
Sudah satu bulan sejak aku bekerja di perpustakaan. Tapi aku masih belum mendapatkan panggilan wawancara. Tapi saat siang hari setelah makan siang aku mendapatkan email untuk wawancara di perpustakaan impian ku. Aku sangat senang, aku tidak sabar untuk wawancara di sana.
Saat aku tiba di sana, ada 100 orang peserta. Aku sangat gugup. Mereka mengatakan bahwa hanya ada lima orang yang akan lolos.
"Kamu pasti bisa."
Hari ini aku sengaja mengambil izin dari perpustakaan. Aku tidak ingin langsung berhenti, karena semua hasil belum pasti.
Aku menunggu antrian selama tiga jam lamanya. Nomor urut ku memang hampir yang terakhir yaitu 99, hanya ada satu orang setelah ku.
Saat namaku di panggil, aku masuk dengan penuh percaya diri namun, juga di hantui rasa gugup. Aku bisa menjawab semua pertanyaan dari penguji. Aku hanya berharap agar aku di berikan kesempatan untuk bekerja di sini.
Setelah wawancara aku kembali bekerja di perusahaan. Aku masuk jam siang tidak jadi mengambil libur. Berusa tetap tenang sambil menunggu pengumuman hasil tes Minggu depan.
Semua rekan kerja ku di perpustakaan memberikan dukungan dan semangat padaku. Aku memang sudah terbiasa hidup tanpa mengandalkan orang lain tapi jika di beri semangat dan dukungan aku semakin senang.
Hari pengumuman pun sudah tiba. Aku di nyatakan lulus seleksi. Dan aku mulai bisa bekerja pada Senin ini. Aku juga langsung berpamitan pada pegawai lain di perpustakaan. Kebetulan perpustakaan tempat aku bekerja itu ada di sebuah kampus terkenal.
Aku kira saat aku lulus seleksi, aku sudah menjadi pegawai tetap di perusahaan itu. Namun, perkiraan aku salah. Masih ada waktu 4 bulan untuk masa percobaan dan dari 5 orang yang lolos hanya ada satu orang yang akan menjadi pegawai tetap.
Saat mendengar hal itu, aku menjadi semakin termotivasi untuk terus berkembang dan berjuang. Saat malam itu sebenarnya Aiyis mengajakku untuk makan bersama di rumahku namun, aku menolak. Aku beralasan bahwa aku sedang sibuk mempersiapkan untuk hari pertama kerja.
Sampai saat ini Aiyis masih belum tau kalau rumah ku kebakaran. 4 bulan aku lewati dengan penuh perjuangan. Aku sering begadang menyelesaikan semua tugas yang di berikan. Aku juga selalu mencoba memberikan ide-ide baru meski tidak di terima. Aku hanya mencoba sebaik mungkin dan semaksimal yang aku bisa untuk bertahan.
Dan hari penentuan pun tiba. Hari pengumuman siap yang akan menjadi pegawai tetap. Dan aku gagal, yang berhasil adalah orang lain. Dia berhasil karena ide-idenya yang sangat membantu perusahaan.
Hari itu aku tidak ingin menghibur diri dengan pergi ke suatu tempat atau makan bersama teman. Aku hanya pulang ke rumah dengan mata yang sedang menahan air mata.
Aku tidak bisa menyangkal kekalahan ini. Ide-idenya memang bagus dan di akui. Hari ini yang kecewa juga bukan hanya aku namun, 3 orang lainnya. Sudahlah mari tidur lalu besok bisa mencari pekerjaan lagi.
Aku tidak boleh terlalu memikirkan semua yang sudah berlalu. Tidak perlu penyesalan bahkan ke marahan. Aku hanya perlu terus melangkah ke depan. Masih banyak jalan yang belum aku lalu.
Saat aku mulai menutup mataku.
"TOK... TOK..."
Ini pertama kalinya ada yang mengetuk pintu rumah ku yang baru. Siap kan dia, sebelum membukakan pintu. Aku mengintip dari jendela.
Karena di depan rumahku tidak ada lampu dan juga aku belum memasak listrik Karena biaya yang masih kurang. Aku hanya menggunakan lilin, Rumah ku terlihat sangat gelap dari luar. Sudah ada kasur di rumah ku walaupun kecil itu tetap sangat empuk dari pada tidur di lantai.
Karena gelap aku tidak bisa melihat siapa itu, siapa orang yang sedang mengetuk di luar.
"Aileen ini aku Aiyis."
Saat aku mendengar itu, aku langsung berduduk di lantai. Aku tidak ingin melihat Aiyis mengasihani aku. Aku sangat membenci hal seperti itu.
"Aku ingin makan bersama kau. Aku tau kamu ada di dalam. Cepat buka sebelum aku dobrak pintu ini."
Aku pun membukakan Aiyis pintu.
"Ayo makan aku sudah lapar."
"Tapi aku tidak punya piring."
"Siapa yang butuh piring."
Aku lupa Aiyis adalah teman ku sejak kecil selain keluarga ku Aiyis adalah orang yang paling tau aku. Dia tau kalau aku tidak suka di kasihani.
"Aiyis, cuci tangan mu dulu sana!"
"Oh iya, aku lupa."
__ADS_1
Aku tersenyum, aku merasa kembali jadi diriku yang dulu.
"Terima kasih Aiyis." Gumang ku pelan.
Aiyis membawa banyak sekali makanan. Ada ceker, ada sosis bakar, ada cumi bakar, ada ayam geprek, ada kepiting asam manis.
"Aiyis, di mana nasinya?"
"Aku sedang diet."
Jika Aiyis sudah mulai diet makan hanya nadi yang tidak di makannya. Sebenarnya saat paman meninggal keluarga Aiyis menawariku untuk tinggal bersama mereka tapi aku menolaknya.
Setelah selesai makan Aiyis mengatakan ingin menginap. Aku langsung mengusirnya, jika dia menginap di mana dia akan tidur. Hanya ada satu kasur kecil di sini. Mana muat jika dipakai berdua. Tapi Aiyis tetap kekeh dan tidur di kasur kecil itu. Malam itu kami tidur berdesakan di kasur kecil itu. Namun, entah mengapa aku sangat bahagia.
Di mana aku mengisi baterai handphone ku, aku memiliki banyak power bank yang aku bawa saat ke perusaan. Jadi aku selalu ada akal agar bisa mengisi power bank yang aku punya.
Saat pagi Aiyis bangun lebih awal dari ku dan membeli sarapan untuk kami berdua. Aiyis tidak mengungkit tentang apapun dia hanya ingin bertemu dengan ku dan melihat keadaanku.
Setelah sarapan aku dan Aiyis meninggalkan rumah untuk pergi bekerja. Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu lagi untuk biaya hidup kedepannya sambil menunggu panggilan dari perusahaan yang lain sebagai pegawai tetap.
Aku mendapatkan pekerjaan paruh waktu sebagai butuh pabrik. Pekerjaan yang baru pertama kali aku coba. Baru hari pertama aku banyak sekali mendapatkan ceramah dari pekerja yang lain.
Aku saat ini sedang bekerja paruh waktu di sebuah pabrik makanan. Pabrik itu memproduksi buah kering. Tugas ku adalah memisahkan buah yang bagus dan tidak.
Aku mampu bertahan di pabrik itu selama satu bulan hingga akhirnya aku kembali di panggil wawancara oleh perusahaan.
Aku kembali berpamitan pada pekerja yang lain di pabrik itu. Tidak seperti sebelumnya aku hanya mengambil izin saat wawancara. Saat ini memang aku akan berhenti walaupun tidak tau akan lolos atau tidak saat wawancara.
Dan aku di nyatakan lolos. Dari 50 orang peserta. Yang lolos seleksi kali ini hanya dua orang. Dan jika sudah selesai masa percobaan dua-duanya bisa menjadi pegawai tetap.
Untunglah kali ini harapan menjadi pegawai tetap lebih tinggi. Aku di terima di perusahaan penerbit buku yang sangat terkenal meski bukan yanga paling besar namun, tetap saja aku beruntung bisa bekerja di sini.
Masa percobaannya hanya 3 bulan. Lebih santai dari perusahaan sebelumnya. Aku selama bekerja di sini hanya pernah lembut 1 kali dalam sebulan, itu pun lemburnya tidak sampai tengah malam.
Aku menghubungi Aiyis. Dan aku mengatakan akan datang ke rumahnya. Meski Aiyis sudah bekerja tapi dia masih tinggi bersama dengan keluarganya.
Aku membeli kue dan beberapa makan laut untuk di bawa ke rumah Aiyis.
"Tok... Tok.. , Tante ini Aileen."
"Ayo masuk nak."
Aku memberikan semua yang sudah aku beli.
"Kenapa ini banyak sekali?"
"Aku sudah lama tidak mampir ke sini."
"Ayah... Aileen di sini."
Ayah Aileen juga teman ayahku saat sekolah SMP dan SMA. Jadi sedikit banyaknya ayah Aiyis tau tentang keluarga ku.
"Malam om." Sapaku dengan senyuman yang manis.
"Aku kira kamu lupa dengan keluarga yang ini."
"Tentu saja tidak."
"Mamah, Aileen akan ke sini." Teriak Aiyis dari depan. Dia baru saja pulang dari tempat kerjanya.
"Dia sudah datang lebih dulu dari mu."
__ADS_1
"Benarkah."
"Hai..." Ucap ku sambil melambaikan tangan.
Malam itu aku membagikan kabar bahagia ku kepada mereka semua. Mereka turut senang tapi di sisi lain aku juga di marahi karena tidak mengabarkan mereka soal rumah ku yang terbakar. Mereka menang tidak mengasihani ku tapi mereka kesal, mereka merasa tidak di anggap oleh aku.
Aku sudah meminta maaf kepada om dan tante dan aku di minta untuk menginap saja malam ini di rumah mereka ada satu kamar tamu yang memang kosong. Aku akan tidur di sana Malam ini.
Rasanya memang berbeda saat kamu menginap di rumah orang lain. Meski itu adalah orang yang sangat dekat dengan mu. Aku masih lebih nyenyak tidur di rumah ku sendiri.
Pagi harinya aku sarapan bersama mereka semua. Aku sengaja bangun lebih awal untuk membantu Tante menyiapkan sarapan.
Setelah sarapan kami semua pergi bekerja.
Sudah 1 bulan sejak aku bekerja di perusahaan penerbit buku. Aku juga sudah memasang listrik di rumah dan membeli lemari. Aku juga sudah membeli beberapa baju baru.
Hidup ku mulai kembali seperti semula. Sekarang hati-hati ku sudah mulai stabil lagi. Bayar yang aku dapat juga cukup banyak jadi aku akan menabung untuk membangun rumah ini kembali seperti semula.
Aku juga mulai terapi mandiri untuk menghilangkan trauma ku. Aku ingin menghilangkan suara ledakan yang aku dengar setiap melihat para pria berkumpul.
Memang aku butuh waktu yang lama ada sekitar satu tahun semua itu bisa benar-benar hilang. Akhirnya kehidupan ceria ku telah kembali.
aku juga menyempatkan diri setiap satu bulan sekali untuk mengunjungi makam keluargaku. Aku juga berjanji kembali kepada mereka agar tidak menangis saat datang ke sini.
Aku juga meminta izin untuk membangun rumah dengan model baru. Memang rumah yang lama penuh dengan kenangan tapi aku pikir saatnya aku untuk memulai semua dengan sesuatu yang baru.
aku pikir keluarga ku juga tidak keberatan akan hal itu. Saat ini aku juga sedang mengambil S2 selama dua tahun. Aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 ku.
saat ini aku berpikir bahwa aku adalah wanita yang sangat keren. Aku benar-benar menanamkan hal itu pada diriku. Aku juga mulai belajar memahat kayu, aku sudah bisa membuat sendiri kapal kayu keinginan ku.
semua hal yang aku impikan mulai tercapai satu persatu. Semua tidak seberat sebelumnya, meski ada beberapa masalah yang aku hadapi tapi aku masih bisa tetap tenang dan ceria.
sudah 2 tahun berlalu, aku juga sudah menyelesaikan S2 ku. Trauma ku juga sudah hilang. Sekarang jika aku ada waktu luang, aku akan membuat kerajinan dari kayu jika sudah terkumpul banyak maka aku akan menjualnya.
uang tabungan ku sudah cukup untuk membuat rumah baru. Aku membuat rumah yang sangat berbeda dari rumah sebelum. Ini benar-benar rumah yang aku desain sendiri.
Saat aku sedang berbelanja di supermarket. Aku melihat ada wajah seseorang yang sangat tidak asing. Aku mengenal bibir dan hidung itu. Saat sampai di rumah aku baru menyadari bahwa itu adalah bibir dan hidung yang sama persis dengan tuan.
Mungkin jika tuan tidak memakai penutup mata, wajah tuan akan terlihat seperti itu. Setelah di ingat-ingat aku sudah 4 tahun lamanya memimpin pulau hooka.
Sudah empat tahun saja tidak terasa. terima kasih pada semua penghuni pulau hooka, walaupun hanya sebentar. Aku sangat senang pernah memimpikan kalian.
sebenarnya aku ingin hidup tenang melajang hingga kembali menemui keluarga ku tapi Aiyis tidak akan membiarkan lah itu terjadi. sudah berapa kali dia mengajak aku untuk pergi kencan buta.
Aku selama hidup tidak pernah sekali pun dekat apalagi berhubungan serius dengan pria. Mungkin jika dengan tuan itu lain ceritanya.
Aiyis benar-benar memaksa aku untuk menemaninya kencan buta. Sepertinya aku sudah tidak bisa menghindar lagi. Aku pun sepakat untuk mengikuti kemauan Aiyis.
Aku pergi menggunakan sebuah gaun, karena pertemuannya di sebuah pesta mewah seperti itu. Bagaikan pesta kerajaan temanya kata Aiyis. Aku menggunakan gaun seperti ini
Entah kenapa sekarang gaun berwarna gelap itu bagiku lebih indah. sedang Aiyis mengenakan gaun dengan model yang sama namun, dalam warna yang berbeda.
Aiyis mengenakan gaun berwarna pink. Sangat bertolak belakang dengan warna gaun ku. Banyak orang-orang kaya yang datang ke pesta itu. Aku sebenarnya hanya berdiri menemani Aiyis, walau dia terus memaksaku untuk ikut berdansa bersama yang lain.
padahal aku sama sekali tidak bisa berdansa. Aku juga tidak mengira ternyata masih ada pesta seperti ini di jaman sekarang. Mungkin jika bukan karena Aiyis aku tidak akan pernah tau pesta seperti ini memang masih ada.
Aku melihat sekeliling ku, terlihat sangat terpancar aura kekayaan dari mereka semua. Aku mulai bertanya-tanya bagaimana bisa Aiyis memiliki tiket untuk masuk ke dalam pesta ini.
__ADS_1
Aku pun pulang setelah pesta seperti. Sangat lelah, aku hanya bisa berdiri sepanjang pesta. Tidak ada kursi sama sekali. Meski memang aku akui makan di sana sangat enak. Aku pun masuk kedalam kamarku setelah membersihkan tubuh, lalu tidur dengan sangat nyaman di kasur baru ku.