My Crazy Girl

My Crazy Girl
Ngedate


__ADS_3

Nabila mengernyitkan matanya beberapa kali akibat silau terkena cahaya matahari.Perlahan-lahan gadis itu membuka kedua matanya.


Nabila menghirup aroma khas obat-obatan dan aroma tersebut sangat dibenci oleh Nabila.Dia melirik ke arah tangan kirinya yang sudah dipasang selang infus.


Ini yang tidak Nabila sukai,yaitu berada di rumah sakit.Dia benci selang infus,dia benci aroma obat-obatan,dan dia benci apapun yang berkaitan dengan rumah sakit karena hal tersebut mengingatkan dia akan dirinya yang berpenyakitan.


Nabila kemudian menoleh ke samping kanan dan melihat papa-nya sedang tertidur di atas sofa.Dia yakin papa-nya itu pasti sangat lelah karena harus menjaganya di rumah sakit.Harusnya,papa-nya itu bisa beristirahat dengan tenang setelah kembali dari luar kota bukan menjaga anak berpenyakitan seperti dia sekarang.


Satu hal yang membuat dada Nabila sesak,yaitu mama-nya,Carina.Kenapa mama-nya itu tidak ada di sini sekarang?padahal kondisi putrinya sedang tidak baik-baik saja.Apakah Nabila tidak ada artinya bagi Carina?Apakah Carina lebih mementingkan selingkuhannya ketimbang anaknya?


Tes..


Setetes cairan bening jatuh begitu saja dari kelopak matanya,tapi dengan segera Nabila menghapusnya.Dia tidak ingin membuat papa-nya bertambah khawatir.


Darwin perlahan membuka matanya dan mendapati putri kesayangannya sudah sadar.Dengan segera,pria paruh baya itu beranjak dari sofa dan menghampiri putrinya itu.


"Sayang.. syukurlah kamu sudah sadar,papa sangat lega."


Darwin mengelus puncak rambut Nabila dengan penuh kasih sayang.


"Pa..sejak kapan aku di rumah sakit?" Nabila bertanya dengan bibirnya yang masih pucat.


"Kamu pingsan sejak semalam,tapi untungnya ada teman cowok kamu yang bantu papa bawa kamu ke sini."


Nabila kemudian teringat akan Rafly.Ya..terakhir kali yang Nabila ingat adalah Rafly datang ke rumahnya sambil membawakan dia sebuket lily putih.


"Pa..Nabila mau pulang pa.." Rengek Nabila.


Jujur..dia sangat tidak betah berada di rumah sakit.Akan lebih baik dia dirawat di rumah saja.


"Sayang,kondisi kamu belum sepenuhnya baik..kamu di sini dulu ya."


"Tapi pa...Nabila nggak suka rumah sakit."


Darwin tidak tega menolak permintaan Nabila.Tapi,melihat kondisi Nabila yang belum sepenuhnya pulih,sangat tidak memungkinkan dokter akan mengizinkan Nabila untuk pulang.


"Begini saja,kamu di rumah sakit satu hari lagi,nanti papa bilang sama dokter kalau kamu mau dirawat di rumah aja."


Nabila tersenyum senang dan mengecup tangan papa-nya.Tidak masalah jika harus menetap di rumah sakit satu hari lagi.Yang terpenting besok Nabila akan pulang.


"Sayang,papa mau pulang dulu ke rumah,mau ganti baju sama bawain baju kamu juga,kamu nggak apa-apa papa tinggal sendiri?"


Nabila menganggukkan kepalanya.Darwin kemudian tersenyum dan mengecup puncak kepala Nabila.


"Kalau ada apa-apa,langsung telfon papa.."


"Iya pa.."


"Kamu makan buah yang ada di atas meja ya.."


"Siaapp pa.."


Darwin mengambil jaket miliknya dan beranjak keluar dari kamar inap tersebut.


Sekarang,hanya tersisa Nabila dan suasana hening yang membuat Nabila semakin tidak betah berada di rumah sakit.


Nabila meraih jeruk yang berada di atas nakas dan mengupasnya.Dia harus banyak makan buah agar cepat sembuh dan kembali sekolah.Dia harus ikut pelatihan olimpiade dan memenangkan perlombaan itu agar papa dan mama-nya bangga.


Kraak...


"NABILA..."


Hampir saja Nabila tersedak oleh jeruk akibat ulah orang yang tak bertanggung jawab tersebut.Bukannya mengucap salam dan mengetuk pintu,ini malah langsung berteriak tanpa rasa bersalah.


"Nasya...kamu bisa nggak usah teriak?"


Gadis tomboi dengan rambut dikucir kuda itu hanya cengengesan tidak jelas.Dia lalu duduk di kursi samping ranjang Nabila.


"Gue kangen banget sama lo,makanya cepet sembuh."


Nabila tersenyum pada Nasya.Sahabatnya ini sungguh sahabat terbaik yang pernah Nabila punya.Sebenarnya,Nabila juga merindukan Nasya,gadis yang selalu heboh dan menjadi penghibur Nabila saat dia sedang sedih.


"Kamu nggak sekolah?"


Nabila kemudian tersadar akan Nasya yang tidak memakai seragam sekolah.Seingat Nabila,hari ini bukanlah tanggal merah,dan bukan hari minggu.


Nasya langsung menggelengkan kepalanya sambil membuka bungkusan yang dibawanya.


"Iih...Nasya!!aku nggak suka kalau kamu bolos hanya karena aku."


Nasya menatap Nabila yang sedang kesal itu sambil tersenyum.Melihat reaksi gadis itu membuat darah Nabila seketika mendidih.


"Kok malah senyum sih?"


Nasya menyodorkan bubur ayam yang dibelinya tadi kenapa Nabila.


"Makan dulu...perut lo itu harus diisi penuh supaya lo bisa sekolah dan ketemu kak Rozy."


Mendengar Nasya menyebut nama Rozy membuat Nabila mendadak menjadi salah tingkah.Gadis itu langsung menyambar bubur ayam itu dan melahapnya.


"Gue itu mau jagain lo,masa iya gue sekolah enak-enakan sedangkan lo di rumah sakit?gue bukan sahabat yang seperti itu."


"Ya tapikan,apapun alasannya,bolos itu tetep nggak baik Nasya."


"Sekali ini aja kok,kapan lagi gue bolos sekolah?gue tadi juga udah izin ke nyokap kalau gue nggak sekolah karena mau jaga lo di rumah sakit."


Nabila hanya mengangguk menanggapi ucapan Nasya barusan.Sahabatnya itu apabila sudah bertekad melakukan sesuatu, tidak ada yang bisa melarangnya.


"Oh iya gue hampir lupa,tadi ada cowok ganteng,ya ampun...ganteng banget Nabila.."


Nabila mengerunyutkan dahinya bingung dengan ucapan Nasya barusan.Tumben-tumbennya gadis itu membahas cowok,apalagi cogan dengan Nabila.Biasanya,gadis itu hanya membicarakan soal Manu Rios atau marching band yang diikutinya.


"Memangnya kenapa?"


"Dia nanyain lo...kyaa...."


Nabila bertambah bingung dengan ucapan Nasya.Jika itu Rozy..ah Nabila terlalu ngehalu.Tidak mungkin itu Rozy secara Nasya juga tidak mengenal laki-laki itu.


"Siapa sih?"


"Mana gue tau,dia pake seragam SMA Cahaya Bangsa."


Deg..


Jadi,yang dimaksud oleh Nasya adalah Rafly,laki-laki yang akhir-akhir ini dekat dengan dirinya.


"Itu...temen baru aku."


Nasya memicingkan matanya dan menatap Nabila curiga.


"Aah...nggak mungkin sekedar temen,kalau iya,kenapa cowok itu nitip coklat buat lo?hayoo ngaku!"


Nabila langsung membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan Nasya barusan.Untuk apa Rafly datang pagi-pagi ke rumah sakit hanya karena ingin memberikan Nabila coklat?


Nasya mengambil coklat dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Nabila.


"Cie...ada note-nya juga."


Nabila langsung meraih coklat tersebut dari tangan Nasya.Dia kemudian membaca note yang ditulis Rafly tersebut.


Cepat sembuh cantik :)


Maaf aku hanya bisa ngasih coklat doang,tapi aku berharap dengan coklat ini..kamu bisa tersenyum.Jangan lupa dimakan coklatnya ya


Nasya diam-diam ikut melirik isi note tersebut.Gadis itu langsung tertawa membacanya.


"Aduh...romantis banget sih,,nah gue mendukung banget lo sama cogan itu deh.."


"Apaan sih Sya...Kak Rafly itu cuma temen aku!"


"Oh..jadi namanya kak Rafly?ciee cocok kalau disandingkan sama lo,Nafly...Nabila dan Rafly..",


Nabila menepuk lengan Nasya karena kesal atas ucapannya barusan.Di saat-saat seperti ini,bisa saja sahabatnya itu menggoda dirinya.


Tapi,saat melihat coklat dari Rafly tersebut membuat hati Nabila menjadi hangat.Baru sekali ini ada cowok yang memberikan dia coklat.Bukan hanya coklat,tapi juga bunga.


Apakah Nabila harus membuka hatinya untuk orang lain?


Entahlah..Nabila sangat bingung.Di sisi lain,dia masih sangat menyukai Rozy,dan di sisi lain dia mulai nyaman dengan Rafly.


Ya tuhan...kenapa cinta itu sangat rumit?


"Bil...lo kentut ya??kok bau banget sih?"


Nabila menepuk lengan Nasya cukup keras dari sebelumnya karena membuat Nabila kesal berkali-kali lipat.


"NASYA!!!!"


Sedangkan Nasya hanya tertawa memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil mengangkat jarinya membentuk huruf V.


☁☁☁


Kruukk...


Rara mengelus perutnya yang malang karena kelaparan.Dia sangat mengutuk dirinya sendiri yang tidak sarapan tadi pagi.


"Woi..lo ngapain ra?anak lo lagi nendang?"


Pertanyaan Dhea barusan membuat Rara memutar bola matanya malas.Dia sangat tidak ingin berdebat dengan siapapun saat ini.Dia hanya ingin makan!


Entah kenapa kantin sekolahnya menjadi lebih ramai dari biasanya.Hal itu membuat dia dan teman-temannya harus mengantri panjang untuk memesan makanan.


Setelah lima belas menit mengantri,akhirnya kedua gadis itu mendapatkan pesanan mereka.


"Ra..kita duduk di pojok aja yuk." Dhea menunjuk bangku kosong yang berada di pojok kantin.


"Lo ga ada tempat lain apa selain pojokan?kayak orang mojok aja duduk di pojokan."


"Kalau lo mau makan ikut gue,kalau nggak ya terserah lo."


Dhea melangkahkan kedua kakinya menuju bangku pojok tersebut.Sedangkan Rara,masih berdiri menatap seisi kantin yang dipenuhi oleh anak-anak manusia.


Tidak ada bangku kosong lagi selain tempat yang ditunjuk oleh Dhea tadi.


"Dhea....gue ikut."


Rara akhirnya mengalah mengikuti Dhea daripada dia tidak makan.Sebenarnya,tidak masalah juga kalau mereka duduk di pojokan.Lagipula,yang terpenting itu adalah MAKAN.


Mereka duduk saling berhadapan.Dhea kemudian mengambil kecap dan menuangkannya ke dalam mangkuk bakso miliknya.


Sedangkan Rara, langsung melahap bakso tersebut tanpa memberi kecap ataupun cabe.Dhea menatap ngeri ke arah Rara karena gadis itu makan seperti orang yang tidak makan selama satu minggu.


"Lo ngapain ngelihatin gue?ntar naksir." Ucap Rara sadar akan Dhea yang memperhatikannya.


"Gue lempar juga lo pake ****** mbah gue ya Ra,Dheanda ini masih normal!!gue masih suka cowok!"


"Makanya jangan ngejomblo terus,nanti dikirain ga normal lagi." Ucap Rara disertai kekehannya.


"Lo sendiri,kenapa masih jomblo?apa jangan-jangan lo yang ga normal?"


"Gue ga normal?Nih gue jelasin sama lo Dheanda Anastasya si dada rata,gue ngejomblo karena gue belum ngedapetin laki-laki yang the best buat gue."


Dhea hanya memutar bola matanya malas mendengar penjelasan Rara.Akan lebih baik dia melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda daripada berdebat dengan makhluk seperti Rara.


Begitu pun dengan Rara,dia kembali memakan baksonya agar perutnya tidak kembali berdisco.


Tapi,perkataan Dhea tadi terus terngiang di pikiran Rara..ya soal kenapa dia masih jomblo.Sebenarnya,banyak laki-laki di SMA Garuda Bangsa itu yang mengejarnya.Tapi,tidak ada satupun di antara mereka yang menarik perhatian Rara termasuk Andra.


Hingga akhir-akhir ini,ada seseorang yang mengirimnya setangkai bunga mawar putih setiap hari beserta surat cinta yang manis.Entah kenapa,hati Rara menjadi hangat mengingatnya.


Dia sangat penasaran,siapakah yang menjadi secret admier - nya?Bagaimana rupanya?Kelas berapakah dia?Banyak hal lagi yang ingin Rara ketahui dari secret admier-nya.


"Dhe.."


"Apa?"


Rara lalu mengeluakan sepucuk surat dari dalam saku seragamnya.Dia lalu meletakkannya di atas meja.Dhea yang melihat surat itu langsung menghentikan aktivitas makannya.Dia lalu mengambil surat tersebut dan membacanya.


Bagiku kamu adalah cinta pertamaku setiap hari..


Seperti salju yang datang di musim semi


Seperti itu aku menunggumu


Siang hari ketika hatiku berdegup kencang


Sampai malam hari ketika ku terlelap


Hatiku terasa aneh


Bahkan sampai saat ini


Dan aku sadar..aku sangat mencintaimu Zara Syaquila..


Dhea membekap mulutnya tidak percaya saat membaca surat tersebut.Jadi,selama ini ada orang yang mencintai Rara secara diam-diam.


Setau Dhea,memang banyak laki-laki di SMA tersebut yang mengejar sahabatnya itu.Kenapa tidak?Rara merupakan salah satu gadis tercantik di angkatannya.


Hampir setiap hari,laci gadis tersebut dipenuhi oleh coklat dan bunga dari penggemarnya tak terkecuali Andra.Dan perlu diketahui,bahwa Rara sama sekali tidak menyukai coklat.


"Ra...sumpah ini manis banget,,lo cinta pertama dia??wuaaah...lo harus cepet cari tau siapa dia.."


Rara tersenyum sambil menyalipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga.Tentu saja dia akan mencari tau siapa sosok laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Dhe...kayaknya gue jatuh cinta sama si mawar putih ini deh."


Yap..Rara menamainya mawar putih karena selalu memberikannya mawar putih,bunga yang sangat disukai Rara.


Dhea langsung membelalakkan matanya kaget dengan ucapan Rara barusan.Tiba-tiba saja wajah Andra langsung muncul begitu saja di pikirannya.


Sejauh ini,laki-laki yang masih setia mengejar Rara untuk membuktikan cintanya hanyalah Andra seorang.Tapi,gadis itu malah menyukai pria lain hanya karena surat dan bunga itu.


Ya..kita juga tidak bisa memaksakan suatu perasaan kepada orang lain.Tapi,apa salahnya kita lihat juga perjuangan orang yang benar-benar tulus untuk kita.


Orang yang bisa membuat kita nyaman dan selalu ada itu banyak,tetapi orang yang mencintai kita dengan tulus tanpa memandang apapun itu sangat langka.


Sementara itu,tak jauh dari mereka,nampak dua tukang rusuh sekolah berjalan memasuki kantin.Mereka berjalan sambil memasukkan kedua tangan mereka ke dalam saku celana agar kelihatan cool.


Tapi kenyataannya,malah membuat semua orang geli.


"Wuaah...ternyata gue banyak fans juga." Ucap Kevin menepuk dadanya bangga.


"Sok kegantengan banget sih lo *** kuda."


"Gue bukan sok ganteng,gue memang ganteng dari lahir." Bantah Kevin.


"Noh tengok Ipeh,dia salah satu fans gue." Kevin mengedipkan sebelah matanya kepada Ipeh membuat gadis itu segera beranjak dari kantin.


"Ooh..itu yang namanya fans?"


Kevin kemudian menjitak kepala Andra membuat suasana kantin menjadi gaduh akibat ulah dua kecebong tersebut.Sementara itu,Dhea dan Rara yang menonton perdebatan mereka hanya mengangkat bahu tak acuh.


"Wiih ada neng Rara nih."


Andra lalu menunjuk gadis itu dengan kedua dagunya pada Kevin.Pria itu lalu mengikuti arah tunjuk Andra,dan pandangannya langsung jatuh kepada Dhea.


Sang gadis pujaan hatinya!


Tanpa aba-aba,Kevin langsung saja menarik tangan Andra menuju ke tempat kedua gadis itu.


"Hai...cewek,kita boleh ikut nongkrong di sini ga?" Kevin mengedipkan sebelah matanya pada Dhea.


"Boleh kok,lo duduk aja di sebelah Dhea." Jawab Rara dan langsung dihadiahi lirikan tajam oleh Dhea.


Langsung saja Kevin duduk di samping Dhea membuat gadis tersebut risih.Kenapa pria itu muncul lagi?Padahal dia sudah tenang,aman,damai,dan tentram akhir-akhir ini.


Sedangkan Andra,dia masih berdiri dan menatap Rara yang sama sekali tidak mengacuhkan kehadirannya.


Dhea menatap iba Andra.Dia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu bisa setega itu memperlakukan orang yang tulus kepadanya.Perasaan boleh saja tidak dibalas,tapi setidaknya,hargai perasaannya.


Dhea lalu menginjak sepatu Rara membuat gadis itu menatapnya.


"Apa sih Dhea?"


"Itu.." Dhea menunjuk Andra dengan matanya.


"Biarin aja,salah dia juga datang ke sini."


Jujur,Dhea ingin rasanya memaki Rara habis-habisan.Bisa-bisanya gadis itu bicara seperti itu tanpa beban sedikit pun.


Andra yang merasa hawa di sekitarnya menjadi tegang,memilih untuk pergi.Mungkin kehadirannya membuat Rara tidak senang.


Dhea semakin iba kepada Andra.Ingin rasanya dia memanggil dan mencegah Andra untuk pergi tapi dia tahan.Jika dia nekat,dapat dipastikan Rara akan mengamuk setelah itu.


"Lo kok bisa sekejam itu sama sohib gue?"


Kevin tiba-tiba bicara dengan nada yang sangat dingin membuat kedua gadis itu menatapnya dengan kaget.Raut wajah Kevin juga berubah menjadi tidak bersahabat.Dia berubah menjadi orang yang sangat menakutkan.


"Lo jangan sok kecantikan deh,ya gue memang tau lo cantik,tapi gue tetep ga terima lo perlakuin sahabat gue seperti itu."


Ucapan Kevin sangat menusuk hati Rara.Tapi, gadis itu tidak bisa membantahnya karena dia juga salah karena telah memperlakukan Andra seperti itu tadi.Rara seketika diselimuti perasaan bersalah kepada Andra atas perbuatannya.


"Sahabat gue **** juga,kenapa dia malah memperjuangkan gadis sok cantik seperti lo,lo apa ga mikir selama ini perjuangan teman gue??apa sebenarnya mau lo??"


"Huh,dia lebih pantas dapet gadis yang baik dan tulus daripada lo."


"Kevin cukup.." Dhea langsung menghentikan Kevin agar tidak bicara terlalu banyak lagi.


Dia juga tidak tega melihat Rara yang menunduk seperti itu karena ucapan Kevin kepadanya.


Kevin lalu bangkit dan segera beranjak meninggalkan meja tersebut.Walaupun selama ini dia berkelakuan konyol,tapi tetap saja dia akan berubah menjadi orang yang menakutkan jika ada yang berani menyakiti hati temannya.


"Bahasa persahabatan itu bukan hanya dinilai dari kata-kata doang melainkan dengan arti."


Rara menatap Dhea yang juga menatapnya.Gadis itu mengambil tisu dan memberikannya kepada Rara.


"Andra itu sahabat Kevin Ra,dia paham akan arti seorang sahabat,jadi pantas dia marah sama lo karena ga terima atas perlakuan lo ke sahabatnya."


"Dan gue juga ga tega ngelihat lo digituin tadi,ya gue akui kata-kata Kevin itu menusuk banget walaupun bener."


Rara menerima tisu dari Dhea dengan bingung.Kata-kata Kevin memang sangat menusuk hatinya,tapi dia tidak selemah itu untuk menangis.


"Lo ngapain juga ngasih gue tisu?"


Dhea menghabiskan es jeruknya dan tersenyum.


"Tadi gue lihat ada ingus lo jatuh."


Dengan secepat kilat,Dhea langsung berlari meninggalkan Rara sebelum gadis itu mengeluarkan bogem mentahnya.


"DHEAAAAA!!!!" Teriak Rara dan langsung menyusul Dhea.


☁☁☁


Hari ini pelatihan olimpiade lebih padat dari hari sebelumnya.Hal tersebut dikarenakan lomba tersebut akan diadakan lusa esok.


Pada pagi hari,mereka akan dihadapkan dengan pre test dan sorenya mereka akan dihadapkan dengan Post test.


Benar-benar menguras otak dan juga tenaga!


"Huftt..." Ifa meregangkan otot-otot tangannya.


Seharusnya bukan hanya otot,tapi otak juga perlu peregangan agar lebih segar.


Ifa memperhatikan Rozy yang sedang menyalin jawaban olimpiade di papan tulis pada buku catatannya.Pria itu sangat fokus mencatat membuat ketampanannya bertambah seribu kali lipat.


Ifa sangat beruntung dapat dipertemukan dengan Rozy di acara lomba tingkat sekolah waktu itu.Pria yang membuat dirinya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama hanya karena tidak sengaja menabraknya.Mengingat kejadian itu membuat Ifa senyum-senyum sendiri.


Dia sangat ingat dengan dirinya yang meminta semua akun sosial media milik Rozy tanpa rasa malu sedikit pun.


Rozy selesai mencatat jawaban tersebut yang panjangnya dapat menghabiskan tiga halaman buku.Pria itu menarik nafas panjang.Akhirnya, pelatihan untuk hari ini selesai.


Rozy kemudian beralih menatap Ifa yang sedang senyum-senyum sendiri.Apa yang sedang dipikirkan gadis itu hingga membuatnya terlihat seperti orang gila?


Rozy mengangkat bahunya tak acuh.Tidak masalah baginya jika gadisnya itu seperti orang gila daripada dia menangis seperti wanita ditinggalkan suami.


Pria dingin itu memasukkan buku serta peralatan tulisnya ke dalam ransel miliknya.Rozy kemudian menyadari bahwa buku olimpiade miliknya tidak ada di dalam tasnya.Kemana buku tersebut pergi?


"...."


"Gambarnya kayak ada jam-jam gitu."


"...."


Karena tidak ada jawaban dari Ifa membuat Rozy menoleh ke arah gadis itu sambil berkacak pinggang.Ternyata gadis itu masih senyum-senyum tidak jelas.


Rozy sungguh penasaran,apa yang membuat gadis itu menjadi sangat gila seperti ini?


Rozy menyenggol lengan Ifa membuat gadis itu tersentak kaget.


"Iih... Rozy,jangan ngagetin Ifa kayak gitu dong,nanti Ifa bisa jantungan.."


"Lo lihat buku olimpiade gue?" Tanya Rozy to the poin.


Ifa teringat bahwa tadi dia meminjam buku olimpiade milik Rozy.Dia lalu mengecek isi ranselnya untuk menemukan buku bersampul biru tersebut.Namun,setelah dicari buku tersebut tidak ada di dalam ransel Ifa.


Ifa baru ingat kalau buku tersebut dia simpan di dalam lokernya karena tadi saat dia ingin berniat makan dulu.Tidak mungkin dia membawa buku tersebut ke kantin seperti anak cupu.


"Ifa letakin di loker."


"Ya udah sekarang kita ke sana."


Rozy dan Ifa menyandang tas ransel masing-masing dan berjalan menuju loker Ifa.


Saat dalam perjalanan menuju ke sana,Ifa memandang tangannya dan tangan Rozy secara bergantian.Gadis itu juga memepetkan tubuhnya lebih dekat dengan Rozy,agar mereka terlihat romantis.


Rozy merasakan sikap Ifa berubah menjadi aneh lalu menghentikan langkahnya.


"Lo ngapain jalan mepet gitu?jalan ini kan luas."


Ifa lalu berdiri di hadapan Rozy sambil senyum-senyum tidak jelas membuat Rozy semakin merinding.


Sepertinya gadis ini butuh rumah sakit jiwa sekarang!


"Rozy...tangan Ifa kayaknya ada sarang laba-labanya."


Rozy mengangkat satu alisnya bingung dengan ucapan gadis itu barusan.


"Ahh...pasti lo mau berubah jadi Spiderman ya?"


Ifa menghentakkan kedua kakinya mendengar jawaban dari pria yang berstatus sebagai pacarnya itu.


Kenapa Rozy tidak pernah peka dengan apa yang dikatakannya?Padahal mereka sekarang sudah berpacaran.Apakah semua laki-laki itu sama seperti Rozy?sangat tidak peka.


"Maksud Ifa itu...Ifa pengen digandeng sama Rozy.."


Rozy tersenyum dan mengacak rambut Ifa.Tangannya kemudian beralih menggandeng tangan milik pacarnya.


Satu hal yang membuat Rozy bingung dengan semua perempuan.Jika memang hanya ingin meminta sesuatu dari pacarnya kenapa harus pakai kode dulu?


Memangnya otak pria ini diperuntukkan untuk memecahkan semua kode yang diberikan perempuan?


Mereka lalu bergandengan tangan dengan mesra di sepanjang perjalanan.Ifa sangat bahagia tentunya.Mimpi dia yang bisa menggandeng tangan pria dingin itu akhirnya terwujud setelah melakukan perjuangan yang lama.


Dan ingat juga kalau hanya Ifa lah,satu-satunya perempuan yang tangannya pernah digandeng oleh Rozy di sekolah ini.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Rozy.Hatinya mendadak menjadi hangat saat bergandengan tangan dengan Ifa.Dia tidak menyangka bahwa gadis gila yang ditemuinya di lomba waktu itu akan menjadi pacarnya sekarang.


Tak berselang lama,mereka sampai di depan loker Ifa.Gadis itu menyerahkan kunci lokernya pada Rozy.


"Rozy..Ifa mau ke toilet dulu, kebelet banget."


Rozy menganggukkan kepalanya.Setelah itu,Ifa langsung berlari melesat jauh menuju toilet.


Rozy memasukkan kunci tersebut dan membuka loker Ifa.Betapa terkejutnya Rozy saat mengetahui isi loker Ifa yang dipenuhi oleh foto-fpto Rozy.


"Dasar..gadis gila."


Pandangan Rozy kemudian jatuh pada bunga mawar merah yang ada di dalam loker Ifa.


Tunggu dulu,ini bukan mawar merah,tapi lebih tepatnya bunga mawar putih yang dicat dengan darah.


Bau amis darah seketika menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Rozy.


Apakah ini darah manusia?Ah..Rozy sangat berharap ini adalah darah hewan.


Rozy langsung mengambil bunga tersebut dan membuangnya ke dalam tong sampah.


"Dasar psikopat."


Untung di dalam loker Ifa ada sebuah parfum.Rozy segera menyemprot parfum tersebut agar Ifa nantinya tidak mencium bau amis darah.Rozy juga menemukan sepucuk surat di dalam loker Ifa.


Hai Ifa


Bagaimana hadiahku?apakah kamu suka?itu baru awalnya saja,kita lihat nanti apa yang bisa kuberikan untukmu.


-BFF-


Rozy langsung merobek kertas tersebut dan ikut membuangnya ke tong sampah.Siapa sebenarnya pelaku teror tersebut?Kenapa dia berani menganggu orang yang sangat dicintai oleh Rozy.


Satu hal lagi yang Rozy ketahui dari pelaku tersebut.Ya..pelaku tersebut juga bersekolah di SMA Garuda Bangsa,sama seperti Ifa.


Tapi,kenapa dia bisa setega itu memberikan mawar yang dicat dengan darah itu kepada gadis sepolos Ifa?Apakah kesalahan Ifa kepadanya itu sangat besar?


BFF


Dia menamai dirinya BFF.


"Best Friend Forever"


Apa maksud pelaku tersebut menjuluki namanya dengan BFF? Apapun itu,dia sudah berani membuat Ifa menangis ketakutan dan itu artinya pelaku tersebut juga sedang bermain-main dengan Rozy sekarang.


"Rozy.."


Rozy tersentak kaget akibat ulah Ifa tapi dia berusaha bersikap biasa saja agar gadis itu tidak curiga.


"Rozy,udah ambil bukunya?"


"Ah..besok aja gue ambil,mending lo baca dulu."


Rozy menyerahkan kunci loker Ifa.


"Rozy aneh deh,tadi kayaknya butuh banget sama buku itu."


Rozy hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Jangan sampai Ifa tau bahwa ada teror lagi di dalam lokernya.


"Fa.."

__ADS_1


"Iya Rozy?"


Rozy langsung memeluk Ifa.Hal itu membuat Ifa semakin bingung dengan Rozy.Apa yang telah terjadi selama Ifa berada di toilet tadi?Apa Rozy tertimpa hujan meteor?


"Gue sayang sama lo."


Mendengar ucapan Rozy barusan membuat hati Ifa menghangat.Gadis itu kemudian membalas pelukan Rozy.


"Ifa juga sayang sama Rozy...sayang banget..banget...banget.."


Rozy mengecup puncak rambut gadis itu dengan lembut.Dia berjanji tidak akan membiarkan air mata gadis itu jatuh lagi.Baginya,air mata gadis itu sama seperti berlian yang sangat berharga.


"Kita ngedate yuk."


☁☁☁


Ifa memandang wajahnya di depan sebuah benda ajaib yang membuat semua perempuan senyum-senyum sendiri.


Cermin!


Hati Ifa sangat senang karena Rozy tadi tiba-tiba mengajaknya untuk kencan.Aah..rasanya bunga-bunga sedang bermekaran di hati Ifa sekarang.


Tidak biasa-biasanya pria tersebut mengajaknya kencan.Karena selama ini,Ifa lah yang selalu mengajak Rozy untuk kencan.


Hmm.. mungkin Rozy ingin berubah menjadi laki-laki romantis untuk Ifa.Aah...Rasanya Ifa ingin mencubit pipi pria itu gemas.


Ifa mengambil lip balm dari dalam tasnya,dan mengoleskanya secukup mungkin agar bibirnya tidak terlihat kering.Dia harus terlihat cantik agar Rozy tidak memandang gadis-gadis lain di Mall.


Setelah merasa dirinya cukup cantik,Ifa segera keluar dari toilet.Rozy pasti sedang menunggunya sekarang.


Sebelum itu,Ifa menghampiri abang-abang penjaga kasir toilet.Ifa menatap abang-abang kasir tersebut geleng-geleng kepala.Apa iya,hanya numpang dandan di toilet harus bayar juga?kan sayang..uangnya.


"Eh ada eneng cantik,kenapa neng ngelihatin abang?abang ganteng ya?"


"Kepedean amat sih bang,Ifa itu hanya bingung aja,mau bayar apa enggak."


"Ya elah neng,neng ga liat tulisan di depan?"


Ifa kemudian menatap tulisan 'bayar 2000' itu sambil menepuk jidatnya.Kenapa sih abang-abang itu tidak bisa mengikhlaskannya pergi saja tanpa membayar?


"Tapi,Ifa di dalam cuma numpang ngaca doang kok bang,ga pipis juga."


"Numpang ngaca,numpang ganti baju,numpang-numpangan apapun itu harus tetep bayar."


"Ya..kalo eneng mau numpangin hatinya ke abang juga ga masalah."


Dari jarak yang cukup jauh,Rozy memandangi apa yang sedang dilakukan gadis itu.Lama-kelamaan,Rozy merasa jengah karena telah terlalu lama menunggu gadis itu.Rozy memutuskan untuk menghampiri Ifa yang kelihatannya sedang berdebat dengan abang penjaga kasir tersebut.


"Ada apa fa?kenapa lama?"


"Iih Rozy...masa iya,Ifa numpang ngaca aja disuruh bayar."


Rozy menatap Ifa sambil geleng-geleng kepala.Pria itu kemudian mengeluarkan uang lima ribu dari kantong seragamnya dan meletakkannya di atas meja,depan abang penjaga tersebut.


"Kembaliannya ambil aja bang."


Rozy kemudian menarik tangan Ifa meninggalkan toilet Mall tersebut.


"Rozy,kita mau kemana?"


Rozy kemudian berpikir sejenak.


"Kita makan es krim aja,gimana?"


Ifa mengangguk semangat.Sudah lama sekali dia tidak makan es krim,apalagi barengan dengan Rozy.Es krim yang rasanya manis akan bertambah manis jika dinikmati bersama orang tampan.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju eskalator di Mall ini.


"Rozy kenapa kita ga naik lift aja?ga seru ah..naik eskalator."


Rozy hanya diam dengan mata yang fokus ke depan tanpa menjawab pertanyaan Ifa.Saat mereka sedang naik eskalator,bersamaan dengan itu,sebuah badut berpakaian doraemon juga ikut menuruni eskalator.


Rozy sangat ingat bahwa gadis bernama Ifa itu sangat tergila-gila dengan yang namanya doraemon.Jangan sampai,gadis itu melihat badut Doraemon tersebut.Jika sampai dia melihatnya,maka gadis itu akan berteriak histeris dan langsung memeluk badut tersebut.


Oh...Rozy sangat tidak rela lillahita'ala


"Rozy...jawab pertanyaan Ifa,kenapa kita naik eskalator??"


Rozy langsung memeluk Ifa dan menyembunyikan kepala gadis itu di balik jaket coklat miliknya.


"Gue mau peluk lo kayak gini,makanya gue milih eskalator." Alibi Rozy.


Sebenarnya,alasan utama Rozy memeluk Ifa adalah karena badut sialan itu.


Setelah sampai di lantai tiga Mall tersebut,Rozy segera melepas pelukannya.Dan untung saja,badut tersebut berlawanan arah dengannya.


Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam sebuah toko es krim.Rozy kemudian memesan banana split dan blueberry ice cream sunday.


Mereka lalu memilih bangku yang terasa cocok.Sembari menunggu pesanan datang,Ifa mengajak Rozy untuk foto bareng.


"Rozy...kita foto yuk,sekalian post di Instagram."


Rozy lalu mengangguk.


Mereka lalu mengabadikan momen mereka dengan ponsel milik Ifa.


Cekrek.


Terlihat hasil foto yang bagus di ponsel Ifa.Dengan senang hati,gadis itu langsung mempostingnya di Instagram.


"Fa,gue ke toilet sebentar ya."


Ifa menganggukkan kepalanya tanpa menatap Rozy karena fokus dengan ponselnya.


Rozy bangkit dan pergi meninggalkan Ifa menuju toilet.


"Aaah...Rozy kok ganteng banget.."


Banyak komentar yang langsung masuk memenuhi notifikasi Instagram Ifa.



ifaarks_ ZYFA💙


zarasyaquila waw...ngedate woii


dheaanstya cieeeeee ada yang lagi mojok uiik


zarasyaquila @dheaanstya lo kapan mojok kek gini?🤔


dheaanstya @zarasyaquila entahlah 😔


kvintayo11 @dheaanstya mojok yuk 😘


dheaanstya @kvintayo11 ogah gue 😕


kvntayo11 @dheaanstya kok ogah yang 😫


zarasyaquila @dheaanstya @kvntayo11 astaga kok gue berasa kek nyamuk


andraelvando @zarasyaquila ada gue kok


Ifa hanya geleng-geleng kepala menatap isi komentar dari teman-temannya itu.Banyak juga DM dari ketiga temannya yang kesal karena Ifa tidak mengajaknya makan ice cream.


Takk..


Karena saking sibuknya dengan ponsel di tangannya,gadis itu tidak menyadari bahwa tasnya terjatuh.


Seseorang tiba-tiba saja berhenti di depan tas Ifa yang terjatuh tersebut dan segera mengambilnya.Dia lalu meletakkan tas tersebut di atas meja,tepat di hadapan Ifa.


Ifa langsung tersadar dan menoleh ke arah seorang pria jangkung dengan masker yang menutupi wajahnya.


"Makasih ya..." Ucap Ifa sambil tersenyum manis.


Pria itu hanya mengangguk.Entah dia juga ikut tersenyum atau tidak karena dia memakai masker.


Pria itu segera melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju meja kasir untuk membayar pesanannya.


Rozy juga sudah kembali dari toilet dan langsung duduk berhadapan dengan pacarnya.


Ifa memperlihatkan komentar dan DM dari teman-temannya kepada Rozy membuat Rozy juga ikut tertawa melihatnya.


Pria dengan masker tadi memperhatikan apa saja yang dilakukan kedua pasangan tersebut.Hingga,suara mbak-mbak kasir tersebut menghentikan aktivitasnya.


"Totalnya tiga puluh dua ribu mas."


Pria itu mengeluarkan lembaran uang lima puluh ribu dan menyerahkannya kepada mbak kasir.Sembari menunggu uang kembalian,pria tersebut kemudian membuka maskernya dan menatap Ifa.


Dia lalu tersenyum ke arah gadis itu.


"Arizka Ifa Nurlia.." Gumam pria tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hallo..hallo..


Wah...siapa ya sosok BFF itu?kenapa dia tega bikin teror kayak gitu ya?


Lalu siapakah sosok lelaki bermasker itu??


Penasaran??


Tetap stay dan tunggu kelanjutan part selanjutnya.


Ig : @afifahifhh

__ADS_1


#happyreading


__ADS_2