
Tuhan ciptakan kamu agar aku
Tidak merasa kesepian.
☁☁☁
Rozy menjambak rambutnya frustasi karena Ifa tadi pergi begitu saja dan meninggalkannya.
Bukankah gadis itu harusnya senang,karena dia telah membalas perasaannya??tapi gadis itu malah pergi.
Rozy lalu mengecek ponsel yang sedari tadi terus digenggamnya berharap ada notifikasi muncul di layar ponselnya.
Namun,harapan Rozy hanya sia-sia.Buktinya tidak ada notifikasi apapun dari ponselnya kecuali notifikasi grub WhatsApp yang membuatnya sakit hati.
Gimana tidak sakit hati???berharap doi yang ngechat ini malah grub WhatsApp???
Cobaan orang tampan!
Rozy lalu melempar ponselnya ke atas ranjang.Ya....beruntung di atas ranjang,kalau ke lantai???bisa hancur lebur ponsel milik Rozy.
"Aargghh...kenapa gue bisa segila ini karena cewek??okey Rozy lo harus tenang." Ucap Rozy pada dirinya sendiri sambil menarik nafas dalam-dalam.
Rozy lalu membuka laptopnya.
Jujur...hatinya saat ini sangat gusar karena Ifa hanya diam dan menjauhinya setelah dia mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu.
Rozy jadi bingung,selama ini gadis itu selalu mengejarnya tanpa henti untuk mendapatkan hatinya.
Nah...di saat semua itu sudah terwujud gadis itu malah menjauh..
Apa sebenarnya mau gadis itu?
Rozy sangat tidak paham dengan perempuan...sangat!
"Lo kenapa zy?" Tanya Defri,teman sekamar Rozy.
"Lo ada masalah?" Tanya Guntur,teman sekamar Rozy yang satu lagi dan hobi bermain PUBG.
Rozy lalu menatap Defri dan sedetik kemudian dia beralih menatap laptopnya.
"Gue nggak ngerti sama cewek.."
Defri mengangkat alisnya tidak mengerti dengan ucapan Rozy.Dan di sisi lain,Defri juga kaget atas ucapan Rozy barusan.
Berbeda dengan Guntur yang masih sibuk dengan game PUBG-nya.
Saat pertama kali mereka satu kamar semenjak 4 hari yang lalu,Rozy jarang mengobrol dengannya.Pria itu hanya fokus dengan soal-soal olimpiade di depannya daripada mengobrol dengan Defri ataupun Guntur.
Defri lalu mendekati Rozy yang sedang mengetik sesuatu pada laptopnya.
'Gimana cara menembak cewek?'
Defri menahan mati-matian dirinya agar tidak tertawa melihat apa yang sedang Rozy ketik.
Oh ayolah...apakah pria itu baru pertama kali jatuh cinta??
"Kalau lo mau ketawa,ketawa aja nggak usah tahan." Kesal Rozy karena dia tau Defri sedang menertawakannya.
Satu detik kemudian,tawa yang sedari tadi Defri tahan langsung pecah.Jujur....itu adalah hal terkonyol yang pernah orang lakukan.
Guntur yang sedang bermain game lalu menatap dua teman sekamarnya itu dengan heran.
Apa yang sedang mereka tertawakan?selucu itukah?
Guntur hanya mengangkat bahunya tak acuh.
Defri lalu menghirup nafas dalam-dalam lalu menepuk pundak Rozy.
"Lo mau nembak cewek ya?"
Deg!
Kenapa tiba-tiba jantung Rozy mendadak berdetak kencang?
"Hm..mungkin." Jawab Rozy kikuk.
Defri lalu menepuk pundak Rozy dan ikut duduk di sampingnya.
"Gue jadi kepo...siapa sih cewek yang lo taksir?gimana sih orangnya?"
Rozy lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Haruskah dia mengatakan cewek itu Ifa?haruskah dia mengatakan pada Defri bagaimana Ifa???
Oh...ayolah....apa yang akan dipikirkan Defri jika tau bahwa selama ini Ifa yang mengejarnya.
"Oii lo kok diam aja."
Rozy tersentak dari lamunannya.
"Lo pernah nembak cewek?" Tanya Rozy mengalihkan pembicaraan.
Defri tampak berpikir.Satu detik kemudian,pria berkacamata tersebut langsung tersenyum,membuatnya semakin terlihat tampan.
"Pernah..." Jawab Defri.
"Terus?gimana cara lo nembak cewek?" Tanya Rozy kepo.
"Gue cuma bilang,lo mau nggak jadi pacar gue."
Rozy menghela nafasnya gusar.
Itu sih dia juga tau!
"Maksud gue,gimana cara lo nembaknya??ya itu sih gue juga tau."
Defri lalu memposisikan dirinya menghadap Rozy sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Ajak aja ke tempat romantis,terus tembak di sana." Saran Defri.
Rozy tampak berpikir.
Dimana ya tempat romantis yang pas buat dia nembak Ifa?
Apa di kolam?
Apa di kebun?
Aha....apa di depan toilet seperti kemarin?
Jika Rozy berhasil menembak Ifa,dia janji akan membagi pengalaman dengan Andra supaya pria itu juga berhasil nembak Rara.
"Makan yuk...gue lapar nih,udah jadwalnya makan malam." Ajak Guntur menganggu Rozy yang sedang berpikir.
Mereka bertiga segera bersiap-siap untuk pergi ke ruang makan.
Di sepanjang perjalanan,tak henti-hentinya Rozy berpikir tempat romantis yang tepat untuk menembak Ifa.
"Apa iya gue nembak Ifa di depan toilet?" Batin Rozy.
☁☁☁
Ima menutup kupingnya mendengar ceramah panjang kali lebar dari Tasya.
Sejak keluar dari kamar tadi,gadis itu tak henti-hentinya berbicara.
Seharusnya Ima membawa lakban tadi supaya gadis itu tidak terus bicara.
"Tuh lihat orang udah rame kan?kalian sih pakai acara muhasabah segala,jadinya kita telat kan???" Omel Tasya.
"Iih...Tasya kita itu bukan lagi muhasabah tapi lagi baperan nonton film Titanic." Jelas Ifa tak terima.
"Apapun itu,mau Titanic kek,Totonoc kek,Tatinac kek ,gue nggak peduli...gara-gara kalian kita jadi telat deh makan malam."
"Ya elah,meja makan masih banyak kok TASYA GENDUT!!!" Geram Ima.
Ima tau yang membuat Tasya marah bukan karena telat makan.Tapi karena dia tidak bisa melihat cowok yang sedang ditaksirnya karena banyaknya umat manusia di ruang makan saat ini.
Saat sampai di ruang makan,mereka bertiga segera mengambil piring dan mengantri untuk mengambil nasi serta lauk pauk yang sudah disediakan.
Setelah selesai,mereka segera menuju meja yang masih kosong agar tidak diambil orang lain.
"Yah...mana sih gebetan gue?" Tanya Tasya sambil menatap sekelilingnya.
"Emang Tasya punya gebetan?setau Ifa Tasya hanya penggemar rahasianya doang." Jelas Ifa sambil memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
"Et dah nusuk amat sih ucapan lo,gini ya Ifa binti emaknya,dia itu bukan hanya sekedar idola gue,tapi lebih." Kesal Tasya.
Tawa Ima langsung pecah melihat ekspresi kesal dari Tasya.
"Gue doain lo tersedak."
Ima lalu mengangkat dua jarinya.
Tasya memalingkan wajahnya.Kedua gadis itu membuat moodnya menjadi tambah buruk.
Kedua mata Tasya tak sengaja menangkap tiga sosok pria tampan yang sedang berjalan masuk ke dalam ruang makan.
Tasya lalu memicingkan matanya berusaha mengenali salah satu dari tiga pria tampan yang sedang menuju ruang makan itu.
Tasya langsung membelalakkan matanya lalu seulas senyuman menghiasi bibirnya.
Sepertinya dua orang gadis itu akan tersedak makanannya sendiri saat mengetahui hal ini.
"Nah....lihat tuh doi gue udah datang." Ucap Tasya sambil menunjuk ke arah tiga orang yang sedang mengantri mengambil makanan.
Ifa dan Ima lalu menatap mengikuti arah telunjuk Tasya.
Deg!
Tubuh Ifa seketika menegang mengetahui siapa yang ditunjuk oleh Tasya.
"Uhukhuk.."
Tasya dan Ima beralih menatap Ifa yang tiba-tiba tersedak.
Ima segera menyodorkan air kepada Ifa,lalu gadis itu segera meneguknya sampai habis.
"Lo kenapa?kaget ya melihat doi gue ganteng banget." Ucap Tasya tersenyum
"Doi Tasya yang mana?" Tanya Ifa cemas.
"Itu yang pakai baju warna coklat."
Ifa segera menatap tiga orang pria yang ditunjuk Tasya tadi.
Ifa melihat Rozy memakai baju berwarna biru bukan coklat.
"Alhamdulillah." Batin Ifa.
"Sepertinya mereka lagi kesulitan mencari meja yang kosong deh." Ucap Ima menatap Iba tiga pria tampan itu.
Tasya lalu menjentikkan jarinya.Sebuah ide cemerlang terlintas di otaknya.
"Gue akan ajak makan bareng kita,meja kita untuk enam orang kan?nah....pas ini."
Ifa ingin rasanya membantah ucapan Tasya barusan.Demi apapun,Ifa belum siap bertemu Rozy.
Jantungnya ini loh...tidak bisa dikontrol!
__ADS_1
"GUNTUR!!!" Teriak Tasya sehingga semua orang menatapnya.
Guntur yang merasa namanya dipanggil seseorang lalu mencari arah sumber suara.
Tasya lalu menunjuk tiga kursi yang kosong kepada Guntur.
Guntur lalu mengangguk menerima tawaran gadis itu.
"Woi...di sana kosong tuh..kita ke sana aja."
Rozy lalu menatap kursi yang ditunjuk oleh Guntur.Di sana,dia dapat melihat Ifa yang sedang menunduk sambil memainkan sendok miliknya.
Sebuah senyuman terukir di wajah Rozy saat melihat gadis itu.
Defri lalu menatap Rozy melihat Rozy hanya diam.
Dia lalu mengikuti arah pandang Rozy dan menemukan seorang gadis.
Defri lalu tersenyum miring
"Oh jadi itu ceweknya?cantik..." Bisik Defri.
Rozy langsung tersentak dan menoleh ke arah Defri sambil melayangkan tatapan tajamnya.
Guntur lalu mengajak Rozy dan Defri pergi ke meja tersebut.
"Makasih banget loh,untung ada lo di sini." Ucap Guntur sambil menarik kursi untuk duduk.
"Its okey..." Jawab Tasya tersenyum manis.
Ima lalu mencubit lengan Tasya sehingga gadis itu menoleh ke arahnya.
"Jadi,lo dengan si guntur itu udah kenal?" Bisik Ima kaget.
Tasya lalu tersenyum penuh kemenangan.Dia lalu mengangguk dan membuat Ima hampir tersedak oleh salivanya sendiri.
Makanya...jangan suka mengejek orang lain!
Suasana di meja makan tersebut terlihat canggung karena masih ada di antara mereka yang belum saling kenal.
"Oh iya Guntur...kenalin ini Ima dan Ifa." Ucap Tasya mencairkan suasana.
Ima dan Ifa lalu tersenyum ke arah Guntur.
"Nah...kenalin juga di samping gue ini namanya Defri,lalu di sampingnya lagi Rozy."
Deg!
Ima dan Tasya lalu terdiam saat Guntur menyebut nama Rozy.Mereka sangat ingat nama tersebut sering diucapkan oleh Ifa.
Jadi,pria itu yang namanya Rozy???
Ifa lalu menatap Ima dan Tasya yang sedang menatapnya juga.
Ifa lalu beralih menatap Rozy yang duduk di sampingnya.
Pria itu hanya diam sambil tersenyum tipis.Dia sama sekali tidak mau menatap Ifa.
Mungkin karena Ifa yang tadi sore pergi secara tiba-tiba?
Itu karena jantungnya terasa mau copot dari tempatnya,makanya Ifa segera pergi.
Atau tidak....bisa-bisa dia akan pingsan jika lama-lama di dekat Rozy.
Defri lalu menatap Ifa sambil menaikkan satu alisnya.
"Lo kenal Rozy,Ifa?" Tanya Defri masih menatap Ifa.
Ifa tersentak kaget mendengar pertanyaan Defri barusan.
"Hmm...itu..."
"Dia gebetan gue."
Krik krik krik...
Semua yang di meja makan tersebut mendadak menjadi diam saat Rozy mengatakan bahwa Ifa adalah gebetannya.
Ifa rasanya ingin mati saat ini.
Bukan...bukan dia tidak senang...dia sangat senang,bahkan sangat bahagia saat Rozy mengakui bahwa dia adalah gebetannya.
Tapi kembali lagi,jantung Ifa tidak bisa dikontrol dengan baik.
"Fa...lo udah selesai makan?"
Ifa beralih menatap Rozy.
"Iya Rozy..."
Rozy segera menarik tangan Ifa meninggalkan meja makan tersebut.
"Gue sama Ifa mau pergi ke luar sebentar." Jelas Rozy.
Rozy lalu mengajak Ifa keluar dari ruangan tersebut.
Entah apa yang terjadi pada laki-laki tersebut,Ifa tidak tau.
Di sisi lain Ifa sangat bahagia,dan di sisi lain Ifa tidak setuju cara Rozy yang menarik tangannya seperti ini.
Guntur lalu menatap Defri yang hampir melongo melihat kejadian barusan.
Bukan hanya Defri,Ima dan Tasya pun ikut kaget atas kejadian barusan.
"Wah...gas Rozy." Ucap Defri.
☁☁☁
Rozy tidak menjawab pertanyaan Ifa barusan.Dia hanya fokus menatap jalan di depannya.
Rozy lalu membawa Ifa masuk ke dalam lift.
"Kita mau kemana?"
Rozy lalu memencet tombol 1 lalu beralih menatap Ifa.
"Gue udah bilang,kalau kita mau keluar."
"Malam-malam begini?kita mau kemana?"
Rozy lalu tersenyum.
"Melihat bintang di langit."
2 menit kemudia,pintu lift terbuka.
Mereka berdua lalu keluar dari hotel.
Ifa dan Rozy duduk di salah satu bangku di depan hotel tersebut.
Seketika suasana berubah menjadi canggung.Baik Ifa maupun Rozy tidak ada yang saling bicara untuk beberapa detik.
"Fa...." Ucap Rozy memecah keheningan.
"Ya...Rozy.." Jawab Ifa kikuk.
"Lo kenapa tiba-tiba pergi tadi?lo nggak suka ya gue nyatain perasaan gue?" Tanya Rozy.
Ifa langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan...Ifa hanya...deg-degan aja...jantung Ifa mau copot tadi rasanya,Ifa senang kok Rozy cinta sama Ifa." Jelas Ifa dengan wajah blushing.
Seulas senyuman menghiasi wajah tampan Rozy saat mendengar jawaban polos gadis itu.
Ya..Rozy cukup lega mendengarnya.
"Lo tau kenapa tuhan ciptakan bintang?" Tanya Rozy sambil menatap jutaan bintang di langit malam itu.
"Nggak..." Jawab Ifa menatap Rozy.
Rozy lalu tersenyum,senyuman yang paling tulus sehingga membuat Ifa mati rasa saat itu.
"Agar bulan tidak kesepian."
"Tanpa bintang,bulan nggak berarti apa-apa."
Ifa lalu tersenyum ikut menatap bintang di langit.
"Oleh karena itu,tuhan ciptakan lo agar gue nggak kesepian...tanpa ada lo hidup gue sama seperti bulan,nggak berarti."
Deg!
Jantung Ifa terasa mau copot dari tempatnya.Pipinya seketika memanas mendengar ucapan dari Rozy barusan.
"Rozy belajar gombal dari mana si?" Tanya Ifa malu.
"Dari Andra."
Oh....pria itu...
Pantas saja Rozy sangat hebat dalam gombal.Ternyata belajar dari pria playboy cap kampung itu.
Sedangkan dalam hatinya Rozy sangat merutuki mulutnya sendiri.
Apa yang barusan dilakukannya?ngegombal?
Rozy bukannya Dilan yang hobi menggombal,dia hanyalah seorang manusia biasa yang selama ini dikejar oleh seorang cewek.
Dan....barusan?dia menggombal?
Dan jujur,Andra tidak pernah mengajarinya gombal.
Ingatkan Rozy untuk segera rukyah sehabis ini.
"Fa.."
Entah bisikan dari mana Rozy tiba-tiba memanggil gadis itu.
Ifa yang semula menatap langit beralih menatap Rozy.
"Lo adalah gadis tergila yang pernah gue temui?" Ucap Rozy terkekeh sambil menatap jutaan bintang malam itu.
Dan itu...apa maksud Rozy?bisikan darimana itu sehingga Rozy berkata seperti itu?
"Dan Rozy adalah pria terdingin yang pernah Ifa temui."
Rozy beralih menatap Ifa.Ada getaran hebat di dadanya saat melihat senyuman gadis itu.
Rozy beralih menggenggam tangan lembut gadis itu.Dia menatap bola mata milik Ifa yang membuat dadanya semakin bergetar hebat.
Ifa ikut menatap bola mata Rozy sambil mengatur nafasnya.
Jujur...Ifa ingin pingsan saat ini!
"Fa...lo....lo ma...mau....nggak jadi pa..."
"BAKSO MBAK...BAKSO MAS..."
Belum selesai Rozy berbicara,sang pedagang bakso tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
__ADS_1
"Malam-malam gini,enaknya bakso dulu,mas..mbak..." Tawar abang bakso tersebut.
"Maaf mas,kita berdua tadi barusan habis makan,fa...kita ke dalam aja yuk,udah malam mending tidur aja." Ajak Rozy berusaha untuk bersikap normal meskipun detak jantungnya berdetak hebat.
Gara-gara pedagang bakso itu,rencananya untuk menembak Ifa jadi sirna menjadi butiran debu.
Ifa melongo mendengar ajakan Rozy barusan.Harusnya,hari ini adalah hari resmi mereka jadian.
Tapi karena ulah abang bakso yang satu ini rencana itu pun hanyalah tinggal wacana.
Tanpa pikir panjang,Rozy segera masuk kembali ke dalam hotel dan meninggalkan Ifa yang masih terdiam di tempat.
"Neng...bakso?" Tawar pedagang bakso tersebut.
Ifa lalu menatap geram abang tukang bakso tersebut.
"ABANG TUKANG BAKSO JAHAT!!!"
Ifa segera berlari menyusul Rozy untuk masuk ke dalam hotel.
"Lah....apa salah saya?" Tanya abang penjual bakso tersebut pada dirinya sendiri.
Pedagang bakso itu hanya mengangkat bahunya acuh.
Dia segera mendorong gerobaknya mencari pelanggan lain.
☁☁☁
Drrrrrttt
Ifa langsung menutup kepalanya dengan bantal karena suara getaran yang diyakininya berasal dari ponselnya.Sudah sepuluh kali berturut-turut suara tersebut membuat keributan sehingga Ifa tidak bisa tidur.
Drrrrrttttt
"Astagfirullah...siapa sih pagi-pagi chat Ifa?nggak tau apa kalau orang sedang tidur?" Teriak Ifa melempar gulingnya.
"Fa...lo ngapain sih?ini masih jam 3." Ucap Ima mengusap matanya terbangun akibat teriakan Ifa.
Ifa melirik jam yang terpasang di dinding kamar,dan ya...waktu menunjukkan pukul 3 pagi.
Ifa lalu mengambil benda berbentuk persegi yang terletak di dekat bantalnya sambil mengumpat.
RUMPI NO SECRET
Rara:Fa lo serius?Rozy nyatain cinta ke lo?
Dhea:Aaaaah kagak percaya gue...pasti lo ngigau kan?
Rara:Ih coba lo ingat!!Rozy aja pernah tuh nyium Ifa,apalagi cuma nyatain perasaan,apanya yang nggak mungkin.
Dhea:Wah benar juga lo ra...Nah,lo harus cerita banyak nih fa habis pulang dari bandung.
Rara:Iya nih,gue kepo banget
Putri:BERISIK!!!!!!
Ifa lalu melempar ponselnya sembarang setelah melihat pesan dari grub yang dibuat temannya itu.Masih untung ponselnya baik-baik saja.
Jadi,mereka niat sekali untuk ngerumpi di tengah malam eh bukan tengah malam,tapi sudah hampir pagi.
ASTAGFIRULLAH
Demi apapun itu mereka sangat tidak ada kerjaan selain ngerumpi.
Akan lebih baik mereka melaksanakan sholat tahajud daripada ngerumpi.
Karena ulah dari dua orang tersebut,Ifa menjadi tidak bisa tidur.
Ifa lalu teringat dengan kejadian tadi sore,dimana Rozy menyatakan perasaannya kepada Ifa.Ketika mengingat kejadian itu,pipi Ifa langsung memanas.
Ifa lalu mengambil ponselnya dan membuka ruang obrolannya dengan Rozy.
Ifa:Rozy,Ifa mau...
Ifa mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan kepada Rozy.Entah kenapa,dia mendadak menjadi tidak berani mengirim pesan kepada pria tersebut.
Namun,jari tangannya tidak sengaja menekan tombol kirim sehingga pesan tersebut terkirim kepada Rozy.
"Ya ampun....Apa yang harus Ifa lakukan?" Kesal Ifa.
Dia lalu meletakkan ponselnya di samping bantalnya.
"Apa Rozy baca ya pesan Ifa?" Tanya Ifa pada dirinya sendiri.
Drrttt
Ponsel Ifa kembali bergetar.
Apa itu pesan dari Rozy?
Tiba-tiba jantung Ifa berpacu dengan kencang.Dia lalu melirik ponselnya dan langsung menutup wajahnya.
"Ifa buka nggak ya?"
Ifa lalu memikirkan tindakan apa yang harus dia lakukan untuk membalas pesan dari Rozy.
"Apa Ifa jawab aja nggak sengaja kepencet?"
Setelah memikirkan strategi yang matang untuk membalas pesan Rozy,Ifa segera meraih ponselnya.
Ifa langsung membelalakkan matanya melihat pesan tersebut.
'SELAMAT NOMOR ANDA MENJADI PEMENANG...'
"Apa????????bukan pesan dari Rozy??" Teriak Ifa.
Tasya yang mendengar teriakan Ifa langsung bangun dari tidurnya.Dia lalu melempar Ifa dengan guling karena telah menganggu tidur cantiknya.
"Lo ngapain sih fa?" Tanya Tasya kesal.
Ifa lalu menatap Tasya sambil tersenyum tak bersalah.
"Awas kalau lo teriak lagi." Ancam Tasya lalu melanjutkan tidurnya.
Ifa hanya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
Ifa membuka ruang obrolannya dengan Rozy.Hatinya mendadak sakit karena Rozy hanya membaca pesannya tersebut.
JUST READ!!!
Ifa melempar ponselnya ke sembarang arah.
Drrttttt
"Pasti ini dari nomor itu lagi." Kesal Ifa meraih ponsel miliknya.
Rozy😘
Tidur Ifa.
"Kyaaaa......" Teriak Ifa tak sadar langsung loncat di atas ranjang.
"Ya ampun...Rozy perhatian banget...Aaa...jadi sayang." Teriak Ifa kembali meloncat.
Tanpa Ifa sadari,dua orang macan betina sudah siap dengan guling mereka masing-masing.
Tasya dan Ima menatap tajam Ifa.Sepertinya akan terjadi suatu bencana kepada saudari Ifa.
1...2...3....
"IFA!!!!!!!!!!" Teriak mereka berdua sambil memukul Ifa dengan guling mereka masing-masing.
Poor Ifa!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1