My Crazy Girl

My Crazy Girl
Lukisan


__ADS_3

Ifa memasukkan seluruh peralatan tulisnya ke dalam ransel warna pink kesukaannya.Mulai hari ini sampai satu minggu ke depannya dia akan mengikuti pelatihan Olimpiade mandiri di sekolahnya.Hal tersebut dikarenakan Olimpiade Sains akan berlangsung pada minggu depan.


"Fa,apa otak lo nggak panas ngelihat rumus-rumus fisika?" Tanya Dhea yang duduk di belakang Ifa.


"Kalau ada Rozy,otak Ifa nggak akan panas."


"Ya elah otak lo dipenuhi oleh Rozy aja,bisa ngak sih sehari aja lo nggak nyebutin Rozy?Kuping gue rasa mau terbakar dengar nama Rozy." Ucap Rara sambil menutup novelnya kesal.


"Oke..Ifa coba lupain Rozy."


Ifa lalu menutup kedua matanya sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.Hal tersebut membuat Dhea dan Rara bingung dengan tingkah aneh bocah bucin itu.


"Lah lo kenapa wati?" Tanya Dhea sambil menyentuh jidat Ifa.


Ifa kemudian membuka matanya.Dia lalu melotot ke arah Dhea membuat Dhea menjadi merinding.


Entah apa yang merasuki Ifa!


"Ihh...Ifa itu nggak bisa lupain Rozy,malahan Ifa semakin cinta sama Rozy."


"Sudah ah,pergi lo sana,katanya lo mau pelatihan,Putri aja udah dari tadi pergi ke labor kimia."


Ifa lalu memajukan bibirnya cemburut.


"Iya..Ifa juga mau pergi."


Ifa lalu menyandang tas ranselnya dan mulai melangkah keluar dari kelasnya.Namun,langkahnya seketika terhenti saat Dhea memangilnya.


"Fa,hati-hati sama Nabila,dia kan ikutan juga."


Ifa membelalakkan matanya mendengar ucapan Dhea barusan.Kenapa dia sampai lupa dengan gadis bernama Nabila tersebut.Ya walaupun Ifa sekarang sudah resmi berpacaran dengan Rozy,tapi tetap saja dia harus waspada.


Bisa saja gadis itu mencuri kesempatan di saat Ifa tidak bersama Rozy.Ifa harus bergerak secepat mungkin.Dia tidak akan pernah rela lillahi ta'ala jika gadis itu berani merebut Rozy darinya.


Dengan secepat kilat,Ifa berlari menuju laboratorium fisika.Namun,sangat disayangkan sekali laboratorium fisika letaknya sangat jauh dari kelas Ifa.Dan untuk sampai ke sana Ifa membutuhkan waktu puluhan detik untuk sampai ke sana.


Dan awas saja kalau Nabila sampai mencari-cari perhatian Rozy,Ifa pastikan akan melempar Nabila ke dasar jurang terdalam di dunia.


Sret..


Akhirnya Ifa sampai di depan laboratorium fisika.


"Jangan sampai kalau Nabila..."


Ifa membulatkan matanya tidak percaya melihat pemandangan di depan matanya yang sungguh menyayat hatinya.Ifa melihat Rozy sedang tertawa bersama Nabila sambil menulis sesuatu di buku catatan miliknya.


Ya allah,kenapa Rozy setega ini kepada Ifa?


"Ehemm.."


Rozy dan Nabila lalu tersentak kaget.Mereka lalu menoleh ke arah Ifa yang sudah memasang tampang jutek.


"Lo kenapa telat?"


Ifa tidak menjawab pertanyaan Rozy.Gadis itu lalu mengambil duduk tepat di belakang Rozy dan Nabila.


"Kak Ifa mending duduk di depan aja,kan kita bisa samaan belajarnya." Ucap Nabila sambil tersenyum ramah kepada Ifa.


"Ifa di belakang aja,takut ganggu yang di depan."


Rozy seketika tersedak salivanya sendiri mendengar ucapan Ifa barusan.Rozy sangat paham..sangat paham kalau gadis itu sekarang sedang cemburu.


Nabila tidak tau harus bereaksi seperti apa lagi hanya memilih diam.Dia lalu memandangi Rozy dan Ifa secara bergantian.Mereka sepertinya sekarang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Rozy yang sibuk dengan soal di hadapannya dan Ifa yang tengah sibuk bermain ponsel.


"Selamat pagi."


Ketiga remaja tersebut sama-sama menoleh ke arah Bu Tuti yang membawa banyak sekali buku di tangannya.


"Oh iya hari ini kita mulai pelatihannya untuk satu minggu ke depan."


"Rozy dan Ifa,ibu yakin kalau persiapan kalian jauh lebih matang karena kalian sudah mengikuti pelatihan sebelumnya di Kota Bandung."


"Dan ibu harapkan kalian bisa membantu Nabila."


Membantu gadis itu?


Demi Lovato!Ifa sama sekali tidak sudi.


"Ifa,kenapa kamu duduk di belakang sana?"


Ifa lalu menatap Rozy yang saat ini juga sedang menatapnya.Ifa lalu tersenyum.


"Hehe..nggak apa-apa Bu Tuti,Ifa senang kok duduk di sini sekalian Ifa bisa mengawasi orang yang mau selingkuh di sini."


Rozy hanya menunduk sambil menahan dirinya untuk tidak marah kepada Ifa atas ucapan Ifa yang membuat dirinya malu saat ini.


"Haha,ya udah,sekarang kalian buka buku catatan kalian ya."


Bu Tuti lalu menulis satu soal di papan tulis.Ya soal tersebut bisa dikatakan sangat panjang.Untuk itu butuh beberapa menit untuk bisa menyelesaikannya di papan tulis.Sementara Bu Tuti menulis di papan,Rozy merasakan ada sesuatu yang aneh dari gadis yang duduk di belakangnya itu.


Entah ini hanya firasat saja atau memang gadis itu sedang menatap Rozy saat ini.Karena penasaran,Rozy lalu menolehkan kepalanya ke belakang.


"Astagfirullah."


Jantung Rozy hampir copot saat melihat gadis itu sedang melototkan matanya kepada Rozy.


"Awas saja Rozy sampai selingkuh." Bisik Ifa membuat Rozy geleng-geleng kepala.


Rozy kemudian kembali ke posisi awalnya menghadap ke arah Bu Tuti yang masih belum selesai menulis satu soal Olimpiade di depannya.


"Kak,kelihatannya ini soal Olimpiade tahun 2008 deh kak."


Nabila lalu melirik ke arah Rozy yang kelihatan sedang khawatir sambil memegang pundaknya.Apa dia sedang memikirkan gadis yang tengah melotot ke arahnya sekarang itu?


Nabila ingin rasanya tertawa melihat tingkah konyol yang dilakukan Ifa saat ini.Nabila tau bahwa Ifa pasti sedang mengawasi gerak-gerik Rozy dari belakang.


"Nah..kalian coba kerjakan dulu,ibu mau ke ruang guru sebentar."


"Baik bu." Jawab mereka bertiga serempak.


"Oh iya Ifa,coba kamu kerjakan di depan ya.Dan kalian berdua tolong koreksi jawaban Ifa."


Bu Tuti lalu segera pergi keluar dari laboratorium menuju ruang guru.Sementara itu,Ifa berjalan menuju ke papan tulis dan menuliskan jawaban dari soal yang diberikan oleh Bu Tuti.


Rozy menatap Ifa yang sedang fokus dengan soal tersebut sambil tersenyum tipis.Gadis itu memang sangat gila,bahkan gilanya itu membuat semua orang sakit jantung menghadapinya.Namun,dibalik sifat gilanya itu,dia adalah seorang gadis yang cerdas.


Semua orang dipastikan tidak akan percaya kalau gadis itu mampu menguasai salah satu bidang yang banyak dibenci oleh sembilan puluh persen siswa.


Ya..Fisika.


Tidak akan ada yang percaya otak gadis itu mampu menyerap rumus-rumus fisika yang banyaknya sungguh luar biasa.Selain itu,dalam olimpiade ini diperlukan juga analisa yang tepat untuk bisa menyelesaikannya.Dan gadis itu bisa menyelesaikannya.


Selain cantik,ternyata gadis tersebut juga cerdas.


Gadis idaman!


"Astagfirullah."


Rozy lalu tersentak dari lamunannya.Dengan segera,dia mengambil pulpen miliknya dan mulai mengerjakan soal yang diberikan Bu Tuti.


Tapi,entah kenapa saat melihat buku catatannya,terbayang wajah polos Ifa yang selalu minta diantar pulang oleh Rozy.


"Kak Rozy.."


"Iya Ifa."


Rozy langsung membekap mulutnya sendiri dan mengutuk dirinya sendiri yang sangat ceroboh.Alhasil sekarang Nabila menatap Rozy sambil menahan tawa.


Ifa yang mendengar suara gaduh di belakangnya lalu menolehkan kepalanya ke belakang.Dan untuk kedua kalinya Ifa melihat dua orang tersebut saling tertawa.


Jujur,Ifa sangat muak melihatnya.


Ifa lalu melempar spidol Bu Tuti ke atas meja dan segera melangkah menuju pintu keluar.


"Fa,lo mau kemana?Soal belum selesai lo kerjakan."


"Ifa mau cari udara segar,di dalam sesak."


Rozy lalu melempar pulpennya sembarang dan langsung menyusul Ifa.


Sedangkan Nabila,dia tidak tau harus bagaimana?


Jujur,hati Nabila juga ikutan perih saat ini.


Dia belum bisa melupakan Rozy.Tapi,melihat Rozy tersenyum tadi hanya karena memikirkan Ifa membuat Nabila juga ikut senang.


Cinta itu bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia.


Ya,itu adalah prinsip Nabila sekarang.


Nabila lalu memijat kepalanya yang mulai terasa sangat sakit.


Cairan berwarna merah lalu jatuh mengenai buku catatannya.Dengan segera,Nabila berlari keluar menuju toilet.


☁☁☁


Putri merutuki dirinya karena lupa membawa kalkulator ilmiah.Alhasil sekarang dia harus kembali ke kelas untuk mengambilnya.Putri saat ini tengah mengikuti pelatihan Olimpiade mandiri di sekolahnya dan dia ditunjuk mewakili sekolah pada bidang kimia.


Dulu,saat masih berada di SMA yang lama,Putri mengikuti olimpiade fisika sama seperti Ifa.Namun,Ifa lebih menonjol daripada dirinya.Untuk itu,Putri tidak lagi mengikuti Olimpiade Fisika.Namun,karena dia juga menguasai mata pelajaran Kimia.Bu Asri,selaku Pembina Olimpiade bidang kimia menunjuk Putri untuk mewakili sekolah mereka.


Saat dalam perjalanan menuju ke kelasnya,Putri tidak sengaja melihat seseorang yang sangat familiar baginya sedang berlari menuju taman belakang sekolah.


Dan dapat dipastikan lagi,siapa yang tengah berlari tersebut.


Satu-satunya orang yang berani mengunjungi taman belakang sekolah yang terkenal angker itu hanyalah Ifa!


Putri lalu ikut berlari menyusul gadis tersebut.Putri yakin telah terjadi sesuatu dengan Ifa dan itu pasti menyangkut hal tentang Rozy.Putri juga yakin kalau sahabatnya sekarang ini tengah menangis.


Dasar Bucin level 99+++++


Saat sampai di taman,Putri melihat gadis itu tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Terlihat bahu gadis tersebut gemetar,dan itu menandakan tebakan Putri tidak salah.


"Fa.."


Ifa lalu tersentak kaget dan menengadahkan kepalanya menatap Putri yang sedang berkacak pinggang.


"Ya ampun fa,lo ngapain di sini?Lo mau kena masalah dengan Bu Tuti?" Tanya Putri geram.


"Huaaa...Ifa ini sedang sedih jangan digituin kenapa sih?"


Putri lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.Dia harus ekstra sabar menghadapi kelakuan Ifa.


Entah kenapa Rozy bisa bertahan menghadapi kelakuan gadis ini yang hampir mirip dengan anak TK.Kalau Putri jadi Rozy,dia akan memilih Nabila yang sifatnya lebih dewasa walaupun umurnya lebih muda dari Ifa ataupun Rozy.


Putri lalu duduk di samping Ifa sambil mengelus bahu sahabatnya itu.


"Lo kenapa?"


Ifa lalu menatap Putri sambil menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya.


"Ifa nggak mau Rozy deket-deket sama Nabila,tapi Rozy nggak pernah peka."


Putri menatap Ifa tidak percaya.Jadi,hanya kerena itu gadis ini sampai menangis.


"Lo kenapa kekanakan banget sih?mereka itu kan cuma sebatas kakak kelas dan adek kelas doang,kenapa lo khawatir banget sih?'


"IIh..Putri,Ifa takut Rozy kepincut sama Nabila."


Putri lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Fa..bumi ini bukan hanya berputar mengelilingi lo doang,jadi lo jangan egois dong."


"Ifa nggak egois."


"Ya ampun fa,lo itu namanya ngekang Rozy tau nggak,dan lo cuma mementingkan perasaan lo doang,apa lo nggak kepikiran dengan perasaan Rozy?"


"Ifa..Ifa cemburu lihat Rozy deket sama cewek lain."


Putri lalu menepuk bahu Ifa.


"Fa,cemburu itu nggak apa-apa asalkan jangan berlebihan,lo harus yakin sama Rozy,dia itu cuma sayang sama lo dan nggak ada yang lain."


"Lo harus percaya sama Rozy,jangan ngekang dia fa."


"Nanti,Rozy malah nggak tahan sama lo dan mengakhiri hubungan lo nanti."


Ifa menggelengkan kepalanya.Dia benar-benar tidak mau hubungannya dengan Rozy berakhir di tengah jalan.Ifa sudah membayangkan masa depan dia nanti dengan Rozy.Dimana mereka tinggal,punya anak berapa,dan siapa saja nama anak mereka,Ifa sudah memikirkan itu semua.


Dan Ifa tidak mau Rozy pergi meninggalkannya.


"Lalu,Ifa harus gimana?"


"Lo harus belajar bersikap dewasa,lo boleh gila asalkan otak dan pemikiran lo nggak ikut gila."


"Lalu?"


"Lo juga harus belajar mempercayai Rozy,dengan itu hubungan lo dengan Rozy akan aman."


"Gue yakin,Rozy itu adalah laki-laki yang baik,jadi lo jangan mengecewakan dia."


"Lo bayangin aja,banyak banget cewek yang antri untuk jadi pacar dia dan dia malah memilih cewek nggak waras seperti lo,harusnya lo juga bersyukur."


Ifa lalu memukul lengan Putri karena kesal atas ucapan Putri yang mengatainya cewek tidak waras.


"Makasih ya Put,udah jadi sahabat the best Ifa."


Ifa lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Putri.


Putri lalu tersenyum sambil mengelus bahu Ifa.


"Iya,lo juga sahabat terbaik gue,dan gue juga nggak akan membiarkan lo disakiti oleh siapapun."


"Dan jika lo dalam kesulitan gue akan bantu sebisa gue."

__ADS_1


"Kalau lo salah,gue juga akan memberikan lo nasehat."


Ifa lalu tersenyum sambil mengingat masa lalunya bersama Putri dan kedua temannya yang lain.Mereka mulai saling mengenal satu sama lain saat SMP.


Ifa sangat ingat sekali,mereka menjadi sangat akrab hanya karena warna favorit mereka sama,yaitu warna biru.Sejak saat itu,mereka memutuskan untuk membuat suatu grub bernama Serangkai Biru Langit.Dan sejak itu pula,mereka menjadi sahabat.


Putri lalu melirik arloji miliknya.


"Ya ampun,gue bisa kena marah ini,fa gue ke kelas dulu,mau ambil kalkulator,nanti kita ketemu lagi di kantin."


Ifa lalu mengangguk.


Putri dengan secepat kilat langsung melesat jauh menuju kelasnya.Sedangkan Ifa masih setia duduk di taman belakang.


"Lo nggak mau pergi juga?"


Ifa lalu tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang.


"Rozy?Sejak kapan Rozy di sini?"


Rozy lalu tersenyum dan duduk di samping Ifa menggantikan Putri yang telah pergi.


"Gue tadi ikuti lo diam-diam,dan gue yakin pasti lo ke sini,jadi gue sembunyi di balik pohon itu." Jawab Rozy sambil menunjuk sebuah pohon dengan dagunya.


"Hmm..Rozy,maafin Ifa ya,Ifa seharusnya nggak cemburuan gitu sama Rozy." Ucap Ifa sambil mengeluarkan puppy eyes-nya.


Rozy kemudian mengacak-acak rambut Ifa gemas dengan pacarnya itu.


"Iya,gue maafin,tapi dengan satu syarat."


"Apa?"


Rozy lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


"Lo harus pakai gelang ini ke rumah gue hari ini."


Mata Ifa langsung berbinar melihat dua buah gelang cantik dengan hiasan huruf R dan I di tengahnya.


"Ini apa Ifa pake keduanya?"


Rozy lalu menggelengkan kepalanya.Dia lalu memasangkan gelang dengan ukiran huruf R pada pergelangan tangan Ifa.


"Gue akan pakai gelang yang satunya lagi."


Ifa tersenyum sambil memandang gelang tersebut.Dia lalu memeluk Rozy dan menghirup aroma maskulin yang dipakai Rozy.


"Rozy..Ifa sayang sama Rozy."


"Gue juga." Rozy mengelus rambut Ifa.


"Tapi,tadi kata Rozy Ifa pakai gelang ke rumah Rozy."


"Hmmm.."


Ifa langsung melepaskan pelukannya dan menatap Rozy dengan raut wajah yang menunjukkan kecemasan.


"Ifa belum siap ketemu calon mertua Ifa Rozy.."


Rozy lalu tertawa melihat raut wajah gadisnya yang sedang khawatir tersebut.Sungguh Rozy sangat suka melihat gadis itu sedang kesal atau khawatir seperti ini.Sangat lucu!


"Lo harus siap dong."


"Oke demi Rozy Ifa akan siap." Ucap Ifa sambil kembali memeluk Rozy.


Dasar gadis manja!


"Gue akan ajari lo main gitar nanti,dan sekalian lo belajar berenang."


Ifa lalu mendorong tubuh Rozy sambil menatap Rozy tidak percaya.Padahal baru dua hari,dia sembuh dari sakit dan sekarang?Rozy malah menyuruhnya untuk kembali berenang.


"Kenapa harus berenang?Kita naik sepeda aja Rozy." Pinta Ifa.


"Lo kan udah mulai bisa naik sepeda,nah sekarang gue akan ajarin lo kembali berenang."


Ifa lalu menghembuskan nafasnya pasrah dengan apapun yang akan dilakukan Rozy padanya.Apapun itu ada yang lebih penting daripada berenang.


Hari ini,untuk pertama kalinya Ifa akan bertemu orang tua Rozy.Ifa harus menjaga sikap agar dia langsung diterima sebagai menantu keluarga Rozy.


"Fa kita ke labor yuk,nanti Bu Tuti marah-marah."


Ya ampun,Ifa sampai lupa dengan Bu Tuti,dan Ifa juga belum selesai mengerjakan soal yang diberikan Bu Tuti di papan tulis.


Dapat dipastikan setelah ini Bu Tuti akan memberikan soal yang lebih sulit daripada sebelumnya.


☁☁☁


Nabila mengumpati baterai ponselnya yang menunjukkan angka satu persen.Dan butuh hitungan detik,ponselnya itu sebentar lagi akan mati.


Nabila lalu melirik arloji miliknya yang telah menunjukkan pukul empat sore.Dia sudah sangat terlambat pulang ke rumah.Pasti Bi Asih,pembantu rumah tangga yang bekerja di rumahnya tengah khawatir karena dirinya belum pulang.


Ya..hanya Bi Asih yang mengkhawatirkan keadaannya.Sedangkan mamanya tengah sibuk berselingkuh dengan pria lain dan papanya yang tengah berada di luar kota.Mamanya sama sekali tidak pernah menanyakan soal keadaan dirinya.


Selama ini,mamanya hanya mementingkan soal kariernya sebagai Desainer dan jangan lupa mamanya itu sangat suka berselingkuh dengan pria lain.Bahkan hampir tiap malam,mamanya tersebut membawa pria ke rumahnya.


Dan hal tersebut membuat dada Nabila semakin sesak.Jujur,dia sangat iri dengan teman-teman sekelasnya yang memiliki orang tua yang begitu perhatian.Tidak sama dengan dirinya.


Tapi,setidaknya dia memiliki sahabat yang begitu menyayanginya,Nasya.


Soal Nasya,Nabila ingin rasanya meminta tolong Nasya untuk mengantarkannya pulang.Namun,Nasya ada jadwal latihan Marching Band hari ini,jadi Nabila tidak mau membuat latihan Nasya jadi tergangu.Oleh karena itu,dia memutuskan untuk pulang dengan angkutan umum.


"Heii.."


Seseorang yang tidak Nabila kenal tiba-tiba saja berdiri di hadapannya.


"Kamu sakit?wajahmu pucat tuh."


Raut wajah Nabila berubah menjadi sangat gelisah.Kepalanya juga mulai sakit kembali.


"Hmm..aku cuma pusing aja."


"Kamu mau aku antar?Angkutan umum jam segini mah jarang lewat."


"Maaf,aku nggak mau ngerepotin kamu."


Orang itu lalu tertawa membuat Nabila menatapnya bingung.Apa ada yang lucu dari dirinya?


"Udah...santai aja,oh iya kenalin gue Rafly,dari SMA CAHAYA BANGSA." Ucap Rafly sambil mengulurkan tangannya.


Nabila menatap tangan tersebut.Satu detik kemudian,dia mambalasnya.


"Nabila,SMA GARUDA BANGSA."


"Yuk,gue antar..gue juga nggak tega melihat lo dengan kondisi seperti ini di sini."


Nabila lalu mengangguk sambil tersenyum kepada Rafly.


Nabila lalu naik ke atas motor ninja milik Rafly.Setelah memastikan Nabila sudah naik dengan aman,Rafly menyalakan mesin motornya dan melesat pergi membelah jalan raya.


"Lo kelas berapa?" Tanya Rafly memulai obrolan agar Nabila tidak merasa canggung.


"Oh,berarti gue lebih tua dari lo dong."


"Maaf,seharusya aku panggil kak."


"Hahaha,santai aja."


Rafly lalu melirik Nabila dari kaca spion motornya.Nampak gadis itu sedang salah tingkah dan canggung saat ini.


"Manis juga." Batin Rafly.


Rafly baru tersadar kalau gadis yang berada di motornya saat ini bersekolah di SMA GARUDA BANGSA,sekolah yang sama dengan mantan pacarnya sekaligus sahabatnya,Ifa.


"Hei Nabila.."


"Kamu kenal.."


"Kak berhenti di depan rumah yang bercat putih itu,itu rumah aku."


Rafly lalu mengangguk dan segera menepikan motornya tepat di depan sebuah rumah yang terlihat mewah itu.Dan tampak seorang wanita paruh baya sedang berdiri di depan sana dengan raut wajah khawatir.


Nabila lalu turun dari motor dan menyerahkan helm yang dipakainya pada Rafly.


"Ya ampun non,kok baru jam segini pulangnya?bibi kan jadi khawatir." Ucap Bi Asih.


Nabila lalu tersenyum sambil menepuk bahu Bi Asih.


"Tenang bi,sekarang Nabila kan udah pulang,tadi Nabila pelatihan olimpiade,bibi lupa?"


"Lain kali non jangan telat lagi."


Nabila lalu mengangguk.Dia lalu menatap Rafly.


"Makasih ya kak."


"Oke.."


Nabila lalu mengajak bi Asih untuk masuk ke dalam,namun kepalanya bertambah sakit membuat penglihatannya memburam.


"Non,kenapa?"


Bruaaakkk


Nabila tiba-tiba pingsan membuat Bi Asih bertambah khawatir dan berteriak.Rafly yang melihat gadis itu pingsan langsung menghampiri.


"Kenapa dengan Nabila bi?'


"Kayaknya sakitnya kumat lagi."


Rafly segera menggendong Nabila dan membawanya masuk ke dalam rumah mewah tersebut.Setelah masuk,Rafly sempat tertegun melihat isi rumahnya yang dipenuhi oleh barang-barang mewah.Namun,ada yang lebih penting dari sekedar mengagumi kekayaan orang lain.Ya..gadis ini lebih penting sekarang.


Bi Asih lalu menunjukkan letak kamar Nabila.Rafly pun segera bergegas masuk dan membaringkan tubuh Nabila di atas ranjang.


"Bibi akan telfon dokter sebentar."


Rafly lalu mengangguk.Bi Asih segera berlari keluar untuk menelfon dokter untuk Nabila.


Rafly menatap bibir serta wajah gadis tersebut yang sangat pucat.Tidak mungkinkan gadis itu sakit gara-gara tidak makan?sedangkan dia berasal dari keluarga yang cukup terbilang mewah.


Mata Rafly secara tidak sengaja menangkap sebuah lukisan cantik yang menampakkan sesosok peri dan juga seorang lelaki.


Rafly kemudian mengamati lukisan tersebut sambil berdecak kagum.Ternyata gadis itu memiliki bakat dalam bidang melukis.Tapi,yang membuat Rafly penasaran adalah kenapa ekspresi sang peri tersebut menunjukkan rasa sedih.Sedangkan seorang laki-laki tersebut tampak bahagia.


Dan yang paling menarik perhatian Rafly adalah cairan merah yang berada di ujung kanvas tersebut.


Cairan tersebut bukanlah cat,Rafly yakin kalau cairan tersebut adalah darah.


Rafly lalu menatap gadis yang masih tidak sadarkan diri tersebut.Apa yang sedang terjadi pada gadis itu?Rafly memang beberapa menit yang lalu mengenal gadis itu,tapi entah kenapa perasaan khawatir melanda pikiran Rafly saat melihat kondisi gadis itu sekarang.


Selang beberapa menit kemudian,Bi Asih kembali masih dengan raut wajah yang khawatir dan sedih.


"Maaf bi,saya bukan bermaksud lancang,tapi Nabila sebenarnya sakit apa bi?"


Bi Asih kemudian menangis sambil terisak.Hal tersebut membuat Rafly semakin bingung dan merasa bersalah.


"Non Nabila..hiks..leukimia."


Rafly seketika mematung di tempat.Jadi,gadis itu sekarang sedang menderita penyakit yang ganas tersebut.Tapi,dimana kedua orang tua Nabila?Kenapa mereka tidak ada di sisi gadis itu sekarang?


Bi Asih lalu duduk di tepi ranjang Nabila sambil mengusap rambut gadis itu.


"Non Nabila sudah sakit sejak 2 tahun yang lalu,tapi dia tidak pernah memberitahukan ini pada kedua orang tuanya."


"Dia bilang,tidak mau memberi beban pada kedua orang tuanya."


"Bapak sama ibu juga tidak pernah peduli soal kondisi non Nabila,keduanya sibuk bekerja."


Rafly tidak tau harus mengatakan apa kepada Bi Asih.Seharusnya,di saat kondisinya seperti ini orang tua harus berada di dekatnya.Dan orang tua Nabila saja bahkan tidak mengetahui kondisi anak mereka tersebut.


"Bibi akan ambilkan air."


"Tidak usah bi."


"Tidak apa-apa."


Bi Asih lalu bangkit dan keluar dari kamar Nabila untuk mengambil air.


Rafly lalu duduk di ujung ranjang Nabila sambil mengelus puncak rambut gadis itu.Seketika timbul keinginan Rafly untuk melindungi gadis tersebut.


"Gue akan membuat peri yang ada di lukisan lo berubah menjadi bahagia." Ucap Rafly sambil tersenyum tulus untuk Nabila.


☁☁☁


Ifa menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan.Dia kemudian menarik nafas kembali dan menghembuskannya secara perlahan-lahan.


"Lo udah ngelakuin itu selama 10 kali."


Ifa lalu menatap Rozy sambil tertawa.Jujur,baru sekali ini Ifa sangat gugup.


"Ayo masuk."


Ifa menelan salivanya saat Rozy membuka pintu rumahnya.Ifa sangat khawatir dan gelisah.Dia sangat takut bila nanti dirinya tidak diterima oleh keluarga Rozy.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Rozy lalu tersenyum melihat Yudha,papanya sedang sibuk membaca koran di ruang tamu.Dia lalu menatap Ifa yang seperti orang dikejar hantu.Dia lalu menggenggam tangan Ifa agar gadis itu merasa lebih tenang.


"Yuk.."


Rozy lalu mengajak Ifa untuk menghampiri papanya tersebut.


"Pa..kenalin ini Ifa."


Yudha lalu menatap anaknya dan juga seorang gadis di hadapannya.Sedangkan Ifa,dia sangat ketakutan sekarang.

__ADS_1


"Wah...ada gadis cantik di rumah kita,maa sini deh Rozy bawa gadis ini." Teriak Yudha memanggil istrinya dari dapur.


Teng..


Terdengar suara panci terjatuh dari arah dapur.Tak berselang lama,seorang wanita paruh baya muncul dengan menggunakan celemek.


"Akhirnya anakku membawa seorang gadis.." Histeris Mira dan langsung menghampiri Ifa dan Rozy.


Rozy lalu geleng-geleng kepala melihat kelakuan lebay dari kedua orang tuanya.Apa ini efek kelamaan menjomblo,jadi kalau dia membawa seorang gadis kedua orang tuanya akan sehisteris ini?


Ifa lalu menyalimi tangan kedua orang tua Rozy.Entah kenapa,saat melihat reaksi kedua orang tua Rozy saat ini,membuat hati Ifa sedikit lega.


"Hai tante,om...nama aku Ifa om,tante." Ucap Ifa sambil tersenyum.


"Cantik kamu ya." Ucap Mira sambil mencolek pipi Ifa.


"Kenapa kamu bisa sama anak om yang dingin ini?padahal kamu cantik loh." Ucap Yudha sambil melirik Rozy.


"Hehe..Ifa suka sama Rozy apa adanya om." Jawab Ifa dengan polosnya.


Yudha dan Mira lalu tersenyum mendengar jawaban polos dari gadis tersebut.


"Ifa mau belajar berenang di sini ma." Ucap Rozy.


"Bagus itu,jangan cuma berenang aja,kamu harus sering datang ke sini,bantu mama masak kue buat Rozy,Papa,sama Aletta,adeknya Rozy."


"Mama?" Tanya Rozy membuat Mira memukulnya.


"Ifa itu kan pacar kamu,jadi Ifa sudah mama anggap anak mama sendiri,jadi Ifa harus panggil tante dengan mama."


Ifa lalu menganggukkan kepalanya semangat.


"Sana,lo ke atas,ke kamar gue,ganti baju di sana..nanti langsung ke kolam." Suruh Rozy dan langsung diangguki Ifa.


Mira lalu meninggalkan anak dan suaminya dan kembali ke dapur.


Sedangkan Ifa langsung pergi menuju kamar Rozy yang berada di lantai atas.


"Rozy.."


Yudha lalu menepuk bahu Rozy sambil mencopot kacamata dari wajahnya.


"Kamu harus jaga Ifa,jangan sakiti dia,dia itu gadis baik yang mau menerima kamu apa adanya."


Rozy lalu tersenyum dan mengangguk.


"Papa,mau ke ruang kerja dulu."


Yudha lalu pergi meninggalkan Rozy menuju ruang kerja miliknya.


Tingg...


Bel rumah Rozy lalu berbunyi menandakan ada tamu yang datang berkunjung.


Rozy lalu bergegas menuju pintu rumahnya dan membukakan pintu untuk tamu tersebut.


"Assalamualaikum babang ozy."


"Astaghfirullah.." Rozy langsung memegang dadanya kaget.


"Ehh curut,lo itu harus balesnya waalaikumsalam bukan astaghfirullah."


"Nah betul itu."


Rozy menatap tidak suka ketiga jomblowan di hadapannya itu.Ketiga orang tersebut benar-benar telah merusak hari baiknya.


"Lah kita boleh masuk nggak?"


"Masuk aja kali." Kevin lalu dengan seenak jidatnya masuk ke dalam rumah Rozy.


Andra dan Taufan ikut menyusul Kevin.Hal itu membuat Rozy ingin memutilasi mereka dan menjadikan mereka makanan ikan-ikannya.


"Eeeh panas banget dah,gue mau berenang ah."


"Gue ikut."


"Gue juga."


Rozy lalu membiarkan ketiga sahabatnya itu melakukan apapun yang mereka sukai.Toh..ini sudah biasa terjadi di rumahnya dan kedua orang tuanya sudah maklum dengan sifat-sifat ketiga sahabatnya itu.


Rozy lalu teringat sesuatu,ya dia hari ini bukan hanya kedatangan tiga kecebong itu,tapi dia juga kedatangan tamu spesial.


"Ya allah Ifa."


Rozy dengan secepat kilat menyusul ketiga temannya itu yang sekarang menuju ke kolam renang di rumahnya.


Terlambat..


Ketiga temannya sudah berada di sana sambil membuka seluruh pakaian mereka menyisakan boxer.


"Eeh vin,lo ngapain pake boxer bergambar tayo gitu?" Ledek Andra.


"Mending ya gue tayo,daripada lo gambar pisang apaan itu,nggak ada selera seninya lo."


"Alah..gambar boxer aja diperdebatkan." Taufan angkat kaki menghadapi dua sejoli itu.


Rozy tidak tau harus melakukan apa sekarang.Waktu yang harusnya digunakan Rozy untuk bisa berdua dengan Ifa menjadi sirna karena kedatangan tiga curut itu.


"Rozy.."


Rozy lalu menoleh ke arah sumber suara.Dia langsung membelalakkan mata kaget dengan penampilan gadis itu yang err.....Tak bisa dibiarkan begitu saja ketiga temannya itu memandang tubuh Ifa.Hanya dia yang boleh!cam kan itu! Astaghfirullah sadarlah kau Rozy!belum muhrim!


"Fa..mending lo ganti baju sana." Perintah Rozy dengan tajam agar gadis itu segera menuruti permintaannya.Jujur,Rozy juga sedikit risih dengan penampilan Ifa sekarang.


"Iih..Ifa nggak ada bawa baju lagi Rozy,ini aja."


"Lo nggak ada baju lain?baju renang kemarin?"


"Itu kan lagi kotor.."


"Ada trio kecebong itu di sana." Tunjuk Rozy kepada Taufan,Andra,dan Kevin yang tidak menyadari kedatangan Ifa.


Rozy mendesis kesal,ini benar-benar tidak bisa dibiarkan.Dia tidak Ridho lillahita'ala kalau sampai mereka menoleh ke arah Ifa.


"Tapi baju Ifa nggak ada lagi.."


Rozy semakin was-was karena bisa saja,Taufan,Andra dan Kevin menoleh ke arah mereka.Dan yang benar saja,sebelum Rozy berhasil mengusir Ifa,ketiga temannya itu menoleh ke arah mereka.


"Zy..mana air mi...." Ucap Andra terpotong karena melihat adanya Ifa,dan dia langsung terbengong melihat penampilan Ifa,begitupun Kevin dan Taufan ikutan menoleh.


Rozy pun yang tak mau Ifa menjadi tontonan langsung mengangkat tubuhnya dan dibawanya ke kamarnya agar Ifa segera mengganti pakaiannya yang sopan daripada pakaiannya yang terbuka seperti ini.


Rozy menurunkan Ifa di depan pintu kamarnya dan menatap Ifa tajam.


"Lo ganti baju sekarang!"


"Ifa nggak ada baju lagi."


Rozy lalu menjambak rambutnya frustasi.Gadis ini benar-benar sedang menguji kekuatan imannya sekarang.


Rozy lalu beranjak menuju lemari pakaiannya.


"Nih pake baju gue."


"Kegedean nanti Rozy,ini aja kenapa sih?"


Rozy lalu menghela nafasnya kasar.Ya ampun,kenapa udara di dalam kamarnya berubah menjadi sangat panas.


"Fa...gue bisa tahan,tapi gue nggak rela mereka lihat lo dengan baju tanpa lengan itu."


Ifa lalu memicingkan matanya curiga pada Rozy.


"Rozy nggak punya pikiran macam-macam kan?ingat Rozy kita belum muhrim,nanti kalau kita udah muhrim.."


"Cepat lo ganti pakaian lo atau gue kunci."


"Iya iya.."


Rozy lalu dengan cepat langsung keluar dari kamarnya.


Perkataan Ifa barusan terus terngiang-ngiang di kepalanya.


"ASTAGHFIRULLAH ROZY...SADAR WOII...JANGAN KOTORI PIKIRAN LO.." Ucap Rozy memukul kepalanya sendiri.


Mungkin setelah ini,Rozy tidak akan mengajak Ifa berenang di rumahnya lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


#happyreading


__ADS_2