
JACK SIDE
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Di hadapan mereka terpampang jelas sebuah gunung besar. Awan gelap mengelilingi gunung tersebut, suasana mencekam menyeruak membuat siapa saja bergidik ngeri. Jika Jack manusia mungkin ia sudah lari terbirit-birit karena takut. Namun Jack adalah seorang werewolf keyakinan dihatinya yang membuatnya sampai ke tempat menyeramkan ini.
Dengan langkah pasti Jack berjalan mendekat ke arah pintu yang terdapat di kaki gunung tersebut. Sebuah pintu besar yang menjadi akses satu-satunya untuk masuk.
"Apakah ini pintu untuk masuk kedalam?" tanya Jack pada Shawn
"Jack... Jack... Itu pintu.Tentu saja kau lewat pintu itu untuk masuk. " kata Serge geram.
"Aku tidak bertanya dengan mu" kata Jack
"Shit! " umpat Serge lalu memutuskan mindlink.
"Tentu Raja Jacques," kata Shawn "maaf sebelumnya , saya hanya mengantar anda sampai disini saja" kata Shawn.
"Baiklah." kata Jack , lalu ia berbalik dan mendekat ke arah pintu.
Di depan pintu itu terdapat sebuah ukiran bertuliskan kata 'Mort'. Jack mengernyitkan dahinya.
"Mort... Kematian?" gumam Jack, ia pun mengingat mantra yang ada di buku kemarin.
"Aku tahu ." kata Jack girang , ia menempelkan tangannya di ukiran tersebut.
"Yo Jacques Coen Friedrich vengo aquí a buscar la muerte Moussaieff quién ha robado mi tesoro" kata Jack , namun pintu tak juga terbuka.
"Hei.. Kau ini pelupa sekali.. Ganti kata La Muerte dengan Mort . dan ucapkan dengan aksen bahasa Perancis" kata Serge mengingatkan.
"Kau benar Serge, aku melupakan itu" Jack menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu mengulangi mantra yang ia ucapkan.
"Yo Jacques Coen Friedrich vengo aquí a buscar Mort Moussaieff quién ha robado mi tesoro" kata Jack dengan aksen bahasa Perancis.
Pintu pun terbuka lebar, Jack pun melangkah masuk. Saat Jack telah masuk kedalam pintu tertutup lampu serta lilin langsung hidup . Jack membeku, ia menatap dengan tatapan tak percaya apa yang ia lihat saat ini.
"Bagaimana mungkin " kata Jack heran , bagaimana tidak dihadapannya adalah sebuah ruangan istana yang megah, dinding berhiaskan batu mulia dan berlapis emas, lampu-lampu kristal menghiasi langit-langit bangunan itu. Tak lupa barang-barang antik yang memiliki nilai yang fantastis terpajang disana , lantai yang terbuat dari marmer dan dihiasi emas .
"Ini dulunya adalah sebuah kerajaan bernama kerajaan Delvian . Naga Moussaieff mengambil alihnya ." kata Serge
"Dari mana kau tahu ?" tanya Jack
"Ck.. Dari buku itu !Kau ini pelupa sekali!" kata Serge kesal, apa mungkin Jack sudah pikun sekarang.
Tiba-tiba dinding istana itu runtuh, menimbulkan suara reruntuhan yang sangat keras. Jack bersikap siaga dengan Pedang di tangannya. Debu-debu reruntuhan membuat Jack tidak bisa melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Hahahahaha!! Akhirnya kau kemari " suara itu membuat Jack tersentak, setelah itu ia harus terkejut karena tiba-tiba di hadapannya sudah ada seekor naga berwarna merah, dengan kulit setebal baja, dan ukurannya sangatlah besar, tingginya kira-kira tiga puluh meter.
"Ya .. Aku kemari untuk menjemput kematian mu Moussaieff" kata Jack lantang, tak ada sedikit pun rasa takut yang hadir. Jack malah sangat berani, aura kepemimpinan Jack semakin pekat. Membuat naga Moussaieff sedikit tersentak.
"Sombong sekali kau anak kecil!" kata Naga Moussaieff.
"Siapa yang kau sebut anak kecil huh" bentak Jack lalu tiba-tiba ia menyerang naga Moussaieff . pedang yang ia gunakan berapi juga terdapat petir yang membuat Naga Moussaieff terhuyung.
"Lumayan kuat juga kau anak sombong" kata Moussaieff angkuh.
"Rasakan ini!" Naga itu mengeluarkan api dari mulutnya, Jack langsung melompat-lompat mencari tempat tertinggi sembari menghindar dari serangan naga tersebut.
"Hanya segini kemampuan mu" kata Jack sinis , lalu ia kembali menyerang naga Moussaieff.
Akan tetapi serangan Jack tak juga membuahkan hasil, kulit naga itu benar-benar sekuat baja, sangatlah sulit merobek nya.
"Bagaimana cara ku membunuhnya jika seperti ini Serge" kata Jack melalui mindlink. Jack terus menghindar dari serangan naga Moussaieff.
"Keberanian.. Hanya itu yang bisa membuatnya lemah!" kata Serge.
Jack sedikit lengah membuat tubuhnya terhuyung dan membentur dinding. Ia meringis karena punggungnya begitu sakit. Jack bahkan sampai memuntahkan darah.
"Uhuk... Uhuk..." Jack terbatuk-batuk
"Menyerahlah bocah. Kau takkan menang melawan ku" kata naga Moussaieff dengan angkuhnya, Jack memegang dadanya yang terasa sesak, entah kenapa.
Pandangan Jack menjadi buram, apakah ia akan mati. Namun sebelum matanya terpejam bayangan sang adik yang menangis pilu saat orang tua meninggal pun muncul, bayangan ketika Mom dan Dad nya menyelamatkan mereka pun muncul. Nafas Jack memburu, detak jantungnya bertambah berkali-kali lipat. Entah dari mana kekuatan yang ia dapatkan tubuhnya tak lagi merasakan sakit. Jack membuka matanya lalu berdiri, ia mengacungkan Pedangnya ke arah Naga Moussaieff.
"Aku tak takut dengan mu !! Kau lemah!! Matilah kau!!" teriak Jack lantang
Lalu ia berlari dengan cepat ke arah Naga Moussaieff, dan---
CRASH!!
Dalam sekali tebas tubuh naga Moussaieff langsung ambruk . Naga itu telah mati, dengan kepala terpenggal.
"Kau berhasil Jack" kata Serge. Jack tersenyum puas lalu ia mendekat ke arah Naga Moussaieff. Tiba-tiba sebuah cahaya merah muncul membuat Jack mundur dua langkah. Namun cahaya itu mendekat ke arah Jack.
"Ambil dan makan lah.." kata Serge.
Jack mendekat dan mengambil cahaya itu, dan cahaya itu berubah menjadi sebuah batu kecil berwarna merah,
"Kau menyuruhku makan batu" kata Jack.
__ADS_1
"Itu jantung naga Moussaieff" kata Serge.
Jack mengangguk dan memakan benda tersebut. "Tidak buruk, seperti permen" kata Jack.
Setelah Jack menelan apa yang ia makan tadi, tubuhnya mengeluarkan cahaya merah, bajunya berubah menjadi berwarna hitam dengan garis merah menghiasi beberapa bagian baju tersebut.
•••
VALEY SIDE
Dari kejauhan tampak seorang gadis bergaun coklat duduk di tepian air terjun, ia membiarkan percikan air menerpa wajah cantiknya dengan rambut yang melambai-lampai di terpa angin. Ia menatap air dengan tatapan kosong, fikirannya melayang entah kemana. Begitu banyak beban fikiran di kepalanya, dunia nya seakan hancur bersamaan dengan hancur nya perasaan. ia terisak kala mengingat begitu menyedihkan dia sekarang, mengingat begitu banyak masalah yang ia hadapi.
"Kak Jack benar, kakak menepati janjinya dengan tidak pernah meninggalkan ku" air mata kembali mengalir deras membasahi kedua pipinya. "kenapa kakak dingin tak tersentuh dan kejam seperti sekarang? Aku tahu kakak sama rapuhnya dengan ku," gadis itu tertunduk lesu, melihat bayangan dirinya di air "kemana kakak ku yang selalu ada untuk ku, kenapa kalian sekejam ini dengan ku." tubuh gadis itu terguncang, isakannya terdengar begtu memilukan, rasa perih menjalar keseluruh penjuru hatinya sekarang,ia bahkan tak tahu lagi apa tujuannya hidup di dunia
"Val , masih ada aku untuk mu" Wolf nya berusaha menghibur sang gadis.
"Hanya kau satu-satunya yang ku punya Ruby" lirih gadis itu di sela isakannya. Ia memejamkan matanya, sekelebat bayangan betapa bahagianya ia dulu pun muncul, air matanya mengalir deras seiring dengan rasa sakit yang menghantam hatinya.
Tiba-tiba seseorang mendekap tubuh rapuh gadis tersebut, orang itu membawanya kedalam pelukan hangat yang menenangkan. Gadis itu tersentak, bagaimana tidak, aroma yang ia cium sekarang adalah aroma yang selalu berhasil membuatnya mabuk.
"Josh.." lirih Ruby ,
Benar sekali ini adalah aroma Mate mereka, gadis itu mendongak kan kepalanya mencoba melihat siapa yang sedang memeluknya sekarang ia, ingin memastikan apa benar yang mendekapnya saat ini adalah mate-nya ? Ia terkejut, dan seketika membeku setelah pandangannya beradu. Mata Hazel itu berhasil membuatnya beku seketika.
"Ke--l-vin" kata Valey terputus-putus karena kaget sekaligus tak percaya.
"Ya, ini aku Amour, maafkan aku" lirih pria yang bernama Kelvin tersebut. Pria itu mendekap erat tubuh sang gadis, memberikan kehangatan dan kekuatan tersendiri untuk gadis malang itu.
"Aku mencintaimu Jessie" sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala sang gadis. Tangan pria itu mengelus lembut surai coklat milik sang gadis.
"Josh? Apakah ini kau?" kata sang gadis mencoba memastikan, bagaimana mungkin Kelvin mencintainya bukan?
Pria itu menggeleng kan kepalanya. "Bukan Ini aku Mate mu Kelvin Daren Fernand " kata sang pria dengan penekanan di setiap katanya. Gadis diam seribu bahasa ia tak bisa menutupi rasa bahagianya. Mata gadis itu berkaca-kaca, sebelum akhirnya tangis bahagia pecah begitu saja. Akhirnya Kelvin mau menerimanya sebagai pasangan Mate.
Kelvin menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya, ia menghapus air mata gadis yang begitu ia cintai. Tangannya mengelus lembut kedua pipi gadis itu, senyum nya hadir menghiasi wajah tampan Kelvin.
"Jangan menangis Amour"
Kelvin mendekatkan wajahnya dengan wajah sang gadis , membunuh jarak di antara mereka berdua. Nafas hangat Kelvin menerpa wajah cantik gadis itu, aroma mint menyeruak di indra penciuman nya. Kedua pipi gadis itu seketika memanas, memberi semu merah di kedua pipinya.
Jarak mereka semakin dekat, reflek gadis itu menutup matanya, hingga sesuatu benda kenyal dan basah menyentuh bibirnya. Kelvin mencium gadisnya dengan lembut, membuat gadis itu terbuai oleh ciuman memabukkan tersebut. Ciuman mereka terlepas saat pasokan udara mereka telah menipis.
"Aku mencintaimu Jessie"
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala gadis itu. Sebuah cahaya putih menyilaukan menerpa wajah gadis itu. Cahaya yang membawanya kembali, dan menyadari jika tadi hanyalah sebuah mimpi.
Bersambung...