My Crazy Girl

My Crazy Girl
Rara's Secret Admirer


__ADS_3

Andra berlari tergesa-gesa menuju kelasnya yang berada di lantai 2.Hari ini ada PR kimia yang harus dikumpul tepat waktu.Jika tidak,maka guru mata pelajaran tersebut akan memberikan nilai minus.


Tepat pada pukul 6 pagi,Andra memasuki kelasnya yang kosong tidak berpenghuni.


Ehem..ralat,satu-satunya penghuni kelas tersebut adalah Tuan Rozy Yudha.


"Wuaaajiirr,lo ngapain datang pagi-pagi begini?" Tanya Andra sambil meletakkan tasnya di atas meja.


Rozy menatap Andra sekilas.Satu detik kemudian,dia kembali membaca bukunya.


Andra mengacak-acak isi tasnya berusaha menemukan buku latihan kimianya yang bersampul ungu.Setelah berhasil menemukannya,Andra mulai mengerjakannya dengan konsentrasi.


Sebenarnya,Andra termasuk murid yang pintar di kelas,terlebih di mata pelajaran kimia.


Namun,karena sifat malas dan usilnya itu membuat guru-guru kewalahan menghadapinya.


"PR itu dikerjain di rumah,bukan di sekolah,lo nggak tau kepanjangan dari PR apa?" Tanya Rozy tanpa menatap Andra.


"Rozy...gue tau PR itu adalah pekerjaan rumah,tapi inget juga sekolah itu adalah rumah kedua kita,jadi nggak salah dong kalau gue ngerjain pr di sekolah?"


Rozy hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Andra.


Sebenarnya,bila dikaji ulang kembali,apa yang dikatakan Andra sepenuhnya tidak salah.


Sekolah merupakan rumah kedua bagi para murid.Jadi,apa salahnya mereka membuat PR di sekolah?iya kan?


"Bodo amat gue." Ucap Rozy.


Menit demi menit pun semakin berlalu,begitu pun soal yang dikerjakan oleh Andra satu per satu pun selesai.


Tepat pada pukul 06.30 Andra dapat menyelesaikan semua PR-nya dengan baik dan hasil usaha sendiri.Dan saat itu juga,Taufan datang dan menghampiri kedua temannya itu.


"Wah,tumben banget lo datang pagi-pagi buta Ndra,kesambet apaan lo?" Tanya Taufan sembari duduk menghadap Rozy dan Andra.


"Giliran gue rajin kalian pada syirik,coba pas gue lagi malesnya untuk belajar,kalian pada ceramahin gue,ah..kalian nggak asik." Andra lalu beralih pada game di ponselnya.


"Gitu aja ngambek lo,kayak cewek PMS aja.."


Sedangkan Rozy hanya diam mendengar kedua temannya itu bertengkar.Toh,sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Rozy.


Taufan menatap Rozy yang masih setia membaca buku fisika kuantum yang melihat sampulnya saja membuat kepala Taufan ingin meledak.


"Zy..udah,jangan kasih otak lo beban terus dong."


"Gue ga kasih beban."


"Hadeeehh,ribet banget sih jadi lo,baca buku melulu,otak lo kan udah encer,ngapain masih baca buku." Tambah Andra ikut merinding menatap buku yang sedang dibaca Rozy.


Rozy lalu menutup bukunya.


"Buku itu jembatan ilmu,karena bukulah manusia bisa menciptakan berbagai macam teknologi seperti sekarang ini,jadi membaca buku bukanlah suatu beban untuk otak melainkan latihan untuk otak agar semakin berkembang."


Andra hanya bisa menelan salivanya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Rozy begitupun dengan Taufan.


Andra jadi sangat penasaran dengan Ifa,kenapa gadis itu sangat tergila-gilanya dengan Rozy.


Rozy,pria dingin dan pecinta buku-buku bertema fisika itu entah kenapa bisa begitu membuat para gadis terpesona.


Padahal masih banyak pria hangat dan romantis di luar sana untuk mereka.


Apa karena Rozy tampan?makanya banyak gadis rela antri untuk mendapatkan hati pria itu.


Andai saja Andra setampan Rozy, mungkin Rara akan langsung jatuh cinta kepadanya.


"Zy..fan.."


"Hmm.."


"Apaan?"


"Menurut kalian,gue ini pantas nggak dapetin hati Rara?ya secara lo pada tau kan gue nggak setampan kalian berdua."


"Kalau lo tulus sama seseorang dan sebaliknya seseorang itu tulus kepada lo,dia akan nerima lo apa adanya,kalau soal kecantikan atau ketampanan itu hanya soal bonus." Ucap Taufan sambil menepuk bahu Andra.


"Lo tulus sama Rara?" Tanya Rozy.


Andra terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan dari Rozy.


"Andra,gue tau lo selama ini udah perjuangin Rara semampu yang lo bisa,dan gue lihat itu bahkan hampir tiap hari lo kasih Rara coklat dan bunga."


"Dan hampir tiap hari juga,dua barang itu masuk tong sampah." Tambah Rozy membuat hati Andra semakin remuk mendengarnya.


"Mending lo tanya sama hati lo Ndra,lo ingin berjuang atau memilih mundur?"


Andra terdiam sejenak.Dia sangat menyayangi gadis yang bernama Rara tersebut.Bahkan dia rela melakukan apa saja asal gadis itu selalu bahagia walaupun hatinya harus menjadi korban.


Memang cinta akan membuat seseorang buta akan segalanya.


"Gue bingung." Jawab Andra.


Taufan lalu tersenyum sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Kantin aja yuk,gue laper nih."


"Terus masalah hati gue gimana?"


"Nanti aja dipikirin,Zy..lo mau ikut?"


Rozy lalu menggelengkan kepalanya.Dia masih fokus membaca buku fisikanya itu.


Taufan lalu keluar bersama Andra menyisakan Rozy dan beberapa murid lainnya yang telah datang di dalam kelas.


Rozy melirik arloji miliknya yang telah menunjukkan pukul 6.45.


Kenapa gadis gilanya itu belum datang ke kelasnya?Apa dia sakit?


Rozy lalu mengecek WhatsApp miliknya yang sejak semalam tidak dia buka.



"Dia sakit?"


Rozy berniat ingin menelfon Ifa saat ini,tapi dia urungkan.Mungkin Ifa masih marah saat ini padanya karena tidak membalas pesannya semalam.


Tapi,jika Rozy tidak menelfonnya, Ifa akan semakin marah kepadanya.Rozy kemudian berpikir keras apa yang harus dilakukannya saat ini.Apakah menelfon Ifa atau membiarkan gadis itu tenang dulu baru dia telfon?


Ahh..Rozy sangat bingung sekarang ini.


Tidak ada pilihan lain lagi,Rozy harus menelfon Ifa saat ini apapun resikonya.


Rozy lalu mencari kontak Ifa dan langsung menekan tombol telfon.


Satu detik kemudian,panggilan tersambung.


"Assalamu'alaikum Rozy.."


Suara seorang wanita lain yang diyakini Rozy adalah mamanya Ifa.


"Wa..waalaikumsalam tan.."


"Aduh,kamu kok romantis banget jadi pacar anak tante."


Rozy tidak tau bagaimana cara menanggapi ucapan Ranti barusan.Dia hanya memilih tertawa hambar dan menunggu respon Ranti berikutnya.


"Begini nak Rozy,Ifa itu kemarin habis latihan renang kan sama kamu?nah pulang dari kolam itu badannya panas banget.."


"Apa karena saya,Ifa jadi sakit tan?kemarin saya memaksanya untuk latihan." Tanya Rozy merasa bersalah.


"Ya nggaklah Rozy,sakit iu udah takdir dari tuhan,tidak ada yang salah di sini."


"Iya tante,terus gimana kondisi Ifa sekarang."


"Alhamdulillah udah lebih baik,sekarang dia lagi tidur."


Rozy bernafas lega setelah mendengar kondisi Ifa saat ini.Syukurlah gadisnya itu baik-baik saja sekarang.Rozy tidak akan memaafkan dirinya sendiri,jika Ifa sampai sakit parah.


"Makasih tan,Rozy nanti akan ke sana,tapi jangan beritahu Ifa ya tan."


Entah bisikan dari mana,Rozy tiba-tiba saja mengatakan hal tersebut kepada Ranti.


"Iya Rozy,tante tunggu ya nak,Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam tan."


Sambungan pun terputus menandakan panggilan telah berakhir.


Rozy kemudian meletakkan ponselnya ke atas meja.Ya..untuk hari ini,hari-hari Rozy akan membosankan karena tidak ada gadis gila yang akan mengganggunya dari pagi sampai siang,tidak ada lagi gadis gila yang membawakannya bekal kue coklat,tidak ada lagi gadis gila yang selalu bercerita tentang doraemon,dan tidak ada lagi gadis gila yang hobi menatap Rozy setiap saat.


Ingin rasanya Rozy bolos saat ini hanya untuk bisa bertemu Ifa di rumahnya.Namun,Rozy tidaklah sebucin itu sampai harus mengorbankan sekolahnya hanya demi pacarnya.Ifa pun pasti tidak suka kalau Rozy bolos sekolah hanya karena dirinya.


Rozy lalu membuka galeri ponselnya yang hanya dipenuhi oleh foto-foto milik Ifa.Rozy menatap salah satu dari foto-foto tersebut yang diambilnya saat mereka sedang makan di sebuah kafe.



"Lo operasi plastik ya?"


"Kok bisa secantik ini?"


Rozy tersenyum sambil menahan rasa rindunya pada Ifa.Belum sampai satu hari Rozy tidak bertemu dengan Ifa,rasa rindunya tersebut seperti orang yang tidak bertemu selama 1 tahun lebih.


"Gue kangen sama lo,my crazy girlfriend..."


☁☁☁


Andra menyeruput jus mangga miliknya sambil berpikir keras bagaimana cara mendapatkan hati Rara yang semakin lama semakin membeku.


"Vin,kasih gue solusi dong..katanya lo sang ahli cinta."


"Lo tanya sama Kevin soal cinta?Dhea aja nggak bisa dia dapetin,ini malah lo bertanya pada kecebong ini." Ucap Taufan membuat Kevin tersedak bakso miliknya.


"Dhea itu mah lebih milih si Aldo bau ketek itu daripada gue,padahal nih ya gue itu lebih wangi dari bunga mawar."


"Sewangi bunga kembang sepatu,nah itu baru cocok buat lo."


Andra dan Taufan lalu bertos ria setelah berhasil memojokkan Kevin bersama.Mereka berdua tertawa bersama melihat ekspresi wajah dari Kevin saat ini.


"Kalian ngapain tertawa?"


Rozy yang baru saja datang membawa semangkok nasi goreng miliknya bingung melihat dua orang temannya tertawa sedangkan yang satunya lagi seperti orang yang sedang tertimpa musibah.


"Akhirnya,babang Ozy pun datang,mereka itu loh babang cari gara-gara,dedek kan jadi sedih."


"Jijik juga gue denger omongan lo ya Kevin." Ucap Andra dengan kesal lalu melempar Kevin dengan tisu di sampingnya.


"Emang ada apaan sih?"


"Masa iya nih,si Andra minta saran Kevin buat dapetin hati Rara." Jelas Taufan Sambil berusaha menahan tawanya.


"Gue yakin,lo bakal bernasib sama seperti Kevin kalo lo minta saran dari dia."


Taufan dan Andra kemudian bertos lagi menandakan mereka menang dan Kevin kalah.


"Ya ampun,tega banget kalian semua ya..entah apa salah dan dosanya Kevin ya allah.."


"Eh Kevin,lo berdoa aja,mungkin suatu saat nanti ada tuh cewek yang lebih baik dari Dhea dan nerima lo apa adanya."


"Ya syukur kalo ada,kalo nggak?"


"Eh babon Amerika,lo syirik amat sama hidup gue,urus aja sono masalah cinta lo yang nggak kelar-kelar kayak virus corona."


"Gue nggak denger." Ucap Andra sambil menutup kedua kupingnya.


"Gue doain lo bener-bener bude'."


"Eh udah,kenapa kalian jadi bertengkar kayak cewek sih?"


Rozy lalu menatap Andra dan Kevin yang sedang merajuk satu sama lain seperti kebanyakan perempuan.Rozy hanya bisa mengangkat bahu acuh melihatnya.


"Tuh ada Dhea,dia lagi sendirian tuh,lebih baik lo minta saran darinya deh,dia kan sahabat Rara,jadi dia lebih tau apa yang harus lo lakukan." Saran Taufan sambil menunjuk Dhea dengan dagunya.


Andra langsung bangkit dan segera menuju ke tempat Dhea yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang.


"Eh Vin,lo beneran nyerah sama Dhea?"

__ADS_1


"Mungkin,ya gue nggak berminat juga ngejar cewek saat ini."


"Jadi,minat lo apaan sekarang?"


"Minat gue?"


Taufan lalu menganggukkan kepalanya.


"Godain si Ipeh dong!!!!"


Taufan dan Rozy hanya bisa berdoa semoga Ipeh baik-baik saja dan selalu tabah menghadapi makhluk macam Kevin.


Di lain sisi..


"Gue boleh duduk di sini?" Tanya Andra.


Dhea lalu menatap Andra dan tersenyum padanya.


"Boleh."


Andra lalu duduk menghadap Dhea.Dia sedikit bingung memilih topik pembicaraan untuk memulai percakapan dengan Dhea.Tidak mungkinkan dia langsung bertanya perihal Rara pada Dhea.


"Lo sama Aldo udah jalan berapa bulan?" Tanya Andra membuat Dhea langsung tertawa.


"Lo kenapa tertawa?"


"Maaf,ya..lucu aja,lo tiba-tiba nanyain gue sama Aldo."


"Ya..Aldo kan temen gue juga." Ucap Andra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Andra..Andra,lo sebenernya mau nanyain Rara kan ke gue?" Tanya Dhea sambil mengangkat satu alisnya.


Andra lalu tersedak salivanya sendiri mendengar pertanyaan dari Dhea.Dia lalu menganggukkan kepala bersemangat.


"Lo mau nanya apa?"


"Gue bingung,Rara itu sebenernya suka atau nggak sama gue,ya lo sebagai sahabatnya pasti tau kan?"


Dhea sekali lagi tertawa membuat Andra semakin bingung,apa pertanyaannya barusan terdengar konyol?


"Andra,Rara itu nggak sama seperti Ifa yang apabila dia suka sama cowok terus dia kasih tau ke kita,Rara itu gengsi banget kalo bilang dia suka sama seseorang."


"Jadi,selama ini dia nggak bilang ke kalian siapa saja yang pernah dia suka?"


"Nggak sih,tapi dari sikap dia itu,kita bertiga bisa nilai,apakah dia itu suka sama cowok itu atau tidak."


"Jadi,menurut lo sikap dia ke gue gimana?"


Dhea lalu menatap Andra sambil mengulas senyuman.


"Kalau menurut sisi pandang gue,Rara itu sepertinya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu,ya sesuatu itu berhubungan dengan lo Ndra."


"Apa?'


"Gue nggak bisa kasih tau lo Ndra,lo harus cari tau sendiri."


"Tapi,kenapa?Kenapa nggak lo kasih tau aja sekarang?"


"Kalo lo beneran sayang sama Rara,lo harus berjuang juga,memang banyak rintangannya Andra tapi coba lo lihat Ifa dan Rozy."


Apa yang dikatakan Dhea sepenuhnya tidak salah.Di dalam hal ini yang paling berperan besar adalah perjuangan oleh hati.


"Lo juga harus cari tau juga barang kesukaan Rara sebelum lo kasih sesuatu ke dia."


Andra mengernyitkan dahinya bingung.


"Gue kasih dia coklat setiap hari,bahkan bunga."


"Andra..nggak semua cewek suka itu."


Andra mematung sejenak.Jadi,selama ini dia salah.Dia malah memberikan Rara barang yang sama sekali tidak disukai oleh Rara.


"Jadi,Rara suka apa?"


"Sini gue bisikin."


Dhea lalu membisikkan sesuatu ke telinga Andra.


"Oh..jadi itu?"


Dhea menganggukkan kepalanya.


"Makasih Dhea,gue doain lo dan Aldo langgeng sampai nenek-kakek."


"Jadian aja belum."


"Gue cabut dulu."


Andra dengan secepat kilat berlari keluar kantin.Dia tidak sabar lagi untuk melakukan saran yang diberikan Dhea untuknya barusan.


"Good Luck Andra." Teriak Dhea sambil melambaikan tangannya.


☁☁☁


Rara menghapus bekas air matanya dengan sebuah tisu.Drama korea yang barusan dia tonton sungguh menguras air matanya.


"Mereka itu cuma akting,dan lo malah nangis karena itu." Ucap Putri yang sedang mengetik proposal di laptopnya.


"Baper gue Put,gue kan pengen juga dikasih puisi cinta oleh oppa..kyaaa.." Histeris Rara sambil menarik lengan Putri.


"Ifa nggak hadir,dan sekarang lo mau gantiin dia jadi wanita gila di sekolah?"


"Ya,gue nggak segila Ifa juga kali."


"Gue mau jenguk Ifa nanti sore,jadi nanti pulang sekolah kita beli buah dulu untuk Ifa."


"Yee,nggak sabar gue pengen cerita sama Ifa episode kali ini,kan emang cuma dia yang mau dengerin gue,nggak kayak pacarnya si Taufan ini."


"Siapa maksud lo?"


"Ciee,lo ngerasa ya kalau lo pacar Taufan?ciee ketahuan kalau Putri suka sama Taufan."


Putri lalu mencubit lengan Rara membuat gadis itu mengaduh kesakitan sambil tertawa melihat Putri yang salah tingkah.


Rara lalu menepuk jidatnya.


"Gue tinggalin di loker gue."


Putri kemudian menghembuskan nafasnya kasar.


"Cepet ambil,tinggal latar belakang aja,proposal kelompok kita udah bisa gue prin."


"Iya zheyeng.."


Rara segera bergegas menuju lokernya daripada siput keong itu marah besar kepadanya.Jika Putri telah marah besar,maka dapat dipastikan nama Rara akan dicoret di dalam Proposal kelompok.Dan hal itu tidak boleh terjadi.


Setelah sampai di depan loker miliknya,Rara kemudian mengambil kunci loker dan membukanya.


"Untung gue nggak lupa bawa kuncinya."


Rara kemudian mematung sejenak melihat ada setangkai mawar putih di dalam loker miliknya.Jujur,dari sekian bunga,dia sangat menyukai mawar putih.


Rara lalu mengambil mawar putih tersebut.Senyuman indah langsung terukir di wajah cantiknya saat melihat mawar kesukaannya tersebut.


Selain mawar,juga ada sebuah surat di sana.


"Apa gue punya pengagum rahasia?"


Rara lalu membuka surat tanpa identitas pengirim itu,dan membaca isi surat tersebut.


Hai Bintangku..


Kenapa aku menganggapmu sebagai bintang?Karena aku hanya bisa mengagumimu dari jauh,aku tidak bisa memilikimu karena kamu begitu jauh dariku.Aku hanya bisa mengagumimu dalam diam,utuh tak tersentuh seperti halnya mentari yang menyapa bunga-bunga yang sedang bermekaran.Kamu bintang yang paling indah yang pernah aku temui,bintang yang paling bersinar di seluruh jagat raya.Bintang itu bernama Zara Syaquila.


Rara membekap mulutnya berusaha untuk tidak berteriak.Jujur,dia sangat terharu dengan surat tersebut.Jadi,selama ini dia punya pengagum rahasia.Rara sangat senang saat ini.


"Woi.."


Seseorang tiba-tiba mengagetkan Rara membuat surat beserta bunga mawar itu jatuh ke lantai.


"Widiih,lo punya secret admirer Ra?" Tanya Dhea menatap surat dan bunga mawar tersebut tidak percaya.


"Seperti yang lo lihat." Ucap Rara sambil memungut surat dan bunga mawar yang jatuh ke lantai.


"Ya ampun Rara,nasib Andra gimana?Jangan bilang kalau lo mau campakin Andra begitu aja?"


Rara menghembuskan nafasnya kasar mendengar Dhea menyebut nama Andra.Baru saja dia bahagia,dan sekarang Dhea malah menghancurkan hatinya yang sedang bahagia tersebut.


"Gue nggak peduli sama dia." Ucap Rara sambil mengambil kertas coretan yang berisi latar belakang proposal yang diminta Putri tadi.


"Ya ampun,lo kok kejam amat sih Ra?"


"Masalahnya gue itu memang nggak suka sama dia!" Ucap Rara sedikit berteriak karena kesal.


Rara lalu mengunci kembali lokernya dan langsung pergi menuju kelasnya.


"Ra..tunggu,ya ampun."


Dhea lalu menyusul Rara yang sedang kesal itu.Jujur,Dhea kasihan dengan Andra.Dia tau Andra itu sayang kepada Rara.Tapi,Rara malah menyia-nyiakan orang yang tulus kepadanya hanya demi si pengagum rahasia yang tidak jelas asal-usulnya.Ya,bisa saja si pengagum rahasia ini cuma mau mempermainkan hati Rara saja.


"Ra.."


"Dhe..lo nggak bisa paksa gue buat suka sama Andra,kalau lo memang peduli pada Andra,pacaran aja sama Andra."


Dhea lalu memukul lengan Rara dan menunjuk ke arah belakang Rara.Dia lalu menoleh ke belakang dan melihat Andra dan sebuah kotak di tangannya.


"Andra cukup deh,gue itu sekarang udah punya doi gue sendiri,surat dan bunga ini buktinya."


Andra lalu menatap sendu bunga dan surat di tangan Rara tersebut.


"Gue mau kasih ini sama lo."


Andra lalu memberikan sebuah kotak kepada Rara.Hal tersebut membuat Rara mengernyitkan dahinya bingung.Biasanya Andra selalu memberikannya coklat atau bunga,tapi sekarang sebuah kotak yang entah apa isinya.


"Gue pergi dulu."


Andra lalu melangkah pergi meninggalkan Rara dan Dhea.Sungguh,hatinya sangat teriris saat ini.


"Ra...gue cuma nggak mau lo nyesel di kemudian hari karena nyia-nyiain orang yang berjuang dengan tulus pada lo,gue cuma nggak mau liat lo sedih Ra."


Rara lalu menatap kotak yang diberikan Andra tadi.Dia lalu membukanya,dan di dalamnya terdapat sebuah kotak musik yang cantik.


Kotak musik adalah benda yang paling disukai Rara karena benda tersebut merupakan benda yang pertama kali diberikan kedua orang tuanya sebagai hadiah ulang tahun Rara yang pertama.


"Dia rela beliin ini untuk lo,sampai dia harus cabut secara diam-diam tadi."


"Lo kok bisa.."


"Andra itu baik Ra,jangan lukai hatinya,lo boleh nggak suka sama Andra,tapi jangan sampai lo tega nyakitin hatinya Ra."


Dhea lalu menepuk bahu Rara,dan melangkah masuk ke dalam kelasnya.


Sedangkan Rara seketika mematung.Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.Rara segera menghapusnya.


"Kenapa juga gue menangis untuk dia?"


Rara tidak mau ambil pusing dengan masalah ini.Dia lalu ikut menyusul Dhea masuk ke dalam kelas karena adalah masalah yang lebih serius untuk ditangani saat ini.


"YA AMPUN RARA,PROPOSAL KITA GIMANA JADINYA INI?"


☁☁☁


Ifa memeluk boneka beruang miliknya sambil menatap jam di dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.


"Fa,lo ngapain sih dari tadi?kek orang kebelet BAB aja." Tanya Dhea sambil menatap Ifa bingung.


"Ifa lagi nunggu Rozy buat dateng jengukin Ifa." Jawab Ifa dengan tatapan sendu.


"Lo kan tau kalau Rozy lagi belajar buat olimpiade minggu depan."


"Tapi kan,Ifa pengen Rozy di sini,chat dari Ifa semalem pun nggak dibalas."


"Telfon?" Tanya Rara sambil memasukkan chip kentang ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Huaaa....nggak." Jawab Ifa sambil melempar boneka beruang miliknya.


Tok..Tok...Tok..


Semua menatap ke arah pintu kamar Ifa.


"Biar gue yang bukain."


Rara lalu berdiri dan membuka pintu kamar Ifa.


Setelah pintu terbuka,muncullah sesosok laki-laki yang sejak tadi ditunggu oleh Ifa.


"Akhirnya lo dateng,tuh princess cinderella lo udah nunggu dari tadi." Ucap Rara dan hanya ditanggapi Rozy dengan senyum tipis.


"Pangeran lo dateng tuh bawa sepatu kaca." Bisik Rara pada Ifa.


Ifa menatap Rozy yang sedang tersenyum padanya sambil membawa sesuatu di dalam kantong plastik yang sedang dipegangnya.


"Guys,kita keluar yuk daripada jadi nyamuk." Ucap Putri.


Mereka bertiga lalu pergi dari kamar Ifa menyisakan Rozy dan Ifa di sana.


Rozy kemudian beranjak duduk di ujung ranjang milik Ifa.


"Maaf kemarin gue lagi belajar jadinya nggak bisa bales chat dari lo."


Ifa lalu menatap wajah Rozy lalu tersenyum.


"Rozy udah jenguk Ifa saat ini aja udah bikin Ifa bahagia kok,nggak penting dengan apa yang terjadi kemarin."


Rozy lalu menatap wajah Ifa yang sedikit pucat.Dia menjadi sangat bersalah karena mengajak Ifa latihan berenang kemarin.


"Maaf,gara-gara gue lo jadi sakit."


"Rozy kok ngomong kayak gitu?Ini semua bukan salah Rozy kok,Ifa itu memang suka sakit aja."


Rozy lalu tersenyum sambil meletakkan buah yang dibelinya tadi untuk Ifa di atas nakas.


"Rozy.."


"Hmm.."


"Ifa boleh nggak bersandar di bahu Rozy,kek film Cina yang judulnya put your head on my shoulder itu?"


"Lo suka nonton drama Cina?"


"Nggak juga,kadang Rara yang suka cerita."


Rozy lalu menganggukkan kepalanya.


Ifa dengan semangat menyandarkan kepalanya pada bahu Rozy.Sedangkan Rozy,mendekap tubuh gadis itu meluapkan rasa rindunya karena tidak bertemu di sekolah.


"Rozy.."


"Hmmm.."


"Rozy,sesayang apa sama Ifa?"


"Maksudnya?"


"Rozy itu sayangnya sama Ifa itu melebihi apa?"


"Nggak tau."


Demi apapun itu,ingin rasanya Ifa mengubur pria ini hidup-hidup sekarang ya tuhan!


"Rozy mah..bikin kesel aja." Ucap Ifa sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada.


"Lo kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa?"


"Marah?"


"Nggak.."


"Mau buah?"


"Nggak..maunya Rozy peka sama Ifa."


Rozy sekarang benar-benar bingung bagaimana cara menghadapi makhluk semacam Ifa ini.


Rozy lalu mengambil apel yang dibelikannya untuk Ifa.


"Nih makan,supaya lo cepet sembuh."


Ifa lalu mengambil apel tersebut dari tangan Rozy dengan semangat.


Rasa kesalnya sekarang hilang berkat apel merah tersebut.


Ifa kemudian teringat sesuatu,sebuah ide jahil tiba-tiba muncul dalam benak Ifa.


"Lo ngapain senyum sendiri,udah gila?"


Ifa lalu menatap Rozy dan tiba-tiba saja Ifa mengecup pipi Rozy membuat pria itu kaget setengah mati.


"Ifa.."


"Cieee...muka Rozy merah tuh."


Rozy lalu menyentuh pipinya sendiri yang sedikit memanas akibat ulah pacarnya itu.


"Rozy tau hari ini hari apa?" Tanya Ifa membuat Rozy semakin jantungan.


Rozy lalu menatap kalender yang terpasang di dinding kamar Ifa.


3 Maret


Hari apa ini?Rozy sama sekali tidak tau hari ini hari apa.


"Hari ini adalah hari dimana Ifa bertemu Rozy untuk pertama kalinya."


Rozy lalu menatap Ifa yang sedang tersenyum padanya.


"Jadi,Ifa tetapkan hari ini adalah hari spesial."


"Yang tadi itu hadiah Ifa untuk Rozy."


"Yang mana?" Goda Rozy.


"Ifa kan udah cium Rozy kan?"


Rozy kembali tersenyum.


"Gue maunya di sini." Ucap Rozy sambil menunjuk bibirnya.


Ifa langsung memukul Rozy dengan bantal di sampingnya.


"Nggak boleh!nikahin Ifa dulu."


Sekarang,giliran Rozy yang memukul Ifa dengan bantal.


Selain gila,otak gadis ini sungguh tidak normal.Tapi entah kenapa,Ifa memiliki kemampuan yang lebih dalam bidang yang mengerikan pula,ya..Fisika.


Coba bayangkan gadis yang sifatnya sangat gila dan kurang waras,ternyata olimpiade fisika.


What do you think?


"Hadiah untuk Ifa mana?"


"Lo yakin mau hadiah dari gue?"


Ifa segera menganggukkan kepalanya bersemangat.


Rozy lalu mengambil tas miliknya dan mengambil sebuah buku catatan dari dalam tas tersebut.


"Nih hadiah dari gue,catatan olimpiade fisika supaya lo dan gue bisa menang."


Ifa langsung mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ifa kirain boneka doraemon."


"Lo suka amat sih sama doraemon."


"Suka dong,tapi yang paling Ifa suka itu Rozy."


Rozy lalu menatap Ifa yang sedang semangat menceritakan film doraemon yang lusa kemarin ditontonnya.


Ya...sebagai pacar yang baik Rozy harus senantiasa mendengarkan semua cerita Ifa tentang doraemon,drama cina,ataupun drama korea.


"Untung gue orang sabar." Batin Rozy


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


FOLLOW IG AKU YA,NANTI DIFOLLOWBACK KOK,OKE


@afifahifhh


@mycrazygirl_

__ADS_1


#happyreading


__ADS_2