
"Huftt..." Rara menghembuskan nafas kasar sambil memijat batang hidungnya.
Dhea yang tengah bermain game di ponselnya lalu melirik sejenak pada Rara yang duduk di sampingnya dengan tatapan prihatin.
"Jadi bendahara kelas itu harus sabar dengan segala cobaan yang ada." Ucap Dhea dengan mata yang fokus pada musuhnya dalam game.
Rara lalu membanting buku bersampul kuning itu dengan kasar.Entah kenapa,manusia-manusia di kelasnya itu enggan membayar uang kas,lagipula uang kas itu gunanya untuk mereka di kemudian hari.
Rara lalu melipat kedua tangannya di atas meja dan menopang kepalanya seraya menjernihkan otak dari uang kas.Pekerjaan menjadi bendahara kelas sangat susah,lebih susah dari ketua kelas.
Alfi,yang ditunjuk sebagai ketua kelas juga tidak ada gunanya di sana.Saat Rara berlarian ke sana ke mari untuk menagih uang kas,dia malah molor di sudut kelas.
Putri yang awalnya sedang fokus membaca novel menjadi terusik karena suara gaduh yang dibuat Rara.
"Ya tuhan Ra..kalau gini jadinya kenapa dulu lo mau bendahara kelas?" Tanya Putri sambil menutup novel bergendre horor yang baru dibelinya kemarin.
"Tau tuh...tapi Put,sebelum itu kan lo masih di sekolah lama jadi lo nggak tau juga kalau sebenarnya si Rara ini ditunjuk langsung oleh Bu Dewi sebagai bendahara kelas bukan dipilih oleh kelas,ya..kalau gue jadi Rara,mending gue tolak deh daripada berakhir menjadi mayat hidup gini,hiii ngeri." Tambah Dhea sambil bergidik ngeri.
"Benar tuh Ra,mending lo tolak aja waktu itu."
Rara hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan kedua temannya itu.Memang benar ucapan mereka berdua,seharusnya dulu Rara menolak saja ditunjuk sebagai bendahara kelas.
Tapi,sejak kelas 10 dulu Rara memang sudah dipercaya menjadi bendahara kelas dan kebetulan juga wali kelasnya waktu itu adalah Bu Dewi,seorang guru sejarah yang disegani banyak murid.
Dan karena Rara bertanggung jawab atas tugasnya,makanya dia ditunjuk langsung oleh Bu Dewi sebagai bendahara kelas kembali.
"Iya..gue nyesel banget,tapi nasi udah jadi bubur,mau nggak mau gue harus jalani tanggung jawab gue."
Dhea dan Putri lalu mengangguk setuju dengan perkataan Rara.
Dhea lalu membelalakkan matanya melihat tokoh gamenya sudah mati dikalahkan musuhnya.
"YA TUHAN....KENAPA GUE KALAH ???" Teriak Dhea membuat semua orang menatapnya kesal karena membuat semua orang kaget.
"Lebay banget sih lo,itu kan cuma game.."
Dhea lalu menjulurkan lidah kesal atas perkataan Putri.Ya walaupun cuma game,tetap saja Dhea kesal karena biasanya dia itu selalu menang dan tanpa disadarinya tokoh dalam gamenya langsung kalah begitu saja.
"Ih Rara..lo tanggung jawab dong,gara-gara lo gue mati nih.." Protes Dhea sambil menarik lengan seragam Rara.
"Gue masukin buku ini ke mulut lo baru tau rasa lo." Rara lalu menepis tangan Dhea yang membuat seragamnya kusut.
Putri hanya acuh saja melihat kedua temannya itu adu mulut.Ya..sudah makanan sehari-hari Putri melihat dua gadis itu selalu bertengkar.
"Put...bantu belain kek,lo malah baca buku aja terus kayak buku itu pacar lo aja." Ucap Dhea mendorong Putri.
Putri hanya cuek bersikap seolah hanya angin saja yang mendorong tubuhnya.Dia cukup lelah menghadapi ulah teman-temannya yang memiliki sifat yang langka.
Yang satunya terlampau gila,yang satunya manja dan yang satunya lagi penuh gengsian.
"Suka hati lo aja deh,daripada bicara sama lo nggak guna banget,lebih baik gue cari orang yang banyak ngutang." Rara lalu bangkit dan berencana ingin menghampiri sekumpulan anak laki-laki di pojok kelas.
"Ra..gue boleh tanya nggak?kenapa ya akhir-akhir ini si Andra jarang ke sini?"
Langkah Rara tiba-tiba terhenti setelah mendengar pertanyaan Dhea barusan.Putri yang awalnya bersikap acuh kemudian menatap Dhea.
"Ya...ya mana gue tau,mungkin..ya mungkin aja dia udah ada yang baru."
Rara kembali duduk ke bangkunya semula.Dhea dan Putri lalu saling menatap.Mendengar jawaban Rara tadi, membuktikan bahwa gadis itu pasti sedang khawatir dan bingung sekarang.
Khawatir,jika memang benar Andra ada yang baru dan bingung apakah Andra sakit hati padanya karena dia selalu menolak Andra dengan kasar.
"Kalian kenapa menatap gue seperti itu?"
"Gue rasa,lo pasti sedang gelisah kan?Ngaku deh kalau lo suka sama Andra kan?" Tanya Dhea sambil memicingkan mata curiga.
Rara langsung menggelengkan kepala.
"Gini ya Ra,kalau menurut gue..lebih baik lo tanya sama diri lo sendiri,apa sebenarnya lo suka sama Andra atau tidak." Jelas Putri memberikan nasehat.
"Gue setuju banget tuh Ra,lo harus ingat Ra,cowok yang mapan sama tampan itu banyak banget di dunia,tapi kalau cowok yang tulus sama kita,itu susah banget dicari ra."
"Lo harusnya beruntung,Andra mati-matian buat ngejar lo,coba lo bayangin perasaan Andra yang terus terluka karena lo nolak dia secara kasar?pasti sakit Ra,tapi dia tahan aja dan selalu maafin lo,ya kalau gue jadi Andra sih,gue udah buang lo ke laut." Jelas Dhea membuat Rara diam mematung.
Putri lalu tersenyum pada Rara dan menepuk pundak Rara.
"Kita nggak maksa lo juga buat nerima Andra,tapi kita cuma kasih lo saran aja,kalau lo emang nggak suka sama Andra sedikitpun lebih baik lo tolak dia secara halus jangan kasar Ra,terus nanti Andra juga capek sendiri kan?tapi kalau lo ada rasa sama tuh cowok walaupun sedikit,coba deh buka hati lo buat dia,kasih dia kesempatan sebelum lo menyesal." Tambah Putri.
Rara seketika mematung mendengar nasehat dari kedua temannya itu.Entah kenapa,hati kecil Rara berkata,dia tidak bisa terima Andra bersama orang lain.Tapi,pikirannya bilang kalau Rara tidak mungkin menyukai Andra.
Ah..entahlah,hati dan pikiran selalu tidak sejalan.
Lantas,manakah yang harus kita pilih hati atau pikiran?
"Gue jadi ingat Rozy deh,dia pernah bilang kan?kalau dia tidak akan pernah suka sama Ifa?tapi apa akhirnya?dia termakan omongan sendiri." Ucap Dhea membuat jantung Rara berdetak cepat.
Apakah dia akan sama seperti Rozy?termakan omongan sendiri?
"Eh btw,kemana tuh alien yang satu itu?perasaan tadi tuh anak tidur di samping gue." Tanya Putri sembari mencari keberadaan Ifa.
Braakkk...
Seseorang membanting pintu cukup keras membuat semua pasang mata menatap tajam padanya karena hampir membuat orang jantungan.
Untung hari ini jamkos...kalau tidak,pasti dia sudah dihukum karena dengan seenak jidat keluar-masuk kelas plus membanting pintu seolah kelas itu milik nenek buyutnya.
"Iih..Erik jangan kabur lo ya!!lo itu udah banyak ngutang sama Rara,dan lo malah enakan makan di kantin bu'de!"
Dengan sekuat tenaga,Ifa menarik Erik membuat semua orang menahan tawa melihat mereka berdua.
"Lo apa-apaan sih Fa,siapa juga banyak utang,gue itu cuma cari waktu yang tepat aja buat bayar uang kas." Ucap Erik membuat Ifa langsung memukul lengan pria jangkung itu.
"Ifa nggak peduli,pokoknya Erik harus bayar uang kas sekarang juga!atau nggak Ifa panggang jadi BBQ." Ancam Ifa menarik Erik menuju meja Rara.
"Et dah, cantik-cantik kok galak amat."
Rara,Dhea,dan Putri hanya bisa melongo melihat Ifa yang menarik paksa Erik untuk membayar uang kasnya yang telah menumpuk selama 3 bulan.
"Ayo bayar.." Perintah Ifa.
Ifa melepas Erik.Pria itu hanya bisa pasrah dan langsung mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya dan menyerahkannya pada Rara.
"Wadaww,uang lo kebanyakan nih rik,bentar gue ambil kembaliannya." Ucap Rara sambil merogoh dompet dalam tasnya.
"Nggak usah,lo pas in aja sampai seratus ribu daripada gue dihajar lagi sama badak di samping gue." Ucap Erik melirik Ifa.
Erik kemudian melangkah pergi meninggalkan keempat gadis itu.Sebelum pergi,Erik tiba-tiba saja menarik pipi Ifa membuat gadis itu ingin menendang pria itu.Tapi,untungnya Erik langsung kabur ke kantin.
"Fa..gue salut sama lo,pakai jurus apa sih sampai si Erik patuh gitu aja lo tarik?" Tanya Dhea.
Ifa lalu duduk di samping Rara sambil mengibaskan rambutnya bangga.
"Lo berguna banget nih buat Rara,mulai sekarang lo bisa tuh temenin Rara buat nagih uang kas pada anak-anak kelas." Ucap Putri membuat kedua temannya yang lain tertawa.
"Ifa itu cuma kesal aja lihat Erik,Rara kan udah susah dari kemarin-kemarin nagih uang kas,katanya nggak ada uanglah,mau bayar uang komitelah,tapi jajan di kantin aja banyak,ya Ifa langsung tarik tuh cowok pembohong ke kelas." Cerita Ifa.
Ketiga temannya lalu mengangguk paham.
"Gue makasih banget loh Fa,karena lo gue terbantu banget." Ucap Rara sambil memeluk Ifa.
Satu menit kemudian,mereka melakukan aktivitas masing-masing.
Putri yang kembali ke dunia novelnya,Rara yang sibuk menghitung uang kas dan dibantu Ifa,dan Dhea yang asik chattingan dengan ketua kelas sebelah.
"Guys...denger nih..ini penting banget." Ucap Dhea berusaha agar tidak berteriak.
Berita yang baru saja dia dapat dari Aldo,gebetan barunya sungguh membuatnya sangat bahagia saat ini.
"Apaan sih?gue dari tadi nggak fokus jadinya baca." Protes Putri kembali menutup novelnya.
Rara dan Ifa kemudian menatap Dhea sambil mengangkat salah satu alis pertanda 'apa'
"Ehemm...gue baru dapat info dari Aldo kalau misalnya sekolah kita akan mengadakan pertandingan basket nanti sepulang sekolah."
"Terus??"
"Iih Ra,jangan potong..sekolah kita akan bertanding dengan SMA Cahaya Bangsa,dan kabar bahagianya lagi Taufan and the geng ikut main juga....dan kalian tau Aldo juga ikut main..kyaaa...." Jelas Dhea sambil membayangkan Aldo yang sedang bermain basket.
"APA???TAUFAN IKUT MAIN??" Teriak Rara histeris.
"Emang kenapa sih kalau Taufan main?" Tanya Ifa bingung.
Rara lalu menepuk kedua bahu Ifa sambil menahan teriakannya.
"Fa..lo tau nggak Taufan kalau main basket itu gantengnya minta ampun..ya tuhan,gantengnya bertambah berkali-kali lipat." Jelas Rara membuat Ifa semakin bingung.
"Percuma aja lo jelasin Ra,Ifa nggak bakal ngerti karena di hatinya cuma ada nama Rozy." Ucap Putri tertawa.
Braaakk...
Ifa mendorong meja membuat ketiga temannya yang awalnya bahagia menjadi bingung dan kaget.
"Rozy ikut main basket???" Teriak Ifa membuat seisi kelas langsung terdiam.
Rara langsung menyumpal mulut Ifa dengan kotak pensil miliknya membuat Ifa hampir tersedak.
"Lo tu jangan teriak kenapa?lagian siapa juga yang bilang kalau Rozy ikut main basket?gini ya fa..iya sih pacar lo itu pernah ikut tim basket,tapi entah mengapa dia keluar gitu aja." Bisik Rara.
Ifa lalu memajukan bibirnya kecewa.Awalnya,dia sudah membayangkan Rozy dengan gagahnya memasukkan bola ke dalam ring dengan keringat yang membasahi rambutnya membuat Rozy menjadi ganteng berkali-kali lipat.Oh tidak...triple kali lipat.
"Tadi lo bilang kalau SMA kita bakal tanding sama SMA Cahaya Bangsa kan?itu SMA lama gue sama Ifa,dan gue yakin kalau Rafly pasti bakal ikut."
Krik krik krik..
Hening seketika membuat Putri menyesal telah menyebut nama Rafly.
"Ya bagus dong,Ifa pasti bakal kasih semangat buat Rafly." Ucap Ifa membuat Dhea menepuk jidatnya dan Rara langsung menoyor kepala Ifa.
"Lo tu ya fa...yang ada Rozy malah sakit hati kalau lo semangatin mantan lo,ya ampun ini anak otaknya di taruh di dengkul ya?" Ucap Rara mengelus dadanya shok.
"Betul tuh Fa,ya kita tau kok lo sama Rafly udah kayak sahabat lagi,tapi lo juga harus ingat perasaan Rozy,dia kan udah jadi pacar lo sekarang." Nasehat Putri.
"Salah ya?" Tanya Ifa tanpa rasa bersalah dan itu membuat ketiga temannya ingin membuang Ifa ke segitiga bermuda.
Sudah tau salah malah pakai tanya.
"Udah ah,lebih baik gue siapin yel-yel untuk semangatin Taufan...kyaa...nggak sabar gue." Teriak Rara histeris.
Dhea lalu menatap Putri sambil menggoyangkan lengan Putri.
"Ciee..Putri nggak sabar pengen liat Taufan." Goda Dhea.
"Apaan sih." Ucap Putri sambil menutup pipinya yang blushing.
"Putri kenapa pipinya merah?Putri pasti habis pakai blush on ya?" Tanya Ifa sambil menunjuk pipi Putri yang semakin memerah.
"Ehemm...Putri kayaknya sama Taufan nih." Ucap Rara ikut menggoda Putri.
"Serah deh,gue mau ke perpustakaan dulu,mau balikin buku."
Tanpa abibu,Putri langsung pergi meninggalkan ketiga teman gilanya itu yang terus menerus menggoda dirinya.
"Dhea,kata Putri dia mau balikin buku kok nggak bawa buku?" Tanya Ifa membuat Dhea tertawa.
"Ketahuan deh Putri.." Gumam Rara sambil tersenyum.
☁☁☁
"Neng manis mau pesen apa?"
"Ifa mau pesen green tea float aja deh mas.."
"Ditunggu neng."
Ifa lalu duduk di salah satu bangku di kantin sembari menunggu pesanannya datang.Dia lalu mengambil ponsel dari saku seragamnya dan mengetik pesan singkat pada salah satu temannya.
"Dorr.."
Hampir saja ponsel Ifa jatuh menyentuh lantai akibat ulah orang iseng yang tanpa rasa bersalah duduk di depan Ifa.
"Nanti kalau ponsel Ifa jatuh Andra mau ganti?" Teriak Ifa emosi.
"Hehe..peace.." Andra mengangkat dua jarinya.
Ifa lalu menatap Kevin yang nampaknya sedang frustasi sambil mengusap matanya.
"Kevin kenapa?" Tanya Ifa.
"Biasa,namanya juga orang sedang galau putus cinta karena cintanya bertepuk sebelah tangan." Jelas Andra.
Ifa lalu mengangguk paham.Mungkin Kevin sedang patah hati karena sekarang Dhea mempunyai gebetan baru yang tak lain adalah Aldo,ketua kelas 11 MIPA 1.
"Kenapa???kenapa Dhea engkau khianati cinta babang?kenapa???" Teriak Kevin sambil mengusap ingusnya menggunakan seragam milik Andra.
"Woii *****...jorok banget sih lo kadal!gue aja patah hati nggak segitunya juga kali!" Ucap Andra mendorong tubuh Kevin agar menjauh darinya.
"Kevin jangan seperti ini,kata mama Ifa sih masih banyak cewek di luar sana."
"Itu kan kata mama lo!bukan kata hati gue...hiks...." Kevin meremas dadanya membuat seragam miliknya kusut.
"Fa...gue cabut dulu ya,kayaknya si kadal ini mesti divaksin dulu sebelum kambuh."
Andra lalu menarik Kevin untuk secepatnya pergi dari kantin sebelum laki-laki yang satu itu membuat keributan di kantin.
Ifa lalu melambaikan tangannya pada Andra dan geleng-geleng kepala prihatin pada kondisi hati Kevin saat ini.
"Untung Rozy nggak bikin Ifa kayak gitu..kalau sampai iya dia punya yang baru Ifa janji bakal culik Rozy,lalu Ifa tinggalin tuh di Antartika dan membiarkan Rozy dimakan manusia antartika."
"Manusia antartika?"
Ifa tersentak kaget dan langsung cengengesan saat Rozy menatap Ifa sambil menunggu jawaban.
"Iya...kalau Rozy sempat aja selingkuh,Ifa kirim ke Antartika biar Rozy dimakan manusia kanibal di sana."
Rozy hanya mengangkat bahunya acuh mendengar ucapan konyol kekasihnya itu.Dia lalu menarik kursi di hadapan Ifa dan meletakkan semangkok bakso yang baru saja dibelinya.
Di saat yang bersamaan,Mas Arman mengantarkan pesanan Ifa.
"Makasih mas.."
"Siap neng."
Setelah tugas mengantar pesanan selesai,Mas Arman kembali ke stannya untuk melayani pelanggan yang lain.
Ifa lalu menyeruput green tea float miliknya sambil memandang Rozy yang sedang memakan baksonya.
Berasa diperhatikan,Rozy lalu menghentikan aktivitas makannya.
"Lo ngapain liatin gue melulu?fokus aja sama minuman lo." Ucap Rozy.
"Rozy sih...ganteng amat,jadinya Ifa suka liatin Rozy.."
Rozy seketika tersedak dan langsung meminum segelas air.
"Mending lo diam,gue mau fokus makan."
Ifa memajukan bibirnya kesal atas perkataan Rozy barusan.Ya tuhan,kenapa sih pria itu tidak pernah berubah sikap dinginnya? walaupun mereka sudah pacaran.Heran ratu..
Ifa kembali memikirkan cara agar bisa menciptakan suasana romantis di antara mereka.
"Rozy.."
"Hmm.."
"Ifa lapar deh.."
Rozy lalu menatap Ifa sekilas.
"Pesan bakso sana.."
Ifa kemudian memandang kesal Rozy yang sama sekali tidak pernah peka terhadap dirinya.
Padahal itu adalah sebuah kode supaya Rozy menyuapi Ifa bakso yang ada di hadapannya.
"Nggak jadi,Ifa udah kenyang."
Sedangkan Rozy,kembali fokus dengan makanannya.Hal itu membuat Ifa semakin naik darah.
"Tau ah.."
Ifa lalu mengambil green tea float miliknya dan beranjak pergi meninggalkan Rozy yang menatapnya dengan bingung.
"Ifa.."
Mendengar namanya dipanggil,Ifa lalu tersenyum dan berbalik badan menghadap Rozy.
Pasti pria itu akan minta maaf karena tidak peka terhadap kode Ifa.Memang ya,Rozy harus diginikan dulu baru peka.
"Hati-hati."
Senyuman Ifa yang awalnya mengambang berubah menjadi kecut.
"Rozy!!" Ifa menghentakkan kakinya kesal.
Gadis itu segera berlari dari kantin menuju kelas dengan hati yang sangat-sangat sakit.
Rozy kembali bingung melihat tingkah Ifa yang sangat aneh.Kenapa gadis itu kesal padanya?padahal dia bermaksud baik dengan mendoakan Ifa agar hati-hati.
Apa salah Rozy?
Rozy lalu mengambil ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp.
Dia lalu membuka grub chatnya bersama ketiga teman ajaibnya.
Kumpulan orang ganteng😎
Rozy
Hoi
Andra
Salam dulu kok zy :'(
Taufan
Tumben lo bener ndra?
Andra
Gue emang selalu bener :)
Rozy
Maaf, assalamualaikum.
Taufan
Waalaikumsalam
__ADS_1
Andra
Waalaikumsalam
Kevin
Waalaikumsalam,hiks dedek lagi galau babang oji :''(((
Rozy
G peduli
Kevin
Huaaaaa dedek dicampakkan,sakit hati dedek bang..bang..
Taufan
Kumat lagi gilanya.
Andra
Dasar kadal amazon,lo kalau mau galau sana...ke gudang langsung aja gantung diri :v
Taufan
Eh jangan lah,lo bisa masuk penjara loh dra karna udah nekan orang buat bunuh diri.
Andra
Bercanda gue,eh mana tuh si kadal amazon?
Kevin
Apa lo?gue lagi renungin nasib cinta gue,babang ozy udah pangling,yayang Dhea udah pergi sama ketua kelas gadungan :'(
Rozy
Gue kok dibawa?
Taufan
Lupain aja Kevin,tumben lo chat grub?lo dimana?
Rozy
Kantin
Andra
Ciee pasti mojok sama dedek Ifa ya?habis ngapain aja tuh?
Rozy
Makan
Kevin
Makan kok nggak ngajak sih babang?
Andra
Ya dia kan lagi mojok kadal
Taufan
Ada masalah?
Rozy
Iya
Andra
Lo habis ngapain sama Ifa?hayoo?
Kevin
Ciuman bang :)
Taufan
Astaga,otak kalian itu ditaruh di mana sih?
Rozy
Belum muhrim
Andra
Halalin dong bang :)
Kevin
Cepet halalin bang :)
Taufan
Skip zy
Rozy
Dia marah
Taufan
Why?
Andra
Gue yakin lo pasti kiss in dia di depan umum kan?makanya dia marah.
Kevin
Lo kasih dia coklat basi ya?
Rozy
Kalian berdua nggak akan dapat contekan.
Andra
Ampun bang
Kevin
Khilaf bang
Taufan
Baru tau rasa :)
Rozy
Dia tadi bilang lapar,ya terus gue bilang pesen bakso sana,terus dia marah.
Andra
Lo makan bakso?dia nggak?eh manusia antartika lo itu nggak peka banget sih,itu kode dari cewek.
Taufan
Ifa itu ngode lo supaya suapin dia.
Rozy
Harus?
Andra
Sekali kali hilangin tuh sifat cuek dan nggak pekaan lo zy,romantis dikit kek
Rozy
Gue pernah romantis.
Taufan
Terkadang perhatian kecil itu lebih disenangi cewek zy daripada cuma kata-kata manis,perlakuan manis itu akan selalu dikenang cewek,yakin deh.
Kevin
Permisi...mau cilok?
Andra
Lagi serius Kevin,lo mau gue sunat sekali lagi?
Taufan
Dasar kadal amazon tidak tau suasana.
Andra
Hajar yuk fan..
Taufan
(Read by Rozy)
Rozy lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku.Kata-kata temannya terus terngiang di kepala Rozy.
"Perlakuan manis?"
"Maksudnya apa ya?"
Kepala Rozy menjadi pusing memikirkannya.Perlakuan manis,dua kata yang membuat otak Rozy bekerja dua kali lipat daripada menyelesaikan soal-soal olimpiade fisika.
Terkadang para lelaki tidak mengerti pemikiran para wanita.
Jika hanya minta untuk disuapi,kenapa harus pakai kode dulu?kenapa tidak bicara secara langsung?
Kode-kode wanita itu masih menjadi misteri untuk para laki-laki di dunia.Kode-kode yang diberikan wanita seperti teka-teki yang harus dipecahkan oleh para pria.
Jika tidak berhasil memecahkannya,maka para pria harus menerima resikonya.
Para wanita akan marah dan merajuk apabila para pria tidak segera menyelesaikan teka-teki yang mereka berikan.
Dan ujung-ujungnya,para pria harus minta maaf dan mengalah demi lancarnya hubungan mereka.
Poor the boy!
☁☁☁
Ifa bersama ketiga teman-temannya sudah 15 menit berada di gedung olahraga,tempat akan dilaksanakannya pertandingan basket antara SMA Garuda Bangsa melawan Cahaya Bangsa.
Bangku penonton dan para suporter dari masing-masing sekolah telah banyak datang dan tidak sabar lagi menyaksikan pertandingan basket tersebut.
"Kyaa...gue deg-degan nih,nggak sabar banget liat Taufan." Ucap Rara sambil mengibaskan tangannya.
"Gue nggak sabar juga ngeliat Aldo,pasti dia ganteng banget." Ucap Dhea sambil mengeluarkan ponselnya berniat untuk mengambil gambar Aldo.
Putri hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Rara dan Dhea.Andai dia bisa jujur pada teman-temannya kalau dia juga sedang deg-degan menunggu Taufan Mahardika.
"Andai Rozy ikut,Ifa pasti bakal jauh lebih semangat." Ucap Ifa langsung disoraki Rara dan Dhea.
"Rafly kan ada,katanya lo mau nyemangati dia." Ucap Putri tanpa sadar.
Rara dan Dhea lalu menatap Putri tajam dan Putri hanya tersenyum mengangkat kedua jarinya.
"Iya ya,kok Rafly nggak kelihatan?"
Ifa lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.Matanya kemudian menangkap seorang yang familiar.
Ifa mempertajam matanya mencoba mengenali orang yang sedang melakukan pemanasan tersebut.
Ifa lalu tersenyum.Dia kemudian bangkit dan berlari menuju ke tempat orang tersebut.
Ketiga temannya hanya menatap kepergian Ifa berharap bahwa bencana tidak akan menimpa hubungannya dengan Rozy.
"Rafly..." Teriak Ifa sambil melambaikan tangannya.
Pria dengan nomor punggung 6 itu lalu tersenyum saat dirinya dipanggil oleh seorang gadis cantik yang sedang berlari ke arahnya.
"Widih...itu mantan lo kan fi?cakep ya..sama seperti dulu, sayangnya dia pindah." Bisik Adit,salah satu teman Rafly bernomor punggung 12.
"Manis plus cakep kenapa lo putusin sih?" Goda Nanda,kapten tim basket SMA Cahaya Bangsa.
Rafly hanya menatap kedua temannya malas.Dia kemudian menghampiri Ifa yang terlihat lelah berlari untuk menghampirinya.
"Maafin gue,gara-gara gue lo jadi lari terus lelah gini deh."
"Santai aja Rafly,Ifanya aja yang lemah..Btw,semangat ya main basketnya,walaupun bagaimana,SMA Cahaya Bangsa itu sekolahnya Ifa dulu."
Rafly lalu mengacak rambut sahabat dari kecilnya itu dan mengangguk.
"Tentu saja..gue akan melakukan yang terbaik."
Rara,Dhea,Putri menatap tidak suka Ifa yang sedang mengobrol manis dengan Rafly.
Mereka memang tidak suka dengan Rafly sejak pria itu menyakiti hati teman mereka.
Dan seenak jidatnya sekarang pria itu kembali lagi ke dalam kehidupan Ifa.
"Gara-gara lo sih Put!" Ucap Dhea menuduh Putri.
"Lah..gue nggak sengaja juga ngomongnya,hehe.."
"Walaupun Rafly kelihatannya berubah,tapi gue tetap khawatir kalau nanti dia kembali nyakitin Ifa,kan kasihan." Ucap Rara menatap tajam Rafly.
"Menurut gue sih,Rafly itu pasti nggak bakal nyakitin Ifa lagi deh,kalian kan juga tau kalau mereka berdua itu sahabatan dari kecil." Jelas Putri menyampaikan pikirannya.
"Iya juga sih,andai aja Ikbal masih hidup sampai sekarang, persahabatan mereka pasti lebih lengkap." Ucap Dhea dramatis.
"Huui..kita kan sahabat Ifa juga,ya walaupun nggak dari kecil,tapi sejak SMP,kita selalu deket,selalu barengan,sama Ana dan Yuni juga kan?"
Putri dan Dhea lalu mengangguk.Mereka jadi rindu dengan masa-masa kekanakan mereka saat masih SMP.
Di lain sisi..
Di ruang baju ganti,nampak tiga orang remaja laki-laki menatap heran salah satu teman mereka yang tiba-tiba saja berubah.
Teman mereka itu lalu mengambil baju basketnya dan masuk ke dalam kamar ganti untuk mengganti pakaiannya.
Ketiga temannya memandang heran pria itu.Ada banyak tanda tanya yang muncul di pikiran mereka.
Bukan hanya ketiga temannya,semua anggota tim basket SMA Garuda Bangsa yang akan bertanding hari ini pun sama-sama bingung atas kejadian beberapa menit yang lalu.
"Fan..Rozy habis di rukyah?kok bisa?" Bisik Andra pada Taufan.
"Gue juga nggak tau,tadi dia nolak buat gabung,tapi sekarang?dia sendiri yang maksa gabung." Balas Taufan dengan suara pelan.
"Babang ozy sudah taubat rupanya...terima kasih tuhan." Ucap Kevin sambil sujud.
"Gue yakin deh,ada latar belakangnya nih Rozy ikut maen.." Ucap Aldo.
Taufan mengernyitkan dahinya heran.Dia ingat betul kalau Rozy tadi saat di parkiran sekolah Rozy menolak permintaannya untuk bergabung bermain basket.
Tapi,saat mereka sedang berganti pakaian,Rozy tiba-tiba saja masuk dan mengatakan dia akan ikut untuk bermain basket apapun alasannya.
Ya bagi Taufan sih syukur kalau Rozy akhirnya ikut main,karena saat itu mereka sedang kekurangan orang karena Shiddiq,pemain basket andalan mereka sedang sakit.
Flashback on
"Zy...gue mohon sama lo,gabung main sama kita.." Ucap Taufan dengan tatapan memohon.
Rozy lalu menggelengkan kepalanya.
"Sorry fan,gue emang nggak tertarik lagi untuk main basket selain itu gue juga harus menepati janji gue sama kak Arya untuk mengajari Ifa naik sepeda." Jelas Rozy sambil menghidupkan mesin motornya.
Taufan hanya bisa menghela nafas pasrah.Dia juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya pada Rozy.Mungkin Rozy memang tidak berniat sama sekali untuk bermain basket lagi.
"Ya udah,kalau lo mau liat kita main,lo jangan lupa datang ke gedung olahraga."
Rozy lalu mengangguk.
Tingg..
Rozy segera mengambil ponselnya dan mengecek notifikasi yang baru saja masuk.
Ifa❤
Rozy..Ifa mau liat pertandingan basket dulu ya :)
Rozy menghela nafasnya.Niatnya mau ngajari Ifa main sepeda menjadi tertunda 2 jam karena gadis itu malah seenak jidatnya membatalkan janji yang telah mereka buat.
Tapi,Rozy bisa apa?dia harus menerimanya dengan lapang dada.
"Fan..gue ikut lo ke gedung olahraga sekarang." Ucap Rozy sambil memasang helmnya.
"Et dah..lo katanya mau ngajari Ifa naik sepeda."
"Dia ada di sana,gue liat lo main dulu nanti,sepulang dari sana gue tarik dia." Ucap Rozy membuat Taufan bergidik ngeri.
Tarik?emang Ifa itu kerbau pakai acara ditarik.Dasar sadis!
"Btw gue dibonceng lo aja ya?capek gue bawa motor..nanti gue suruh aja si Dito bawa motor gue ke sana."
Rozy lalu mengangguk.
Setelah Taufan naik,Rozy dengan segera langsung tancap gas menuju gedung olahraga.
Butuh waktu 10 menit,akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
"Zy...gue tinggal ya,soalnya gue udah telat nih,mau ganti baju.."
Tanpa abibu,Taufan langsung meleset pergi meninggalkan Rozy.
Rozy hanya tersenyum tipis.Dia kemudian melangkah masuk ke dalam gedung olahraga.
Banyak orang yang telah berkumpul di sana untuk menyaksikan pertandingan basket tersebut.
Rozy lalu mengedarkan pandangannya mencari dimana keberadaan pacarnya.
Matanya lalu menangkap dua orang yang familiar baginya.Mereka terlihat asik mengobrol dan terkesan sangat dekat.
Tanpa Rozy sadari,dia mengepalkan tangannya tidak terima melihat orang yang dia cintai tersenyum kepada seorang pria yang tidak disukai Rozy.
Dengan langkah seribu,Rozy menerobos keramaian menuju ruang ganti tim basket sekolahnya.
__ADS_1
Dia mendorong pintu ruang ganti tersebut dan membantingnya cukup keras membuat semua orang yang ada di dalam kaget.
"Taufan..gue akan gabung untuk main basket."
Flashback off
"Fan.."
Taufan tersadar akan lamunannya karena seseorang memanggil namanya.
"Eh Rozy...anu..lo yakin mau main?ya gue tau lo merasa bersalah,tapi kita udah cari penggantinya kok." Ucap Taufan salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Gue main atas kemauan gue sendiri."
Andra lalu memandang Kevin.
"Vin,kesambat apaan sih tu bocah?gue yakin ini telah terjadi sesuatu sehingga Rozy ikut main basket deh." Bisik Andra.
"Ingatkan gue untuk masukin Rozy ke dalam salah satu keajaiban dunia."
Andra langsung menoyor kepala temannya itu karena bicara tidak sesuai keadaan.
Taufan lalu menyuruh seluruh timnya untuk berkumpul.Mereka diberi waktu 8 menit untuk melakukan pemanasan di lapangan.
"Semuanya...kita harus bermain dengan serius,saling kerja sama,kita di sini tim...kalau kita kalah,itu kekalahan kita bersama,jadi nggak ada yang saling menyalahkan,kalau kita pun menang itu adalah kemenangan untuk kita bersama." Jelas Taufan sebagai kapten.
Taufan lalu menghampiri Ghani,seseorang yang baru saja dengan rela masuk ke dalam timnya untuk menggantikan Shiddiq tapi posisinya langsung saja diambil oleh Rozy.
Tapi Ghani tidak mempermasalahkannya,karena walaupun sekarang hanya sebagai pemain cadangan,dia tetap senang menjalaninya.
"Maafkan gue dan Rozy ya.." Bisik Taufan.
"Santai fan,lagian Rozy lebih pantas dibanding gue,dia itu kan jago main basket."
Taufan lalu tersenyum.
Dia lalu memimpin barisan untuk segera melakukan pemanasan di lapangan.
Taufan lalu berlari duluan menuju lapangan dan diikuti oleh anggotanya yang lain.
Teriakan dari para suporter SMA Garuda Bangsa pun memenuhi ruangan tersebut tak terkecuali Rara,Dhea,Ifa,dan Putri.
"Kyaaa....tampannya Taufan...." Teriak Rara sambil mengangkat papan bertuliskan nama sekolahnya.
"Kyaaa....semangat Aldo.." Teriak Dhea.
Putri lalu tak sengaja menatap sesosok makhluk dingin yang selama ini menghantui hati teman gilanya.
Putri lalu menarik lengan Ifa dan menunjuk ke arah makhluk tersebut.
"Rozy?????" Teriak Ifa histeris membuat Rara dan Dhea ikut terkejut.
"WHAT????ROZY MAIN BASKET???" Teriak Dhea dan Rara serentak.
Bukan hanya mereka yang terlihat histeris,semua penonton yang ada di sana pun juga ikut histeris sama dengan mereka.
Semangat para suporter terutama perempuan bertambah membara.
Dua orang most wanted sekolah mereka mengikuti pertandingan basket.
Rafly kemudian menatap Rozy yang juga saat itu sedang menatapnya.
Sepertinya pertandingan kali ini sangat menegangkan.
Rafly lalu menghampiri tim basket lawannya sambil tersenyum ke arah Rozy dan itu membuat Rozy memalingkan wajahnya.
"Wah...gue ketemu lo lagi,apa kabar lo?" Tanya Rafly dengan nada menjengkelkan.
Rozy hanya mengacuhkan Rafly seolah tidak ada yang sedang bicara padanya.
"Gue beri tau,kalau tadi sahabat gue yang sangat gue cintai datang menemui gue dan dia kasih gue semangat." Ucap Rafly dengan sombong.
"Cih...lihat saja nanti." Gumam Rozy.
"Lo mungkin berhasil untuk dapetin hati Ifa,tapi ingat gue masih belum menyerah."
"Kalau gue menang,lo harus lepasin Ifa untuk gue."
Rafly lalu berlari pergi meninggalkan Rozy yang sedang berusaha mengontrol emosinya.
Taufan menatap kepergian Rafly dengan bingung.Siapa pria itu?apa dia alasan Rozy ikut gabung?
"Dia siapa zy?" Tanya Taufan membuat Andra dan Kevin menatap Rozy.
Rozy hanya diam tidak menjawab.Tapi satu detik kemudian.
"Mantan Ifa..."
"APA????" Teriak ketiga temannya tidak percaya.
Phiiiitttt
Peluit tanda permainan akan dimulai pun berbunyi.
Mau tak mau Taufan,Andra,dan Kevin akan mengintrogasi Rozy nanti.
"Kita lihat saja Rafly.." Gumam Rozy.
☁☁☁
Ifa menatap Rozy dari atas sampai bawah dengan bingung.
Sejak selesai bertanding tadi,Rozy menjadi diam dan tidak banyak bicara padanya.
"Rozy...kenapa Rozy sedih?kan sekolah kita menang.." Tanya Ifa namun Rozy hanya diam.
Rozy lalu mengisyaratkan Ifa untuk menaiki sepeda miliknya
"Ifa takut Rozy.." Ucap Ifa menatap horor sepeda Rozy.
"Percaya sama gue,lo aman."
Dengan penuh ragu,Ifa menaiki sepeda tersebut dan meletakkan salah satu kakinya pada kayuhan sepeda.
"Lo harus jaga keseimbangan,oke?"
Ifa lalu mengangguk,dia menelan salivanya takut kalau misalnya dia terjatuh nanti.
"Yuk mulai..."
Ifa lalu menggerakkan kakinya mengayuh sepeda tersebut.
Dengan penuh hati-hati dia mengayuh sepeda tersebut dan berusaha menjaga keseimbangannya.
Bruaaak...
Ifa gagal..dia pun terjatuh dengan sikunya yang mulai mengeluarkan darah.
"Aww..sakit.." ringis Ifa.
Rozy segera menghampiri Ifa sambil membawa kotak P3K yang telah disiapkannya.
Dia lalu dengan hati-hati mengobati luka gadis itu.
"Ayo coba lagi.."
Dengan paksa Ifa kembali bangkit dan mencoba mengayuh sepeda sialan tersebut.
Berulang kali dia mencoba,berulang kali pula dia terjatuh dan terluka.
Tapi,perlahan-lahan Ifa sudah mulai bisa menyeimbangkan tubuhnya ya walaupun masih sering jatuh.
Tapi, perkembangannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Rozy lihat...Ifa sudah bisa..." Teriak Ifa.
Rozy lalu tersenyum tipis melihat gadis itu yang seperti anak SD belajar naik sepeda.
Tidak..bahkan anak TK pun sudah bisa bermain sepeda.
Karena saking semangatnya,Ifa sampai tidak melihat tiang listrik di hadapannya.
Braaak..
Ifa kembali jatuh,tapi kali ini jatuh lebih sakit daripada sebelumnya.
"Fa..."
Ifa meringis menahan perih luka di kakinya.Selain itu,kakinya juga sedikit terkilir.
Rozy lalu mengecek luka Ifa yang lumayan parah dari luka sebelumnya.Ya kali ini dia menabrak tiang makanya lukanya lumayan banyak.
"Kita ke rumah,gue obati lo di rumah ya.."
"Nggak..mama Rozy kan nggak ada di rumah,kata Papa Ifa kita nggak boleh berduaan seperti itu."
"Gue nggak akan apa-apain lo,kita cuma mengobati luka,nanti luka lo jadi sarang bakteri dan bisa diamputasi,lo mau?"
Mendengar kata amputasi membuat Ifa bergidik ngeri.Mau tak mau dia harus menuruti perkataan Rozy.
Rozy lalu bangkit hendak mendorong sepedanya masuk ke dalam rumah.Namun,tangannya di tahan oleh Ifa.
"Rozy..kok kejam ninggalin Ifa di sini?Ifa itu nggak bisa jalan karena terkilir." Rengek Ifa sambil menunjuk kakinya yang terkilir.
"Lo kan terkilir sedikit,bisa jalan tuh."
"Rozy!!Ifa nggak bisa...sakit.."
"Bisa..."
Ifa mulai mengeluarkan air matanya menangis.Kenapa di saat seperti ini Rozy semakin tidak peka ya tuhan???
Rozy menghela nafasnya kasar.Daripada tetangganya menegurnya karena ulah gadis ini lebih baik dia turuti saja kemauan gadis ini.
"Mau lo apa?mau gue seret atau gue gendong?"
Ifa kemudian berhenti menangis.
"Ya kali diseret,emang Ifa karung.."
Rozy lalu menggendong gadis itu.Ifa lalu tersenyum sambil menatap wajah Rozy yang membuatnya semakin deg-degan.
Setelah masuk ke dalam rumah,Rozy lalu meletakkan Ifa di sofa.
"Suka banget digendong." Ucap Rozy sambil mengoleskan luka Ifa dengan betadin.
"Kalau Rozy ya Ifa suka....kalau orang lain Ifa lempar aja."
Rozy lalu tertawa mendengar perkataan gadis itu.Jika dia diminta melempar Rafly apa Ifa mau ya?
Drrttt...
Ifa merasakan ponselnya bergetar.Dia dengan cepat-cepat mengambil ponselnya.
Rafly is calling...
"Tumben Rafly telfon.."
Darah Rozy seketika mendidih mendengar ucapan Ifa barusan.
Ngapain pria itu menelfon pacarnya?ya walaupun mereka sahabat,tapi tetap saja Rozy cemburu karena status mereka juga mantan.
Rozy lalu merebut ponsel tersebut dari tangan Ifa dan menggeser tombol berwarna hijau.
"Maaf untuk saat ini pacar saya sedang sibuk dengan saya."
Rozy langsung mematikan panggilan tersebut dengan wajah memerah menahan emosi.
Baru saja Rozy berhasil mengendalikan emosinya,pria bernama Rafly itu tiba-tiba saja muncul membuat Rozy kembali emosi.
"Kenapa dimatiin sih?Rafly mungkin mau nyampein berita penting."
Rozy menatap tajam Ifa membuat Ifa bergidik ngeri.Apa barusan pria itu cemburu?
Rozy lalu mendekatkan wajahnya pada Ifa membuat jarak mereka menjadi dekat.
"Gue nggak suka kalau ada orang lain tersenyum pada lo."
"Gue nggak suka kalau ada orang lain yang sayang pada lo lebih dari gue."
Ifa semakin tidak mengerti dengan perkataan Rozy.
"Berarti,Rozy nggak suka dong kalau Ifa disayang mama,papa,kak Arya, dan Nis.."
Ifa terbelalak kaget saat bibir tipis itu kembali menyentuh bibirnya.Ifa hanya bisa menutup matanya tidak berani untuk membukanya saat ini.
Selang beberapa detik Rozy memberhentikan ciumannya daripada nanti bertambah parah.Terlebih lagi tidak ada orang di rumahnya.
"Ro..Rozy..i..itu..ta..di.." Ucap Ifa terbata-bata dengan wajah blushing.
"Maaf,harusnya gue nggak emosian." Ucap Rozy merasa bersalah dan ini sudah terjadi untuk kedua kalinya.
Ifa lalu menautkan jari-jemarinya di antara sela jari Rozy.Dia lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Rozy.
"Rozy jangan cemburu... walaupun Rafly dan Ifa itu deket,di hati Ifa cuma ada Rozy.."
Rozy lalu tersenyum dan merasa lega mendengar perkataan Ifa.
"Fa...kita jangan lama-lama kayak gini,kita cuma berdua di rumah." Bisik Rozy.
"Ifa lupa.."
Ifa lalu mengangkat kepalanya dan melepas genggaman tangannya dari Rozy.Tapi,Rozy menahannya.
"Yang ini jangan.."
"Kenapa?kata Rozy jangan lama-lama.."
"Gue nyaman kita seperti ini.."
Pipi Ifa rasanya panas mendengar ucapan Rozy yang begitu manis padanya.
"Tapi,kita tidak boleh seperti ini nanti kenapa-kenapa lagi seperti yang papa Ifa peringatkan."
Dengan berat hati,Rozy melepaskan genggaman tangannya.
Sementara Ifa,berusaha menahan mati-matian rasa gugup di dirinya.Apalagi sejak kejadian beberapa menit yang lalu.
"Fa.."
Ifa lalu menoleh ke arah Rozy.
"Dua hari lagi kita latihan renang ya."
Deg
Mendengar kata renang membuat Ifa menjadi gemetar ketakutan.
Apa dia bisa bertahan?
"Hei...gue ada di samping lo,jadi jangan takut,lawan rasa takut itu oke?"
Ifa lalu mengangguk.
Semoga saja dengan hadirnya Rozy,trauma Ifa bisa dapat terobati.
Ya..semoga!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Note : Rozynya Ifa jangan diambil ya :)
__ADS_1
#happyreading