
Tok tok tok...
Tasya mengetuk pintu toilet berkali-kali sambil memegangi perutnya.
"Ifa!!!cepatan lo keluar!!udah di ujung ini!!" Teriak Tasya berkali-kali.
"Sabar dong!!!kalau sabar nanti tuhan sayang.." jawab Ifa dari balik toilet.
Tasya lalu memukul pintu toilet tersebut dengan keras.
Ifa sama sekali tidak peduli apa yang dia rasakan saat ini..
"Kalo emang kebelet mau berak,mending lo ke toilet cowok aja." Saran Ima sambil menunjuk toilet cowok yang berada bersebelahan dengan toilet cewek.
Tasya lalu memukul Ima dengan keras.
"Ya kali gue masuk ke sana.."
Andai saja dari tadi pagi dia menghabiskan hasratnya untuk buang air di kamarnya,kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.
Ima lalu melirik jam tangan berwarna coklat di tangannya.
"Wah pukul 8,bentar lagi mulai nih."
"Mulai apa?" Tanya Tasya dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan.ya...efek menahan BAB.
"Pelatihan nyonya Tasya..."
Tasya lalu membelalakkan matanya,sebentar lagi pelatihan akan segera di mulai,namun gadis yang bernama Ifa itu belum juga keluar dari toilet.
Tasya kembali mengetok pintu toilet semakin keras.
"Fa...gue mohon...cepetan keluar.....nanti gue bisa berak di celana ini." Pinta Tasya dengan nada memelas.
Ima yang melihat ekspresi wajah Tasya langsung tertawa.
Apakah memang sudah di ujung??
Kreek..
Pintu toilet lalu terbuka.
"Tasya kenapa sih ngetok pintunya keras-keras!!" Omel Ifa.
Tanpa mempedulikan ocehan gadis di depannya itu,Tasya langsung mendorong tubuh Ifa dan menutup pintu toilet.
Ifa lalu menatap Ima yang sedang menahan tawanya.
"Lo kenapa sih lama amat di toilet,boker juga?" Tanya Ima.
Ifa langsung menggelengkan kepalanya.
"Nggak...Ifa itu tadi cuma ngontrol detak jantung Ifa supaya nggak grogi dekat Rozy."
Ima lalu menepuk jidatnya sambil tertawa.
Jadi cuma gara-gara Rozy,Ifa di toilet sangat lama?kasihan sekali nasib Tasya..
Tunggu dulu..
Barusan Ifa menyebut nama Rozy?Ima langsung tersadar.Nama tersebut terasa asing baginya.
"Rozy?siapa tuh?" Tanya Ima penasaran.
Ifa lalu mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Ima
"Calon suami Ifa.."
"APA???" Teriak Ima histeris sambil memegangi dadanya syok.
Satu detik kemudian..
"Bhahahahaha.....balig aja belum lo udah ngomongin suami...fa..plis deh kalau pengen ngelawak jangan di sini.." Ucap Ima tertawa.
Ifa lalu menghentakkan kakinya kesal.
"Iih Ima jahat..!!"
"Astaga....fa lo udah sukses banget bikin gue ketawa kek begini...gue dukung deh lo jadi komedian."
Ifa lalu memukul lengan Ima kesal atas perkataannya barusan.
"Lihat aja...nanti Ima bakal nyesel bilang kek gitu." Ancam Ifa.
Bukannya takut,Ima malah tertawa semakin jadi.
"Kalian ngapain sih ribut-ribut?gue jadi boker terganggu nih." Ucap Tasya yang baru saja keluar dari toilet.
"Tasya cepat amat BAB nya.." Ucap Ifa.
"Tangan lo pasti belum dicuci ya??" Tanya Ima sambil memandang jijik tangan Tasya.
"Enak aja lo ngomong nenek lampir,gue udah cuci ini tangan pakai sabun andalan gue."
"Iyain aja." Ucap Ima mengalah.
"Oh iya...nanti sepulang pelatihan temenin gue ke tukang servis laptop ya." Pinta Tasya.
"Emang laptop lo kenapa?" Tanya Ima
Mendengar kata laptop,Ifa langsung mundur beberapa langkah.
"Anu...sebenarnya.."
Ima dan Tasya lalu menatap Ifa.
"Kemarin Ifa nggak sengaja jatuhin laptop Tasya...."
Ifa segera berlari menjauh dari Tasya sebelum gadis tomboi itu mencabik-cabik kulit mulusnya.
"IFA!!!!!!!!" Teriak Tasya sangat keras.
☁☁☁
Ifa dan kedua temannya segera bergegas menuju ruang pelatihan.
Untung jarak toilet dengan ruangan tersebut tidak terlalu jauh,jadi mereka tidak telat.
Saat tiba di ruangan tersebut,mereka bertiga bergegas menuju bangku yang kosong yang masih tersisa.
Suasana di ruangan tersebut sangat ramai,karena banyak peserta yang mengikuti pelatihan tersebut.
Ifa sejak tadi melihat seisi ruangan tersebut,namun dia tidak melihat Rozy.
Apa pria itu telat bangun?
"Fa...bangku cuma untuk dua orang di sini."
Ifa lalu menatap Ima yang sedang meletakkan tasnya di bangku kosong yang berada di pojok ruangan.
"Lo mau duduk dimana?" Tanya Tasya.
Ifa lalu menghembuskan nafasnya gusar.
"Kalian duduk aja di sana,Ifa mau cari tempat yang lain."
Ima dan Tasya lalu mengangguk.
Ifa meninggalkan mereka berdua dan berjalan untuk mencari kursi yang kosong.
"Fa.."
Merasa ada yang memanggil namanya,Ifa lalu menolehkan kepalanya ke belakang.
Dia lalu mendapati Rafly sedang duduk sambil menunjuk bangku kosong di sampingnya.
Ifa lalu tersenyum.Sepertinya ini adalah hari keberuntungan nya.
Ifa segera berlari menuju bangku Rafly.
"Nggak apa ni Ifa duduk di sini?"
"Ya nggak apa lah Ifa,lo kayak orang lain aja."
Ifa lalu tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya.Dia lalu meletakkan tasnya dan membuka buku.
"Nih minum.."
Ifa lalu menatap minuman di depannya lalu beralih menatap Rafly.
"Kalau mau belajar,minum jus ini.."
"Tapi..."
Rafly lalu tersenyum sambil menunjuk minuman itu dengan dagunya.
"Lo harus butuh vitamin supaya kuat belajarnya." Ucap Rafly sambil mengelus puncak kepala Ifa.
Ifa hanya tersenyum kikuk.
Rafly lalu beralih pada buku tebal di hadapannya.
Drrrttt...
Ponsel Ifa bergetar.Dia segera mengambil ponselnya yang berada di tasnya.
From:Rozy😘
Cie dikasih jus.
Ifa lalu membelalakkan matanya membaca pesan dari Rozy.
Darimana pria itu tau???
To:Rozy😘
Rozy di mana?kok bisa tau?
Ifa mengetik pesan itu dengan gemetar.Apakah Rozy marah kepadanya?
From:Rozy😘
Belakang lo.
Bruaaak...
"APA?KENAPA DIA BISA ADA DI BELAKANG IFA???" Teriak Ifa sehingga semua orang menatap ke arahnya.
Ifa langsung membekap mulutnya.
Dia lalu menoleh ke belakang dan mendapati pria itu sedang menatap ponselnya tanpa mempedulikan kejadian barusan.
Kepala Ifa terasa mengeluarkan uap panas melihat pria menyebalkan super dingin bin cuek itu.
Ifa lalu kembali duduk tanpa mempedulikan tatapan bingung dari Rafly.
"Lo kenapa?" Tanya Rafly khawatir.
Ifa lalu menggelengkan kepalanya.
"Ifa cuma lagi kesal aja...Kucing Ifa tiba-tiba aja minta nikah padahal baru kemarin dia ngelahirin 8 anak kucing."
Rafly lalu tertawa mendengar penjelasan konyol dari Ifa.
"Setau gue lo hanya punya kucing jantan di rumah."
Ifa lalu menatap Rafly dengan kesal.
"Rafly jangan ikut-ikutan bikin Ifa kesal,nanti Ifa bisa berubah jadi raksasa loh.." Peringat Ifa.
"Tapi gue tetap sayang.."
Mendengar ucapan Rafly barusan membuat Ifa mendadak menjadi salah tingkah.
"Raf...Ifa serius.."
"Gue serius."
Ifa lalu menatap Rafly begitu pun sebaliknya.Mata mereka saling bertemu untuk beberapa detik.
Hingga akhirnya..
"Gue boleh tukaran sama lo?mata gue sedikit rabun nih."
Rafly dan Ifa menatap seorang pria yang sudah berdiri di depan Rafly sambil membawa tas beserta bukunya.
Rafly merasa tidak senang dengan permintaan pria itu karena dia tau sangat tau...kalau pria itu orang yang saat ini disukai Ifa.
"Maaf mending lo cari tempat lain aja." Tolak Rafly.
Rozy lalu tersenyum sambil meletakkan bukunya di atas meja Rafly.
"Dan maaf,tas anda sudah saya pindahkan ke belakang." Ucap Rozy dengan wajah datar serta dingin.
Rafly lalu membelalakkan matanya sambil menatap tasnya yang berada di bangku belakang Ifa.
Dengan hati kesal bercampur cemburu,Rafly bangkit dari kursinya menuju kursi di belakang Ifa.
"Lihat saja nanti." Gumam Rafly
Ifa lalu mencuri pandang ke arah Rozy yang telah duduk di sampingnya.
"Rozy cemburu ya.." Bisik Ifa dengan hati yang berbunga-bunga.
"Nggak."
Ifa lalu membelalakkan matanya mendengar jawaban Rozy yang padat,singkat,dan jelas itu.
__ADS_1
Apa-apaan yang tidak sama sekali?
Dari sikapnya itu siapa pun bisa menebak kalau dia itu sedang cemburu.
"Terus kenapa Rozy minta tukaran?" Tanya Ifa berusaha sabar.
"Gue kan udah bilang mata gue sedikit rabun."
"Tapi Rozy kan bisa pindah ke kursi paling depan." Ucap Ifa tetap tidak mau kalah.
Rozy lalu berhenti dari aktivitasnya bermain game dan beralih menatap Ifa.
"Bukan urusan lo."
Ifa lalu mengelus dadanya berusaha mengumpulkan kekuatan untuk bersabar.
Ingin rasanya Ifa mencabik-cabik mulut pria kutub es itu!!!
Tapi ifa tahan mengingat dia adalah pria yang disukainya.
Apa salahnya sih jujur????
Jika ada kontes kegengsian yang diadakan negara Indonesia maka dijamin,Rozy pasti akan menang dan menjadi duta dari Indonesia untuk berkompetisi di tingkat Internasional.
Ifa lalu menatap jus yang diberikan Rafly tadi kepadanya.
Dia lalu mengambil dan meneguk habis jus tersebut.
Betul apa yang dikatakan Rafly.
Ifa butuh vitamin sebelum belajar..
Belajar untuk bersabar menghadapi manusia kutub es bernama Rozy!
☁☁☁
"Aaaaa.....Ifa kesal banget........."
"Ifa pengen banting dan hancurin hati batunya si Rozy."
"Apa sih salahnya jujur bilang kalau dia itu sedang cemburu??????"
Ima dan Tasya sedari tadi hanya diam melihat Ifa yang teriak-teriak tidak jelas sehabis selesai dari pelatihan.
Bahkan saat di tempat servis laptop tadi dia juga berteriak sehingga membuat semua orang memandangnya sebagai orang gila.
Bahkan ada ibu-ibu yang nekat menelfon rumah sakit jiwa karena Ifa membuat anaknya menangis karena teriakannya itu.
Untung mereka segera mencegah ibu itu untuk tidak menelfon rumah sakit jiwa.Mereka beralasan bahwa Ifa itu sedang galau putus cinta.
Ibu itu pun akhirnya percaya dan menyuruh Ima dan Tasya mengantar Ifa balik ke hotel.
Ifa menggigit bantalnya dan melemparnya asal.
Dia terlihat seperti seorang wanita yang ditinggal suaminya karena selingkuh.
"Woi lo kayak orang ditinggal suami aja,kucing gue aja ditinggal suaminya biasa aja tuh." Omel Tasya.
Ifa lalu menatap Tasya sambil menangis.
"Sakit hati ini Tasya.....nggak sanggup aku jijai kali sama babang Rozy." Adu Ifa.
Tasya memutar bola matanya malas menanggapi Ifa.
"Lo tergila-gila amat sama si Rozy sampai mau nangis darah." Lanjut Ima ikut mengomeli Ifa.
Ifa lalu menangis sambil mengelap ingusnya dengan tisu.
"Kalian kejam." Lirih Ifa.
Ifa kembali menangis sejadi-jadinya hingga membuat kedua teman sekamarnya itu lama-kelamaan muak.
Tok tok tok
Semua mata tertuju pada pintu yang habis di ketuk oleh seseorang.
"Biar gue aja yang bukain."
Ima bangkit menuju pintu lalu membukanya.
"Siapa ma?" Tanya Tasya penasaran.
"Nggak ada siapa sia.."
Ima tersentak kaget melihat bunga yang cantik tergeletak di depan pintu kamar mereka.
Gadis itu lalu memungutnya sambil mengerutkan dahinya.
Siapa yang mengirim bunga?
Apa orang yang mengetuk pintu tadi?
Ima menemukan selembar kertas kecil terselip di bunga tersebut.
To:Ariska Ifa Nurlia.
Mata Ima terbelalak melihat nama yang tertulis di kertas tersebut.
"IFA!!!" Pekik Ima histeris.
Tasya dan Ifa sama-sama menoleh ke arah Ima yang masih mematung di depan pintu.
"Ada apaan sih?"
Tasya menyusul Ima dengan rasa penasarannya.
"Ini...ada yang kasih Ifa bunga,cantik banget deh." Jelas Ima memecah rasa penasaran Tasya.
Ifa merebut bunga tersebut dari Ima sambil mengerutkan dahinya bingung.
Siapa yang mengirim bunga itu padanya?
Rozy...
Ya....pasti pria itu yang telah memberi Ifa bunga secara diam-diam sebab dia merasa bersalah karena telah membuat Ifa kesal tadi.
Ifa lalu memeluk bunga tersebut sambil melompat girang.
"Ya ampun Ifa,jangan dipeluk erat gitu dong bunganya nanti hancur,lo ***** atau **** sih." Omel Tasya geleng-geleng kepala.
Ifa lalu menatap Tasya dan Ima sambil tersenyum bahagia.
"Ini pasti bunga dari Rozy...." Ucap Ifa sambil tersenyum manis.
"Ah nggak mungkin,lo pede amat sih." Ucap Ima.
"Bukan kepedean tapi Ifa yakin."
Sedangkan Ima melongo tidak percaya melihat tingkah Ifa yang terbilang cukup lebay.
Ifa lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada pria kutub es itu.
To:Rozy😘
Makasih bunganya❤
☁☁☁
Ifa sibuk memilih es krim yang cocok dengan seleranya di sebuah minimarket yang tak jauh dari hotel.
Karena bunga tadi,mood Ifa yang hancur langsung berubah menjadi sangat baik.
Karena itu dia berniat membeli es krim untuk dirinya dan dua teman sekamarnya.
"Rasa green tea aja deh.."
Setelah mendapat es krim yang sesuai dengan seleranya dan mungkin kedua temannya juga sama,Ifa lalu menutup peti es krim itu.
Dengan senyuman yang masih mengembang Ifa dengan segera menuju kasir.
Ifa lalu menyerahkan 3 es krim rasa green tea itu pada mbak-mbak kasir.
"Bahagia banget dek." Ucap kasir itu sambil memasukkan es krim itu pada kantong plastik.
"Hehe...hari ini hari bahagia saya mbak." Ucap Ifa masih tersenyum.
Mbak kasir itu pun ikut tersenyum lalu menyerahkan kantong plastik yang berisikan es krim tadi kepada Ifa.
Ifa lalu melangkah pergi dari minimarket tersebut.
Tapi...
Hujan tiba-tiba turun sehingga membuat Ifa tidak bisa pergi meninggalkan minimarket tersebut.
Jika dia nekat menerobos hujan maka akan dipastikan dia akan flu,jika menembus hujan dengan kaus pendek serta tipis seperti itu.
Mau tidak mau Ifa harus menunggu hujan reda.
"Perasaan tadi nggak mendung,kenapa tiba-tiba hujan."
"Karena hujan itu nggak perlu kode untuk turun."
Ifa lalu menoleh ke arah samping dan mendapati seorang pria dengan pakai masker berdiri di sampingnya.
"Sama seperti perasaan,nggak perlu ada kode-kodean." Lanjut pria itu.
"Anda siapa?penculik ya?atau om-om mesum?" Tanya Ifa sambil mengangkat kepalan tangannya.
Orang itu terkekeh mendengar ucapan Ifa barusan.Dia lalu membuka masker yang menutupi setengah wajahnya.
"Masa gue dikira om sih." Ucap Rafly tertawa.
Ifa lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal serta wajahnya yang memerah.
Harusnya dia jangan langsung mengira kalau orang itu adalah om mesum.
"Ngapain lo beli es krim di tengah hujan gini?"
"Soalnya tadi Ifa dikasih bunga sama seseorang jadi Ifa senang dan langsung deh beli es krim." Ucap Ifa dengan jujur.
Rafly lalu mengelus rambut hitam Ifa sambil tertawa gemas melihat tingkah polos gadis itu yang tak pernah berubah.
"Tapi jangan sampai lo sakit juga karena bunga itu." Peringat Rafly.
Ifa lalu menganggukkan kepalanya.Dia lalu menatap hujan yang masih turun membasahi Bandung.
Ifa lalu menggosok kedua telapak tangannya karena udara mulai terasa dingin menusuk kulitnya.
"Nih pakai.."
Rafly lalu memasangkan jaketnya pada Ifa agar gadis itu tidak kedinginan,sontak membuat Ifa lumayan kaget.
Ifa lalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Rafly.
"Ifa pernah nonton drama korea milik Rara,ada loh adegan dimana si cowok memberikan jaketnya pada cewek agar tidak kedinginan." Cerita Ifa.
Rafly lalu tersenyum,dia beranjak dan berdiri tepat di depan Ifa.
"Rafly ngapain di depan Ifa?nanti Rafly kena hujan loh." Ucap Ifa khawatir.
Rafly berbalik menghadap ke Ifa.
"Justru gue mau lindungi lo agar nggak basah karena hujan."
Rafly lalu menatap mata coklat milik Ifa,entah mengapa dia sangat suka memandang mata gadis itu.Baginya mata gadis itu sangat membuatnya tenang.
Ifa melihat ada mobil yang akan melintas dan itu akan membuat genangan air di depan minimarket itu mengenai Rafly.
"Rafly awas..."
Ifa lalu menarik Rafly supaya dia tidak terkena cimpratan genangan air tersebut.
Namun,sepertinya usaha Ifa sia-sia karena tetap mengenai pakaian Rafly di belakang.
Dan karena ulahnya barusan membuat jaraknya dengan Rafly semakin dekat.
Tiba-tiba alunan musik Mantan terindah terngiang di telinga Ifa.
Oh shit....barusan apa yang dipikirannya!
Rafly lalu tersenyum melihat wajah Ifa yang sudah merah seperti kepiting rebus.
Dia lalu menyentuh wajah tersebut.
"Ciee salah tingkah ya?"
Ifa dengan cepat mendorong tubuh Rafly agar menjauh darinya.
"Rafly mending di samping Ifa aja." Kesal Ifa tak mau menatap Rafly.
Rafly hanya terkekeh.Dia lalu mengambil payung yang berada di sampingnya.
"Kita ke hotel sekarang,gue ada bawa payung."
Ifa membelalakkan matanya melihat payung berwarna biru itu.
"Rafly...kenapa sih baru sekarang ngeluarin payungnya." Ucap Ifa sedikit teriak.
"Ya...gue lupa."
Ifa lalu menghela nafasnya.
"Lo mau balik apa kagak?" Tanya Rafly yang sudah siap dengan payung birunya.
"Iya..."
__ADS_1
Rafly dan Ifa segera bergegas meninggalkan minimarket tersebut.
Takutnya nanti,Ifa bisa sakit jika berlama-lama di luar saat hujan seperti ini.
Rafly lalu menatap gadis itu yang masih dengan wajah cemberutnya.
"Imut ya.." Ucap Rafly dan Ifa mendengarnya.
"Apa?"
"Peri di samping gue."
☁☁☁
Ifa membasuh wajahnya kasar.
Hatinya sekarang merasa aneh saat Rafly mengucapkan kata "Peri"
"Iih Ifa ngapain sih mikirin itu."
Ifa ingin rasanya melayangkan satu kepalan tangannya pada Rafly.
Gara-gara pria menyebalkan itu,Ifa jadi tidak mood untuk melahap es krimnya.
Ifa lalu keluar dari kamar mandi dan mendapati kedua teman sekamarnya sedang menyantap es krim yang dibelinya sambil menonton film horor.
"Fa lo nggak mau tuh es krim nya?" Tanya Ima masih fokus pada filmnya.
"Nanti aja deh,Ifa simpan di kulkas dulu."
Ifa lalu meletakkan es krimnya ke dalam kulkas.
Mood yang yang tadi baik berubah kembali menjadi buruk.
Mendadak ada desiran aneh dalam hatinya.
Drrttt...
Ifa menatap ponselnya yang ada di atas ranjang dengan malas.
Tapi...
Dia tiba-tiba teringat Rozy,dengan segera dia menuju ranjang dan ternyata ya....dugaannya benar.
From:Rozy😘
Lo bisa keluar sebentar?temui gue di lantai 3.
"Kenapa Rozy nyuruh Ifa ke sana?"
"Apa jangan-jangan mau ngasih Ifa bunga lagi?"
Ifa lalu menahan mati-matian dirinya untuk tidak teriak.
Ifa dengan bergegas menuju pintu keluar.
"Lo mau kemana?" Tanya Tasya.
"KE LANTAI 3." Teriak Ifa lalu segera pergi meninggalkan kamar.
Dengan langkah tergesa-gesa Ifa menuju lift.
"Ayo cepat...Ifa nggak sabar."
Setelah beberapa saat,lift terbuka dan Ifa langsung masuk ke dalam lift tersebut.
Dia segera menekan tombol 3.
Hatinya menjadi tidak tenang.
Setelah sampai,Ifa segera berlari menemui pria dingin bernama Rozy itu.
Namun yang Ifa dapati,di lantai 3 tersebut tidak banyak orang berlalu lalang.
Drrt...
Ifa merasakan getaran dari saku celananya.Dia lalu mengecek ponselnya,mana tau itu dari Rozy.
From:Rozy😘
Dari lift lo belok kanan,jalan terus,lalu belok kiri.
Ifa mengikuti pesan yang dikirim pria itu kepadanya.
Setelah sampai di posisi terakhir,Ifa lalu menatap sekitar yang tampak sepi.
Dan yang paling sakit hati,dia berada di dekat toilet.
Bisa-bisanya Rozy membawanya ke depan toilet.
"Dimana Rozy?" Tanya Ifa mulai khawatir karena di sana terlihat sepi.
Ifa lalu merasakan bahunya disentuh oleh seseorang.
Ifa berusaha memberanikan diri untuk berbalik ke belakang,mungkin saja itu Rozy.
Dan Ifa benar.
Senyuman Ifa kembali mengembang.
Namun,melihat wajah dingin serta tatapan tajam milik Rozy membuat Ifa mengernyit bingung.
Ada apa dengan pria itu?
Rozy melangkah satu persatu kakinya mendekati Ifa.
Dan secara refleks,Ifa juga mundur karena Rozy terus melangkah.
Duk..
Ifa merasakan punggungnya membentur dinding dan Rozy masih terus melangkah mendekatinya.
Masih dengan wajah datar dan tatapan tajam Rozy mendekat ke arah Ifa.
Ifa bertanya-tanya dalam hatinya,ada apa dengan pria itu?apa dia mau mengasih Ifa bunga?tapi seharusnya dia memegang bunga itu kan?tapi ini tidak...
Jarak Rozy semakin dekat,dia lalu mengunci Ifa dengan kedua tangannya agar gadis itu tidak bisa lolos.
Deg!
Jarak mereka sangat dekat,hembusan nafas Rozy begitu terasa di wajah Ifa.
Mau apa pria itu???
"Ro...Rozy mau apa?"
Rozy masih tetap menatap Ifa dengan tajam.
Rozy semakin mendekatkan wajahnya pada Ifa sama persis saat kejadian di biang lala waktu itu.
Ifa teringat akan kejadian itu,dia lalu refleks menutup matanya.
Ifa merasakan sesuatu yang basah di keningnya.
Oh my god!!
Apa Rozy barusan mengecup keningnya.
Rozy melakukannya dengan cukup lama hingga membuat Ifa terdiam dan membeku.
Di sisi lain ada perasaan hangat dalam diri Ifa saat Rozy mengecup keningnya.
Setelah cukup lama,Rozy lalu menghentikannya daripada dia melakukan lebih dari itu seperti kejadian di biang lala.
Rozy lalu menatap Ifa yang masih syok atas kejadian barusan.
Rozy lalu menyentuh wajah Ifa dengan lembut.
Ifa lalu menatap bola mata Rozy.
"Rozy...ke...kenapa Rozy tadi.."
Rozy lalu menggenggam tangan milik Ifa seperti tidak mau Ifa pergi darinya.
"Pliss jangan buat gue begini fa."
Ifa lalu mengerutkan alisnya mendengar ucapan Rozy barusan.
"Gue nggak mau lo berduaan dengan Rafly."
Ifa membelalakkan matanya mendengar ucapan dari Rozy.
"Rozy...apa Rozy.."
"IYA...IYA GUE CEMBURU LIAT LO MESRA-MESRAAN DI DEPAN MINIMARKET DENGAN RAFLY."
"GUE CEMBURU KARENA RAFLY NGASIH LO BUNGA DIAM-DIAM."
"DAN GUE CEMBURU LIHAT LO TADI PAGI DUDUK DENGAN RAFLY."
Ifa terpaku mendengar ucapan dari Rozy.
Jadi...semenjak tadi pagi,pria itu selalu memperhatikan dan mengawasinya???
Ini??
Ini apakah mimpi???
Apa mungkin ini mimpi??
Rozy kemudian membawa Ifa ke dalam pelukannya.
Rozy kembali mengecup kening gadis itu.
"Gue mencintai lo Ariska Ifa Nurlia."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1