
AUTHOR POV
Tanpa disadari waktu berjalan begitu cepat, sudah berapa hari berlalu sejak harapan nya hilang. Cahaya matahari masuk melalui pintu baklon yang tak tertutup. Gadis itu bangun dari tidurnya ia duduk memeluk kedua kakinya rasa sakit kembali menjalar di hatinya.Ia pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ia berendam di bathup dengan air hangat untuk menenangkan fikirannya, ia memejamkan mata menikmati harum bunga Lavender. Harum Lavender yang selalu berhasil membuat nya tenang dan nyaman.
"Kenapa hidup ku serumit ini. Kenapa untuk bahagia saja sangat sulit bagi ku" lirih Valey. Matanya menatap sendu flafon di atasnya, menerawang jauh. Hanya helaan nafas panjang yang akhirnya terdengar. Sepertinya ia tak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan. Ada banyak hal yang bisa ia lakukan, bukan terus meratapi nasibnya dan menoreh luka itu semakin dalam.
•••
Valey menuruni satu per satu anak tangga. Sebenarnya ia begitu malas untuk turun ke bawah , karena sudah di pastikan ia akan bertemu Kelvin dan Isabella yang sedang bermesraan. Valey tampak kecewa pasal nya saat ia bangun tak ada Kelvin di sampingnya. Semenjak Isabella datang ia tak pernah lagi bertemu dengan Kelvin , pria itu seakan menghindari nya dan memilih menghabiskan waktu nya bersama Isabella.
"Huh! Aku benci ini" batin Valey.
"Sudah lah Val, kau tak boleh terlihat lemah" kata Ruby memberi semangat.
Valey terpaksa turun karena Nancy menggedor pintu kamar Valey, dengan langkah malas Valey turun. Benar saja di bawah sudah ada Isabella dan Kelvin yang sedang duduk di ruang keluarga, Valey melewati saja seolah tak ada Makhluk hidup disana. Akan tetapi langkah Valey terhenti saat suara dingin dan menusuk mengintrupsi.
"Putri Jessie.." panggil Kelvin. Valey menghembuskan nafasnya kasar dan berbalik, ia tersenyum berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Ada apa?" tanya Valey.
"Kau bisa temani Isabella berkeliling Pack ini tidak" kata Kelvin,
"Kenapa kau harus menemani gadis itu, tidak usah Val" kata Ruby melalui mindlink. Ruby tak suka dengan Isabella dari awal.
"Siapa yang mau, tentu saja aku tidak mau Ruby" kata Valey.
"Em.. Ku rasa tidak.. Aku harus melatih para Warior Pack seperti biasa" kata Valey singkat lalu berbalik, akan tetapi langkah Valey terhenti saat tangannya di cekal seseorang.
"Aku mohon" kata Isabella, dengan tatapan memelas.
Valey mendengus kesal, ia muak melihat wajah gadis ini. Tapi ia menetralisir kekesalannya itu, dengan berusaha tersenyum dan bersikap seramah mungkin.
"Tapi ak-" ucapan Valey terpotong karena Isabella bersujud di kakinya, memohon dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ck... Ratu drama" gumam Ruby tak suka, ingin sekali ia mencabik-cabik wajah gadis ini.Valey menarik nafas dan menghembuskannya kasar.
"Baiklah.." kata Valey, Isabella langsung menerjang tubuh Valey. Memeluk erat Valey dan mencium kedua pipi Valey tanpa izin.
"Aku benci di peluk gadis ini" teriak Ruby kesal tapi Valey tak memperdulikan.
"Tapi aku harus sarapan dulu" kata Valey ,Isabella mengangguk . Valey pun melangkahkan kakinya menuju meja makan, sudah ada Nancy yang menunggunya disana.
"Lama sekali kau Putri Jessie " kata Nancy namun bukannya menjawab Valey malah memeluk sahabatnya itu erat.
"Hey ada apa Jes" tanya Nancy khawatir.
"Kenapa dia berubah hiks..." kata Valey pilu, ia tak sanggup lagi menahan tangisnya. Tangis Valey pun pecah, Nancy mengelus rambut Valey mencoba menenangkan sahabatnya ini.
"Pasti gara-gara gadis itu," geram Nancy. "Sudah lah Val, dia takkan pernah bisa memisahkan kalian tenang saja" kata Nancy lagi. Matanya berkilat marah, ia tak suka dengan Isabella selama ini. Setelah Valey mulai tenang, ia pun menikmati sarapannya bersama Nancy dalam diam. Pikiran Valey berkecamuk, hatinya seakan remuk.
"Moon Goddess, entah kenapa firasat buruk menghantui ku sekarang" batin Valey. Entah mengapa Valey merasa sesuatu yang buruk akan menimpanya.
•••
Setelah sarapan Valey mun datang menemui Isabella mereka pun berjalan berkeliling Pack . Valey menyapa beberapa Warior pack dan Omega yang ia temui dengan ramah. Mereka terus berjalan hingga akhirnya tanpa sadar mereka berdua sudah keluar dari kawasan Pack Silver Moonlight.
"Isabella ayo kita kembali, ini sudah terlalu jauh" kata Valey,ia menarik Isabella.
"Tidak..." Isabella melepaskan tangan Valey kasar, Valey heran dengan perubahan sikap Isabella. Tiba-tiba gadis itu mendorong tubuh Valey hingga Valey terhuyung ke belakang dan terjatuh.
"Hey.. Apa mau mu.." tanya Valey kesal, ia tak terima di perlakukan seperti itu terlebih lagi ia sudah menyimpan banyak amarahnya pada gadis di depannya ini.
"Hahahahahaha!! Putri manja yang lemah!" kata Isabella memandang Valey remeh. Tatapan nya merendahkan Valey dengan seringaian licik di wajahnya.
"Ck... Kau meremehkan ku em,"kata Valey, ia berdiri dan mendekat ke arah Isabella. Valey merasa tertantang, sudah lama sekali ia ingin menghabisi Isabella.
"Kau memang lemah Jessie.Bahkan orang tua mu mati gara-gara menyelamatkan mu" kata Isabella sinis.
__ADS_1
"Tutup mulut mu !!Kau tidak tahu apa-apa!!" bentak Valey dengan tatapan nyalangnya.
"Hahahahaha.. Memang itu kenyataannya putri Jessie" kata Isabella ia tertawa meremeh kan Valey. Lalu tiba-tiba ia menyerang Valey dengan cakarnya namun dengan mudah Valey menghindar dan berbalik menyerang Isabella.
"Shit!" umpat Isabella karena tangannya terluka. "Hanya segitu kehebatan mu" kata Valey sinis, Valey tersenyum miring ke arah gadis di hadapannya.Mereka pun bertarung hebat disana, mereka saling menyerang, menangkis hingga akhirnya tubuh Isabella terhuyung membuatnya terjatuh membentur pohon hingga tumbang .
"Kau meremehkam putri lemah ini Isabella" kata Valey sinis.
Mereka kembali bertarung kali ini lebih sengit tak sedikit luka di tubuh Valey mereka terus saja saling menyerang hingga akhirnya mereka sama-sama lelah."Kau lumayan juga" kata Isabella, Valey tampak sangat lelah sekali, karena tubuh nya tidak begitu sehat saat ini. Isabella memanfaatkan situasi itu, ia mengambil belati miliknya lalu menggoreskan luka yang cukup dalam di bagian perut dan kaki Valey. Membuat Valey memekik tertahan.
"Akh!"pekik Valey tubuhnya langsung lemas dan tersungkur di tanah. Darah mengalir deras membasahi gaunnya hingga warna merah pekat mewarnai gaun berwarna peach milik nya.
"Hahahahahaha... Lemah" kata isabella mengejek, Valey tak sanggup lagi berdiri, sedangkan Isabella ia berlari meninggalkan Valey yang terluka. Luka di tubuh Valey tak bisa di sembuhkan seperti biasa, itu karena belati milik Isabella telah diolesi racun. Valey menggenggam kalung miliknya, datanglah Stella. Stella kaget melihat keadaan Valey yang lemah penuh luka, tanpa basa-basi Stella mengambil sebuah botol kecil dari tas nya. Botol kecil itu berisi cairan berwarna biru.
"Tahanlah sedikit, ini akan sangat sakit" kata Stella, ia pun mengoleskan cairan itu di luka Valey. Benar saja, saat cairan itu menyentuh luka Valey rasa sakit luar biasa dirasakan Valey.
"Arrgghhhh" Valey menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Namun tak lama luka Valey tertutup sempurna.
"Terimakasih Stella" kata Valey,
"Iya Putri Jessie, apa yang terjadi?" tanya Stella.Valey pun menceritakan semuanya pada Stella, ia terkejut karena stella juga mengenal Isabella,
"Sini tangan mu ada yang ingin ku beritahu pada mu" kata Stella.Valey memberikan tangannya,
"Tutup matamu" kata Stella, semua rahasia tentang Isabella pun Valey lihat . bagai film Valey melihat semuanya.
Stella melepaskan tangannya .
"Dia... Dia yang merencanakan penyerangan itu" lirih Valey. "Iya putri Jessie, sebenarnya dia adalah saudara tiri ku" kata Stella.
"Benarkah" tanya Valey.
"Iya Putri Jessie, ia sangat jahat dan licik sama seperti ibu nya" kata Stella menambahi.
__ADS_1
Valey menganggukan kepalanya mengerti, "Ayo kita segera datangi Mate mu itu" kata Stella. Mereka berdua pun pergi menuju Mansion milik Andrew.mereka berlari membelah hutan sangat cepat.
Bersambung...