My Crazy Girl

My Crazy Girl
Laki-Laki Misterius


__ADS_3

Ifa menatap jengah dua human yang berada di depannya.Mereka tengah asyik mengobrol tentang sesuatu hal yang Ifa tidak tau.Dan yang paling membuat sesak adalah Ifa seakan-akan seperti nyamuk di antara mereka berdua.


Mereka sesekali menertawakan sesuatu yang sama sekali tidak terdengar lucu bagi Ifa.


Ifa menghela nafas berat.Awalnya,dia sedang kencan dengan sang pacar.Tapi,acara kencannya itu dirusak oleh kedatangan seorang gadis yang diminta ajarkan fisika oleh pacarnya.


Kalau bukan karena gadis itu sakit beberapa hari yang lalu,Ifa sudah mengusirnya keluar dari kelas pacarnya.


"Kak...kenapa kita nggak gunain rumus energi aja?kenapa harus kita uraikan gayanya satu-satu?"


"Dalam olimpiade kita dituntut untuk bekerja secara detail,makanya akan lebih baik kita menguraikan gayanya terlebih dahulu."


Ifa menatap Nabila yang sedang fokus mendengarkan penjelasan dari Rozy.Gadis itu terus mengawasi gerak-gerik Nabila yang mencurigakan.Bisa jadi,ini merupakan salah satu jurus Nabila untuk merebut Rozy dari dirinya.


Ifa meraih ponselnya dari dalam saku dan membuka aplikasi Instagram.Dia menscroll layar ponselnya untuk melihat berbagai macam postingan dari orang yang diikutinya.


Ifa berniat memposting salah satu fotonya di Instagram.Dia lalu membuka galeri ponselnya dan mencari foto yang cocok untuk diposting.


Setelah berhasil menemukan foto yang cocok,Ifa menyodorkan ponselnya kepada Rozy.


"Rozy.."


Rozy dan Nabila sama-sama menoleh ke arah Ifa.Langsung saja Ifa memberikan tatapan tajamnya kepada Nabila karena ikut menoleh saat Ifa memanggil nama Rozy.


"Bagus ga foto yang ini?"


Ifa memperlihatkan foto dirinya kepada Rozy sambil tersenyum menantikan jawaban Rozy.


"Hmm.."


Rozy kembali kepada aktifitas sebelumnya,yaitu mengajar Nabila.


Ifa menatap Rozy tidak percaya dengan jawaban yang diberikan pria itu barusan.Sungguh di luar dugaan Ifa.


"Rozy....hmm itu bukan jawaban."


Rozy tidak mengacuhkan ucapan Ifa barusan.Dia terus fokus melihat Nabila mengerjakan satu soal yang diberikannya.


Tingkah Rozy yang cuek membuat gadis itu naik pitam.Pacar macam apa Rozy yang dengan teganya mengacuhkan kekasih sendiri hanya karena gadis lain?


Oh..My...God....


Semoga Ifa selalu diberikan ketabahan oleh tuhan.Ifa hanya bisa berharap,hubungannya dengan Rozy tidak akan berantakan seperti drama The World of Married.Dimana Tae Oh dengan kejamnya berselingkuh dengan wanita lain dan meninggalkan istrinya.


Semoga tidak ada Yeo Da-kyung di antara Ifa dan Rozy!


Dengan hati penuh kesal,Ifa memposting fotonya di Instagram tanpa menandai Rozy.


Yap..biasanya Ifa akan menandai pria tersebut di setiap postingannya.


Selang beberapa menit,akhirnya Nabila selesai belajar dengan Rozy.


"Makasih ya kak..maaf Nabila ngerepotin banget."


"Haha..lo nggak.."


"IYA NGEREPOTIN BANGET,GANGGU ACARA KENCAN ORANG LAGI."


Rozy langsung menatap Ifa yang seenak jidatnya memotong ucapan Rozy.


Nabila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Perasaan bersalah menyelimuti hati Nabila sekarang.


"Hmm..maaf kak,Nabila permisi dulu ya kak Rozy,kak Ifa.."


Dengan langkah secepat mungkin,Nabila pergi meninggalkan kelas 11 MIPA 4.


Setelah kepergian Nabila,Rozy segera berdiri dan menarik tangan Ifa.


"Iih..Rozy apaan sih!"


"Lo nggak boleh bersikap seperti itu."


"Kenapa nggak boleh?"


"Nabila nggak salah apa-apa fa." Rozy berusaha untuk bersikap sabar.


"Haha...ya udah belain aja Nabila terus..Ifa mah ga penting bagi Rozy ya kan?atau jangan-jangan Rozy kepincut sama Nabila?iya?"


"Ifa!!" Bentak Rozy.


Suasana seketika berubah menjadi horor.Semua orang yang berada di dalam kelas menatap sepasang kekasih itu dengan bingung.


Rozy langsung tersadar dan menyesali dirinya yang telah membentak Ifa.Tidak seharusnya dia bersikap seperti itu.Masalah apapun tidak akan selesai jika tidak diselesaikan dengan kepala dingin.


Rozy meraih tangan Ifa dan berusaha mengenggam tangan gadis itu.Namun,segera Ifa menepisnya.Hal itu tentunya membuat Rozy bingung dan khawatir.Sejauh ini,Ifa tidak pernah sekalipun menepis tangannya.


Semarah apapun gadis itu,dia sama sekali tidak akan pernah menolak Rozy.Tapi sekarang?Apakah kali ini,Ifa sangat marah kepada dirinya?


Ifa menghirup nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan.


"Ifa mau sendiri dulu."


"Fa.."


Tanpa mendengar ucapan Rozy,Ifa langsung berbalik badan dan melangkah keluar kelas.


Saat berada di pintu kelas,Ifa berpapasan dengan Taufan yang sedang menatap Ifa bingung.


"Eeh Ifa,mau kemana?" Tanya Taufan.


Ifa sejenak berhenti dan menatap Taufan yang sedang tersenyum kepada dirinya.


"Bilang sama Rozy,jangan cari Ifa."


Setelah mengatakan itu,Ifa segera pergi menjauh dari kelas Rozy.Mood-nya hari ini benar-benar hancur karena Rozy dan pastinya juga Nabila.


Sementara itu,Rozy hanya bisa menatap punggung Ifa yang lama-kelamaan semakin menghilang dari pandangannya.


Jujur,Rozy mengaku salah karena telah membentak gadis itu.Tapi,gadis itu juga salah karena telah mengatakan sesuatu yang bisa menyinggung perasaan orang lain.


Oke..Rozy harus ingat dua kalimat yang melegenda di dunia ini.


Cewek selalu benar dan cowok selalu salah


Tidak peduli,apapun yang dilakukan Rozy,dia tetap salah.Dan oleh karena itu,dia juga yang harus meminta maaf duluan.


"Kenapa cewek seribet ini?"


Rozy menjambak rambutnya frustasi.Apa yang harus dia lakukan saat ini agar Ifa tidak marah lagi?


Seharusnya,dia dan Ifa tidak bertengkar hari ini karena mereka besok akan pergi lomba bersama.Harusnya mereka sekarang belajar bersama sambil sesekali tertawa karena ulah Ifa yang menggemaskan.


Taufan menatap Rozy sambil geleng-geleng kepala.Pria tersebut memilih duduk di depan Rozy.


"Noh..minum dulu,biar otak lo dingin." Tawar Taufan sembari meletakkan sebotol minuman dingin di depan Rozy.


Rozy segera mengambil minuman tersebut dan meneguknya hingga habis.


"Thanks fan."


"It's okey,,dan lo ada apa lagi sih sama Ifa?"


Rozy menceritakan semua yang terjadi di kelasnya tadi,dan Taufan menyimaknya dengan serius.


"Gue ngajarin Nabila karena belakangan ini sakit,gue ga ada maksud lain."


"Lo ajarin Nabila di depan Ifa?"


Rozy menganggukkan kepalanya.Sedangkan Taufan langsung memukul jidatnya.Kenapa sahabatnya ini bisa setolol ini?


"Ifa pantas marah sama lo...****** amat sih lo ya ampun.."


"Lo kenapa jadi marah sama gue?" Tanya Rozy tidak terima.


Taufan menepuk pundak Rozy.Sepertinya,pria yang bernama Rozy Yudha ini perlu dilatih bagaimana cara peka terhadap perasaan wanita terutama pacar sendiri.


"Rozy...Ifa itu marah sama lo karena lo yang seenak jidatnya mengacuhkannya,dan lo malah keenakan ngajarin Nabila."


"Lah?kan dia yang salah..dia ga mau diajak belajar bareng." Rozy tetap bersikukuh bahwa dia tidak salah.


Taufan menghela nafas berat berusaha sabar menghadapi sikap keras kepala Rozy.


"Sekarang lo bayangin aja,misalnya lo berada di posisi Ifa."


"Dan Ifa dengan santainya ngobrol dan belajar sama Kevin.."


"Mana mungkin gue marah,si Kevin aja ga pernah belajar." Rozy langsung memotong ucapan Taufan.


"Gue belum selesai ngomong,lo udah main nyosor aja curut...denger!ini cuma perumpamaan."


"Hmm.."


"Bayangin,kalo saat itu Ifa bersikap acuh dan tak peduli sama lo,apa yang lo rasain?"


Pertanyaan Taufan itu langsung membuat Rozy tersadar.Jika Rozy berada di posisi Ifa,dia pasti juga akan marah besar.Siapa yang tidak rela diacuhkan oleh pacar sendiri demi orang lain?


Ya ampun...kenapa Rozy baru sadar sekarang??


"Fan..lo bener.. seharusnya gue ga seperti itu."


"Cih...makanya lo harus belajar memahami hati cewek,dan yang paling penting..peka!"


Rozy sangat menyesal karena telah menyakiti hati gadisnya lagi.Tidak..ini tidak bisa dibiarkan.Rozy akan meminta maaf kepada gadisnya.


Rozy segera bangkit hendak mencari Ifa.Namun,tangannya ditahan oleh Taufan.


"Ifa bilang,dia mau sendiri dulu..dia suruh gue nyampein kalo dia ga mau dicari sama lo."


"Tapi,gue.."


"Ya elah..Ifa itu sedang marah besar,lo biarin aja dia tenang dulu..nanti lo minta maaf."


Rozy mengurungkan niatnya untuk mencari Ifa setelah mendengar perkataan Taufan.Mungkin Ifa butuh waktu untuk menenangkan pikirannya untuk saat ini.


"Rozy!!!Rozy!!!"


Suara pekikan tersebut membuat Rozy ataupun Taufan menoleh ke arah pintu kelas.


Tampak seorang gadis sedang mengatur nafasnya akibat berlari terlalu cepat.Hal tersebut membuat Taufan dan Rozy bingung.


Gadis tersebut segera menghampiri dua pria tersebut.Gadis itu tampak mengkhawatirkan sesuatu.


Melihat raut wajah gadis itu membuat perasaan Rozy mendadak tidak enak.


"Ifa..."


"Dia jatuh dari tangga."


☁☁☁


Rozy segera berlari menuju UKS setelah mendengar kabar bahwa Ifa jatuh dari tangga.Dia terus mengutuk dirinya kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Ifa.


Sesampai di depan pintu UKS,Rozy melihat seorang petugas UKS sedang membersihkan luka di lutut gadis itu.Rozy segera menghampiri petugas tersebut.


"Lukanya parah?"


Ayla,petugas UKS tersebut menoleh ke arah Rozy dan tersenyum menampakkan lesung pipitnya.


"Lututnya cuma tergores sedikit aja, mungkin karena shok,Ifa sampai pingsan." Jelas Ayla.


Rozy bernafas lega mendengarnya.Syukurlah gadis itu baik-baik saja.


Ayla segera membereskan kotak P3K dan beranjak meninggalkan Rozy yang masih setia berdiri di samping ranjang UKS.


Dia terus menatap wajah Ifa.Wajah yang begitu damai dan cantik.Rozy sangat menyukainya.Rasa sukanya kepada gadis itu kian hari kian bertambah.

__ADS_1


Segila apapun gadis itu,tetap tidak akan membuat Rozy merasa ilfeel.Sifat gadis itu yang polos dan jujur membuat Rozy tidak ingin melepas gadis itu.


Gadis gila yang telah mengubah dirinya.Dulu,dia adalah pria yang terkenal dingin di sekolahnya.Bahkan,dia sama sekali tidak pernah ingin dekat dengan cewek manapun di sekolah ini.Hidupnya hanya penuh dengan fisika..fisika..dan fisika.


Sampai,dia bertemu gadis itu di ajang perlombaan sains tingkat sekolah.Gadis gila yang mengejarnya sampai ke parkiran dan meminta semua akun sosial medianya.


Dan dengan sifat gilanya itu,membuat Rozy lebih sering tersenyum.Dia bahagia bersama dengan Ifa.


Ifa adalah gadis yang sangat penting dalam kehidupannya.Dan Rozy tidak akan membiarkan Ifa dalam bahaya.Dia akan selalu melindungi gadis itu walau harus bertaruh nyawa.


Rozy beranjak duduk di samping ranjang UKS.Pria itu meraih tangan Ifa dan menggenggamnya dengan erat.


"Fa..maafin gue,gue salah.."


Rozy mengecup punggung tangan gadis itu.


"Cepat sadar...sayang."


Rozy merasa geli sendiri dengan dirinya yang barusan mengucapkan kata sayang.Untung Ifa belum sadarkan diri,jadi gadis itu tidak mendengar apa yang Rozy katakan tadi atau tidak,dia akan melompat kegirangan dan tak henti menggoda Rozy setelah itu.


Rozy melihat jari-jari Ifa mulai bergerak menandakan gadis itu mulai sadar.


"Fa.." Panggil Rozy dengan lembut.


Ifa membuka kedua matanya secara perlahan.Gadis itu lalu menoleh ke arah Rozy dan langsung tersenyum.


"Rozy.."


"Gue ambilin lo air putih.."


Rozy segera berlari mengambil air putih sedangkan Ifa memposisikan dirinya menjadi duduk.


Ifa mengernyitkan dahinya bingung karena mendadak saja dirinya berada di UKS.Seingat Ifa tadi dia bersama Rozy di kelas.


Wait...Ifa baru ingat kalau dirinya sedang bertengkar dengan Rozy akibat pria tersebut membela Nabila.Langsung saja mood Ifa berubah menjadi buruk.


"Nih minum.."


Rozy menyodorkan segelas air putih kepada Ifa.Gadis itu lalu menatap Rozy dan gelas yang sedang dipegang Rozy secara bergantian.


"Rozy kenapa ke sini?bukannya lagi kencan sama Nabila?"


Rozy tersenyum singkat lalu duduk di ujung ranjang UKS tersebut.


"Rozy kenapa duduk di sini??Rozy duduk di bawah aja."


"Kenapa?lo malu?" Rozy berusaha menggoda Ifa.


"Iya..Ifa malu..bukan,Ifa deg-degan aja Rozy duduknya deket gini sama Ifa." Jawab Ifa jujur.


Rozy tersenyum dan mengacak-acak rambut gadisnya itu gemas.Hal tersebut membuat jantung Ifa berpacu dengan cepat.


Setiap kali Rozy melakukan hal yang manis kepada dirinya,jantung Ifa akan berpacu dengan cepat.Padahal,mereka sudah berpacaran.Entahlah,bagaimana dengan kalian?apakah sama?


"Lo kenapa bisa jatuh dari tangga?apa karena gue?"


Ifa berusaha mengingat kejadian setelah dia meninggalkan kelas Rozy.


Flashback on


Ifa menghentakkan kakinya di sepanjang perjalanan karena Rozy yang dengan teganya membentak Ifa.Ifa sangat kesal luar biasa sekarang!


Akibat ulahnya tersebut,banyak pasang mata yang menatapnya bingung sekaligus kesal karena hentakan yang dibuatnya itu sangat menganggu.


Ifa sama sekali tidak peduli.Dia terus melangkah menuju anak tangga.


Ting


Ifa merogoh ponselnya dari dalam saku seragamya dan melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.


From : 08XXXXXXX


Kenapa raut wajahmu itu sangat menyedihkan?Apa kau ada masalah?


-BFF-


Ifa mengerutkan dahinya bingung dengan pesan aneh yang baru saja dia terima.


"Siapa sih?iseng banget jadi orang."


Ifa tidak mempedulikan pesan tersebut.Dia melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga.


Tingg


Baru satu langkah,notifikasi pesan berbunyi lagi.Ifa kembali mengeceknya.


From : 08XXXXXXXX


Beraninya kau mengacuhkan pesanku seperti kau mengacuhkannya,akan ku buat kau menyesal karena telah bersikap acuh seperti ini!


-BFF-


Ifa ingin rasanya memaki orang dibalik pesan aneh ini.Tapi tunggu dulu,siapa orang yang Ifa acuhkan seperti yang dikatakan oleh si pengirim pesan?


Tingg


From : 08XXXXXXXX


Kau ingin tau siapa aku?ayo berbalik ke belakang


-BFF-


Tanpa rasa curiga sedikitpun,Ifa membalikkan badannya ke belakang.


"Aaaa...."


Seseorang telah menyemprotkan sesuatu yang sukses membuat mata Ifa panas.Sepertinya ini adalah air yang dicampur dengan cabai.


Ifa tidak bisa melihat apapun karena matanya sangat perih sekarang.Seseorang,siapapun itu tolong Ifa!


Duukk


Ifa hanya bisa pasrah akan dirinya yang sebentar lagi akan jatuh dan punggungnya akan menabrak lantai dengan cukup keras.


Bruuug..


Ifa merasakan bahwa punggungnya telah menabrak sesuatu,bukan lantai.Dapat dipastikan ini adalah punggung seseorang.


Ifa tidak dapat membuka matanya karena masih sangat perih.Dia hanya bisa pasrah dan memohon kepada tuhan agar si pemilik punggung yang dia tabrak tidak ikut jatuh seperti dirinya.


Selang beberapa detik,tubuh Ifa menyentuh lantai.Namun,dia dapat dapat merasakan sesuatu telah menopang kepalanya agar tidak membentur lantai.


Ifa berusaha membuka matanya secara perlahan walau terasa makin perih.Terlihat samar-samar tangan seseorang.


Jadi,yang menopang kepalanya itu adalah tangan seseorang?tapi siapa?


"Ifa!!!"


Suara teriakan tersebut sangat familiar bagi Ifa,ya itu adalah suara teriakan Dhea.Ifa hendak menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah menolongnya.Namun,matanya tiba-tiba saja sangat berat.


Gadis itu perlahan menutup kedua matanya.Dan butuh beberapa detik, kesadaran gadis tersebut menghilang.


Flashback off


"Fa.."


Ifa tersentak dari lamunannya dan menatap Rozy yang sedang menatapnya dengan bingung.


"Ponsel Ifa mana?"


Rozy merogoh benda berbentuk segi empat itu dari dalam saku seragamnya dan memberikannya kepada Ifa.


"Kata Dhea,ini jatuh di dekat tangga."


Ifa segera membuka isi pesan yang dikirimkan seseorang kepadanya dan memperlihatkannya pada Rozy.


Melihat isi pesan tersebut membuat raut wajah Rozy semakin dingin serta rahangnya mengeras.


Ternyata pelaku yang telah membuat gadisnya terluka adalah si BFF,pelaku yang sama yang telah membuat teror untuk menakuti Ifa.


"Rozy...Ifa takut."


Rozy memeluk Ifa membuat gadisnya tenang.Dia berjanji lain kali akan selalu bersama Ifa agar BFF tidak berani lagi menyentuh Ifa.


"Ifa tadi disemprot gitu sama BFF itu,lalu didorong..untungnya ada malaikat baik hati yang menolong Ifa."


"Siapa pun dia,gue bakal berterima kasih banyak kepadanya karena telah menolong pacar gue."


Ifa tersenyum malu mendengar Rozy yang mengucapkan kata 'pacar'.Ifa sangat senang mendengarnya.


Rozy lalu memberitahu Ifa bahwa pelaku teror di rumahnya waktu itu adalah pelaku yang sama yang telah mendorong Ifa.Dan Rozy juga memberitahu tentang bunga mawar yang ada di dalam loker Ifa.


"Iih...Rozy kok baru kasih tau sekarang?"


"Gue ga mau lo kepikiran soal BFF itu."


Ifa tersenyum sambil memeluk Rozy dengan erat.Ifa dapat mendengar detak jantung Rozy yang berdetak dengan cepat.


"Rozy deg-degan ya,Ifa peluk kek gini?"


"Nggak.."


"Tapi,jantung Rozy detaknya cepat loh kek chitah."


Telinga Rozy mendadak menjadi panas akibat ulah Ifa yang berusaha menggoda dan membuatnya malu.


Sebenarnya,memang iya jantung Rozy berdetak dengan cepat karena pelukan Ifa.Namun,dia tidak mungkin jujur kepada Ifa bukan?Jika dia jujur..entah apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.


"Fa..kita di UKS loh.."


"Memangnya kenapa?Rozy nggak bakal macam-macam kan?"


Ingin rasanya Rozy melempar gadis itu akibat ucapan konyolnya.Kenapa gadis itu punya pikiran semacam itu?astaga.. sepertinya otak gadis ini perlu dicuci.


Namun,sebuah ide jahil terlintas di pikiran Rozy.


"Belum muhrim juga,lagian kalau gue mau,nggak mungkin di UKS juga kan?" Rozy mendekatkan wajahnya pada Ifa membuat wajah gadis itu langsung memerah.


Ifa langsung memukul bahu Rozy.Sejak kapan pria itu berubah menjadi mesum??apa ini karena pengaruh Andra dan Kevin?


"Rozy pergi aja ke kelas,Ifa mau sendiri."


"Lo nggak takut kalau nanti ada hantu muncul dari bawah ranjang?"


"Rozy!!!"


Ifa kembali memukul Rozy dengan cukup keras.Sedangkan Rozy tertawa puas melihat ekspresi Ifa sekarang.


☁☁☁


Rara menatap buku-buku tebal yang berada di hadapannya dengan tidak bersemangat.Kenapa juga dia harus dihukum seperti ini oleh bu gendut??


Dan Rara dihukum oleh bu gendut hanya karena membuang sampah sembarangan dan tanpa diduga ada bu gendut di belakangnya.


Astaga..lain kali Rara harus hati-hati.


Melihat satu buku tebal saja sudah membuat Rara mual apalagi lima buku seperti ini.


Rara hanya membuka halaman demi halaman tanpa berniat membacanya.Siapa juga yang akan berniat membacanya jika isi buku itu hanya berupa tulisan.Tidak ada gambar satu pun yang menarik perhatian Rara.


Putri yang berada di hadapan Rara saat itu hanya bisa mengangkat bahunya acuh.Akan lebih baik dia membaca beberapa materi kimia untuk persiapan lomba besok.


"Put...lo nggak jenuh gitu ngebaca buku-buku kimia yang tebelnya kek beton gitu?"


"Enggak."

__ADS_1


"Gue boleh nanya ga?"


Putri menatap Rara sekilas.Satu detik kemudian,dia beralih pada bukunya.


"Gue ga pernah larang lo bertanya apapun."


"Hehe...tapi lo jangan marah,nih ya..gue denger lo lagi PDKT-an ya sama Taufan?"


Putri seketika tersedak oleh salivanya sendiri.Dia secepat mungkin meraih botol minum miliknya dan meneguk air secukupnya.


"Lo kenapa?ciee lo suka Taufan ya?"


"Apaan sih lo,gue sama Taufan itu cuma temenan."


"Temen tapi demen."


"Au ah dark.."


Rara tersenyum puas melihat temannya itu yang sedang salah tingkah.Jika pun iya Putri menaruh rasa pada Taufan,Rara pasti akan sangat mendukungnya karena Taufan adalah laki-laki yang baik.


Dan sejauh Rara bersahabat dengan Putri,gadis itu sama sekali tidak pernah menceritakan soal perasaannya kepada Rara ataupun Dhea dan Ifa.


Putri merupakan sosok gadis yang tidak mudah jatuh cinta.Jadi,jika sekarang dia suka kepada Taufan,maka itu merupakan cinta pertamanya.


"Hati-hati aja deh sama kak Claudia,dia kan suka banget sama Taufan."


"Norak banget sih lo,sejak kapan lo percaya gosip-gosip murahan kayak gitu."


"Ini bukan gosip...fakta."


"Gue jelasin sama lo ya Ra,ga baik dengerin gosip dari orang lain,sama aja lo makan makanan bekas orang lain,ga enak."


"Iya Putri..paham.."


Rara memilih untuk mengalah daripada dia harus mendengarkan ceramah panjang lebar yang keluar dari mulut Putri.


Rara berniat mengembalikan kelima buku tebal tersebut ke rak perpustakaan.Akan lebih baik dia membaca novel romance saja daripada membaca buku bertema fiksi ilmiah itu.


Jika bu gendut bertanya tentang apa saja yang dibaca Rara,ya tinggal dia jawab seadanya saja,toh bu gendut juga tidak tau semua yang berbau ilmiah.


Setelah mendapat novel yang dinginkan,Rara kembali ke mejanya semula dan di sana Putri masih fokus membaca buku kimia.


Melihat sampul bukunya saja membuat Rara merinding apalagi isinya.Untung Rara tidak ikut olimpiade seperti Ifa dan Putri,jadi otaknya tidak akan terkuras habis.


Rara mendaratkan bokongnya di atas kursi tepat di depan Putri.Dia membuka novel tersebut dan mulai fokus membacanya.


"Kisah sang cool boy dan crazy girl,,kok mirip Ifa dan Rozy ya?"


Rara mulai tenggelam dengan dunianya sendiri.Sedangkan Putri telah selesai membaca bukunya.


Gadis tersebut beralih mengambil buku catatan miliknya dan mencatat beberapa materi penting yang ada di dalam buku yang barusan dia baca.


Tak beberapa setelah itu,Dhea datang menghampiri Rara dan Putri membuat kedua gadis itu kesal karena telah menganggu konsentrasi mereka.


"Lo kenapa sih Dhe?lo ga lihat kita di perpustakaan??" Ucap Putri mengingatkan.


Tanpa abibu,Dhea langsung meraih botol minuman milik Putri dan meneguknya hingga tak bersisa.


"Aisshh..lo kenapa?habis dikejar kuntilanak lo?"


"Ifa...Ifa...huwa..."


"Ifa kenapa??" Tanya Putri khawatir.


"Ifa jatuh dari tangga."


"APA?"


Putri dan Rara langsung dihadiahi tatapan tajam milik bu Asri,selaku penjaga perpustakaan karena telah membuat suara ribut.


"Terus,Ifa gimana?" Bisik Rara.


"Ifa ga papa,untung ada cowok baik hati yang selamatin Ifa tadi."


Rara dan Putri bernafas lega mendengarnya.Jangan sampai,gadis itu terluka karena besok dia akan mengikuti olimpiade.


"Tapi,lo bilang tadi cowok yang nyelamatin dia?siapa?"


"Gue juga nggak tau,gue belum pernah lihat."


"Kakak kelas mungkin."


"Bisa jadi seangkatan kita."


Ketiga gadis itu sama-sama berpikir siapakah gerangan laki-laki yang telah menyelamatkan sahabat mereka.Jika mereka tau siapa dia,mereka akan mengucapkan banyak terima kasih kepada laki-laki tersebut.


"Mending kita jenguk Ifa di UKS aja." Saran Putri.


"Jangan...dia lagi sama Rozy,nanti kita ke sana." Ucap Dhea.


"Huwa....gue iri sama Ifa,dia dapetin pria yang sweet seperti Rozy walau pada awalnya dia berjuang mati-matian buat dapetin Rozy."


"Lo sendiri nggak nyadar,kalau Andra juga sweet sama lo?"


Pertanyaan Putri tersebut langsung menusuk hati Rara yang paling dalam.Kejadian kemarin tiba-tiba terlintas di kepala Rara.Dimana dia dengan teganya mengusir Andra.


Dan setelah kejadian itu,Andra masih tetap mengejarnya.


Ya ampun...kenapa Andra bisa setegar itu?


"Gue mau balikin buku ini dulu."


Dhea dan Rara mengangguk.Kedua gadis itu memilih duduk sembari menunggu Putri mengembalikan bukunya ke rak perpustakaan.


Buku-buku yang dipinjam Putri lumayan banyak sehingga dia harus butuh tenaga lebih untuk mengangkat buku-buku tersebut.


"Lo perlu bantuan?"


"Enggak deh ra, makasih."


Putri menumpuk buku-buku tersebut lalu mengangkatnya.Gadis itu kemudian melangkah menuju rak yang telah dipasang tanda khusus buku olimpiade.


Bruaak...


Putri tidak sengaja menabrak bahu seorang laki-laki membuat satu bukunya jatuh.


Putri hendak meraih buku tersebut.Namun,laki-laki yang barusan dia tabrak membantu Putri memungut buku tersebut dan meletakkannya di atas tumpukan buku-buku yang sedang dibawa Putri.


"Maka......"


Belum sempat Putri mengucapkan terima kasih,laki-laki tersebut telah pergi.Putri mengangkat bahunya acuh dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


Setelah sampai pada rak buku yang dituju.Putri segera mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya dan menyusunnya dengan rapi.


"Put.."


Jantung Putri hampir copot dan menggelinding dari tempatnya akibat panggilan dari Rara.


"Ngapain lo di sini?mau pinjem buku olimpiade juga?"


Rara menggelengkan kepalanya.Gadis bersurai hitam itu menyerahkan selembar kertas yang menampakkan lukisan seorang gadis.


"Tadi,gue lihat lo nabrak seorang cowok,nah cowok itu jatuhin ini."


"Terus kenapa lo kasih ke gue?"


"Lo perhatiin baik-baik lukisan ini!"


Putri menatap lukisan tersebut dengan seksama.Sepertinya,wajah gadis dalam lukisan itu terlihat tidak asing baginya.


Putri langsung tersadar saat melihat senyuman dari gadis dalam lukisan tersebut.Senyuman itu,senyuman yang sangat khas.Dan Putri tau,siapa pemilik senyuman itu.


Putri menatap Rara yang juga menatapnya.


"Ifa!"Sorak mereka berdua.


☁☁☁


Suasana malam yang tenang serta langit yang dihiasi oleh bintang-bintang indah membuat seorang laki-laki muda enggan beranjak dari balkon rumahnya.


Dia terus menatap bintang di langit sambil tersenyum.Bintang tersebut sangat indah persis seperti mata sang gadis yang berada dalam lukisan yang tengah dia buat.


Mata yang indah,mampu menyihirnya dalam sekejap.Belum pernah dia melihat mata seindah itu.


Laki-laki tersebut menyeruput cappucino miliknya dan kembali menyelesaikan lukisannya.


Butuh beberapa polesan lagi,lukisan tersebut akan terlihat sempurna.Setelah selesai melukis,laki-laki tersebut beranjak menuju kamarnya.


Kamarnya yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan sang gadis yang memiliki mata indah seperti bintang.


Matanya kemudian beralih menatap sebuah pigura foto yang dia letakkan di samping ranjang miliknya.



Sebuah senyum terukir di wajah tampan miliknya saat melihat wajah yang berada di dalam pigura tersebut.


"Ifa.." Ucap laki-laki tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hai hai hai...



Selamat hari raya Idul Fitri 1441 H bagi yang merayakan..


Mohon maaf lahir dan batin 😇😇😇😇😇


Semangat terus ya menunggu kelanjutan cerita Ifa dan Rozy.


Jangan lupa vote dan komennya ya,,supaya author semangat nulisnya :)))

__ADS_1


#happyreading


#ZYFA


__ADS_2