
Sebelum aku pergi, aku merasa ada suara di dalam kepalaku yang mengatakan
"Tuan putri, saya berjanji akan menyelamatkan anda." Suara itu bukan berasal dari mulut ratu peri tapi aku merasa itu seperti suara ratu peri.
Aku pikir itu hanya halusinasi saja, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Sekarang yang harus aku pikirkan adalah bagaimana nasib ku di kastil setelah ini.
Kami beristirahat sekitar tiga kali. Namun, kami hanya istirahat untuk minum lalu melanjutkan perjalanan. Mereka semua tidak ada yang membawa makanan, masing-masing dari mereka hanya membawa minuman. Mereka juga tidak tidur meski di malam hari. Sungguh aku di samakan seperti mereka semua. Perjalanan saat itu sangat menyiksaku.
"Aku sangat lapar, sudah berapa hari yah aku tidak makan?" Ucapku dalam hati.
"Nyonya, kita sudah sampai di kastil."
"Tuntun lah aku hingga ke dalam kamar!"
"Baik nyonya sesuai dengan keinginan anda."
Aku kembali di tuntun oleh Bacchi hingga ke dalam kamar.
"Nyonya kita sudah sampai di dalam kamar."
Sebentar, apakah aku tidak di masukkan ke dalam penjara. Aku sudah memberontak kan, aku kabur. Apakah aku tidak di hukum.
"Bacchi, jawablah dengan jujur!"
"Baik nyonya sesuai keinginan anda."
"Apa yang di perintahkan oleh tuan kepada kalian semua?"
"Kami di perintahkan untuk mencari nyonya kemanapun hingga berjumpa baik itu dalam keadaan hidup ataupun mati."
Tuan pikir aku selemah itu ternyata.
"Apakah kalian tidak di beri tahu kenapa harus mencari saya?"
"Tidak ada perintah lain nyonya."
"Kembali lah! Terima kasih untuk usaha mu hari ini."
__ADS_1
Jadi tuan tidak mengatak kepada mereka kalau aku kabar atau tuan tidak tau sebenernya aku sedang kabur. Aku harus menemui dia.
Aku membuka pintu kamar ku.
"Nyonya mau kemana?"
"Bacchi, kamu masih menunggu di sini ternyata."
"Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan meninggalkan nyonya sendirian."
Oh iya aku masih berhutang hukuman padanya. Sudahlah jika dia tidak mengingatnya tidak akan aku ungkit.
"Bacchi, dimana tuan berada saat ini?"
"Di ruang makan nyonya."
"Apakah penghuni lain juga sedang berada di ruang makan?"
"Iya nyonya."
Aku berpikir sejenak, apakah aku harus ke sana sekarang atau nanti saja saat tuan sedang sendirian. Tapi di sisi lain aku juga ingin berterima kasih pada para prajurit.
"Tentu nyonya, saya akan segera kembali."
Bacchi kembali dalam waktu yang singkat.
"Ini nyonya."
Aku pun memasang kain itu di mataku.
"Bacchi tuntun aku hingga ke ruangan makan!"
"Tentu nyonya sesuai keinginan anda."
Langkah demi langkah Bacchi menuntunku dengan sangat hati-hati.
"Sudah sampai nyonya."
__ADS_1
"Kenapa sepi sekali, bukankah mereka sedang makan?"
"Saat tau nyonya datang mereka semua terdiam."
"Baiklah, sekarang saya akan memulainya. Maaf untuk semuanya karena mengganggu waktu makan kalian. Saya berdiri di sini karena ingin mengenalkan secara resmi, saya pikir kurang sopan jika pendatang baru tidak memperkenankan dirinya lebih dulu.
Nama saya Aileen. Saya juga ingin berterima kasih karena kalian sudah mencari saya di hutan. Dan saya juga ingin meminta maaf karena menutup mata saat bersama kalian. Saya punya gangguan jika sedang beda di kumpulan para pria. Jadi saya mohon kerjasamanya kepada kalian semua dari sekarang hingga masa depan. Terima kasih sudah mendengarkan saya, silahkan lanjutkan makan kalian."
Aku sangat gugup saat itu, untunglah aku tidak melihat mereka semua. Jika aku melihat mereka langsung bisa pingsan aku.
"Bacchi!"
"Iya nyonya."
"Antarkan saya ke kursi yang kosong, lalu kamu bergabung bersama yang lain untuk makan."
"Baik nyonya sesuai dengan keinginan anda."
Bacchi mengantarkan aku duduk di salah satu meja yang masih kosong.
"Bacchi, apakah ada orang lain yang menempati meja ini?"
"Ada nyonya."
"Baiklah, kamu bergabunglah untuk makan bersama yang lain."
Saat Bacchi sudah pergi, aku kembali gugup karena ada orang yang juga menempati meja ini. Aku ingin mengenal mereka, mungkin bisa lebih santai jika berbicara secara langsung.
"Apakah saya boleh tau siapa nama kalian?"
Lama aku menunggu jawaban dari mereka, aku tidak tau ada berapa orang yang satu meja dengan ku. Aku pikir mereka tidak suka di tanya saat sedang makan. Meski suasananya agar mulai ramai karna suara kunyahan dan suara alat-alat makan namun, tidak ada yang berbicara sama sekali.
Aku pikir aku menanyai mereka di waktu yang tidak tepat.
"Maaf, saya menanyai di saat kalian sedang makan. Lanjutkan lah makan kalian nanti saja menjawab pertanyaan dari saya."
"Apakah semudah itu seorang nyonya mengatakan maaf."
__ADS_1
Sebentar, suaranya tidak asing. Benar ini adalah suara tuan.