My Cold Alpha

My Cold Alpha
Question!


__ADS_3

Cerpen : Kisah Ku Tak seindah Senja


Senja, salahsatu mahakarya Tuhan paling indah bagi ku. Cahaya yang memberikan efek magis menghangatkan jiwa. Sebuah potret indahnya ciptaan sang kuasa. Andai kisah ku bisa seindah senja, hangat dan penuh dengan memori indah beribu makna. Apa daya , kisah hidup ku tak seindah senja. Yang aku rasakan hanya dingin dan gelap serta kehancuran yang terpampang nyata di depan mata.


.


.


Angin malam dengan angkuhnya menghunus setiap pepohonan yang ia lalui. Menerbangkan dedaunan dari dahan rapuh tak berdaya. Suasana sepi nan sunyi malam temaram di kota kecil di salah satu pulau besar Indonesia. Tak ada bangunan tinggi, yang kau lihat hanya jalanan yang lenggang dengan pohon-pohon tinggi yang masih berdiri kokoh di tepian jalan.


Seorang gadis manis, dengan surai hitam legam sepinggul itu tampak mentap lurus ke luar jendela kamarnya. Pikiran nya berkecamuk, rasanya kini kepalanya akan pecah saja.


Cairan bening mengalir deras dari kedua mata dengan netra coklat itu. Rasa sesak tak terhingga ia rasakan di dada. Ia menggigit kuat bibir mungil nya agar suara isak tangisnya tak terdengar.


"Tuhan, bolehkah aku menyerah."


Lagi rasa sakit itu menyiksanya. Gadis itu beranjak mengambil sesuatu di atas meja belajar nya. Ia mulai lagi menyakiti dirinya, menggores lengannya dengan pisau cutter yang ia ambil tadi.


Hal yang biasa ia lakukan saat rasa sesak itu kembali menyiksa nya. Membagi rasa sakit yang ia rasakan pada lengan tak bersalah. Tak ada rasa sakit yang ia rasakan di kedua lengannya. Hanya rasa lega karena rasa sesak itu sedikit mereda.


Ia meletakkan pisau cutter nya, mengambil sebuah tabung kecil dan mengambil beberapa butir pil di dalam tabung tersebut. Hanya itu penyelamat nya, perlahan kantuk pun menguasai. Perlahan kegelapan pun melandanya, membawanya bertemu kembali dengan sahabat di dunia mimpinya.


Senyuman manis terbit menghiasi wajah gadis itu. Nafasnya teratur , tampak damai di dalam tidurnya.


.


.


.


Sementara itu di sisi lain, seorang pria menatap lekat wajah pucat pasi putra semata wayangnya.


"Devian, bangunlah nak. Papa merindukan mu."


Tiga bulan sudah putra nya ini tak kunjung sadar. Kecelakaan maut yang merenggut nyawa istrinya serta putri tercinta membuat hidupnya berantakan. Beruntung putra sulung nya selamat dalam kecelakaan tersebut. Akan tetapi, putra nya tak kunjung bangun dari koma selama tiga bulan terakhir.


Ia menyesali setiap detik yang berlalu. Tak pernah ada waktu untuk keluarga nya. Tak pernah ada kehangatan yang ia berikan untuk istri dan kedua anaknya. Hingga sebuah kesalahan fatal merenggut segalanya. Ia harus kehilangan sosok istri hebat yang selalu ada di sisinya, serta Putri cantik dan cerewet yang dulu membuat nya sangat muak.


Air mata penyesalan mengalir deras dari kedua mata pria itu. Penyesalan selalu datang satu paket dengan kehilangan. Dulu ia benci istrinya yang cerewet serta rengekan sang anak yang memuakkan.


"Maafkan papa," lirih pria itu.


Di bukanya kotak berisi foto-foto keluarga. Hatinya nyeri mengingat betapa jahatnya ia selama ini. Ia bahkan tak pantas di sebut sebagai seorang ayah.


"Aku manusia paling bodoh di dunia, aku sudah memiliki wanita hebat seperti mu Livia," lirih pria itu. Tangisnya pecah, ia merasa begitu gagal menjadi seorang suami.


"Tapi aku menyia-nyiakan mu, bukannya membahagiakan mu. Aku malah menyakiti mu, aku melanggar janji ku, janji yang ku ucapkan saat mempersunting mu."


Hujan deras turun mengguyur bumi, menambah suasana sedih yang tercipta sedari tadi. Di pandang nya rintik hujan di luar sana.


"Livia, dulu kau selalu bilang jika diri mu menyukai hujan. Aku ingat bagaimana senyum manis mu itu terbit saat hujan turun."


Pria itu tersenyum pilu, matanya menyiratkan rasa rindu yang mendalam. Sungguh ia sangat terlambat menyadari jika ia tak kan pernah bisa hidup bahagia tanpa sosok wanita yang ia cintai Olivia Tanady.


Tanpa pria itu sadari, Putranya sedang menitikkan air mata.


"Pa, seharusnya kau menyadari itu semua jauh sebelum Mama pergi untuk selamanya." batin anak tersebut.


.


.


.


Seorang anak perempuan berjalan menelusuri lorong kelas. Ia menunduk kan kepalanya, tak ingin melihat padangan meremehkan orang-orang di sekeliling nya. Kakinya terus berjalan, hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang, yang berhasil membuat tubuhnya ambruk.


"Kau tidak apa-apa?"


Netra coklat itu menatap ke arah orang yang berada di depannya saat ini. Tampak seorang anak laki-laki dengan rambut coklat, dan netra biru yang sedang menatapnya lekat.


"Ah, maaf," ucap anak perempuan tersebut.


Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya, membantu perempuan yang menabrak nya tadi untuk berdiri. Tanpa basa-basi ia langsung memperkenalkan dirinya.


"Devian Putra Leonardo."


"Devita Refalina Hardityo."


Pertemuan tak terduga itu ternyata adalah salah satu cara tuhan untuk merubah jalan takdir seseorang. Begitu lah yang Devita rasakan, hidupnya yang kelam berubah setelah bertemu pria bernama Devandi tersebut.


.


.


Devita menatap lekat figura di sisi kiri tempat tidurnya. Senyum bahagia terlukis jelas di wajah tiga orang di foto tersebut.


"Ayah, ibu kenapa kalian terlalu egois!"


Air mata Devita mengalir deras, ia benci hidupnya. Keluarganya hancur, ibunya berselingkuh begitu pula ayahnya. Desas desus tidak mengenakkan menjadi makanan sehari-hari Devita. Fitnah menyebar bagai wabah penyakit. Orang-orang menuduhnya sebagai anak haram, orang-orang mengatakan jika dia tak lebih dari sekedar noda.


Kembali Devita mengambil beberapa pil di dalam tabung kecil itu. Ia lelah dengan dunianya, di usia yang masih belia ia harus mengenal depresi. Mentalnya rusak, batinnya sakit, fisik nya lelah.


Rumahnya terasa begitu dingin, ia merasa hidupnya di selubungi kegelapan. Tak ada setitik pun cahaya yang menerangi hidup nya.


Ting!


Sebuah pesan masuk. Devita mengambil ponselnya. Dahinya berkerut saat membaca pesan tersebut.


"Siapa ini?" batin Devita. Ia memilih untuk membaca pesan tersebut dan tidak membalasnya. Ia meletakkan ponselnya kembali di atas nakas, mencoba untuk memejamkan matanya.


Ring! Ring!


Kini panggilan masuk yang terdengar, dan dari nomor telpon yang sama. Awalnya Devita mencoba untuk menghiraukan, namun semakin lama ia merasa terganggu juga. Ia pun mengangkat panggilan yang masuk.


"Hallo, ini Devian."


Suara itu langsung menyambut nya saat ia mengangkat panggilan tersebut.


"Oh, bisakah kau berhenti menelpon. Kau mengganggu ku," Ujar Devita.


"Maaf jika aku mengganggu, aku hanya mau mengucapkan selamat malam. Semoga mimpi indah ya cantik."


Tut!


Panggilan langsung di matikan secara sepihak.


"Dasar aneh!" gumam Devita.


Ia mematikan ponselnya dan memutuskan untuk tidur.


Di sisi lain, Devandi tersenyum. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Hari dimana ia bertemu dengan Devita, saat itu ia merasa dirinya harus mendekati gadis itu. Ia melihat begitu banyak luka dari kedua mata gadis itu.


"Devita, kita sama.. Aku berjanji akan membuat mu bahagia."


Devandi tersenyum mengingat bagaimana ia berusaha keras mencari informasi tentang gadis itu. Sampai akhirnya ia berhasil mendapatkan nomor telepon gadis itu.


Devandi menatap keluar jendela, melihat gelapnya langit malam. Rasa rindu akan sosok ibu kembali menghampiri nya.


"Ma, bahagia di sana ya.. Devandi sayang Mama,"


"Fina, baik-baik sama Mama di sana ya dek, kakak baik-baik aja disini."


Devandi tersenyum pilu. Andai ia mati saja hari itu. Mungkin ia tak perlu merasakan rindu seberat ini.


.


.


Mentari pagi menyambut setiap jiwa yang baru bangun dari istirahat panjang. Menghangatkan setiap jiwa yang lelah. Namun tidak dengan Devita, di pagi hari ia sudah termenung. Ia melihat keluar jendela. Tampak kedua orang tuanya yang bertengkar.


"Ayah, Ibu.." lirih Devita.


Ia benci hidupnya, benci segalanya. Seharusnya di hari Minggu seperti ini ia menghabiskan waktu seharian penuh bersama keluarga. Namun yang menyambut nya hanya pertikaian kedua orangtuanya.


PRANG!


PRANG!


Suara pecahan kaca terdengar jelas di Indra pendengaran nya. Devita menangis sesenggukan, menutup kedua telinganya.


"Tuhan, bunuh saja aku! Aku lelah Tuhan!"


Devita menangis pilu, merasakan sesak yang kian menyiksa. Ia lelah sekali, ia terus menangis hingga rasa kantuk menguasai nya. Kegelapan pun membawanya terlelap dengan damai kedalam dunia mimpi.


.


.


.


Devandi menelusuri jalanan yang terlihat lengang. Ia memutuskan untuk keluar, sekedar menghirup udara segar. Ia menyukai kota kecil ini. Tak ada polusi yang menyakiti paru-paru.


Angin bertiup menerpa wajah tampan yang terpahat sempurna itu. Tampak di sekitar orang-orang melihat nya kagum. Ia tersenyum mencoba bersikap ramah.


"Kalimantan tidak seburuk yang orang-orang katakan," gumam Devandi.


Ia merasa begitu nyaman di sini, orang-orang yang ramah. Udara segar yang nyaman, tiada kemacetan, jalanan lengang dengan pepohonan di tepian jalan.


Devano terus berjalan, hingga netra birunya menangkap sosok yang ia kenali. Senyum pun terbit di wajah tampannya. Ia mempercepat langkahnya.


"Senja, karunia Tuhan paling indah."

__ADS_1


Merasa terusik gadis itu menengok ke samping. Seketika matanya terbelalak.


"Hei, aku ini manusia bukan setan!"


"Kau lagi."


"Sendirian aja Vit?"


"Hm."


Devandi duduk di samping gadis itu. Di pandang nya gadis itu kembali melamun.


"Kalau punya masalah cerita aja Vit."


Devita mendelik "Memangnya kamu itu siapa, jangan sok dekat sama aku!"


Gadis itu hendak pergi, namun Devandi lebih dahulu menarik nya.


Devandi memeluk gadis itu erat.


"Lepaskan!"


"Bercerita atau aku akan mencium mu saat ini juga!"


"Kau gila!"


"Baiklah jika kau ingin aku mencium mu," Devandi tersenyum jahil.


"Lepaskan! Baiklah aku akan bercerita!"


Devandi melepaskan pelukannya, tampak wajah Devita memerah. Devandi melihat sekitar, dan terkekeh pelan. Ternyata mereka berdua menjadi pusat perhatian.


Devandi menarik tangan Devita, membawa gadis itu pergi menuju motornya. Mereka pun pergi dari sana, entah kemana Devandi akan membawa Devita pergi. Yang pasti ia akan membuat gadis itu tersenyum hari ini.


Devandi melajukan motor miliknya menelusuri jalan raya yang lengang. Ia membawa gadis itu pergi kesebuah tempat sepi di tepian sungai.


"Jangan khawatir aku tidak memiliki niat jahat."


Devandi membawa Devita kesebuah jembatan yang terlihat sepi. Pemandangan indah di suguhkan di sana. Sungai yang membentang luas, pepohonan disisi kanan dan kiri. Jembatan dengan warna kuning yang tampak begitu indah. Di tambah angin sepoi-sepoi yang membuat siapa saja yang berkunjung di buat nyaman.


"Lepaskan semuanya disini, berteriak lah sekeras yang kau mau luapkan semua rasa sesak yang menganggu."


Devita menatap pria di samping nya. Pria itu menatap lurus ke depan, menimati angin yang menerpa wajah nya.


"AKU BENCI TAKDIR KU! AKU BENCI HIDUP KU!" teriak Devian. Membuat Devita terkesiap.


"TUHAN! KENAPA KAU RENGGUT SEGALANYA!"


Kembali Devandi berteriak, tampak pria itu menangis. Tunggu, menangis?


Devita melihat sisi lain dari pria itu, pria itu tampak begitu rapuh. Pria itu sama seperti dirinya.


"AYAH ! IBU KENAPA KALIAN BEGITU EGOIS! KENAPA KALIAN JAHAT!" Teriak Devita, ia juga ingin meluapkan segala rasa sesaknya.


Devandi tersenyum, akhirnya gadis itu luluh juga.


Devita terus berteriak meluapkan segala sesuatu yang ia pendam selama ini. Ia menangis tergugu, namun rasa sesak nya kian berkurang.


Devandi memeluk gadis malang itu, memberikan kehangatan pada Devita. Tak ada penolakan dari gadis itu. Ia menangis di dalam pelukan Devian, meluapkan rasa sakit, dan kecewa yang ia rasakan.


"Kita sama-sama dari keluarga yang hancur," gumam Devandi.


"Tapi kau tak boleh lemah, mulai sekarang kau punya aku. Jangan memendam semuanya sendiri...


...hari di mana kita bertemu, aku tau jika nasib kita sama. Menangis lah, keluarkan semuanya."


Senja menjadi saksi bisu pilu nya kisah mereka berdua.


.


.


.


Sejak hari itu mereka kian dekat, Devita di buat nyaman dengan sikap Devandi yang hangat. Ia merasa ada secercah harapan saat ini. Ada setitik cahaya yang menerangi gelapnya hidup. Devandi bagai matahari pagi yang menghangatkan jiwanya.


Entah sejak kapan perasaannya berubah. Devita merasa jika ia jatuh hati pada sosok Devian. Ia mencintai pria itu.


Namun, kisah mereka tidak semulus yang diharapkan. Ternyata cinta Devita hanya bertepuk sebelah tangan. Devandi menganggap nya tak lebih dari seorang adik.


"Vita, terimakasih berkat kamu kakak bisa bersama Gina," ujar Devandi dengan wajah penuh rona bahagia.


Devita tersenyum pilu.


"Kakak sembuhkan luka ku, tapi kakak memberikan luka yang lebih besar pada ku," batin Devita.


.


.


.


"Vita!"


Merasa namanya di panggil, gadis itu pun menoleh ke sumber suara. Tampak dari kejauhan seorang pria tampan dengan kulit putih yang kontras dengan kemeja hitam yang sedang ia pakai.


Tampan...


Siapa pun yang melihat nya tak bisa menampik jika pria itu sangat tampan. Tubuh tinggi, kulit putih bersih, rambut coklat tebal, bulu mata lentik serta alis tebal yang membingkai indah netra biru laut yang ia punya. Sungguh sempurna, namun hatinya harus merasakan nyeri saat melihat seorang perempuan cantik di samping pria tersebut.


"Hai Dev," Devita tersenyum manis. Menutupi luka yang sebenarnya tertoreh di hatinya yang malang.


"Sendirian aja Vit?" Pria itu berjalan menghampiri Devita.


"Ya, seperti yang kau lihat Dev."


Devita tertawa renyah, sebenarnya lebih kepada menertawakan dirinya.


"Betah sekali menjadi jomblo ya." Devandi tertawa renyah. Entahlah itu membuat hati Devita merasa semakin nyeri.


"Eh iya Vita, kenalin ini Nadine."


"Hai Nadine, Devita."


"Nadine, tunangannya Devandi," ujar perempuan bernama Nadine.


Devita tersenyum pilu, kabar apa ini? Ia bahkan tidak tahu jika Devandi sudah bertunangan. Devita ingin menangis saja saat ini.


"Ah iya, Dev aku duluan ya. Aku lupa ada janji sama Tyaras."


"Iya, aku juga mau lanjut jalan lagi. Dah Vita." Devandi tersenyum manis.


.


.


.


Devita menangis sesenggukan, tak mampu menahan sakit yang terus saja menyiksanya. Perlahan kehidupannya kembali seperti dulu. Gelap, dan ia kembali jatuh kedalam jurang depresi.


Devita benar-benar menjalani hidupnya sendiri seperti dulu. Tidak ada lagi Devandi di dalam hidup nya. Pria itu pergi entah kemana. Bahkan pria itu tak lagi menghubungi nya.


Devita termenung menatap layar komputer di depan nya dengan tatapan kosong. Ia hidup sendiri sekarang, sejak hari dimana ia bertemu Devandi untuk terakhir kalinya, ia memutuskan keluar dari rumah.


"Vit, makan yuk!"


"Duluan aja Ty, mau nyelesai in naskah dulu bentar," Teriak Devita.


Tyaras menggelengkan kepalanya, ia tahu jika sahabatnya ini sedang tidak baik-baik saja. Sudah beberapa hari ini gadis itu tidak memakan apa pun. Tyaras khawatir dengan kondisi sahabat nya itu. Terlebih bobot tubuh Devita semakin hari semakin merosot.


"Vit, aku tidak tahu cara menyentuh jiwa mu," batin Tyaras.


Devita kini hidup dengan separuh jiwa yang hilang. Gadis itu semakin menyedihkan setiap harinya.


.


.


.


Tyaras tampak begitu panik, ia bingung harus bagaimana saat ini. Bagaimana tidak , ketika ia pulang ia menemukan Devita tergeletak lemah dengan wajah pucat pasi. Tampak darah keluar dari hidung gadis itu.


Tyaras dengan panik berteriak mencari pertolongan, membuat orang-orang heboh.


"Tolong selamatkan sahabat saya!" teriak Tyaras, gadis itu menangis sesenggukan.


Orang-orang pun membopong tubuh lemah Devita, segera membawa gadis malang itu kerumah sakit. Sementara itu Tyaras mencoba menghubungi orang tua Devita, namun reaksi yang ia dapatkan sungguh membuatnya terkejut.


"Biarkan saja, dia memang sering seperti itu. Hubungi saya jika kamu butuh uang untuk biaya pengobatan anak itu."


Hati Tyaras terasa begitu nyeri mendengar perkataan orang Devita. Setidak penting itukah Devita bagi orang tuanya. Tangis Tyaras pecah, ia tak menyangka jika sahabat nya sungguh malang.


"Hallo, Kak Dev ini Tyaras.. Devita sekarang di rawat di rumah sakit.."


Tak butuh waktu lama tiga puluh menit kemudian Devian datang dengan tergesa-gesa. Tyaras sedikit tersentak melihat penampilan Devian yang tampak berantakan.


"Kenapa Vita bisa sakit seperti ini?"


Tyaras menceritakan segalanya, tampak ada penyesalan di wajah Devandi. Entah apa yang terjadi sebenarnya jujur Tyaras di buat bingung oleh dua orang ini, Devita... Dan Devandi...


Selama Devita di rawat Devandi selalu ada di sisi Devita. Tyaras tersenyum melihat dua insan itu dari luar.

__ADS_1


"Saling mencintai, tapi tidak ada niat untuk bersama."


Tyaras menoleh kebelakang. Tampak seorang pria yang tidak ia kenali.


"Kau sahabatnya Devita bukan? Aku Daniel, sahabat Devandi."


"Iya aku sahabatnya Devita, Tyaras."


Daniel menceritakan semuanya.


"Keduanya saling mencintai tapi tidak berniat bersama..."


.


.


.


Setahun berlalu setelah berbagai drama yang terjadi Devita dan Devandi akhirnya bersatu. Kini mereka adalah sepasang kekasih. Namun, jarak harus menjadi penghalang mereka kali ini.


"Kak, rindu."


Devita mencebik, menatap wajah tampan pria di layar ponselnya.


"Kakak juga rindu sayang," ujar Devandi. Ia tampak gemas dengan wajah Devita. Kekasih nya ini sungguh sangat menggemaskan.


"Nanti kalau udah beres kerjaan disini kakak kesana ya, bawa papa untuk melamar kamu. Tunggu kakak ya sayang."


Devita merona, ia sangat bahagia mendengar penuturan kekasihnya itu. Ia merasa hidup nya indah, ia merasa begitu beruntung memiliki Devandi yang menerima segala kekurangan nya.


"Aku mencintai mu," kata Devita.


"Aku jauh lebih mencintai mu."


Devita terus menanti Devandi yang sedang bekerja di pulau seberang. Ia menjalani hari-hari nya di rumah. Menanti kabar yang kadang susah sekali ia dapatkan. Namun ia yakin jika Devandi akan datang untuk mempersunting nya sebentar lagi.


Mengingat itu hatinya kembali menghangat, rona bahagia menghiasi wajah cantiknya. Devita membayangkan hari di mana ia akan menjadi nyonya Leonardo.


Tak ada sedikitpun rasa curiga pada sang pujaan hati. Devita yakin Devian akan setia padanya di sana. Ia menjalani harinya penuh dengan semangat. Ia bekerja keras untuk mendapatkan uang, agar ia dan Devian bisa segera menikah.


Devita mengetik pesan untuk sang pujaan hati.


"Kak Rindu, kakak dimana?"


Namun balasan dari pesan itu sungguh membuat nya kaget.


"Maaf ini siapa?"


Ada rasa nyeri di hati Devita ketika membaca pesan tersebut.


"Kak, ini Devita."


"Devita siapa? Ini Putri calon istri Devian."


Setetes air mata Devita jatuh begitu membaca pesan tersebut. Hatinya remuk padam, sakit sekali.


"Kak jangan bercanda!"


Tampak beberapa foto dikirimkan, hati Devita hancur saat itu juga. Tampak Devian memeluk mesra seorang gadis.


"Tolong jangan ganggu calon suami ku lagi!"


"Hei! Jangan mengaku-ngaku! Yang jadi calon istrinya itu aku!" Devita mengetik dengan air mata yang berderai deras.ia tak terima.


"Sungguh? Kau tahu aku dan orang yang kau bilang calon suami itu sudah melakukan hubungan layaknya suami istri."


Lagi, rasa sakit itu datang. Namun kali ini jauh lebih sakit dari sebelumnya. Devita tak lagi sanggup membaca pesan selanjutnya. Dunianya terasa runtuh,hatinya hancur tak tersisa.


Devita tak kuat lagi menjalani hidupnya, ia menegak habis pil dk dalam tabung kecil yang biasa ia konsumsi. Ia menangis sesenggukan sampai kegelapan menerpanya.


.


.


.


Seminggu berlalu, seminggu pula Devita tak sadarkan diri. Tyaras menangis melihat keadaan sahabatnya.


"Vita, bangun," lirih Tyaras pilu.


Hanya Tyaras yang Vita punya, orang tua Devita bahkan tidak perduli sedikit pun dengan kondisi sang anak.


Perlahan mata Devita mulai mengerjap, gadis itu mulai bangun dari tidur panjangnya. Tyaras yang menyadari langsung menangis haru. Ia memeluk sahabatnya itu erat.


"Tuhan terimakasih."


Tyaras segera memanggil dokter. Ia mau sahabatnya ini lekas sembuh.tak hanya fisik nya yang sakit,mental sahabatnya ini juga sakit.


Perlahan keadaan Devita semakin membaik, namun tak ada lagi binar di mata gadis itu. Tatapannya terlihat kosong. Bahkan Devita enggan untuk bicara.


"Ty, bisa tinggalkan aku sendiri?" untuk pertama kalinya Devita mau bicara.


Tyaras tampak enggan, namun Devita menatap nya seolah berbicara jika ia akan baik-baik saja.


Devita mengambil ponsel mengetik uraian kata yang ingin ia sampaikan pada seseorang. Menulis setiap kata yang ingin ia sampaikan. Cukup lama, sampai akhirnya ia mengirim tulisannya itu lada seseorang.


Devita pun berjalan, memasuki sebuah ruangan yang minim cahaya.


.


.


.


"DEVITA!!"


"DEVITA BAGUN NAK!!"


"VITA!!"


Seorang wanita menangis pilu melihat wajah pucat pasi seorang gadis yang terbaring lemas.


"VITA MAAFKAN IBU NAK!"


Tangis penyesalan terdengar begitu memilukan, di samping wanita itu tampak seorang pria yang juga ikut menangis melihat anak mereka yang kini sudah tak bernyawa.


Orang-orang menangis di rumah duka, tak terkecuali pria yang baru saja datang. Bahkan jika ia menangis sampai buta sekalipun ia tak mampu membuat gadis itu kembali hidup.


"Devita!"


Hatinya nyeri saat membaca kembali pesan yang di kirim gadis itu beberapa waktu lalu.


"Kakak, aku rindu kak..


Rindu saat di mana kita menjalani kisah bersama. Hidup bahagia dengan kasih sayang tak terhingga. Ingat impian kita, impian kita untuk menikah di tahun ini?


Kak, aku menantikan kedatangan mu kesini, membawa orang tua mu. Dan berkata, jika kau hendak mempersunting ku.


Membayangkan itu saja aku sangat bahagia. Senyum tak pernah pudar kala mengingat perkataan mu. Kak, cinta ku tulus untuk mu, kasih ku murni karena ingin bersama mu. Aku ingin menjadi pendamping mu, mengabdi pada mu.


Kak, aku ingin menjadi orang pertama yang kau lihat saat kau bangun dari tidur mu. Aku ingin jadi satu-satunya orang yang menemani mu, sampai senja nanti. Aku ingin jadi satu-satunya kasih mu, menua bersama mu dan terus menemani mu sampai di tempat peristirahatan terakhir kita kelak.


Kak, aku tidak tahu lagi bagaimana cara mendeskripsikan perasaan ku. Kau satu-satunya yang mengerti aku. Tahu segala kekurangan ku, menerima segala buruk nya aku. Kau pelengkap hidup ku, cahaya mentari ku. Kau sinar yang datang saat kegelapan panjang menerpa ku.


Kak, bolehkah aku membenci Tuhan , boleh kah aku membenci hidup ku! Aku benci nasib ku!..


Kak aku mencintaimu tulus, tapi kenapa aku yang di tinggal kan kak? Kenapa aku yang di khianati kak?


Aku menanti mu di sini.. Aku setia, bahkan aku tak pergi kemana pun demi dirimu kak, demi menjaga perasaan mu.


Kenapa aku di sakiti, kenapa orang yang begitu aku cintai menyakiti ku. Dengan mudah kakak katakan jika aku tak pantas bersama mu. Kak apa salah ku kak? Aku kurang apa kak?


Apa cinta ku tidak cukup untuk memiliki mu? Aku sadar jarak ini membuat mu bosan. Maafkan aku yang berada jauh darimu kak..


Maafkan aku yang tak pernah bisa mendampingi mu, tapi aku selalu berusaha memberikan seluruh hidup ku untuk mu.


Kak, aku selalu menatap langit saat merindukan mu, aku selalu memandangi senja yang menjadi saksi indahnya kisah kita. Kak jika memang kesakitan ini tak bisa berakhir.. Kini saatnya aku akan mengakhiri segalanya..


Aku akan pergi kak,


Maafkan aku yang terlalu berharap untuk memiliki mu..


Cinta ku hanya untuk mu,..


I love you my sunshine


I love you so much


By: Yours


Kini semuanya telah berakhir, penyesalan datang satu paket dengan kehilangan.


Devita, gadis malang itu tak lagi merasakan sakitnya kehidupan..


***Bagaimana pendapat kalian tentang cerita ini?


Bagusnya di lanjutkan atau nggak?


lebih baik di bikin sad Ending atau Happy Ending?


mohon pendapat nya ya 🙏***

__ADS_1


__ADS_2