My Crazy Girl

My Crazy Girl
Teror


__ADS_3

Hai hai hai...apa kabar semua?


Apakah kalian sehat?


Jaga kesehatan kalian semua ya,jangan lupa cuci tangan sesering mungkin...


Terus jangan lupa jaga kesehatan imun kalian dengan makan makanan seimbang setiap hari..


Jangan keluar rumah,dengerin apa kata pemerintah,ini semua untuk keselamatan kita semua..


Mending stay di rumah sambil baca ******* ya kan :)


Love you all 💙


Follow Instagram @afifahifhh dan @mycrazygirl_



#ZYFA


☁☁☁


Putri menyeruput oreo float miliknya sambil memainkan jari-jemarinya di atas keyboard laptopnya.


Suasana yang tenang dilengkapi dengan wifi gratis membuat Putri enggan beranjak dari kafe yang tak jauh dari sekolahnya.


Selain itu,inilah satu-satunya kesempatan Putri untuk terbebas dari ketiga sahabatnya yang super gila dan bucin itu.Bukan Putri tidak menyukai kelakukan ketiga sahabatnya itu,hanya saja dia juga butuh waktu untuk sendiri dengan suasana yang tenang seperti ini.


Sebenarnya alasan utama Putri datang ke kafe ini adalah karena tugas sekolah.Selama tiga hari yang lalu dia disibukkan dengan pelatihan olimpiade,maka tugas sekolah yang menumpuk harus dia kerjakan secara bersamaan.


Fisika dengan empat puluh soal,biologi yang diharuskan membuat kliping tentang sistem imun manusia,bahasa Indonesia yang diharuskan membuat analisis bahasa dari teks drama dan sejarah yang diharuskan membuat sebuah makalah tentang peristiwa seputar proklamasi kemerdekaan.


Coba kalian bayangkan semua tugas tersebut harus diselesaikan dalam satu waktu!


Albert Einstein juga belum tentu bisa menyelesaikan tugas-tugas tersebut dalam satu waktu bukan?apalagi kita yang memiliki IQ yang jauh di bawahnya.


Bagi Putri tidak masalah karena guru-guru mata pelajaran tersebut pasti memberikan dispensasi kepadanya ataupun anak-anak lain yang ikut pelatihan olimpiade seperti dirinya.


Walau bagaimanapun,semua tugas jika diselesaikan dalam satu waktu akan membuat diri menjadi lebih stres dan mudah lelah.


Lelah fisik,lelah pikiran,belum lagi lelah hati karena doi tidak pernah peka.


"Hufftt..." Putri merengangkan otot-otot bahunya.


"Tugas kok bisa sebanyak ini?padahal nggak ikut kelas cuma tiga hari apalagi nanti satu minggu."


Putri menyeruput kembali oreo float miliknya.Entah kenapa,dia begitu menyukai minuman tersebut.


Putri kemudian menutup kedua matanya sejenak.Dia menghembuskan nafas dalam-dalam membiarkan dirinya merasakan suasana yang damai untuk beberapa menit.


"Oke Putri...lo harus semangat.."


Putri lalu membuka kedua matanya.


"Lo ngapain?"


"Astagfirullahal'azim.."


Putri langsung memegang dadanya shok akibat ulah seseorang yang sekarang tengah duduk di hadapannya.


"Lo kira gue hantu pake kaget segala."


"Taufan...siapapun juga pasti kaget kalau ada orang yang tiba-tiba nongol."


"Lo aja yang salah,pake acara tutup mata segala..emang lo lagi ngapain?"


"Emm...itu..gue..lagi.." Putri salah tingkah.


"Lo ngerjain tugas sebanyak ini?gila lo!"


Taufan menatap beberapa tumpukan kertas itu tidak percaya.Gadis di hadapannya ini rajinnya sungguh keterlaluan.


"Ya..gitu,gue harus ngerjain ini kalau enggak nanti bisa semakin banyak." Jelas Putri sambil menopang dahunya.


"Ya elah,lo rajin amat sih,si Rozy sama Ifa aja keasikan ngedate."


"Mereka ngedate kan sambil belajar."


"Iya juga sih."


Putri kemudian mengambil pulpennya dan kembali menyelesaikan soal fisika.Tinggal lima soal lagi,tugas fisika Putri akan selesai dengan sempurna.


Taufan hanya bisa memandangi Putri sambil menikmati moca float miliknya.


Jika diperhatikan dengan baik,Putri kelihatan sangat manis dan imut.Ada perasaan hangat yang menyelimuti dada Taufan saat melihat gadis itu serius mengerjakan soal di hadapannya.



Sangat cantik!


Putri yang berasa diperhatikan,mendadak menjadi salah tingkah.Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat.


"Ehem..."


Taufan seketika tersentak dan segera menolehkan kepalanya ke samping kanan.


"Lo...lo ngapain?" Tanya Putri sambil  menyembunyikan rasa gugup di dalam dirinya.


"Gue?tadinya sih lagi ngelihatin bidadari."


Putri tersedak oleh salivanya sendiri mendengar ucapan Taufan barusan.Bidadari?siapa yang dimaksud oleh Taufan.


"Gue ganggu lo ya?"


"Mungkin."


"Wadaww...jujur amat sih."


"Apa gunanya kita bohong hanya ingin menyenangkan seseorang,ingat katakan sesuatu itu dengan benar walaupun itu menyakitkan."


Taufan lalu mengangguk sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.


Dia kemudian kembali menatap Putri yang sekarang beralih mengerjakan tugas sejarah.


"Fan..di kelas lo,pak Fathur ngasih tugas makalah juga?"


"...."


"Tugas makalahnya tentang peristiwa seputar proklamasi kemerdekaan?"


"....."


Tidak ada jawaban dari Taufan membuat Putri kembali menatap ke arahnya.


Putri tersentak kaget melihat Taufan yang secara terang-terangan sekarang menatap dirinya.


"Lo...lo ngapain?" Tanya Putri blushing.


"Gue kan tadi udah bilang,gue lagi memandang seorang bidadari."


Putri tidak tau harus mengatakan apa atau berbuat apa sekarang.Perkataan Taufan barusan sukses membuat jantung Putri berdetak semakin cepat dari sebelumnya.


"Fan..lo jangan bercanda deh,lebih baik lo bantu gue ngerjain makalah sejarah,mumpung lo di sini."


Putri berusaha mengalihkan pembicaraan agar Taufan berhenti menatapnya.


Jujur,tatapan Taufan tersebut membuat Putri tidak bisa mengerjakan apapun sekarang.


Namun,Taufan tidak menghiraukan perkataan Putri barusan.


"Fan...."


Taufan tiba-tiba berdiri,dan masih menatap Putri.


Putri menengadahkan kepalanya ke atas ikut menatap Taufan.Pria tersebut lalu sedikit membungkuk,membuat jarak antara mereka semakin dekat.


Putri diam membeku saat wajah Taufan lama-kelamaan semakin dekat dengan wajahnya.


Apa yang akan dilakukan Taufan?


Sekarang jarak di antara mereka semakin dekat,Putri dapat merasakan hembusan nafas Taufan.


Secara refleks,Putri menutup kedua matanya.Putri hanya bisa berharap bahwa Taufan tidak mendengar detak jantungnya yang berdetak dengan semakin cepat.


Semoga!


"Kalau minum itu hati-hati,makanya jangan rajin-rajin amat,noh lihat rambut lo jadi korbannnya."


Taufan kemudian membersihkan noda minuman milik Putri dari rambutnya.


Putri kemudian segera membuka kedua matanya sangat malu.Ngapain juga dia tadi menutup matanya?Ya ampun,pasti Taufan setelah ini akan menertawakan dirinya.


"Lo ngapain pake acara tutup mata segala?"


"Au ah...dark.."


"Oh..lo pasti berpikiran kalau gue bakal cium lo kan?"


"Taufan... mending lo diem,gue lagi fokus ngerjain makalah sejarah gue.."


Fokus?setelah kejadian memalukan tadi,bagaimana bisa Putri fokus ya tuhan!


"Ya elah,katanya nggak baik bohong, sekarang lo sendiri bohong..kemakan omongan sendiri kan?"


Skak!


Untuk kedua kalinya Putri dipermalukan oleh Taufan.Apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Gue suka lihat lo salah tingkah gini,gemes..."


Putri langsung menatap Taufan dengan tajam.


"Gue nggak butuh gombalan dari siapapun,yang gue butuhin sekarang seseorang yang mau bantu gue ngerjain tugas sejarah."


"Kenapa lo nggak ajak Dhea atau Rara tadi?"


"Mereka berdua lagi pergi ke mall,ya biasa nyalon,gue mah males kalau pergi ke sana."


"Mending gue ngerjain tugas daripada buang waktu,lagian mereka berdua juga udah selesai tugasnya,kan mereka nggak ikut pelatihan,lalu mereka juga pasti butuh refreshing."


"Dan kenapa gue nggak ajak Ifa?lo tau sendiri kalau tu anak sedang ngedate bareng Rozy."


Entah kenapa Putri mencurahkan isi hatinya kepada Taufan saat ini.


Ya terkadang Putri juga merasa terasingkan dari ketiga temannya yang lain.


Dia jauh berbeda dari ketiga temannya.


Dhea,Rara,dan Ifa sangat menyukai yang namanya Drama Korea,sedangkan Putri?dia lebih menyukai film-film bergendre thriller atau misteri.


Dan ketiga temannya itu juga sering menghabiskan waktu pergi ke mall, nonton bareng atau ke salon barengan.Tapi,Putri?Dia lebih menyukai menghabiskan waktu di rumah sambil menolong bundanya atau membaca novel.


Sangat jauh berbeda!


Tapi,walaupun begitu grub yang mereka namai 'Serangkai Biru Langit' tidak pernah mempermasalahkan perbedaan tersebut.


Yang terpenting dalam sebuah hubungan persahabatan adalah saling pengertian,saling percaya,saling membantu,dan selalu ada baik senang dan susah.Dan yang paling penting adalah saling mengisi satu sama lain.


"Ya udah,sekarang ada gue.."


Taufan lalu tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya pada Putri.


Emang lagi iklan pasta gigi?


"Makasih fan,tapi apa lo nggak terganggu?ya..lo pasti punya waktu juga kan hari minggu gini?"


"Ya elah sama gue mah santai aja,lagian gue tiap minggu ngumpul sama teman juga pasti malem."


Putri lalu mengangguk sambil tersenyum manis.Dia beruntung sekali Taufan berkunjung ke kafe ini,kalau tidak?ya pasti tidak akan ada orang yang membantu dirinya.


Taufan lalu menggeser kursinya ke samping Putri membuat jarak mereka berdekatan.


"Lo nggak gugup kan kalau kita deketan gini?" Taufan berusaha menggoda Putri.


Putri memukul lengan Taufan cukup keras membuat pria itu meringis sambil mengelus lengannya yang malang.


"Ya nggaklah,gue ingin serius ngerjain tugasnya,kalau lo masih macam-macam,gue bakal buat lengan lo lebih sakit dari yang sekarang."


Taufan mengangguk sambil mengangkat dua jarinya.


Mereka berdua lalu fokus ke layar laptop yang menampilkan tulisan-tulisan yang bertemakan sejarah.


Mereka mengerjakannya dengan santai sambil sesekali diiringi oleh gelak tawa mereka masing-masing.


☁☁☁


Rozy berusaha untuk fokus mengerjakan tugas kimia di hadapannya walaupun sebenarnya dia tidak bisa fokus sama sekali karena gadis di hadapannya itu selalu menatapnya tanpa henti.


"Fa...kerjain tugas lo,jangan natap gue terus." Rozy berusaha tetap cool walaupun hatinya sudah berdisco.


Ifa tidak menghiraukan ucapan Rozy barusan.Dia tetap menatap Rozy.


Karena tidak tahan lagi,Rozy kemudian ikut menatap Ifa.


"Rozy mau main tatap-tatapan dengan Ifa?"


"Hah?"


Ifa lalu menjentikkan jarinya di udara mendapatkan sebuah ide cemerlang.


"Rozy...gimana kalau kita main tatap-tatapan selama dua menit,siapa yang kalah bakal masak di dapur."

__ADS_1


"Nggak,lebih baik lo atau gue ngerjain tugas masing-masing."


"Iih...pasti Rozy takut kan??"


"Nggak."


"Rozy pasti takut kalah sama Ifa kan?hayooo ngaku.. ngaku..."


Apa?Siapa juga yang takut dengan tantangan gadis tersebut.


"Oke..gue terima."


Rozy terpaksa menerima tantangan konyol dari pacarnya tersebut daripada harga dirinya runtuh di hadapan pacar sendiri.


"Oke...kita mulai.."


"Satu...dua..."


"Tiga..."


Mereka saling beradu tatapan.


Ifa berusaha agar tidak berkedip dan akan membuat Rozy memasak di dapur untuknya.


Sedangkan Rozy juga sebaliknya,berusaha agar tidak berkedip untuk membuat pacarnya kalah dan memasak untuk dirinya.


Waktu terus bergerak maju,tiga puluh detik pertama,mereka berdua masih bertahan.


Berlanjut memasuki tiga puluh detik kedua,pasangan tersebut juga masih bertahan.


Rozy terus menatap Ifa tanpa berkedip begitupun dengan Ifa.Namun,tiba-tiba saja,Rozy terhanyut oleh tatapan dari mata Ifa.


Mata tersebut,Rozy sangat menyukainya.Rasanya saat menatap mata tersebut,dunia Rozy seakan berhenti.Mata gadis tersebut sangat indah dan mampu menghipnotisnya sekarang.


Tok...tok...tok..


Rozy tersentak kaget dan langsung mengedipkan matanya.


"Yeee...Rozy kalah...Rozy bakal masak buat Ifa..."


Rozy menghembuskan nafasnya kasar merutuki dirinya yang sangat ceroboh.Dan sekarang?bayangan dirinya yang akan mencicipi masakan dari Ifa hilang sirna,ditelan ufo.


Dan Rozy sangat mengutuk seseorang yang telah membuat konsentrasi Rozy menjadi rusak.


Ya..orang yang mengetuk pintu rumah Ifa!


Jika itu kedua orang tua Ifa?Ah..tidak mungkin kedua orang tua Ifa sedang berada di Bali untuk menghadiri pesta pernikahan saudara mereka.


Lalu kalau Nisa?Ifa bilang adiknya itu sedang les piano pasti bakal pulang jam empat sore dan sekarang baru pukul dua siang.


Atau apakah Arya?kakak Ifa?


Rozy berdoa semoga itu bukan calon kakak iparnya.


"Ayo..Rozy.. masakin makanan untuk Ifa."


"Hmm..."


Rozy kemudian beranjak menuju dapur.Ya sekarang Rozy harus menerima dengan ikhlas.


Ifa kemudian tersenyum senang karena dia akan mencicipi masakan dari Rozy.


Dan dia merupakan wanita pertama yang mencicipi masakan Rozy,sang kutub es!


"Hii...Ifa nggak sabar lagi.." Ifa memegang kedua pipinya.


"Oh iya...tadi ada yang ngetuk pintu."


Ifa beranjak menuju ke pintu rumahnya.Siapakah tamu yang menganggu waktunya bersama dengan Rozy?


Apakah itu Arya?


Awas saja kalau itu kakaknya,Ifa janji bakal memukul dan mencubit lengan Arya karena merusak waktunya dengan Rozy.


Ifa yakin,pasti Arya akan mengusir Rozy karena berpikiran bahwa tidak baik wanita dan laki-laki yang tidak muhrim berada dalam satu atap dan hanya berdua.Karena yang ketiganya adalah SETAN.


Ifa lalu membuka pintu tersebut sambil mengambil ancang-ancang untuk segera memukul kakaknya.


"Kak Ar...."


Ifa menatap bingung dan kaget karena tidak ada orang di depan rumahnya.


Ifa lalu mengecek keluar rumahnya,juga tidak ada orang.Hanya ada beberapa tetangganya yang nampak sedang menggosipkan sesuatu dan ada juga tetangganya yang nampak sedang mengajak anaknya main di luar.


Ifa lalu mengangkat bahunya tak acuh.Yang paling penting adalah tidak ada orang yang menganggu waktunya dengan Rozy.


Ifa kemudian berbalik dan segera masuk ke dalam rumahnya kembali.Namun,langkah Ifa terhenti saat melihat sebuah kotak cantik yang terbungkus rapi berada di depan pintu rumahnya.


"Wah..kayaknya Ifa juga ada secret administrasi nih.."


"Ehh...bukan secret apa ya?aah..masa bodo.. pokoknya artinya penggemar rahasia,sama kayak Rara."


Ifa mengambil kotak tersebut dengan senang.Dia tidak sabar dengan hadiah yang diberikan oleh penggemar rahasianya itu.


Ifa menatap sebuah kertas yang terselip di antara pita yang menghiasi kotak tersebut.


Dear Ariska Ifa Nurlia


Kamu pasti akan menyukai hadiah dariku ini :)


Ifa semakin tidak sabar ingin mengetahui hadiah apa yang dikirimkan kepadanya.


"Mari kita buka,satu..dua.."


Kotak pun terbuka.


Mata Ifa langsung terbelalak kaget melihat isi dari kotak tersebut,tubuhnya seketika tidak bisa digerakkan.Ingin rasanya Ifa menangis sejadi-jadinya sekarang.


Ifa langsung melempar kotak tersebut.Jujur,dia sama sekali tidak tahan melihat apa yang dikirimkan oleh penggemar rahasianya itu.


"ROZY!!!!!!!"


Ifa berteriak dengan keras,lalu tubuhnya seketika ambruk.Dia kehilangan kesadaran.


Rozy yang saat itu sedang memotong wortel tiba-tiba tersentak kaget mendengar suara teriakan Ifa.Hampir saja,jari telunjuknya yang menjadi pengganti potongan wortel.


Rozy segera melepas celemek yang dipakainya dan berlari menuju halaman depan rumah Ifa.


Rozy menatap kaget Ifa yang sekarang sudah tidak sadarkan diri.


"Fa...bangun.."


Rozy lalu menatap sekitarnya,mencari sesuatu yang membuat gadisnya itu tidak sadarkan diri.


Mata Rozy lalu menemukan sebuah kotak yang tidak jauh dari Ifa yang berisikan sesuatu yang membuat siapapun akan ketakutan dan berakhir seperti Ifa sekarang.


Tanpa pikir panjang lagi,Rozy segera menggendong kekasihnya itu dan membaringkannya di atas sofa.


Perlahan,kesadaran gadis itu kembali.Ifa lalu membuka matanya secara perlahan dan melihat Rozy sedang menatapnya dengan khawatir.


Ifa kemudian mengingat kejadian beberapa menit barusan.Dia lalu gemetar ketakutan mengingat sebuah benda yang dikirimkan kepadanya.


Rozy tidak tega melihat Ifa yang tidak berdaya seperti itu.Pria itu langsung memeluk gadisnya itu dan mengusap punggungnya.


"Hiks..Rozy..Ifa takut..."


"Iya..gue tau,sekarang ada gue di sini."


"Hiks...hiks..Ifa nggak tega ngelihat tikus itu dipotong-potong seperti itu Rozy.."


Tangisan Ifa semakin menjadi membuat kaus yang dipakai Rozy menjadi basah karena air matanya.


Siapapun tidak bakal tega melihat hewan kecil seperti tikus dipotong dengan cara sadis dan kejam seperti itu.


Dan siapa yang tega melakukannya?sungguh orang itu tidak punya hati.Dan untuk apa dia mengirimnya kepada Ifa?


Rozy lalu mengelus rambut gadis tersebut.Dia pasti bakal mencari tau siapa yang mengirim teror tersebut dan bakal memberi orang tersebut pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan.


Rozy tidak peduli baik dia perempuan atau laki-laki.Siapapun yang berani membuat gadisnya menangis dan ketakutan seperti ini,akan berhadapan dengan Rozy.


"Lo istirahat aja di kamar dulu,gue bakal masak buat lo."


"Hmm..Rozy pulang aja deh,nggak papa deh,Ifa biar sendiri aja yang masak."


"Nggak,gue bakal jaga lo sampai nanti Nisa atau Kak Arya pulang."


"Makasih Rozy."


Ifa kemudian beranjak menuju kamarnya.Dia harus mengumpulkan beberapa energi karena ulah kotak yang berisikan sesuatu yang tidak manusiawi itu.


Rozy menatap punggung Ifa yang lama-kelamaan mulai menghilang dari hadapannya.


Tanpa berpikir panjang lagi,Rozy segera kembali ke halaman depan rumah Ifa untuk membuang kotak tersebut.


Ingin rasanya Rozy memukul pelaku teror tersebut.


Rozy kemudian memeriksa isi kotak tersebut dengan teliti.Dia yakin,pasti ada sebuah petunjuk yang ditinggalkan pelaku.


Dugaan Rozy benar,selain potongan tubuh tikus,juga terdapat sebuah kertas yang dituliskan dengan darah.


Bagaimana?kamu suka?ini baru awalnya,kalau kamu berani menyakiti dan membuatnya menangis lagi,akan kupastikan kamu mendapat hal yang lebih mengerikan dari ini.


"Siapa yang berani berbuat seperti ini pada Ifa?"


Rozy segera menutup kotak tersebut dan mengambil sekop yang tak jauh dari hadapannya.


Rozy mengubur kotak beserta bangkai tikus tersebut dengan cepat agar Ifa tidak dapat melihatnya lagi.


Banyak sekali petunjuk yang Rozy dapatkan hanya dari penggalan surat dan kotak teror tersebut.


Yang pertama,pelaku tersebut pasti mengetahui dimana Ifa tinggal dan itu artinya dia mengenal Ifa dengan baik.Dan yang kedua,tulisan surat tersebut sangat rapi walaupun ditulis dengan darah,dan Rozy yakin tujuh puluh persen pelaku tersebut adalah perempuan.Walaupun itu sepenuhnya belum tentu benar,tapi Rozy yakin itu adalah perempuan.


Dan ketiga,pelaku tersebut sengaja mengirimkan teror kepada Ifa untuk membalaskan dendam orang lain.


Dan pastinya,orang tersebut sangat dekat dengan si pelaku ini.


Tapi yang membuat Rozy heran adalah,siapa yang menangis karena Ifa?


Walaupun Rozy baru mengenal Ifa selama setengah tahun,dia sangat tau bahkan sangat yakin kalau Ifa bukan tipe orang yang suka menyakiti perasaan orang lain.


Dia orang yang lembut,bahkan melihat semut diinjak orang saja,dia sangat iba bahkan ingin menangis.


Dan untuk menyakiti bahkan sampai membuat orang itu menangis,hal tersebut sangat tidak memungkinkan.


Apapun itu,jika memang Ifa pernah dengan tidak sengaja menyakiti seseorang bahkan sengaja pun,tidak baik mengirimkan teror kepada seseorang hanya untuk membuatnya jera.


Masalah bisa diselesaikan dengan baik-baik tanpa adanya teror-meneror.


Siapapun pelakunya,Rozy janji tidak akan melepaskannya karena dia telah membuat perempuan yang dia cintai menangis.


☁☁☁


Nabila menatap sebuah bingkai foto yang menampilkan sebuah keluarga yang harmonis.


Si ibu yang menggendong anaknya yang berusia lima tahun dengan kasih sayang,dan si ayah yang memegang sebuah gulali.


Sangat manis!


Nabila tidak bisa membendung air matanya lagi.Kenangan 10 tahun yang lalu itu benar-benar membuat hatinya sangat terluka.


Tidak bisakah keluarganya kembali harmonis seperti sepuluh tahun yang lalu?


Dia sangat rindu pelukan mamanya,dia sangat rindu cerita dongeng dari papanya setiap malam.


Semuanya berubah saat usianya menginjak tujuh tahun,ketika mamanya pertama kali ketahuan selingkuh oleh papanya.


Hati papanya saat itu sangat remuk dan hancur.Ya,Nabila sangat tau apa yang dirasakan oleh papanya.


Tapi,demi membuat putri kecilnya itu bahagia,papanya tidak pernah menunjukkan rasa dukanya di depan Nabila.Dia selalu tersenyum untuk putri kecilnya itu.


Darwin,selaku kepala keluarga berusaha sekuat tenaga untuk membuat putri tunggalnya itu hidup bahagia tanpa ada kekurangan sedikit pun.


Untuk itu,Darwin selalu sibuk pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya.Bahkan,saking sibuknya Darwin sampai tidak mengetahui penyakit yang diderita anaknya tersebut.


Nabila juga tidak mau memberi tau papanya soal penyakit leukimia yang dideritanya.Dia takut jika penyakitnya tersebut akan membuat papanya memiliki banyak pikiran.


Hanya bi Asih lah,teman Nabila saat ini,hanya kepada bi Asih lah Nabila bisa menceritakan keluh-kesahnya.


Tapi,Carina,mamanya Nabila malah memecat bi Asih yang sudah dia anggap seperti ibu sekaligus temannya.


Kenapa mamanya bisa sekejam itu?dia ingat betul kalau mamanya itu dulu adalah orang yang lembut.


Tapi kenapa sekarang mamanya berubah?


"Nabila..."


Nabila tersentak kaget mendengar suara yang memanggilnya tersebut.Ya..suara tersebut sangat dia rindukan,suara yang penuh kasih sayang memanggil namanya.


Nabila segera berlari menuruni tangga rumahnya dan menghampiri seorang pria paruh baya yang tampaknya sedang khawatir akan sesuatu.


"Nabila,anakku.."


Nabila segera memeluk papa kesayangannya sambil menangis.Darwin lalu mengecup puncak rambut putrinya itu dengan kasih sayang sambil berusaha menahan tangisnya sendiri.


"Nak..kenapa?"


Tangisan Nabila semakin pecah.Dia sangat merasa bersalah kepada papanya karena telah menyembunyikan penyakitnya selama ini.


"Pa..Nabila nggak mau bikin papa banyak pikiran."


Darwin tidak bisa membendung air matanya lagi.Dia telah gagal menjadi orang tua yang baik untuk anaknya.

__ADS_1


"Kamu bukan beban bagi papa sayang,papa akan berusaha sekuat tenaga agar kamu sembuh,jangan ulangi lagi ya."


Nabila mengangguk dan semakin mempererat pelukannya.


Setelah berpelukan cukup lama,Darwin lalu mengajak putrinya tersebut untuk duduk di sofa.


"Pa..bi Asih.."


"Iya,papa tau..mama kamu yang memecatnya,dasar wanita itu..mau apa dia sebenarnya."


Nabila lalu mengenggam tangan papanya tersebut agar papanya tenang dan tidak terkalut emosi.


"Pa,maafin mama."


Darwin lalu menatap Nabila sambil tersenyum.Setidaknya,dia memiliki Nabila.


Nabila sangat iba kepada papanya.Selama ini papanya bertahan dengan mamanya itu karena adanya Nabila.Papanya itu tidak ingin Nabila menjadi anak broken home.Makanya,Darwin tidak pernah menggugat cerai istrinya.


"Tidak apa-apa sayang,papa akan membawa bi Asih kembali."


Nabila lalu mengangguk.Dia lalu menyandarkan kepalanya pada bahu papanya.


Satu-satunya laki-laki yang tidak akan pernah menyakitinya adalah papanya.Dia sangat menyayangi papanya lebih dari apapun di dunia.


Darwin adalah harta berharga yang dimiliki Nabila saat ini.Namun,jauh di dalam lubuk hati Nabila,dia sangat mencintai mamanya walaupun mamanya sekarang telah berubah.


"Papa ke kamar dulu ya,mau istirahat."


Darwin lalu beranjak meninggalkan Nabila menuju kamarnya.


Hati Nabila sekarang berangsur membaik karena papanya.


Ting..tong..


Seseorang memencet bel rumahnya.Nabila beranjak menuju pintu rumahnya.Dia lalu membuka pintu dan langsung menampilkan seorang laki-laki dengan membawa sebuket lily putih.


"Kak Rafly." Senyuman Nabila semakin mengembang.


"Lo bahagia banget,gue dateng."


Mendadak Nabila menjadi salah tingkah.


"Lo nggak mau mempersilahkan gue masuk?"


"Ah..maaf kak,masuk kak."


"Santai aja.."


Rafly mengacak rambut Nabila gemes melihat gadis itu salah tingkah saat ini.Dia persis sama dengan Ifa,sangat lucu bila salah tingkah.


Nabila lalu menyuruh Rafly untuk duduk di sofa sementara itu dia akan membuatkan Rafly minuman.Namun,tangan Nabila ditahan oleh Rafly.


"Lo nggak suruh bi Asih aja?"


"Anu kak,bi Asih udah nggak kerja di sini lagi."


"Maksud lo?"


"Bi Asih dipecat mama kak."


Rafly sungguh tidak mengerti dengan mama Nabila.Untuk apa wanita itu memecat bi Asih yang selama ini telah merawat dan membesarkan Nabila seperti anaknya sendiri?


Harusnya mamanya Nabila itu berterima kasih kepada bi Asih bukan memecatnya seperti itu.


"Lo duduk di sini aja,gue nggak butuh minum."


"Tapi kak.."


"Udah...duduk aja,sini.."


Rafly menepuk sofa di sampingnya menyuruh Nabila untuk duduk.Gadis itu lalu duduk dengan sedikit canggung karena tidak terbiasa duduk sedekat ini dengan seorang laki-laki kecuali papanya.


"Nih..gue bawain lo bunga lily."


Nabila lalu mengambil bunga tersebut dari tangan Rafly.Dia sangat menyukai bunga tersebut.Ya..karena Lily putih itu melambangkan cinta yang tulus.


"Makasih kak,kakak baik banget sama aku." Nabila tersenyum tulus ke arah Rafly.


Senyuman itu,senyuman paling manis yang pernah Rafly lihat.Sebelumnya,Rafly juga pernah melihat senyuman tulus itu,ya senyuman dari mantan kekasihnya sekaligus sahabatnya.


"Lo manis."


Nabila lalu menatap Rafly bingung atas ucapannya barusan.


"Hmm..maksud kakak?"


"Lo manis kalau senyum,makanya jangan sedih..gue nggak suka lihat cewek nangis."


Rafly menyalipkan beberapa helai rambut Nabila ke belakang daun telinganya membuat gadis itu semakin manis dan cantik.


"Eheem."


Nabila dan Rafly tersentak kaget dan menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu siapa?Pakai acara sok-sok romantisan dengan anak saya."


Rafly menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Apa yang harus dia katakan kepada papa Nabila soal kejadian barusan?


"Pa.."


Nabila lalu berdiri dan melangkah menuju Darwin.


"Kak..Nabila tinggal sebentar ya."


Nabila lalu menarik papanya menjauh dari Rafly.


"Pa..papa jangan kasar dong sama kak Rafly."


"Loh kenapa?Dia sudah berani nyentuh kamu."


"Pa,kak Rafly itu cowok baik pa,dia juga yang bantu aku waktu sakit aku kambuh beberapa hari yang lalu."


Darwin lalu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memainkan kumisnya.


"Apa kamu suka sama dia?"


Nabila langsung membelalakkan matanya mendengar pertanyaan dari papanya itu dan langsung menggelengkan kepalanya.Tidak mungkin dia menyukai Rafly karena dia baru bertemu selama empat hari.Dan jujur,perasaan Nabila masih untuk Rozy.


"Ya udah,yang penting laki-laki itu nggak jahat sama kamu."


"Iya pa."


"Papa mau ke ruang kerja dulu ya."


Nabila lalu mengangguk sambil mengecup pipi papanya.Dia kemudian hendak berbalik untuk menemui Rafly.Namun,tiba-tiba saja darah segar mengalir dari hidungnya.


Cepat-cepat Nabila menghapusnya.Namun,darah tersebut semakin lama,semakin banyak.Kepala Nabila juga semakin sakit.


Bruaaakkk..


Tubuh Nabila semakin lemas,perlahan pandangannya mulai buram.Sebelum kesadarannya menghilang,samar-samar dia melihat seseorang yang berlari menghampirinya.


"Nabila!"


Suara tersebut adalah suara yang terakhir kali didengar oleh Nabila.


Setelah itu semuanya gelap.


☁☁☁


Rara dan Dhea sama-sama menangis menonton drama korea di hadapan mereka.Adegan film tersebut menampilkan seorang wanita yang mendapatkan kabar duka bahwa kekasihnya itu telah tewas saat melaksanakan tugasnya sebagai tentara negara.


"Huwa........kenapa mereka dipisahkan oleh maut?" Dhea menghapus ingusnya menggunakan tisu.


"Hiks...gue jadi sedih."


"Tapi,gue paling sedih kalau si cewek itu ditinggalin si cowok karena si cowok lebih milih yang selalu ada,padahal si cewek ini tulus...huaaa...dan ceweknya mati...huwaaa...."


"Hiks...yang tulus itu bakal kalah sama yang selalu ada, kenapa ya?gue bingung..ini sebenernya dunia yang nggak adil atau lo yang terlalu ****.."


"Lo?maksud lo gue?"


"Nggak..kalkun.. itu si cowok yang lo maksud."


Putri yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa memutar bola matanya malas.Sementara itu,Ifa hanya diam sambil menatap lurus ke depan.Hal tersebut membuat Putri semakin iba kepada sahabatnya itu.


Putri lalu melempar bantal di pangkuannya ke arah Rara dan Dhea.


"Woii lo berdua!kalian nggak lihat Ifa lagi sedih gini?Kalian malah asik nonton drakor yang nggak jelas ujung-pangkalnya."


"Lo sih Dhea."


"Eh ini semua gara-gara lo Rara!"


"Lo yang mulai,tadi gue udah bilang kan? kita itu di sini menghibur Ifa bukan nonton film drakor milik Ifa!"


"Ya elah,kan lo yang ajak tadi kukang."


"Sudah..sudah...kasihan Ifa."


Setelah Putri menengahi adu mulut antara Rara dan Dhea,kedua gadis itu lalu beranjak duduk di samping Ifa.


"Fa...lo jangan diam gini dong,lo kan orangnya heboh banget,jangan mendadak diam dong." Rara mengelus bahu Ifa.


Ifa lalu menatap ketiga sahabatnya satu persatu.


"Ifa..hiks..kenapa?"


Ifa lalu menangis membuat ketiga temannya langsung panik.Jika Rozy sampai tau Ifa menangis malam ini,maka dapat dipastikan mereka bertiga akan langsung dihadiahi perkataan yang tajam milik Rozy.


"Faa...lo yang sabar,gue janji sama lo bakal tangkap pelaku tersebut."


"Betul,gue bakal hajar dia,berani banget dia bikin sahabat gue jadi begini."


"Lo berdua nggak kepikiran kalau si pelaku tersebut Nabila?"


Semua menatap Dhea.


"Nggak mungkin dia kali,secara lo tau Nabila anaknya baek-baek."


"Ifa juga begitu,soalnya Nabila nggak mungkin sampai potong tubuh tikus segala."


"Nah betul apa yang dikatakan Ifa sama Putri,nggak mungkinlah,secara tu anak polos banget."


Dhea hanya diam tidak memberi komentar lagi.Walaupun begitu,Dhea sangat yakin bahwa pelaku tersebut adalah Nabila.Karena orang yang bermasalah dengan Ifa akhir-akhir ini adalah Nabila.Dhea sebenarnya juga telah menaruh rasa curiga pada Nabila pada saat kejadian di kolam renang waktu itu.


Tidak mungkin secara kebetulan,Nabila berada di kolam tersebut.Semua orang bahkan jarang ke sana dan untuk apa dia pergi ke sana?Dhea yakin Ifa jatuh ke kolam tersebut karena Nabila mendorongnya.Dan untuk menghilangkan rasa curiga dari orang lain,dia menempatkan dirinya menjadi saksi tragedi tersebut.


Sungguh perempuan licik!


Dan Dhea pastikan akan membuka topeng Nabila,dan menampakkan wajahnya yang sesungguhnya,lihat saja nanti!


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


#Happyreading

__ADS_1


__ADS_2