasan yang sangat panjang dari tuan.
"Aku ingin menyentuhnya, namun aku juga berpikir apakah yang lain juga berpikir demikian saat melihat kamu seperti itu?"
Sungguh mengejutkan, aku tidak pernah menyangka tuan akan berkata seperti itu. Aku juga tidak tau harus menjawab apa.
Tuan kembali membuka penutup matanya lalu di ikatan di pinggang ku. Saat melepas penutup matanya itu tuan tidak membuka mata, matanya masih tertutup rapat.
"Apa alasan tuan menurut mata seperti itu?" Tanya ku lancang. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, bisa-bisanya aku berani melontarkan pertanyaan itu.
Aku tidak berharap jawaban apapun dari tuan. Ingan rasanya aku berlari langsung keluar dari ruangan ini
"Maaf tuan atas kelancangan saya."
Lalu aku berlari keluar.
__ADS_1
Keesokan harinya aku mulai berlatih berpedang bernama dengan tuan. Aku masih memakai baju yang sama seperti kemarin dan bagian perut ku yang terbuka juga masih di tutupi oleh kain penutup mata milik tuan.
Aku juga sebenarnya lupa untuk membagikan hasil pahatan kayu ku, jadi aku berencana untuk membagikannya malam nanti.
Selama di latihan oleh tuan, aku bisa memastikan bahwa tuan tidak bisa menjadi pelatih. Yang tuan lakukan hanyalah pertunjukan di hadapan ku, tuan mengatakan untuk mengikutinya sedangkan aku memegang pedang dengan benar saja belum bisa.
Yang aku dari tuan hanyalah kata
"Bukan."
"Salah, bukan seperti itu."
"Bukan."
"Bukan seperti itu."
"Bukan."
"Bukan."
"Bukan."
"Salah, bukan seperti itu."
"Bukan."
"Bukan seperti itu."
"Bukan."
"Bukan." "Salah."
__ADS_1
"Bukan."
"Salah, bukan seperti itu."
"Bukan."
"Bukan seperti itu."
"Bukan."
"Bukan." "Salah."
"Bukan."
"Salah, bukan seperti itu."
"Bukan."
"Bukan seperti itu."
"Bukan."
"Bukan."
Hingga siang hari hanya seperti itu dan akhirnya aku menyerah.
"Kalau tuan tidak mencari saya pelajari yang benar-benar bisa melatih saya untuk bertarung maka saya akan kabur dari sini!" Ancam ku pada tuan.
"Kenapa kamu sangat sulit untuk mempelajari hal mudah seperti ini?"
"Terserah tuan mau berkata apa, tapi jika tuan tidak mau mencarikan saya pelatih maka saya akan kabur."
__ADS_1
Aku sudah mulai terbiasa lancang pada tuan, rasa takutku perlahan mulai memudar. Mungkin karena aku juga sudah mulai menganggap tuan sebagai suami ku bukan lagi menganggap tuan sebagai penguasa pulau ini.
Meski semua itu memang fakta tapi aku hanya ingin menjadi lebih dekat dengan tuan tanpa takut berada di dekatnya. Meskipun terlihat menyeramkan saat bersama dengan tuan tapi jika tingkah polos tuan mulai keluar itu agak sedikit lucu mungkin...